
Suara gemericik air dari arah dapur berpadu dengan air mendidih sudah menjadi kebiasaan setiap pagi rumah ini. Menyiapkan sarapan lalu memakan masakan yang dibuat oleh istri adalah tradisi yang wajib di setiap pagi.
Tetapi entah mengapa pagi Zulfa seakan berubah, dia rindu sarapan bersama suaminya, dia rindu mencuci piring bersama suaminya dan dia rindu akan jahilan suaminya saat sedang memasak. Tetapi mengapa akhir ini dia sibuk, sudah satu minggu ini terjadi membuat Zulfa sedih.
Yusuf selalu pergi pagi tanpa sarapan lalu pulang malam kemudian tidur akibat kelelahan. Zulfa selalu berfikir positif akan suaminya mungkin dia sedang sibuk akan pekerjaan dan undangan untuk mengisi dakwah di beberapa kota.
Tapi pagi ini Yusuf belum keluar dari kamarnya jadi Zulfa menunggu untuk sarapan bersamanya. Langkah kaki menuruni anak tangga terdengar olehnya membuat Zulfa menatap kearah sumber suara itu.
"Mas sarapan dulu, Zulfa masak kesukaan mas Yusuf lo" ucapnya antusias.
"Maaf ya sayang, aku buru-buru. Kamu makan sendiri dulu ya" cium Yusuf di kening Zulfa.
Zulfa tidak menyerah dia mengikuti sambil membujuk suaminya agar sarapan dengan dirinya, jujur dia sangat merindukan Yusuf. Tetapi penolakan yang diberikan Yusuf membuat dia marah.
"MAS YUSUF!" teriak Zulfa tanpa sadar, Yusuf yang ingin membuka pintu menghentikan langkahnya.
Air mata Zulfa mengalir saat tatapan Yusuf yang begitu tajam, jujur itu membuat Zulfa takut dia tidak sengaja membentak suaminya.
"Kamu meninggikan suara mu Fa?" tanya Yusuf menahan amarah.
Zulfa tidak meminta maaf tetapi dia malah mengungkapkan isi hatinya yang membuat air matanya juga ikut mengalir "Mas Yusuf sekarang jarang dirumah, kenapa? apakah Zulfa berbuat salah".
"Akhir-akhir ini mas Yusuf berubah, bukan suami Zulfa yang dulu, bukan suami Zulfa yang Zulfa kenal. Mas Yusuf sekarang lebih suka keluar rumah daripada tinggal di rumah bersama Zulfa".
"Fa tenangkan dirimu dulu" ucap Yusuf memegang pundak istrinya kemudian ditepis oleh Zulfa.
"Apa kamu nggak kangen mas, setiap pagi kita habiskan waktu bareng, sarapan bareng habis itu nonton tv tetapi sekarang apa mas?. Kamu sekarang jarang pulang sekali pulang larut malam dan habis itu tidur".
"Sayang aku sibuk".
"Sibuk apa mas, sibuk apa?!. Jika kamu sibuk kenapa setiap hari mas, apakah kamu sudah bosan denganku?. Apakah kamu.." ucapnya yang tak sanggup untuk meneruskan, Zulfa takut jika pemikirannya itu benar, dia terlalu takut untuk mendengar fakta yang sebenarnya.
"Fa.. masuk ke kamarmu lalu tenangkan dirimu, malam ini aku nggak akan pulang. Jadi jangan tunggu aku" ucap Yusuf lalu menutup pintu rumahnya.
Kaki Zulfa lemah seketika, dia tidak sanggup menahan tubuhnya sehingga dia terduduk di lantai dengan tangisannya. Zulfa memegang dadanya yang terasa sesak dia memukulnya beberapa kali untuk menghilangkan rasa sakit itu.
__ADS_1
"Maafkan aku mas, maafkan aku" ucap Zulfa dengan penuh penyesalan.
°°°
Pukul 11 malam saat semua jalan menjadi sepi dan hanya lampu pinggir jalan yang menyala tidak membuat Zulfa mengalihkan pandangannya.
Lampu rumah semua mati begitupun dengan kamar yang ditempatinya, hanya sinar dari luar rumah yang menerangi kamar itu. Zulfa menatap jalanan itu dengan harap, berharap suaminya pulang malam ini tetapi nyatanya itu tidak akan terjadi.
Zulfa menatap jam dinding itu dengan mata sayu, "Jam sebelas" gumamnya.
"Kenapa mas Yusuf belum pulang, apakah perkataan dia serius tadi pagi?".
