Takdir ?!

Takdir ?!
Awal perpisahan 2


__ADS_3

Author POV


Drrt Drrt Drrt


"hallo" jawab Ibunya Astri.


"ini Hari Tante, Astri sekarang masuk rumah sakit" ucap Hari sedikit ragu-ragu.


"Tante kesana sekarang" jawab Ibunya Astri dengan panik.


Drrt Drrt Drrt Drrt


"Elli ini Hari tolong kabari orang tua Bagas bahwa Bagas masuk rumah sakit karena kecelakaan" ucap Hari tanpa menunggu jawaban dari Elli.


"iya" jawab Elli singkat karena shock.


Hampir satu jam Hari menunggu Astri didepan ruang operasi tapi Dokter belum keluar juga, hingga akhirnya ibunya Astri datang dengan terengah-engah karena shock dan berlari untuk segera sampai di depan ruang operasi rumah sakit.


"bagaimana keadaan Astri sekarang Hari?" tanya Ibunya Astri.


Hari menggeleng karena dia juga belum dapat kabar apapun.


Mereka menunggu bersama dengan rasa khawatir yang sangat dalam tentang keadaan Astri sekarang.


Ibunya Astri termenung dan berdoa untuk keselamatan anaknya.


Lima menit kemudian orang tua Bagas datang bersama Elli, mereka menemui Hari untuk bertanya tentang keadaan Bagas sekarang.


"Hari, ini orang tua Bagas" terang Elli.


Hari hanya mengangguk sebagai tanda iya, dia tidak bisa bicara banyak karena masih sangat khawatir mengenai keadaan Astri sekarang.


"nak Hari, dimana Bagas sekarang?" tanya orang tua Bagas.


"masih didalam ruang operasi Om, letaknya tepat didepan ruang operasi Astri" jawab Hari.


"apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Elli.


"aku juga tidak tahu, saat aku datang mereka sudah masuk UGD" jawab Hari.


Orang tua Bagas berteriak histeris karena sangat khawatir dengan keadaan Bagas yang tidak tahu kondisinya sekarang bagaimana.


Mereka semua menunggu dalam hening dengan pikiran mereka masing-masing menerawang tanpa batas.


Dio mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari informasi mengenai kecelakaan yang menimpa Astri sekaligus untuk menangkap pelakunya.


Dio terus mengerang jengkel saat hampir separuh anak buahnya tidak ada yang mendapatkan hasil baik informasi maupun keberadaan pelakunya.


"bodoh kalian semua" bentak Dio sambil menendang meja didepannya.


"ma'af bos, baik CCTV maupun saksi semua bersih bos" jawab salah seorang anak buahnya.


Dio termenung dan memutar otaknya untuk mencari tahu siapa gerangan yang bisa melakukannya sebersih itu.

__ADS_1


dalam Hati Dio


tunggu, jika sebersih ini maka dalangnya jika bukan mereka pasti dia. Sepertinya aku harus turun tangan sendiri.


Dio melangkah pergi menuju mobilnya yang terparkir rapi disalah satu gedung miliknya meninggalkan anak buahnya yang babak belur dihajarnya.


Hari POV


Aku janji nggak bakal ngelepasin siapa saja yang berani menyentuh kamu sayang, meskipun aku harus membayarnya selama sisa hidupku.


Author POV


Hari dan Ibunya Astri sedang duduk di samping ranjang rawat inap Astri sambil memegang tangan Astri erat untuk menyalurkan segala rasa yang ada dihati mereka masing-masing.


Operasi Astri telah selesai dan sekarang Astri sudah berada dikamar rawat inap meski dia belum sadar karena masih ada efek obat anastesinya.


Begitupun dengan Bagas, Operasinya sudah selesai tetapi dia masih berada di ruang ICU karena kondisinya masih belum melewati masa kritis.


Orang tua Bagas terus merapalkan doa untuk anak laki-laki nya itu tanpa henti. mereka menunggu diruang tunggu bersama Elli yang terus mencoba menguatkan orang tua Bagas.


Disisi lain Johan sudah sadar dan hanya mengalami patah tulang di kaki kanannya. Dia berusaha mengingat wajah dan plat mobil yang mencoba menabrak Astri. Didalam ruang rawat Johan ada anak buah Dio yang standby untuk membantu Johan jika dia memerlukan sesuatu.


