
Subuh-subuh Zulfa pulang kerumah suaminya karena perintah dari sang bunda, Aulia takut jika Yusuf menantunya tidak sarapan akibat putrinya ada disini. Aulia berfikir tidak ada yang memasakkan suami putrinya itu karena mereka tinggal berdua, oh ya keluarga Zulfa juga belum mengetahui jika dia tinggal serumah dengan Salsa istri kedua Yusuf.
Dan akhirnya Zulfa hanya patuh apalagi kondisi sang ayah yang mulai membaik. Zulfa meregangkan ototnya sebelum membuka gerbang rumah suaminya dia sejenak menikmati udara sejuk dipagi hari.
Rumah begitu gelap, belum ada lampu yang menyala kecuali lampu kamar tidur yang ditempati Salsa. Zulfa sempat berfikir jika suaminya itu sedang tidur dikamar Salsa karena kamar lantai atas juga gelap.
Ketukan terdengar beberapa kali tetapi tidak ada satupun sahutan yang keluar. "Mas Yusuf apakah mas Yusuf ada di dalam?" ucapnya sambil mengetuk.
"Mas.. kak Salsa!" panggilnya lagi dan terdengar dari sana suara suaminya yang berteriak menyahut.
Beberapa menit Zulfa menunggu pintu itu terbuka dan mengeluarkan sosok yang dia rindukan semalaman, tetapi senyum yang terukir diwajahnya seketika hilang. Zulfa membuang pikiran buruk itu jauh-jauh menahan genangan air mata yang siap meluncur.
Yusuf keluar dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek sampai lututnya. "Mas.." panggil Zulfa memandang suaminya yang masih bersandar di kusen pintu sambil mengumpulkan nyawanya.
"Kamu udah pulang Fa".
Zulfa mendorong tubuh tegap suaminya lalu masuk kedalam kamar, bingkisan yang dia bawa terjatuh saat melihat tubuh Salsa tidak mengenakan pakaian hanya tertutupi selimut sampai dadanya.
Air matanya jatuh, hatinya sakit. Zulfa menutupi mulutnya menahan isakan, suaminya melanggar janjinya sendiri merobek harga dirinya sebagai seorang istri.
"Fa kenapa kamu menangis" tanya Yusuf bingung.
"Aku kecewa mas sama kamu"
Yusuf mengejar istirnya naik ke lantai atas, dia sekali berteriak untuk memanggil Zulfa sampai membuat Salsa bangun dari tidurnya. Pintu tertutup membuat Yusuf mengetuk beberapa kali dan mendorong pintu itu agar terbuka tetapi tidak bisa karena terkunci dari dalam.
Zulfa menangis dari balik pintu, dia bersandar di pintu bercat putih itu. Menahan setiap rasa sakit yang dia alami, memukul beberapa kali dadanya menghilangkan rasa sakit.
"Hiks.. hiks.. mas" katanya pelan.
"Fa..! buka pintunya kamu kenapa?"
"Sayang jangan menangis, aku nggak tahu kamu kenapa sayang. Keluarlah kita bicara baik-baik".
"Bicara soal apa mas!" teriak Zulfa dari dalam.
__ADS_1
"Kamu udah ingkar janji mas, kamu nggak akan nyentuh kak Salsa tanpa seizin dariku tetapi apa yang aku lihat saat ini kamu mengingkari janji yang kita buat".
"Aku nggak ingkar janji Fa, katanya Salsa kamu mengizinkan. Aku berkata jujur, tolong buka pintunya sayang".
"Dia berbohong mas, dia berbohong, hiks.. hiks.. dia berbohong".
Seketika pertahanan yang dibuat Yusuf runtuh, dia mundur satu langkah kaget menerima kenyataan yang ada. Ketukan pintu itu berhenti tetapi tangisan Zulfa masih terdengar sampai ke telinga Yusuf.
Yusuf mengacak rambutnya frustasi dia lalu meninggalkan kamar Zulfa mencari seseorang untuk meminta penjelasan. Langkah Yusuf terhenti saat Salsa berada dilantai bawah menunggu dirinya turun.
"Mas maafkan aku" katanya tetapi Yusuf mengabaikan istrinya itu.
