
Sinar matahari telah tengelam, langit yang tadi berwarna jingga perlahan hilang digantikan dengan warna hitam yang membuat hewan-hewan malam keluar untuk mencari makanan. Perlahan sang bulan menampilkan wujudnya, hari ini bulan begitu bulat bercahaya membuat malam begitu indah. Langkah-langkah orang menuju masjid ingin menunaikan solat magrib berjamaah terdengar dari luar.
Lafal doa yang Zulfa panjatkan berbaur menjadi satu dengan air mata yang mengalir membasahi pipi putihnya. Dia menunaikan solat magrib sendiri akibat suaminya belum pulang dari tadi siang. Lantunan ayat suci Alquran terdengar merdu bahkan jika orang yang mendengarnya akan meneteskan air mata.
Lantunan zikir demi zikir keluar dari bibirnya, dia menunggu suaminya yang sedari siang belum pulang. Rintik-rintik suara hujan membuat rasa kuatir Zulfa semakin bertambah dia terus saja menatap jam dinding. Sampai suara azan isak Yusuf juga belum kembali, dengan perasaan cemas dia menunaikan solat isak agar hatinya sedikit tenang.
Suara ketukan pintu membuat Zulfa berlari dengan mukenah yang masih menempel ditubuhnya. Dia melihat suaminya basah kuyup dengan muka yang begitu sedih.
"Maaf" katanya tiba-tiba dengan suara pelan.
Zulfa tanpa rasa curiga sedikitpun mengiyakan perkataan Yusuf dan membantu mengeringkan tubuhnya. Setelah mandi dan berganti baju, Yusuf menepuk tempat duduk disebelahnya agar Zulfa duduk disana.
"Mas Yusuf dari mana saja, Zulfa sudah nungguin mas Yusuf dari tadi".
"Maaf" katanya lagi.
"Mas Yusuf kenapa sih terus-terusan meminta maaf".
Yusuf hanya menggeleng, dia mengelus pipi putih istrinya. "Fa aku boleh minta sekarang?".
Zulfa yang tahu arah pembicaraan ini dia mengangguk mengiyakan. Dia tersenyum kemudian membaringkan istrinya diranjang. Yusuf tidak banyak bicara dia mencium kening Zulfa lama seperti ada perasaan damai saat melakukannya. Ciuman itu turun ke dua matanya lalu hidungnya, tidak lupa kedua pipi putih Zulfa.
Zulfa yang diperlakukan lembut oleh Yusuf merasa hatinya sangat damai, mereka saling memandang satu sama lain. Tanpa ada patah kata pun yang keluar dari mulut mereka, Zulfa yang baru sadar jika suaminya itu memiliki bulu mata yang sangat lentik dan alis yang tebal. Mata Zulfa mulai terpejam saat Yusuf menciumnya, ciuman yang lama menurutnya.
Yusuf mendekatkan mulutnya ke telinga Zulfa lalu membacakan doa yang membuat air mata Zulfa tiba-tiba jatuh.
"Jangan menangis" kata Yusuf menenangkan.
Zulfa mengangguk dan mereka berdua memadu kasih layaknya pasangan suami istri. Ruang yang gelap dengan cahaya bulan yang lewat melalui celah-celah jendela membuat suasana semakin romantis. Malam ini mereka menjadi saksi bisu antara dua insan manusia yang bersatu melalui ikatan halal, dua manusia yang bersatu karena takdir dan dipersatukan karena perintah-Nya.
"Aku mencintaimu Fa".
"Aku juga mencintaimu mas" ucap Zulfa dengan air mata yang membasahi pipinya.
°°°
Jam dinding menunjukan pukul dua pagi, Yusuf menyandarkan kepalanya di bantal yang dia buat lebih tinggi sedangkan Zulfa istrinya tertidur akibat kelelahan. Wajah teduh Zulfa membuat Yusuf mengelus pipinya lembut kemudian merapikan rambut istrinya yang berantakan.
__ADS_1
Yusuf menaikan selimut sampai menutupi pundak sang istri, pelukan erat yang diberikan Zulfa membuat dia tersenyum.
"Terima kasih sayang telah menjaganya untukku".
Pandangan Yusuf menatap lurus kelangit-langit, senyuman diwajahnya tiba-tiba hilang saat kejadian tadi sore kembali terlintas di otaknya. Dia sangat marah dan kesal terhadap dirinya yang tidak dapat berbuat apa-apa sore tadi. Dirinya ingin sekali menolak tetapi kenyataanya dirinya hanya diam dan mengiyakan permintaan dari sang ayah.
Flashback on..