"boleh aku meminjam telpon?" tanya Johan kepada anak buah Dio yang menemaninya didalam ruangan rawat inapnya.


"boleh pak" jawab Arif.


Drrtt drrtt drrt drrt


"bos ini Johan, mereka orang profesional" ucap Johan.


"kamu mengingat wajah pelakunya?" tanya Dio.


"tidak hanya ingat tapi saya mengenalnya" jawab Johan.


"siapa mereka?!" kata Dio.


"mereka pembunuh bayaran, da--nn sa---yyaa tahu keberadaan ke--keluarganya" ucap Johan tergagap.


"Bagus, berikan aku alamatnya" titah Dio.


Tanpa babibu Dio langsung tancap gas menuju alamat yang dimaksud oleh Johan.


Butuh waktu 4 jam bagi Dio untuk sampai dirumah tersebut dengan kecepatan mobil terhitung seperti dia sedang balapan di sirkuit, tidak lupa beberapa anak buahnya ikut menemaninya untuk berjaga-jaga.


Tok tok tok tok tok


"permisi" ucap Dio.


"iya ada apa?" jawab seorang wanita paruh baya sambil membukakan pintu untuk Dio.


"dengan kediaman bapak Robert?" tanya Dio.


"iya betul, anda siapa ya?" tanya Siti istri dari Robert.

__ADS_1


"saya orang yang pernah ditolong bapak Robert jadi saya mencari bapak Robert karena ada hal yang ingin saya bicarakan dan saya ingin mengucapkan terimakasih langsung kepadanya karena telah menolong saya waktu itu" ucap Dio mencoba sopan dan menahan segala emosinya.


"ma'af nak, suami saya sedang bekerja diluar kota, dia pulangnya saat lebaran saja jadi dia sekarang tidak dirumah" jelas Siti.


"benarkah, kalau begitu bolehkah saya masuk untuk meminta segelas air putih dan bisakah anda menelponnya untuk saya?" tanya Dio sopan.


"ohh boleh nak tentu silahkan" jawab Siti.


Tidak lama kemudian Siti keluar dari dapur dan membawa satu gelas air putih karena yang masuk rumah Robert hanya Dio sedangkan anak buahnya menunggu di luar.


"itu anaknya Bu?" tanya Dio.


"iya itu anak-anak kami, mereka masih SD, TK dan bayi kami baru lahir 40 hari yang lalu" jelas Siti.


"bisakah anda menelponnya sekarang?" tanya Dio.


"ohh tentu, sebentar saya ambil Handphone terlebih dahulu.


Drrt Drrt Drrt


"Halo kang" sapa Siti.


"ada apa?, jangan telepon dulu akang lagi sibuk" jawab Robert.


Tanpa terduga Dio telah berada tepat disampingnya Siti dan dengan tiba-tiba mengambil handphone milik Siti dan itu membuatnya kaget.


ssstthh


Dio memberi aba kepada Siti untuk diam menggunakan jari telunjuknya. Dan diangguki oleh Siti.


Beberapa anak buah Dio sudah masuk kedalam rumah siti dan mengawasi setiap gerak-gerik dari Siti dan anak-anaknya.


"hallo Robert" sapa Dio.


"siapa ini?!!" tanya Robert.


"kamu tidak perlu tahu siapa aku, yang perlu kamu tahu keluargamu bersama ku saat ini" ucap Dio.


"kurang ajar, apa mau mu?" bentak Robert.


"dalam satu jam aku tunggu kedatangan mu sendiri tanpa senjata jika kamu ingin istri dan anak-anak kamu masih bisa bernafas" titah Dio.


"Sialan!!!!!!, jangan sentuh mereka atau kau yang akan menyesal" ucap Robert.


"hahahaha, jangan coba-coba mengancam ku karena aku lebih kejam dari kamu" ucap Dio.


"kurang ajar, oke kalau gitu aku setuju" ujar Robert.


"akan ku kirim alamatnya" ucap Dio dan kemudian mengakhiri panggilan telepon itu.


"bawa mereka semua!!!" titah Dio kepada anak buahnya.


"siap bos" jawab mereka serentak.

__ADS_1


__ADS_2