
Zulfa bersandar pada pintu kamarnya yang telah dia kunci dari dalam kemudian melangkah ke arah kasur dengan rasa malas. Melemparkan tubuhnya diatas kasur dengan kasar lalu membenamkan wajahnya, merendam tangis yang sudah pecah ketika masuk dikamar.
Zulfa bangun dari kasur mengambil handuknya kemudian mandi. Air menetes dari rambut panjangnya, Zulfa bergegas mengeringkan rambutnya kemudian bersiap untuk solat magrib.
Suara azan berkumandang, korden yang setengah terbuka membuat lampu jalan masuk kedalam kamar kecilnya. Kamar yang ditempati Zulfa gelap hanya lampu hias yang menyalah.
Zulfa memang begitu, ketika dirinya sedang bersedih dia suka tempat yang tidak terlalu banyak cahaya. Keelokan wajah Zulfa semakin terlihat saat dirinya berdoa, apalagi ditambah dengan lampu jalan yang masuk melalui kaca jendelanya.
Lantunan lafal doa dia ucapkan, semua pujian terhadap Raab-Nya dia utarakan begitupula dengan permintaan dan semua keluh kesah dalam hati.
"Raab-Ku... cinta yang engkau beri kepada sosok laki-laki yang belum tentu menjadi suamiku selalu hamba simpan rapat-rapat. Hamba hanya bisa mendoakan dia disetiap sujudku, selalu mencuri pandang terhadapnya".
"Jika dia memang bukan jodohku, hamba ikhlas melihat dia bersanding dengan orang yang dia cintai. Tetapi jika dia memang jodohku dekatkanlah, buat dia cepat melamar diriku Ya Rabb".
Suara isakan mulai terdengar memenuhi kamar, Zulfa menghentikan doa yang dia panjatkan "Kumohon... sebelum ayah menjodohkan diriku dengan pria lain"
"Hamba mencintai dirinya, hamba mencintai Hendra Ya Raab. Maafkan aku, maafkan aku mas..."
°°°
"Hah?!..."
"Ada apa mas?" tanya Andre bingung karena bacaan Alquran yang sahabatnya baca terhenti.
Laki-laki itu menggeleng kemudian melanjutkan bacaan surah Al-Baqarah yang tadi sempat terhenti. Jantungnya berdetak dirinya resah tidak tahu sebab apa yang membuat jantung nya tidak tenang.
Rambutnya lurus tertutup peci, alisnya sedikit tebal, kulit laki-laki itu bersih dan sekitar telinganya masih basah karena air wudhu. Suara merdu bacaan Alquran membuat para kaum hawa menetap di masjid.
"Masyaallah... lihat dia tampan luar biaasyahh" bisik wanita yang memakai mukenah abu-abu tua.
"Hei, kalian disini mau dengerin ustad baca Alquran atau bisik-bisik sih".
"Dua-duanya" jawab dia tidak berdosa.
"Waah, beruntung banget yang jadi istirnya... ya kan Sal"
Salsa menghentikan menyimak Alquran kemudian menatap temannya itu, "Iya semoga saja aku yang jadi istrinya, hihi" candanya.
"Kamu udah nyatain perasaan kamu belum?"
"Udah... tapi ditolak"
"Alasannya apa woi?" tanya temannya lagi dan Salsa hanya menaikkan bahu tanda tidak tahu, benar dia memang tidak tahu kenapa ustad Yusuf tidak mau menerima dirinya. Apakah dirinya kurang soleha?, atau karena dia dulu wanita nakal?
Hah... Salsa hanya membuang nafasnya kesal kemudian melanjutkan lagi menyimak ustad Yusuf membacakan ayat Alquran.
Yusuf memberikan mic itu kepada Andre untuk bergantian, hatinya tidak tenang begitupula fikiranya. Sayup-sayup dia mendengar ada suara wanita tetapi siapa? Yusuf cepat-cepat menepis fikiran negatif kemudian fokus kepada bacaan Andre.
°°°
Suara tawa membuat Yusuf menyadari jika ada tamu berada dirumahnya. Yusuf masuk untuk melangkahkan kakinya dan melihat siapa yang datang bertamu malam-malam.
Yusuf menyalami laki-laki yang memakai seragam polisi, terlihat dari wajahnya jika beliau seumuran dengan abinya.
