Takdir ?!

Takdir ?!
Ketika waktu berkehendak


__ADS_3

Ketika waktu seakan menjadi sponsor utama dalam tumbuhnya sebuah rasa, maka tidak ada satu pun anak adam yang bisa menghindarinya


Author POV


"baik anak - anak, hari ini ibu Fani tidak bisa hadir maka kalian diberitugas untuk merangkum dan meringkas isi sebuah novel di perpustakaan dan dikumpulkan nanti pada jam terakhir sekolah" kata guru piket.


"Baik Bu" seru seluruh siswa dalam kelas XI IPA 1


Saat Hari mendengar pengumuman tugas tersebut entah kenapa hatinya menghangat dan seulas senyum tercetak di bibirnya, bukan karena dia suka baca novel ataupun suka dengan mata pelajarannya, terapi entah kenapa dia bahagia karena bisa bertemu dengan Astri dengan alasan dia buku kartu perpusnya.


"woy Har bengong z, yuk buru ke perpus nih anak - anak udah pada pergi ke sana semua" kata Dio teman sebangkunya.


Yang di tabok pundaknya hanya senyum dan mengangguk menanggapi perkataan temannya itu.


Tapi sebelum ke perpustakaan Hari mengajak Dio untuk ke kelas XI IPA 2 dahulu. "Buset dah nih anak disuruh ke perpus malah ke kelas sebelah, ngapain coba" tegur Dio.


"Hehehe, ada perlu bentar" jawab Hari.


Sesampainya di depan kelas XI IPA 2 Hari celingak - celinguk mencari keberadaan Astri, Aldi ketua kelas Astri yang merasakan kehadiran Hari seperti sedang mencari orang berinisiatif untuk bertanya terlebih dahulu kepada Hari. "cari siapa bro?" tanya Aldi


"cari Astri, orangnya ada?" kata Hari.


"ohh, tunggu bentar, Astri nih ada yang nyari" teriak Aldi


Astri yang merasa dipanggil segera ke depan kelas untuk menemui orang tersebut, dia berjalan ke arah pintu dan ketika sepuluh langkah terakhir entah kenapa jantungnya berpacu sangat cepat seakan - akan jantungnya akan copot dari tempatnya. Setelah dia keluar kelas dan melihat sosok Hari didepannya entah kenapa bibirnya tertarik kesamping untuk membentuk seulas senyum.


"ohh kamu, ada apa mencari ku"? tanya Astri.


"hhmm itu aku mau pinjam kartu perpus ku, soalnya ada tugas ke perpus" papar Hari


"hhmm gitu, yaudah tunggu sebentar" kata Astri.


Setelah beberapa saat Astri keluar kelas lagi dengan membawa kartu perpusnya Hari.


"ayok jalan" kata Astri.


"hahh?, maksudnya" tanya Hari.


"lahh katanya mau ke perpus, ya ayokk aku ikut, biar kamu nggak kabur bawa kartu perpus kamu jadi ak tungguin kamu sampai selesai kamu pinjam buku, lagian aku juga jam kosong jadi nggak ada masalah aku ikut kamu kan?!" jelas Astri.


"ettddahh buset, nggak percaya amat kamu sama aku, tenang aku nggak bakal kabur kemana - mana kok" jelas Hari.


Walaupun sebenarnya dalam hati dia sangat senang tanpa alasan mendengar bahwa Astri akan ikut dia ke perpus.


"mau nggak?, kalau nggak yaudah nggak jadi" jawab Astri.


"oke - oke, aku mau" jawab Hari terburu - buru agar Astri tidak berubah pikiran.


"udah pacarannya?, kalau udah buru ke perpus biar cepat selesai tugasnya" sambar Dio yang dari tadi diam melihat adegan temannya tersebut.


Bugh


Dio mendapat hadiah tampolan dari Hari dan Astri secara bersamaan karena ucapannya yang barusan, Dia meringis kesakitan sambil mengusap kepala dan lengannya yang terkena tampolan tadi.


Mereka bertiga berjalan bersamaan menuju perpus dengan sunyi, tidak ada yang memulai pembicaraan sampai mereka tiba didalam perpustakaan.


Astri dengan tenang mengikuti Hari memilih - milih buku novel dari rak satu ke rak yang lain seperti anak ayam yang sedang mengikuti induknya kemanapun dia pergi.


