Takdir ?!

Takdir ?!
Pergulatan Hati


__ADS_3

Astri POV


Sebenarnya aku yang bodoh?!


Cinta yang buta?!


Rasa yang salah?!


atau waktulah yang kurang tepat?!


Author POV


Sebelum Hari berangkat ke rumah Sherly untuk makan malam, dia terlebih dahulu mengantar Astri untuk pulang kerumahnya.


Sepanjang jalan Astri hanya diam sambil memeluk pinggang Hari.


Melihat itu Hari sangat paham apa yang sedang dipikirkan oleh Astri, hanya saja Hari membiarkan itu untuk melatih rasa percaya Astri kepadanya dan agar Astri lebih kuat lagi karena didepan sana ada yang lebih berat dan menyakitkan dari pada ini.


Setelah beberapa menit mereka pun sampai dirumah Astri.


"masuklah" titah Hari.


"iya" jawab Astri.


Sebelum Astri benar-benar balik badan untuk masuk kedalam rumahnya Hari terlebih dahulu memeluknya.


"percayalah" ucap Hari.


Astri hanya mengangguk dalam pelukan Hari agar air matanya tidak mengalir.


Kemudian Hari menyuruh Astri masuk rumah dan setelah Astri benar-benar masuk rumah Hari baru pergi meninggalkan halaman rumah Astri untuk menuju rumah Sherly.


Butuh waktu cukup lama untuk sampai ke kediaman rumah keluarga Sherly karena memang arah rumah Astri dan Sherly yang berlawanan arah.


Setelah Hari sampai di rumah Sherly, dia menyetandartkan motornya dan segera memencet bel rumah Sherly.


Ting tong ting tong


Satpam rumah itu segera membukakan gerbang setelah melihat Hari dari cctv keamanan.


"malam den, silahkan masuk" sapa Salah seorang satpam dirumah Sherly.


"terimakasih pak" ucap Hari.


Hari kemudian masuk kedalam rumah Sherly dan disambut oleh Tante Diana dengan hangat tak lupa Sherly yang berlari ke arah Hari dan tiba-tiba memeluknya sebagai penyambutan.


"malam Hari, apa kabar?" sapa Tante Diana.


"malam, Hari baik Tante" jawab Hari.


Sherly tidak peduli tatapan dingin Hari karena dia yakin kalau Hari tidak bakal menolak pelukannya didepan orang tua Sherly.


Dengan pasrah Hari menurut saat digandeng Sherly menuju meja makan.


Dimeja makan Hari bertemu dengan papa Sherly, yang menyapa dengan menjabat tangan Hari.


Hari menerima jabatan itu dengan sopan.


"malam om" sapa Hari.


"malam Hari, duduk nak" titah om Rian papanya Sherly.


"baik om terimakasih" ucap Hari.

__ADS_1


Mereka berempat duduk dimeja makan untuk makan malam bersama, awalnya kegiatan makan berjalan dalam mode keheningan sebelum papa Sherly membuka pembicaraan.


"gimana hubungan kalian?" tanya Om Rian.


"lancar pa" jawab Sherly.


Sedangkan Hari hanya mengangguk untuk mengiyakan ucapan dari Sherly.


"Kemarin sebelum Om pulang dari Inggris, Om sempat bertemu dengan papi kamu Har.


Dia juga nitip salam untuk kamu" kata Om Rian.


"ohh, benarkah Om" tanya Hari.


"iya, Om sempat meeting dengan papi kamu mengenai pembukaan mall baru di Jakarta tapi yah gitu papi kamu katanya belum sempat pulang ke Indonesia, mangkanya dia minta om yang ngurusin segala administrasinya di sini" terang om Rian.


"hhmm, iya om" jawab Hari sekenanya.


"gimana sekolah kamu, lancar?" tanya Om Rian.


"isshh papa kenapa Hari ditanyain terus, tanya aku gitu?" rengek Sherly.


"hahahaha, kamu tuh, nggak salah dong papa lebih Deket sama calon mantu" ucap Om Rian.


"ya iya sihh" kata Sherly.


"tuh kan bener" ucap Om Rian.


"sudah-sudah, dimeja makan jangan ribut. Lanjut nanti lagi ngobrolnya" kata Tante Diana.


Astri POV


Bukankah sudah jelas resiko dari hubungan ini?!.


Aku memacari cowok yang sudah punya tunangan itu bukankah sama saja aku selingkuhannya?!.


Sejelas dan setegas apapun Hari mengatakan kalau hanya aku cintanya tetap saja tidak merubah status kalau dia sudah punya tunangan.


Lalu aku?!


bodoh apa ***** atau apa?!


Tapi salahkah rasa ini?!


Aku tidak memaksanya tumbuh, rasa ini sendiri yang tumbuh tanpa permisi.


Apakah aku salah?!.


ataukah takdir yang salah?!.


atau hanya waktu saja yang kurang tepat?!.


