Takdir ?!

Takdir ?!
Kesepakatan


__ADS_3

Author POV


Astri dan Elli akhirnya sampai dirumah Astri dengan tanpa diketahui mereka ada dua orang yang mengikuti mereka di satu sisi ada Dio yang mengikuti mereka dan dilain sisi ada Johan yang juga mulai bertugas.


Astri dan Elli masuk kedalam pekarangan rumah Astri. Setelah memastikan mereka berdua masuk rumah Dio bergegas meninggalkan mereka berdua sedangkan Johan tetap pada posisinya.


"masuk dulu yuk" ajak Astri.


"iya, udah lama aku nggak main ke rumah kamu" kata Elli.


Astri tersenyum mengiyakan pernyataan dari Elli. Mereka masuk kerumah Astri dan mereka kemudian mendudukkan diri dikasur milik Astri.


Astri bergegas mengganti seragam sekolahnya dengan baju biasa sedangkan Elli tetap menggunakan seragamnya karena dia tidak membawa baju ganti.


Astri duduk di meja belajarnya untuk sekedar membuka YouTube atau melihat-lihat informasi lain dan Elli rebahan santai di atas tempat tidur milik Astri.


"As?!" kata Elli.


"hhmm" jawab Astri tanpa menoleh ke sumber suara.


"menurut kamu Hari terlalu overprotective nggak sih?" tanya Elli.


"entahlah, aku sendiri masih bingung mengartikannya" jawab Astri.


"menurut aku dia itu aneh, dia terlalu mengkhawatirkan kamu seakan ada banyak pasang mata yang mengintai kamu dan akan ada yang nyakitin kamu. padahal kan nggak ada apa-apa dan kamu baik-baik saja. Kenapa dia gitu coba?" terang Elli.


"hhmm bukan hanya mengkhawatirkan aku. Dia bahkan mengucapkan hal-hal aneh dan apalah itu" kata Astri.


"mengucapkan apa?" tanya Elli.


"dia mewanti-wanti aku untuk hati-hati dan segera menghubunginya kalau-kalau ada yang tidak seperti biasanya" jelas Astri.


"maksudnya?" kata Elli.


"y gitu, seakan aku dalam masalah besar karena menjalin hubungan dengannya. Kamu tahu Elli dengan dia bersikap seperti itu padahal semakin membuatku merasa aku ini adalah pelakor seperti di tv-tv gitu yang akan mendapat balasan dari istri pertama" terang Astri sambil tetap menyibukkan diri dengan laptopnya.


"lhahh emang hubungan kamu gitu kan, kamu pacaran sama orang yang udah punya tunangan terus kamu mau dibilang apa selain itu" kata Elli.


"iya kamu benar" kata Astri.


"ma'af Astri bukannya aku nyalahin kamu atau nggak dukung kamu, hanya saja aku nggak mau kamu sakit hati nantinya" terang Elli sambil memeluk Astri dari belakang.


"iya nggak apa-apa, aku ngerti kok" jawab Astri.


"tapi yang harus kamu tahu pasti, bahwa aku akan tetap ada untuk kamu dalam keadaan apapun kamu" jelas Elli semakin mempererat pelukannya.


"Terimakasih Elli" kata Astri sambil tersenyum manis kepada Elli.


Johan POV

__ADS_1


Haduhhh, keluar dari pasukan khusus aku malah dapat kerjaan aneh gini.


Sebenarnya aku pengawal apa penguntit, kenapa aku disuruh ngintilin anak remaja yang latar belakangnya saja dari keluarga biasa dan nggak ada masalah politik apapun.


Ya mending anak pejabat atau presiden, ini dia orang biasa tapi kenapa sampai bos besar berani bayar aku mahal cuma buat jagain gadis ini saja.


Sampai-sampai aku harus tinggal tepat didepan rumah gadis ini. sepenting itukah gadis ini. dan lagian kata bos Dio dia bukan bosnya ada bos besar dibaliknya. Tapi sampai sekarang aku belum ketemu dengannya.


Author POV


Dilain sisi Johan sedang merutuki dirinya yang merasa bingung dengan tugas barunya sebagai pengawal.


Sedangkan di cafe Hari sedang mencoba membuat kesepakatan dengan Sherly.


Hari menaruh sebuah file yang agak tebal atas meja cafe dan menyuruh Sherly untuk memeriksanya.


"Lihatlah" titah Hari sambil memberikan sebuah file.


"apa ini?" tanya Sherly sambil tangannya meraih file tersebut.


Sherly kaget dan marah melihat isi file tersebut.


"Kamu bisa menyobeknya jika tidak suka tapi aku kasih tahu kalau itu hanya salinannya saja yang asli masih di aku tersimpan rapi bahkan ada rekaman video nya juga" terang Hari.