Tanpa mereka berdua sadari semua orang yang ada didalam perpustakaan memperhatikan tingkah mereka berdua sambil berbisik - bisik.


"mereka pacaran?" , "nggak tahu malu mesra - mesraan di perpus", "uhhh bikin ngiri saja", kurang lebih seperti itulah suara - suara yang samar - samar terdengar ke telinga mereka.


Tetapai baik Hari maupun Astri tidak ada yg merasa terganggu dengan hal itu, mereka tetap dengan kegiatan mereka.


"Kamu cari novel apa?" tanya Astri.


"hmm belum tahu, aku lihat - lihat judulnya dulu ntar baru aku putusin novel yang mana" jawab Hari.


"ohh" jawab Astri.

__ADS_1


"kamu suka baca novel?" tanya Hari.


"suka, apalagi novel percintaan yg romantis tapi juga menyedihkan jadi kayak dramatis gitu" terang Astri antusias.


"kalau kamu?" tanya Astri.


"aku nggak begitu suka baca novel" jawab Hari.


"ohh gitu" jawab Astri.


"kamu nggak ada jawaban lain apa selain "ohh"" terang Hari.


"hehehe aku nggak begitu pandai kalau buat ngobrol panjang lebar gitu" jawab Astri.


Dengan reflek Hari mengusak Pucuk kepala Astri dengan lembut.


Sedangkan si empunya hati bisa tersenyum malu dengan pipi merah bak kepiting rebus.


setelah selesai meminjam buku, Hari mengembalikan lagi kartu perpusnya kepada Astri.


"thanks" ucap Hari


"oke" jawab Astri


"aku balik ke kelas duluan y" kata Astri


"aku anter y, tadi kan berangkatnya bareng" tawar Hari.


"boleh, ayokk" jawab Astri.


Sedangkan Dio yang dari berasa jadi nyamuk pamit duluan ke kelas tanpa menemani Hari untuk mengantar Astri.


Mereka berjalan dengan santai dan sedikit mengobrol untuk memecah kecanggungan.


"As, masalah Hp kamu itu beri aku waktu satu Minggu y, soalnya agak susah buat benerinnya" jelas Hari.


"tenang aku nggak bakal kemana - mana kok" kata Hari dengan senyum terbaiknya.


"beneran y" kata Astri.


"iya baby" jawab Hari.


Bugh


"Awww, sakit tahu" ringis Hari sambil mengelus lengannya yang kena pukul Astri.


"hadiah" kata Astri.


tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari dalam kelas XI IPS 1 dengan tatapan penuh emosi.


bel pulang sekolah pun berbunyi, semua siswa siswi berhamburan meninggalkan kelas mereka untuk menuju parkiran ataupun gerbang sekolah.


Astri yang terbiasa menggunakan angkot pun berjalan santai keluar sekolah, saat dia sampai di depan ujung sekolah dia di stop oleh Bagas yang notabennya adalah pacarnya.


"kenapa telpon ku nggak diangkat, SMS ku juga nggak kamu balas?" bentak Bagas.


"handphone aku rusak" jawab Astri


"ohh, trusz siapa tadi?" tanya Bagas lagi dengan nada yang tinggi.


"siapa apanya?" jawab Astri dengan sedikit ketakutan.


"nggak usah pura - pura lupa, tadi orang yang jalan sama kamu pas jam pelajaran" terang Bagas.


"ohh, dia temen aku tadi nggak sengaja ketemu di perpus" jawab Astri, dia tidak tahu kenapa dia ingin menutupi kejadian yang sebenarnya, entah kenapa mulut dan otaknya tidak singkron.


"beneran?" tanya Bagas sedikit melunak setelah mendengar suara Astri yang bergetar karena ketakutan atas bentakannya.


Astri hanya mengangguk sebagai jawaban tanpa ingin memperpanjangnya.

__ADS_1


"yasudah, aku antar pulang y sayang" pinta Bagas.


"iya" jawab Astri singkat.


Dari kejauhan Hari melihat semuanya dengan jelas, tanpa sadar dia mengepalkan kedua tangannya, dia tidak tahu marah karena apa, karena Astri dibentak, atau karena Astri sudah memiliki pacar ataukah malah keduanya. Yang jelas dia tidak suka melihat adegan tadi ingin sekali dia memukul Bagas karena telah kasar kepada Astri.