Author POV


Disaat Hari sedang makan malam dengan keluarga Sherly, di sisi lain Astri sedang dalam kegalauan tentang rasanya.


Rasa yang tumbuh begitu saja tanpa melihat situasi dan kondisi yang ada.


Setelah selesai makan malam Hari langsung pamit dengan alasan besok sekolah dan dia Tidak mau terlambat bangun karena pulang kemalaman.


Walaupun Sherly berat hati melepas Hari pulang tapi apa daya orang tuanya mengijinkan Hari untuk pulang.


"makasih Om Tante makan malamnya, Hari pamit pulang dulu" ucap Hari.

__ADS_1


"sama-sama sayang, kamu hati-hati dijalan" ucap Om Rian dan diangguki oleh Tante Diana.


"iya Om Tante, Permisi" kata Hari.


Hari melajukan motornya bukan ke arah rumahnya melainkan ke arah apartemen milik Dio.


Setibanya di apartemen Dio, Hari langsung memasukan password untuk masuk ke apartemen Dio.


Hari tahu betul password apartemen Dio karena Hari sudah biasa ke apartemen Dio bahkan Hari sering menginap saat neneknya baru meninggal dulu.


Hari menuju kamar Dio karena diruang TV tidak ada. Ternyata Dio sudah tidur padahal baru pukul 21.30 WIB.


Tanpa permisi Hari langsung melepas jaketnya dan langsung masuk kedalam selimut Dio dan tidur disampingnya.


Dio yang merasa ada seseorang yang ikut tidur bersamanya langsung membuka matanya untuk mencari tahu siapa yang sudah mengganggu tidurnya itu.


"ngapain kesini?" tanya Dio setelah dia tahu Hari yang datang.


"kangen kamu" kata Hari.


"hhmm, tidurlah ini sudah malam" titah Dio.


Tidak butuh waktu lama Hari langsung terlelap di kasur milik Dio dengan segala kegundahan hatinya yang tidak mampu dia ungkapkan.


Dio mengerti maksud kangennya Hari, maka dari itu dia tidak bertanya apapun dan menyuruhnya tidur sampai hari mau mengatakan isi hatinya sendiri.


Dio POV


Sudah ku bilang ini berat, kenapa kamu masih melanjutkannya.


Jika kamu kuat, apakah dia cukup kuat.


Jika kamu mampu apakah dia cukup mampu.


Jika kamu sangat mencintainya, lalu seberapa besar cintanya untukmu.


Semoga, aku akan selalu menyemogakan apa yang kamu semogakan.


Kuharap kamu bisa bahagia walaupun harus penuh perjuangan dan ingat aku akan selalu disisi kamu dan aku akan selalu mendukung segala keputusan kamu selagi itu baik menurut mu Hari.


Author POV


Gumam Dio sambil mengelus rambut Hari sayang.


Dio sangat sayang kepada Hari, karena bagi Dio Hari bukan sekedar sahabat tapi sudah menjadi saudaranya. Bagi Dio, Hari adalah adik laki-lakinya maka dari itu Dio sangat menyayangi Hari.


Disisi lain ada Elli dan Bagas yang sedang duduk santai didepan Rumah Elli.


"bagaimana hubungan Astri dengan Hari?" tanya Bagas.


"mereka masih bahagia-bahagia saja" ucap Elli.


"baguslah kalau begitu" ucap Bagas.


"yang aku nggak ngerti itu jalan pikiran mereka, kalau dilihat dari sudut pandang aku mereka jelas salah karena mereka membangun suatu hubungan di atas hubungan yang lain. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang Hari mungkin tunangannya yang salah karena Hari tidak bisa mendapatkan cinta dari hubungan tersebut, tapi kalau dari sudut pandang Astri tidak ada satupun orang di dunia ini yang bisa mencegah rasa itu akan tumbuh untuk siapa, kapan waktunya dan dalam hubungan yang bagaimana. dan itu semua membuatku ikut pening padahal bukan aku yang menjalaninya" keluh Elli.


"kalau begitu tidak perlu di lihat dari sudut pandang siapapun. Kamu hanya perlu tetap di samping Astri apapun yang terjadi dan biarkan waktulah yang menjawab semuanya, kita tidak tahu takdir apa yang menanti didepan sana" jelas Bagas.


"baiklah aku mengerti" ucap Elli.


"makasih, dan aku pamit pulang karena ini sudah malam" kata Bagas.


"iya sama-sama, kamu juga harus tetap lindungi Astri dari belakang karena entah kenapa aku merasa ada hal buruk yang menantinya didepan sana. Kamu hati-hati dijalan" ucap Elli.

__ADS_1


"iya, bye-bye" kata Bagas.


Bagas pun melajukan motornya untuk pulang kerumahnya karena malam sudah larut dan besok dia juga harus berangkat sekolah.


__ADS_2