
"Kak Brian udah Mandi?" tanya Ruby dengan suara khas orang bangun tidur, Gadis itu masih berada dia atas ranjang ,masih menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mata nya.
"Hmmm " Jawab Brian terus merapikan Dasi nya.
"Kenapa nggak ngebanguni aku??" kata Rubi mulai beranjak dari Ranjang dan mendekati Brian.
"Nggak tega!" tak sedikit pun Brian menoleh kearah nya,
"Mau ke kantor sekarang??" Rubi mendekap tubuh padat Brian dari belakang, meletak kan kepala nya di Bahu cowok yang semalam telah membuat nya melayang, menghirup aroma Maskulin khas cowok itu sambil memejam kan mata nya, Gadis ini merasakan ketenangan dan kedamaian dari nya.
"Hmmmm" jawab Brian tanpa membalas pelukan Rubi, Bahkan melepas kan tangan Rubi dari perut nya dan meninggal kan Ruby begitu saja.
Tak seperti Biasa nya, Pagi ini Pria itu benar benar dingin, membuat Ruby bertanya tanya.
"Kak Brian sakit??" Ruby menyusul Brian yang sedang membuat Susu.
"Nggak!"
"Kenapa? Marah?? atau aku ada salah sama Kak Brian? atau mungkin aku ngelanggar perjanjian kita??"
"Nggak! terus Gue harus ngapain?? kalau hasrat Gue udah terpenuhi ya udah! Gue harus ngapain lagi coba???" jawab Brian dingin, terus mengaduk susu di gelas tanpa menoleh ke arah nya sedikit pun.
Kata kata Brian, mampu menyadar kan diri nya bahwa diri nya terlalu berhayal berlebihan dalam hubungan ini. Rasa sesak seketika menyeruak, Mata cantik nya mulai memerah.
Ia bukan seorang Pelacur, tak seharus nya Brian berkata dan memperlakukan nya seperti itu.
"Oke! Maaf!" Nada gadis itu terdengar sakat bergetar, sekuat tenaga menahan air mata nya agar tidak tumpah.
Ruby segera berlari ke kamar nya, dalam diam menangis disana. Ada perasaan patah yang membuat nya benar benar kecewa. Seharus nya ada jarak di antara mereka, ia merutuki diri nya sendiri.
Tanpa ia sadari, Brian mendengar tangisan gadia itu. Seandai nya ia tahu..mengapa Brian melakukan ini. Sekuat tenaga Brian menahan diri nya untuk tidak memandang wajah teduh gadis itu, karena ia tidak mau semakin tenggelam dalam perasaan ingin memiliki.
"Lo nangis?" tanya Brian dari mulut pintu,
__ADS_1
Rubi segera menghapus air mata nya
"Enggak.." Rubi berbohong,padahal jelas jelas mata dan hidung nya terlihat sangat Merah.
"Udah Gue bikinin susu di meja.."
"Nggak usah..aku bisa buat sendiri.." Ruby juga memalingkan wajah nya.
"Terserah Lo aja!"
"Gue berangkat dulu! Lo ke kantor bawa mobil sendiri aja!"
"Iya..."
"Uang belanja ,uang bensin dan uang Jajan Lo ada dimeja juga!"
"Makasih!" Ruby segera masuk kedalam kamar mandi.
###
"Surat??? surat apa Kak??" Ruby terlihat bingung
"Surat keteranga Magang kamu???"
"Maksud nya???" Rubi Masih Bingung.
"Tadi Pak Brian Minta ke aku..buat ngebuatain Surat tanda Selesai magang kamu..Nih! tinggal minta tanda tangan aja sama Beliau?"
"Apa?? jadi aku udah selesai magang dan selesai observasi??? bukan nya-"
"Harus nya kamu bersyukur! nggak harus nunggu enam bulan, mana dikasih nilai bagus bagus lagi.." kata Jeha menyemangati nya.
Ruby tak habis fikir, setelah kejadian tadi pagi Ternyata berlanjut juga sampai di kantor. Tanpa sepengetahuan nya, Brian membuat keputusan untuk mengakhiri masa Magang dikantor nya .
__ADS_1
"Drtttttttrttt" Tak lama kemudian Ruby mendapat notif dari Ponsel nya, Pesan Chat dari Brian.
"Perjanjian kita juga udah Selesai.. Sekarang Lo nggak terikat lagi sama Gue..Appartement udah menjadi hak dan Milik Lo. Mobil jiga Milik Lo. Seperti kesepakatan kita, Jangan nyari Gue Lagi."
Ruby tak habis fikir, Brian akan mengakhiri hubungan mereka dengan cara seperti ini. Baru saja kemarin Brian membawa nya terbang tinggi, tapi hari ini Brian sendiri yang menghempas kan Ruby dengan cara yang seperti ini.
Benar benar ingin menangis, tapi ini kantor. Gadis ini sekuat tenaga menguat kan diri nya sendiri
"By! kamu nggak kenapa napa kan?" Kata jeha menepuk pundak nya.
"Enggak kok Kak! sekalian aku pamit ya Kak. terimakasih atas segala ilmu nya.."
"Iya By! sukses terus ya.. semoga ceept lukus dengan nilai terbaik"
"Makasih Kak Jeha!" Rubi memeluk perempuan yang sudah dianggap seperti Kakak nya sendiri.
Rubi memberanikan diri untuk mengetuk pintu Ruangan Brian.
"Masuk!" teriak nya dari dalam.
Seperti jatuh tertimpa tangga pula, peribahasa itulah yang tepat untuk menggambarkan Ruby saat ini. Bagaimana tidak?? lagi lagi ia harus di buat kecewa oleh Pria yang sempat membuat nya bahagia dengan kelakuan nya yang tidak senonoh.
Melihat Sinta duduk dipangkuan Brian dengan posisi berhadapan dengan saling melumhat. Ditambah Baju Sinta yang berantakan. Benar benar membuat Rubi semakin merasa muak.
"Maaf.."ucap nya Lirih dan menunduk.
"Ruby!" pekik Sinta, segera beranjak dari pangkuan Brian sambil merapikan bajunya "Sorry ya kamu harus ngeliat hal hal seperti ini, maklum aja ya By?? kita kan lama nggak ketemu" ucap nya menyeringai
Segangkan Brian duduk bersandar di kursi kebesaran nya dengan santai nya. Sambil menaik kan Resleting celana nya tanpa bersalah sedikit pun.
Ruby tak banyak bicara, langsung menyodor kan surat agar ditandan tangani oleh Pria itu.
"Trimakasih pak.." kata Rubi.
__ADS_1
"Ya!" jawab Brian tanpa menoleh ke arah nya.