Astri POV


Bodoh, ngapain coba aku bohong segala sama Bagas?!, kenapa nggak jujur saja kan jadinya nggak enak sendiri kayak gini?!.


Tapi kenapa rasanya berbeda y?!.


Saat aku didekat Bagas aku merasa biasa saja, apa mungkin karena sudah terbiasa jadi rasa gugupnya sudah hilang kali y?!.


Tapi kenapa saat didekat Hari aku sangat gugup?!, bukan bukan gugup lebih tepatnya seperti ada debaran yang aku tidak mengerti apa itu, hhmm entahlah.


Author POV


Sesampai Astri di rumah dia terus berbicara pada dirinya sendiri untuk memastikan sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya, namun nihil dia pun tidak mengerti dengan apa yang sedang dirasakan oleh hatinya.


Dilain sisi Hari sedang sibuk memesan handphone keluaran terbaru untuk mengganti handphone Astri yang rusak.


Dia memilih iPhone 6 untuk mengganti handphone nexia Anang syahrini milik Astri, berlebihan mungkin sepertinya tapi bagi Hari dia merasa bahagia untuk memberikan yang terbaik buat Astri, tohh itu tidak sulit untuk anak laki - laki satu - satunya dari keluarga konglomerat kelas atas sepertinya. Sebenarnya Hari memiliki satu kakak perempuan dan satu adik perempuan tapi berhubung hanya dia yg laki - laki maka dia sudah dipersiapkan oleh orang tuanya sejak kecil untuk menjadi penerus perusahaan keluarganya, begitu juga dengan pertunangannya dengan Sherly semua atas rencana dan aturan orang tuanya dan Hari tidak bisa menolak sedikitpun dari rencana orang tuanya meskipun itu hal pribadi sekalipun.


Author POV


Kedua orang tua dan kedua saudarinya menetap di Inggris, hanya Hari yang berada di Indonesia dengan segala fasilitas mewahnya.


Sebenarnya dulu sejak SMP tinggal dengan neneknya di Indonesia, namun neneknya meninggal dihari pertama Hari masuk SMA.


Jadi sekarang dia sendirian di Indonesia, hanya ada asisten rumah tanggal setiap pagi hingga petang saja.


di lain sisi, Astri sedang duduk dimeja belajarnya mengerjakan PR matematika dengan ditemani Elli sahabatnya sejak TK sampai sekarang, meskipun saat SMP mereka pernah beda kelas. Tapi sekarang mereka satu kelas kembali.


"As, tadi siapa yang manggil kamu ke kelas?" tanya Elli.


"dia Hari" jawab Astri.


Bugh


Aaww...


"sakit" teriak Astri yang terkena lemparan buku Elli.


"kalau itu mah aku tahu kali neng, siapa coba yang nggak kenal Hari ketua team basket sekolah, dan selalu juara umum di sekolah, yang aku maksud itu kenapa dia cari kamu hayati?" terang Elli.


"ohhh dia temen, baru kenal dua hari ini" jawab Astri


"kenal dua hari?, tapi yang aku lihat kenapa serasa sudah kenal lama y?, apalagi pas kalian tatap - tatapan" jelas Elli.


"sotoyy, perasaan kamu saja itu mah" kata Astri.


"ihhhh emang tahu mata aku masih jelas kok belum katarak" kekeh Elli


"tahu akhh, pulang sana aku mau tidur" usir Astri.


"yaelah, biasa saja kali, nggak usah ngegas, tapi beneran nih aku pulang?, ibu kamu belum pulang lohh" jawab Elli.


"iya nggak apa - apa" kata Astri.


"yaudah aku pulang, kamu hati - hati, kalau ada apa - apa telpon aku y" kata Elli.


"iya bawellll" jawab Astri Padahal dalam hatinya dia ngegas gimana mau nelpon orang handphone saja nggak ada.


"oke, bye - bye sayang aku pulang dulu jangan lupa kunci pintunya" terang Elli.


Dengan langkah berat Astri menuju pintu rumahnya untuk dikunci karena pasti ibunya akan pulang larut lagi.


Sebelum Astri benar - benar masuk alam mimpi dia sempat melihat kartu perpus milik Hari sekilas sebelum memasukannya lagi kedalam tas sekolahnya ada sedikit senyuman tersirat di bibirnya, entah mengapa dia bahagia hanya melihat fotonya di kartu perpusnya saja.

__ADS_1


__ADS_2