"Aku terpaksa melakukan ini karena aku juga berhak mendapatkan apa yang aku harus dapatkan".
"Aku juga mencintaimu mas, tapi kenapa kamu mengabaikan ku!" teriaknya.
Yusuf berhenti lalu menatap Salsa "Cara mu salah Sal dan akibat keegoisanmu kepercayaan Zulfa terhadapku hilang, apakah kamu puas?. Setelah solat kita bicara tentang ini dan aku akan memulangkan kamu di rumah kedua orang tuaku, untuk sementara ini dan memperbaiki hubungan ku dengan Zulfa kuharap kamu mengerti".
Salsa menatap kepergian suaminya dia mengepalkan tangannya kuat menahan rasa benci terhadap Zulfa, air matanya keluar karena ucapan yang begitu menyakitkan dari Yusuf.
°°°
Rumah tampak sepi setelah Yusuf mengantar Salsa kerumah kedua orang tuanya. Zulfa istrinya belum saja keluar dari kamar membuat Yusuf melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan Zulfa.
"Sayang keluar kita perlu bicara".
Hening tidak ada jawaban.
"Salsa sudah aku antar ke rumah orang tuaku, aku butuh bicara berdua denganmu kita luruskan masalah ini".
"Kumohon keluarlah, maafkan aku" ucap Yusuf bersandar pada pintu.
Pintu itu terbuka membuat Yusuf mundur untuk melihat istrinya. Mata merah akibat menangis membuat Yusuf semakin bersalah, "Maafkan aku" ucapnya lagi tetapi Zulfa mengabaikan dan berjalan menuju ruang tamu.
Mereka duduk berhadapan dengan pikiran masing-masing, Zulfa hanya menatap lurus terlihat dari matanya jika dia amat tersakiti.
__ADS_1
"Fa, maafkan aku".
"Katakan apa yang seharusnya dikatakan, cepatlah aku lelah" katanya dingin yang membuat Yusuf merasa bersalah.
"Aku tidak tahu jika Salsa berbohong kepadaku, aku mempercayai dia saat kamu mengizinkan kami melakukan hubungan suami istri karena dia terlihat sangat jujur bagiku".
"Kamu tertarik sama dia mas?" tanya Zulfa tetapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulut suaminya.
"Kurasa diammu itu adalah iya".
"Aku laki-laki Fa"
"Ya.. aku tahu itu"
Hening kembali tidak ada percakapan keduanya, Yusuf mengepalkan tangannya. Dirinya tidak menyangka bahwa istrinya itu mempunyai sifat sedingin ini, jika dia tahu dari awal Zulfa bersikap seperti ini dirinya tidak akan menerima untuk menikah dengan Salsa.
"Mas.."
"Iya Fa?"
"Apakah seorang istri berdosa jika meminta cerai dengan suaminya?, apakah seorang istri akan dibenci oleh Allah" dia menghentikan sejenak menghirup udara untuk menguatkan hatinya "karena meminta cerai kepada suaminya?"
Yusuf mendengar itu membulatkan matanya dia menghampiri Zulfa yang masih menatap lurus entah kemana, Yusuf membalikkan tubuh istrinya lalu memeluk tubuh mungil itu kedalam dekapannya.
"Jangan bicara seperti itu, aku akan membenci diriku sendiri karena rasa bersalah".
"Maafkan aku Fa.. maafkan aku"
"Tolong jangan pergi dariku, aku sangat mencintaimu" ucap Yusuf menangis, jujur dia tidak kuat mendengar perkataan yang keluar dari mulut istrinya itu.
Zulfa mendengar setiap isakan suaminya, dia hanya diam menatap langit-langit. Terasa disana pelukan itu semakin kuat, tetapi hatinya terlalu sakit untuk menerima semua ini. Dia berkali-kali sabar saat Yusuf melanggar setiap ucapan dan janji-janjinya.
Dirinya terbuai akan sikap manis dan tutur katanya, sejak awal dia seharusnya menolak pernikahan ini dan berusaha membujuk ayahnya. Tetapi semakin dia menjalin pernikahan dan larut kedalamnya semakin dia mencintai suaminya.
Mungkin aku harus memberikan satu kesempatan lagi, batinnya.
__ADS_1