Sore tadi setelah dakwah selesai, Yusuf bergegas menuju ke pondok pesantren akibat pesan sang abi. Setelah kajian dia disuruh untuk mampir kesini. Sebagai anak yang berbakti tanpa rasa curiga dia mengiyakan perkataan orang tuanya. Alangkah kagetnya Yusuf saat semua orang berkumpul dan salah satu wanita sedang menangis dipelukan uminya.
"Yusuf" panggil abinya.
"Iya bi".
Ali tersenyum tulus lalu mengisyaratkan untuk putranya duduk "Duduk nak, abi ingin bicara penting denganmu".
Yusuf mengangguk lalu duduk. Tatapannya beralih menatap wanita yang memeluk uminya, terdengar dari sini jika wanita itu sedang menangis.
"Nak, abi mau bicara serius sama kamu".
"Kamu lihat wanita yang disebelah sana?".
"Lihat abi, memangnya kenapa".
"Dia calon istrimu".
Yusuf yang mendengar perkataan abinya kaget bukan main, "Maksud abi apa?" tanyanya yang menahan amarah.
"Tenang Suf, tenangkan dirimu terlebih dahulu. Dia Salsa anak teman abi, dua bulan lalu orang tua Salsa melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Tetapi kemarin musibah menerima mereka, pesawat yang ditumpangi orang tua Salsa jatuh dan mereka ditemukan tidak bernyawa. Abi dulu pernah menjodohkan dirimu dengan Salsa akibat kesepakatan kita dulu.
Yusuf menaikan alisnya "Perjodohan?".
"Iya, aku dan ayah Salsa berencana menjodohkan kalian saat besar nanti tetapi saat kamu memilih pasanganmu sendiri niat itu kami urungkan. Abi juga hampir melupakan janji kita dulu Suf saat dirimu sudah bahagia dengan Zulfa tetapi saat aku mendengar kabar kematian sahabatku aku berniat menepati janji kita dulu".
"Maksud abi, aku harus menikahi dia?".
Ali diam lalu mengangguk, Yusuf mengamati uminya untuk meminta pembelaan tetapi respon uminya sama saja.
__ADS_1
"Tapi aku sudah punya istri bi, aku sudah punya Zulfa enggak mungkin aku menduakan dia".
"Maafkan abi nak, abi enggak bisa berbuat apa-apa".
"Abi.. Zulfa" ucapnya meminta pengertian terhadap istrinya tetapi abinya hanya diam. Yusuf juga melihat uminya untuk memberi pembelaan tetapi respon uminya sama dengan abinya. Yusuf menghela nafas frustasi, dia mengusap mukanya kasar lalu menatap abinya.
"Yusuf pikirkan dulu ya bi".
"Tolong pikirkan matang-matang Suf, kasihan dia. Dia juga mencintaimu".
Fakta apalagi ini, dia begitu syok dengan perjodohan ini yang membuat kepalanya pusing apalagi ditambah dengan perasaan gadis itu. Dia bingung bagaimana harus menjelaskan ini kepada istrinya.
Flashback Off..
Yusuf menutup kembali matanya, dia berfikir bagaimana cara menjelaskan kepada istrinya. Usapan lembut membuat Zulfa terbangun dari tidurnya.
"Mas Yusuf tidak tidur?" tanya Zulfa dengan suara serak.
"Kamu nggak tidur Fa?".
Zulfa bagun dari tidurnya lalu mengikuti suaminya yang bersandar, "Kok mas Yusuf malah balik tanya sih".
"Aahh.. maafkan aku, aku sedang banyak pikiran jadi nggak fokus".
"Mas Yusuf nggak apa-apa kan?".
Yusuf mengelus rambut Zulfa kasar lalu menyandarkan kepala istrinya di dadanya. "Aku sangat mencintaimu Fa, kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang kucintai".
"Apaan si mas Yusuf tiba-tiba bilang kaya gitu, gombal".
"Hahaha liat tuh wajahmu memerah" tawa Yusuf yang mendapat cubitan dari istrinya.
"Mau tidur atau mandi?".
"Mandi aja mas" jawab Zulfa semangat.
Semangat banget, pasti kamu kesulitan jalan. Sini aku gendong kata Yusuf kemudian menggendong istrinya menuju kamar mandi untuk membersikan diri. Walaupun pagi ini udara sangat dingin tetapi kehangatan cinta mereka membuat semua itu tidak ada rasanya. Setelah mandi mereka bergegas untuk melakukan solat sunah tahajud lalu menunggu waktu solat subuh datang. Pagi yang indah bagi sepasang suami istri ini.
__ADS_1