"memang apa yang bisa kamu lakuin dengan foto-foto ini dan dengan semua keterangan yang begitu lengkap ini hah?! ucap Sherly sedikit mengejek Hari.


"tidak ada sihh, hanya saja mungkin saat file ini beserta videonya sampai ditangan Papi mungkin mimpi kamu akan segera berakhir" jelas Hari


"kalau Papi sampai tahu kamu berpacaran dan bermesraan dengan banyak pria selama masih bertunangan dengan aku, mungkin tidak hanya pembatalan pertunangan saja aku kira papa kamu juga harus bersiap mengucapakan selamat tinggal dengan perusahaannya" terang Hari.


"awas kalau kamu sampai berani melakukan itu" bentak Sherly sambil menggebrak meja cafe.


"hahahaha, tenang itu semua tidak akan terjadi jika kamu tidak menggangu dan menyentuh Astri. Dan kamu harus bisa pastikan kalau orang-orang dari orang tua kita berdua tidak ada yang berkeliaran di Indonesia. Bagaimana?! titah Hari.


Sherly diam dan mengepalkan tangannya karena merasa ditekan oleh Hari.


"sudah kubilang jangan coba-coba bermain dengan ku!" kata Hari


"baiklah kamu menang kali ini. Aku setuju dengan kesepakatan ini" kata Sherly


"laksanakan dan jangan coba-coba mengingkarinya karena aku nggak akan segan-segan untuk jahatin kamu" ancam Hari.


"sepenting itukah gadis itu?!, gadis yang mungkin sangat sulit untuk kamu perjuangin?!" tanya Sherly pelan.


"iya" jawab Hari tegas.


"hahahaha, kamu tahu Hari kalau kamu itu sangat menyebalkan" kata Sherly.


"aku nggak peduli" ucap Hari.

__ADS_1


"tapi kamu harus ingat Hari, meskipun kamu bisa lepas dari aku kamu nggak akan bisa lepas dari Papi kamu. Jika kamu putus dari aku pada akhirnya kamu tetap akan berakhir degan gadis pilihan orang tua kamu" jelas Sherly.


"aku tahu, tapi setidaknya aku pernah berjuang untuk cinta ku dan kebahagian kami meskipun itu tidak mudah" jawab Hari.


"hhmm" gumam Sherly.


Hari pergi meninggalkan Sherly sendirian dicafe dengan senyum kemenangannya. Meskipun dia belum sama sekali menang dari orang tuanya namun bagi Hari setidaknya dia bisa melindungi Astri untuk saat ini.


Sherly berteriak-teriak di dalam cafe karena frustasi dengan ancaman Hari bahkan dia tidak peduli dengan tatapan aneh dari pelanggan lain yang menyaksikan tingkahnya.


Hari melajukan motornya menuju rumahnya untuk mengganti seragamnya dengan baju biasa dan kemudian pergi ke apartemen milik Dio.


Setelah hampir satu jam Hari akhirnya sampai di apartemen Dio. Dia langsung masuk seperti biasanya, hanya saja kali ini Dio sedang duduk didepan TV jadi Hari tidak perlu repot-repot mencarinya.


"ada apa?" tanya Dio sebelum Hari sempat menyapanya.


"gimana tadi" tanya Hari sambil mendudukkan dirinya disebelah Dio.


"baik dan sekarang Elli masih menemaninya. Aku juga sudah mendapatkan rumah yang berada tepat didepan rumah Astri" terang Dio.


"kerja bagus" kata Hari.


"tentu, siapa dulu Dio gitu loh" jawab Dio dengan sombongnya.


"makasih y sudah mau repot-repot untuk ku" kata Hari.


"tentu brother, apa sih yang nggak buat kamu" jawab Dio dengan senyum tulusnya.


"Dio, aku laper" kata Hari tiba-tiba.


Bugh


Bugh


Bugh


Hari mendapat pukulan bertubi-tubi dari Dio


"kamu tuh y, lagi melow-melownya juga tiba-tiba bilang laper kan jadi ngerusak suasana tahu" geram Dio.


"hahahhaha, ya terus gimana emang aku laper kok, lagian tadi nggak sempet makan dirumah" kata Hari


"ART kamu nggak masak?" tanya Dio sambil melangkah menuju dapurnya.


"masak, hanya saja tadi lagi nggak nafsu makan tapi sekarang laper pengen makan" terang Hari.


"Sebentar, aku buatin makanan untuk kamu" jawab Dio.


"uluh uluh uluh baiknya kakak aku ini" goda Hari.

__ADS_1


"idihh siapa juga yang mau jadi kakak kamu" kata Dio sambil tetap memasak untuk Hari.


__ADS_2