
Ada perasaan bersalah di hati Brian, setelah melihat Rubi menangis..memberikan hal paling berharga di hidup nya untuk diri nya.
Tapi gelora ini tak dapat di cegah, Brian terus memaju mundur kan pinggul nya. Memberikan yang terbaik untuk Rubi
Agar gadis itu juga merasakan Kenikmatan bersama.
"Rubi Sekarang!"
"Ahhhhhh Rubiiii" Desah Brian lagi, di iringi semburan cairan panas yang di rasakan Rubi.
Jemari Rubi kian kuat mencenkram pundak Brian, Nafas mereka sama sama terengah engaj. Tandanya mereka sama sama menikmati puncak kenik matan.
Tubuh Brian masih berada di tubih Rubi, mengusap lembut wajah Gadis manis itu, kemudian mencium kening nya agak lama sebelum beranjak.
ada rasa kebanggaan tersendiri untuk nya, ada rasa apa tersendiri Iya benar-benar mendapatkan seorang gadis yang murni.
Brian mengambil Rokok dan menghisap nya, sedang kan Rubi, tidur dengan membelakangi nya.
Cowok ganteng itu berbaring sambil meniup kan asap rokok ke langit langit kamar, dengan tangan kanan nya sebagai bantalan.
"Bi????"
"Hmmmmm"
"Lo nyesel????"
"Kenapa Emang???"
"Gue pengen tahu perasaan Lo?"
"Nggak..Semua sudah menjadi pilihan ku..."
__ADS_1
Tubuh mereja masih sama sama polos, hanya tertutup selimut saja. Kemudian Brian mematikan rokok nya dengaan menghacur kan di atas asbak, yang terletak di atas meja.
Kemudian mendekati rubi dan meraih pundak nya.
"Masih sakit????"
"Enggak..cuma perih aja" mata nya yang sayu menatap Brian.
"Udah biasa.. nanti kalau terbiasa nggak bakalan sakit.." Brian mencium kening nya lagi.
Brian berinisiatif menyalakan air panas untuk Rubi.
"Bi.. bersihkan dulu badan mu..mandi pakai air panas..Agar Misvee tidak terasa perih.."
Dengan perlahan Brian membantu Rubi untuk beranjak. "Aku bisa sendiri kok kak!"
Brian menyalakan rokok kembali di Balkon sambil menunggu Rubi selesai membersih kan diri.
Rubi Clingukan mencari di mana Brian berada, ternyata Cowok yang baru saja menikmati tubuh nya Itu sedang bearda di balkon menikmati sebatang Rokok.
Rubi terlihat lebih segar saat ini, dengan handuk kecil melilit di kepala nya yang basah.
"Kakak nggak mandi??"
Brian hanya menggeleng dan terus menghisap rokok nya tanpa melirik Rubi.
Merasa di cuekin ,Rubi memilih untuk masuk ke kamar nya lagi,
"Rubi..."
"Iya kak??"
__ADS_1
"Gue ingetin sekali lagi sama lo.."
"Tentang????"
"Penawaran Simbiosis mutualisme ini.. Lo nggak boleh ngebawa perasaan dalam hubungan ini, sebalik nya Gue. Hubungan kita hanya sebatas saling menguntung kan, Gue nggak mau Lo menyimpan perasaan yang lebih ke Gue, atau menganggap lain atas apa yang Gue berikan ke Lo!"
"Iya kak! Rubi tahu.." Hati Rubi, sedikit mencelos saat mendengar pesan dari Brian. Padahal diri nya mulai nyaman.
"Dua minggu lagi, Gue bakalan tunangan sana Sinta.. Gue harap Lo bisa nempatin diri Lo sebagaimana semesti nya.."
Rubi terdiam beku, Kata kata Brian kali ini mampu menusuk hati nya. Seharus nya ia tidak menganggap berlebihan atas apa yang di berikan atau pun yang di lakukam oleh Brian.
"Lo nggak perlu khawatir..Semua kebutahan Lho selama penawaran ini berlangsung..Gue yang bakalan nanggung! Dan Gue harap..Lo patuh sama perjanjian kita.."
Rubi tersenyum pasi, "Jangan khawatir..aku nggak akan nuntut apa pun..mulai sekarang kita memang harus Profesional.. Akan akan melayani Kak Brian sebaik mungkin, sesuai dengan perjanjian kita!"
ada perasaan bersalah ketika Brian mengutarakan semua nya, tapi ini harus ia Lakukan agar perasaan nya kembali normal seperti dulu lagi.
Rubi sudah bersiap untuk tidur, membungkus semua tubuh mungil nya dengan selimut
"Gue pulang dulu..malam ini Gue nggak nginep disini.."
"Iya.." jawab Rubi tak bergeming.
"Besok pagi Lo nggak usah masak..Gue tahu badan lo sakit semua, Beli sarapan di Luar aja.." Tak lupa meninggal kan beberapa uang kertas sebelum ia pergi.
ruby menangis sejadi-jadinya setelah kepergian Brian, ia merasa patah. Seharus nya ia tidak berharap lebih, Karena dirinya bagaikan Pungguk merindukan Bulan.
Entah ini perasaan cinta atau kecewa, sangat sulit untuk dibedakan. Yang Jelas, perasaan ketidakrelaan itu ada.
Rubi melihat diri nya dari pantulan cermin, Semua sudah terjadi, ia harus kuat. Berjanji untuk tegar dan akan berjuang untuk hidup nya sendiri.. Dan Juga Tidak akan mengharap kan apa pun pada Brian.
__ADS_1