"Alhamdulillah ini dia laki-laki yang dari tadi kita tunggu... duduk sini nak" ucap Ali sambil menepuk sofa yang berada disebelahnya.
Yusuf tersenyum kemudian duduk.
Faqih mengamati Yusuf kemudian berdehem membuat suaranya menjadi serius " langsung saja ya Lii, nak Yusuf saya disini ingin melamarkan anak saya untuk kamu nikahi"
Yusuf hanya diam mencerna setiap perkataan Faqih sahabat dari abinya itu "Menikah?"
__ADS_1
"Iya, apakah kamu mau menikah dengan putri saya?" tanya Faqih kembali kemudian menyodorkan hpnya yang dilayar terdapat foto Zulfa.
Yusuf mengambilnya kemudian mengamati foto itu, "cantik" gumannya. Yusuf yang memikirkan hal aneh cepat-cepat berzikir mengingat kepada Allah.
Wanita yang berada difoto ini terlihat lebih muda darinya, sekitar 21 tahun. Apakah dia mau menikah denganku yang berbeda 8 tahun ini.
"Emm... saya belum bisa memberikan jawaban sekarang, saya butuh solat istikharah terlebih dahulu".
Faqih terkekeh pelan "Tidak usah terburu-buru putri saya masih kuliah, mungkin dia merasa senang jika kamu tidak segera memberikan jawaban".
Ali juga ikut terkekeh karena ucapan sahabatnya itu mengenai putrinya. Ali memang mengenal Zulfa tetapi saat dia masih sekolah dasar dan sekarang dia tidak tahu prilaku gadis kecil Faqih yang dia sukai sejak kecil.
"Abi harap Zulfa menjadi menantu abi" kata Ali sambil menepuk pundak Yusuf agar harapannya itu dikabulkan oleh putra semata wayangnya.
Faqih yang merasa urusannya telah selesai dia pamit undur diri. Ali dan Yusuf mengantar sampai ke depan rumah. Raut wajah Yusuf kembali cemas, pernikahan?... dia belum memikirkannya. Yang dia fikirkan adalah orang tuanya.
"Abi berharap kamu menikah dengan Zulfa Suf, dia gadis yang ceria dan tentu saja baik" kata Ali kemudian meninggalkan Yusuf sendiri diluar.
°°°
Dani mengamati Zulfa yang sedari tadi menyalin materi kedalam leptopnya, Desi yang melihat itu menepuk bahu Dani agar tersadar.
"Apa yang kamu lakukan sih, dari tadi mandangin Zulfa terus".
Zulfa yang merasa namanya terpanggil menatap kearah Dani, Dani yang melihat Zulfa kearahnya menjadi salah tingkah.
Kenapa dia natap gue sih batinya, Dani tiba-tiba memegang tangan Desi yang membuat Desi kaget bukan main.
"Apa-apaan kamu, lepaskan!"
"Ealah, gue nggak sengaja pegang. Auah gue mau beli minum titip nggak kalian?"
"Aku nitip air putih" ucap Zulfa kemudian diikuti Hendra yang juga memesan minuman yang sama seperti Zulfa membuat Zulfa tersipu.
Brak!
Dani memukul pelan mejanya lalu mengamati Desi yang belum memesan, "lo pesen apa?" tanya Dani.
"Emm..."
"Ishh lama, lo pesen kaya gue" putusnya yang mendapat anggukan pelan dari Desi. Dani meningalkan gazebo yang mereka berempat tempati kemudian menuju ke kantin.
Desi mengelus pelan tangannya yang disentuh oleh Dani, Zulfa yang melihat itu tersenyum akibat ulah sahabatnya yang sedang kasmaran kaya anak abg.
Sedangkan Hendra dia sekilas menatap Desi kemudian kembali lagi mengutik leptopnya.
°°°
Desi berjalan pelan, dirinya sedang mengamati Dani sedang berkumpul dengan teman cowoknya. Rasa gugup menyelimuti dirinya sedangkan Zulfa? dia tampak biasa dan tenang. Rencananya Desi akan meminta Dani untuk menemani dirinya untuk makan ramen, hari ini Desi sangat kepingin banget dengan ramen.
"Gimana nih Fa? aku tegang banget" bisik Desi setengah pelan yang membuat Zulfa hampir tidak tahu Desi bicara apa.
"Emm... cuek seperti biasa"
"Didepan temannya?"
"Berusahalah".
Desi menarik tangan Zulfa supaya ikut menghampiri Dani "Kamu juga ikut"
"Ehh, apaan kamu ini" protesnya tidak terima.
__ADS_1
Reflek teman-teman Dani menatap kearah Desi dan Zulfa. " Aduuhh cewek cantik kesini nih"
"Uihh siapa tuh, gebetannya Dani?"
"Eh iyaa, ternyata kalau dari deket cantiknya kelewatan" guraunya.
Zulfa yang mendengar itu menatap tidak suka kearah mereka, sebenarnya Zulfa tidak suka dengan kebiasaan Dani yang membuat geng-geng tidak jelas. Apalagi Dani sekarang menjadi ketuanya, hah pasti kalian tahu bagaimana perasaan Zulfa.
Desi mengampiri Dani, pipinya semakin merah karena omongan dari teman Dani. Gebetan? apakah Dani juga mencintai dirinya? batin Desi.
"Ada apa?" suara cuek Dani terdengar dingin membuat Desi semakin terpesona olehnya.
"Dan... Kamu mau nggak makan ramen bareng aku, aku lagi kepingin nih".
"Uwooo..." Suara histeris para teman Dani membuat orang-orang menatap kearah mereka. Dani hanya menatap datar kearah Desi kemudian beralih kearah Zulfa.
"Oke" jawabnya dengan jeda "Tetapi gue mau ngajak Zulfa sama Hendra".
Zulfa menatap Dani " Eh, kalian makan berdua aja, aku mau pulang".
"Kalau gitu gue antarin".
"Tidak usah Dan, aku mau pulang sendiri".
"Perempuan ngak baik pulang sendiri" jawabnya yang membuat Zulfa geram. Zulfa melihat Hendra mengendarai motor bergiginya yang lewat didepan kerumunan Dani.
"Hendra!!" panggil Zulfa nyaring yang membuat Hendra menghentikan motornya.
"Desi aku duluan ya" ucapnya. "Semoga berhasil" bisik Zulfa kemudian berlari kearah Hendra.
"Dani dan teman-teman Dani aku duluan ya, "Assalamu'alaikum" pamit Zulfa dengan senyum yang mengembang dipipinya.
"Wa'alaikumsalam"
Para cowok yang sedang menatap Zulfa terpesona bukan main "Ituloh senyumannya mengalahkan sejuta kerinduan"
"Apalagi tadi salamnya, buuh berasa surga itu dekat"
"Mati dong, haha"
Gelak tawa masih terdengar sampai ketelinga Zulfa, padahal dia sudah berlari kesebrang jalan. Hendra menunggu Zulfa dengan sabar "Ada apa?" tanya Hendra.
"Aku boleh pulang bareng kamu?"
"Boleh, yuk naik"
Zulfa hanya mengangguk kemudian naik kemotor Hendra. Jantung Zulfa rasanya ingin meledak karena bisa sedekat ini dengan Hendra biasanya dirinya hanya tanya tentang materi kuliah, ilmu agama, saran film dan hal tidak mutu lainnya.
Ya Rabb, kuatkanlah jantung hamba batinya.
Disepanjang perjalanan tidak ada obrolan diantara mereka berdua sampai Hendra memberhentikan motornya didepan gang. Memang Zulfa berhenti didepan gang karena dia tidak pernah membawa laki-laki sampai ke depan rumahnya takut mambawa fitnah.
"Makasih Ndra"
Hendra mengangguk "Aku boleh tanya nggak?"
"Tanya apa?"
Hendra ingin membuka mulutnya kemudian dia menggeleng "Tidak jadi, lupakan aja... aku pamit"
"Iya hati-hati"
__ADS_1
Hendra memakai helemnya lalu menyalakan motor kemudian pulang menuju rumahnya. Zulfa tersenyum malu memegang pipinya yang merah. Disisi lain Dani mengamati Zulfa, matanya menatap kepergian Hendra tidak suka. Dibalik helem yang Dani pakai terlihat raut wajah yang menahan amarah.Dani dengan perasaan kesal mengendarai motornya setelah Zulfa pergi dari sana.