Zulfa kembali menangis, "Kenapa dia tega membuat istirnya menangis, dimana dulu ucapannya saat tidak akan membuat dirinya menangis? dasar pembohong".
Rasa kantuk telah menghampiri dirinya, dia menguap lalu menutup mulutnya rapat. Tanpa menutup korden jendela Zulfa mengambil selimut yang berada di atas kasur dia ingin tidur dekat jendela menunggu suaminya pulang.
"Cepatlah pulang mas" mohonnya.
°°°
Dengan lemah Zulfa memasak telur lalu membuat teh hangat untuk dirinya sarapan. Rumah begitu sepi tanpa ada sang suami. Dia merasa bersalah ingin sekali Zulfa menangis saat ini juga tetapi air matanya telah habis. Jujur dia sangat lelah untuk menangis.
"Mas kapan kamu pulang?" tanyanya lemah.
"Badanku kenapa ini, pusing.."
Rasa mual melanda Zulfa, dia ingin sekali memuntahkan isi perutnya. Zulfa kemudian berlari menuju dapur, tepatnya kearah wastafel. Dia memuntahkan semua isi perutnya tetapi nihil tidak ada yang keluar, selain itu pusing yang sangat luar biasa dia rasakan. Cepat-cepat dia mengambil handphonenya menghubungi siapa saja yang dapat dia hubungi.
"Maaf nomor yang anda tuju sedang.." suara operator membuat Zulfa menghentikan teleponnya, dia menatap sebentar layarnya yang bertuliskan nama Yusuf disana kemudian memilih kontak yang lain.
"Assalamu'alaikum nak, ada apa?" suara laki-laki diseberang sana membuat hati Zulfa sedikit membaik.
"Waalaikumsalam ayah tolong jemput Zulfa dirumah, Zulfa sedang tidak enak badan".
"Ha?.. iya ayah segera kesana sama bunda. Tapi Fa kok kamu telepon ayah, suamimu kemana?"
__ADS_1
"Nanti Zulfa jelaskan yah, tolong jemput Zulfa sekarang badan Zulfa nggak enak banget".
"Iya ayah akan segera kesana".
"Makasih yah". ucap Zulfa mengakhiri pembicaraan.
Dia menunggu dengan sabar kedatangan ayahnya, menatap jam dinding untuk menghilangkan rasa sakitnya. Terkadang Zulfa menatap layar hpnya berharap suaminya membalas pesannya.
Mas, Zulfa menginap dirumah orang tua Zulfa. Aku sudah masak makanan kesukaan mas Yusuf. Aku nggak akan pulang sampai hari wisuda ku datang, mas Yusuf jangan lupa datang ya.
Send. Kirim Zulfa kemudian dia menaruh hp itu diatas meja makan. Suara mobil membuat Zulfa melangkahkan kakinya menghampiri pintu rumahnya.
Bibirnya pucat, langkahnya pelan, membuka pintu seakan berat baginya. Saat kedua orang tuanya telah berada di depan pintu dia tersenyum bahagia. "Ayah bunda" ucapnya lalu terjatuh.
Faqih dan Aulia yang melihat anaknya pingsan kaget bukan main, Faqih dengan sigap membopong putrinya menuju mobil sedangkan Aulia mengambil handphone Zulfa lalu mengunci pintu.
Faqih menjalankan mobilnya dengan cemas, sedangkan Aulia dia berdoa dengan tangan yang mengusap kening Zulfa yang berkeringat.
"Ayah hati-hati"
"Iya"
"Zulfa kamu kenapa sayang" ucap Aulia panik.
"Tenangkan dirimu bun, dia nggak akan kenapa-napa".
Mobil yang dikendarai Faqih melaju menerobos kota Jakarta lalu menuju rumah sakit terdekat, Faqih mengendong putrinya diikuti Aulia yang berlari mencari dokter atau suster untuk membantu mereka.
"Tolong putri kami, dia pingsan kami tidak tahu apa yang sedang terjadi".
"Iya bapak ibu, kami akan menolong putri anda jadi tolong tenang dahulu" kata suster itu lalu menutup pintu ruang itu.
Faqih mengusap wajahnya lalu memeluk istrinya untuk menenangkan Aulia. Dia tahu seberapa cemas istrinya itu jika mengenai Zulfa.
"Apakah kita menghubungi Yusuf?" tanya Aulia kepada Faqih.
__ADS_1
"Jangan dulu, kita tunggu Zulfa siuman. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres".