Takdir ?!

Takdir ?!
Ketidaksengajaan yang di Semogakan


__ADS_3

Author POV


Pagi ini di kelas XI IPA 2.


"Anak - anak hari ini guru bahasa Indonesia kalian masih cuti melahirkan jadi untuk mapel bahasa Indonesia hari ini kalian ada tugas untuk meringkas dan merangkum sebuah novel di perpustakaan y, tugasnya dikumpulkan setelah jam pelajaran bahasa Indonesia selesai, nanti tolong ketua kelas kumpulin ke meja saya", terang guru piket.


"baik Bu" jawab seluruh siswa serempak.


semua siswa bergegas ke perpustakaan, begitupun dengan Astri entah kenapa dia juga sekalian membawa kartu perpus milik Hari, dalam hati dia menyemogakan ketidaksengajaan yang ia harapkan.


Dilain sisi, tepatnya dikelas XI IPA 1.


"Har kantin yok mumpung jam kosong nih" ajak Dio sahabatnya.


"boleh, tapi mampir bentar ya ke kelas sebelah" kata Hari.


"ngapain" tanya Dio.


"ada dehh" kata Hari.


Mereka berdua berjalan menuju kelas Astri tentu saja tanpa Dio ketahui tujuan kelas sebelah itu yang mana, dia hanya ngikut hari saja.


Sampai depan kelas Astri ternyata hampir semua siswa sudah berada di perpus hanya ada ketua kelas yang belum meninggalkan kelas karena masih memastikan apakah semua ke perpus untuk mengerjakan tugas atau apa ada yang masih di kelas untuk bersantai.


"permisi bro, anak - anak pada kemana y" tanya Hari.


"ke perpus, kamu mau cari siapa?" jawab Aldi sekenanya.


"cari Astri" kata Hari.


Bugh


Aaww


"sakit Dio" kata Hari sambil meringis karena kepalanya digetok Dio.


"ohh pantes pengen mampir dulu ternyata...., kalau mau pacaran jangan ngajak - ngajak aku napa, emang aku nyamuk" ketus Dio.


"emang kamu pacarnya Astri, bukannya dia pacar Bagas y?" kaget Aldi.


"lhahhh bukannya dia pacar kamu?" tanya Dio


"kan kamu yang bilang, kenapa tanya aku?" jawab Hari.


Sedangkan dalam hatinya mengiyakan kalau Astri akan jadi pacarnya.


"oke thanks di, aku pamit dulu" kata Hari.


"Hariiiiii, jelasin dulu ke aku dia pacar kamu bukan?" teriak Dio sambil ngejar Hari yang sudah melesat menuju perpustakaan.


Sedangkan Aldi hanya geleng - geleng kepala melihat tingkah mereka berdua, setelahnya dia ikut bergegas ke perpustakaan juga.


Dio berhasil mengejar Hari tepat di depan perpus.


"kamu beneran mau ke perpus?, trusz kantinnya gimana, aku laper" rengek Dio.


"kamu ke kantin sendiri duku y nanti aku nyusul, aku ada urusan bentar" jawab Hari.


"hu hu hu Hari jahat giliran jatuh cinta sahabat sendiri dilupakan" rengek Dio dengan wajah yang di melas - melaskan.


"udududu zeyenggg kacian, sana gih ke kantin sendiri aku mau ke perpus bye - bye" kata Hari dan segera masuk kedalam perpustakaan.


"ihhh Hari jahat, oke bye" kata Dio yang kemudian sudah ngacir ke kantin.


Di dalam perpus Hari menelusuri setiap lorong rak buku untuk mencari Astri.


Astri POV


Debaran ini, apakah dia disini?


tidak tidak pasti ini salah, pasti ini hanya perasaanku saja tidak mungkin dia disini.


Hari POV


Jantungku...,


Author POV


Tepat sepuluh langkah sebelum Hari menemukan Astri di salah satu lorong rak novel jantung hari berdebar sangat kencang seakan jantungnya akan lepas dari tempatnya.


Hari berjalan lurus kedepan, begitupun Astri balik badan dan berjalan sambil tertunduk untuk mengimbangi detak jantungnya yang sudah tidak karuan.


"kalau jalan jangan nunduk, ntar nabrak lohh" seru Hari dengan senyum termanisnya.


Astri kaget mendengar suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya sejak empat hari lalu dan kemudian mendongakkan kepalanya untuk memastikan bahwa dia benar.


Tanpa disadari Astri ikut tersenyum melihat Hari tersenyum manis padanya.


Dalam hati Hari dia bergumam, "sepertinya aku akan kena diabetes kalau lihat dia senyum terus".


"kamu disini" tanya Astri.


"iya, kebetulan jam kosong jadi aku ke perpus" kilah Hari, padahal dia sengaja datang untuk mencarinya.


"ohh" jawab Astri.


"kamu ngerjain tugas apa?" tanya Hari.


"kayak punya kamu yg kemarin, sama - sama mapel Indonesia" jawab Astri.


Hari mengusak rambut Astri dengan sayang.


"kamu tuh nggak ada jawaban lain y selain "ohh" ?" kata Hari.


Astri hanya garuk - garuk kepalanya yang tidak gatal karena bingung harus jawab apa.

__ADS_1


Hari yang melihat malah semakin gemas dibuatnya.


Selama di perpus Hari hanya mengikuti Astri mencari novel dan mengerjakan tugas mapelnya. Hari tidak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari wajah Astri.


Yang ditatap hari menunduk karena malu dan kikuk dengan apa yang dilakukan Hari.


Elli yang sadar ada yang tidak biasa dengan sahabatnya itu, Dia menghampiri mereka berdua yang sedang asyik duduk berhadapan di meja perpus.


Sambil bisik - bisik Elli mencoba mencari jawaban atas rasa penasarannya.


"ada hubungan apa kalian berdua?, apa kalian tidak sadar seluruh orang melihat kalian dan bergosip?" tanya Elli.


Astri baru mau buka mulut tetapi Hari sudah terlebih dahulu menjawab pertanyaan dari Elli.


"dalam proses" jawab Hari.


"apa yang dalam proses" tanya Elli.


"aku sama dia" jawab Hari.


"dia sudah punya pacar" terang Elli.


"aku tahu, dan aku juga sudah punya tunangan" jawab Hari.


"sakit kamu y?!, udah punya tunangan deketin cewek lain" kesal Elli dengan jawaban Hari yang menurutnya hanya ingin mempermainkan sahabatnya tersebut.


Astri Hanya diam menjadi pendengar setia, dia tidak berani bertanya ataupun memastikan apapun, meskipun hatinya bergetar sakit saat Hari bilang telah memiliki tunangan.


"yang bertunangan kan perusahaan papah aku, bukan hati aku, so what?!"


"tetep saja ferguso itu artinya kamu udah jadi milik orang lain, jadi jangan coba - coba deketin Astri. Lagian dia itu sudah punya pacar" terang Elli yang geram dengan pernyataan Hari.


"hati aku belum ada yang miliki inem dan aku mau Astri yang miliki itu" jawab Hari mantap.


Astri tidak tahu harus merespon apa, karena dia sendiri tidak paham dengan hatinya.


Bugh


"aduhh" ringis Hari yang kena timpukan buku dikepalanya atas ulah Elli.


"sakit kamu y, mau aku anter ke rumah sakit? hhmm?" jengkel Elli.


"aku tidak sakit dan aku sadar dengan semua yang aku ucapin barusan" jawab Hari tegas dan mantap dengan menatap mata Astri yang tidak sengaja mengangkat kepalanya untuk melihat Hari.


"aku pergi dulu y baby, Dio udah nungguin aku" pamit Hari ke Astri sambil mengelus rambut Astri dengan sayang.


Astri hanya mengangguk sebagai tanda iya mengiyakan Hari, tidak lupa senyuman manis yang selalu melekat pada bibirnya.


Elli yang melihat adegan tersebut hanya bisa geleng - geleng.


"inget jangan main api, bahaya apalagi kalau Bagas sampai tahu bisa habis Hari dihajarnya" ingat Elli dengan tegas ke Astri.


"hhmm" jawab Astri.


Tteett ttettt tteett....


Bagas sudah standby didepan kelas Astri, dia ingin mengantar Astri pulang.


Astri yang tidak tahu bahwa Bagas akan mengantarnya pulang pun sedikit kaget.


"hai sayang, ayok aku antar pulang" ajak Bagas.


"iya" jawab Astri singkat.


Entah kenapa hatinya kecewa melihat Bagas yang didepan kelasnya padahal yang dia tunggu adalah Hari.


Dalam hati Astri bergumam, "tunggu tunggu kecewa tidak aku tidak boleh seperti ini, bagaimanapun aku pacar Bagas jadi aku nggak boleh ada rasa kepada orang lain".


Dari kejauhan Hari yang melihat itu mengepalkan kedua tangannya karena kesal dan cemburu.


Dalam perjalanan pulang hanya suara kendaraan yang terdengar.


Entah Astri yang sedang malas ngobrol atau Bagas yang sedang konsentrasi bawa motornya.


Setelah setengah jam mereka tiba didepan rumah Astri.


"makasih y" kata Astri.


"iya sayang, aku pulang dulu y" terang Bagas.


"hu'umb, hati - hati dijalan y" kata Astri.


Bagas mengangguk sebagai jawaban.


Bagas POV


Sebenarnya tujuan aku mengantar pulang Astri adalah aku ingin bertanya langsung tentang gosip yang aku dengar, hanya saja aku bingung mau mulai dari mana.


Jujur saja aku jarang bisa nganter dia pulang, selain rumah kita beda arah, aku selalu disibukan dengan latihan band jadi dia selau pulang sendiri.


Melihat dia tersenyum aku jadi ragu untuk bertanya tentang gosip itu, meskipun aku sangat penasaran dan khawatir tetapi mungkin bukan hari ini aku tanyanya mungkin lain kali saja.


Author POV


Malam harinya Hari masih tetap uring - uringan mengingat tadi Bagaslah yang ngantar Astri pulang yang notabennya memang pacar Astri.


Dia melihat jam masih pukul 20.00, dia memutuskan untuk keluar mencari udara segar. Tanpa disadari ia melajukan motornya ke arah rumah Astri.


Hari baru sadar setelah dia sampai depan rumah Astri.


"lhoo bukannya ini rumah Astri, kenapa aku sampai sini perasaan aku cuma pengen keliling komplek saja" pikir Hari.


Dari arah dalam Astri membuka pintu gerbang rumahnya berniat mencari bakso untuk makan malam, karena ibunya selalu pulang larut sehingga untuk makan malam tak jarang Astri harus membeli diluar.


ceklek

__ADS_1


drrtttt


"Hari?! ngapain kamu kesini malam - malam?" kata Astri yang kaget akan kehadiran Hari tanpa bilang - bilang .


Hari hanyak garuk - garuk kepalanya yang tidak gatal karena bingung mau jawab apa.


"hhmm aku cuma kebetulan lewat, kamu mau kemana malam - malam keluar rumah?" tanya Hari.


"aku mau cari bakso" jawab Astri.


"kamu belum makan?" tanya Hari.


"iya" jawab Astri.


"naik, aku antar" kata Hari.


"tidak usah nanti ngerepotin kamu lagian juga Deket kok Abang baksonya depan situ saja" terang Hari.


"ayok aku nggak menerima penolakan" titah Hari sambil menyerahkan helm yang senantiasa dia bawa sebagai cadangan.


Astri hanya nurut dan segera menaiki motor Hari.


"kamu ganti motor?" tanya Astri saat dalam perjalanan untuk beli bakso.


"nggak aku punya beberapa motor dan ini salah satunya" jawab Hari.


"ohh gitu" kata Astri.


Tanpa disadari Astri ternyata Hari berhenti disebuah resto bukan kedai bakso seperti tujuan awal dia.


"kok kesini, kan mau beli bakso" tanya Astri.


"kita makan disini saja, beli baksonya kapan - kapan lagi y?!" terang Hari.


"hhmm tapi aku salah kostum, kamu nggak lihat aku cuma pakai training dan kaos saja" rengek Astri.


"nggak apa - apa baby yang penting kamu masih pakai baju" goda Hari dan alhasil dapat hadiah pukulan di lengannya oleh Astri.


Plakk


"Aww, sakit babe" kata Hari dengan wajah yang di melas - melaskan.


Tanpa menunggu aba - aba Hari langsung menggandeng tangan Astri lembut namun erat untuk masuk kedalam resto tersebut.


Mereka memesan beberapa makanan dengan minumannya.


Awalnya mereka makan dalam diam, hanya saja Hari selalu menatap wajah Astri saat makan dan itu membuat Astri susah payah menelan makanannya.


"jangan lihatin aku kayak gitu" aku susah makannya


"mau aku suapin biar gampang makannya?" goda Hari.


"bukan itu maksudnya, ihh kamu mahh" kata Astri.


"lhahh terus gimana babe, katanya susah makannya?!" goda Hari lagi.


"tahu akhh, terserah kamu saja" sahut Astri yang merajuk.


"iya iya aku nggak ngelihatin kamu makan" jawab Hari.


Hari sangat gemas melihat tingkah Astri saat ngambek, ingin sekali dia bungkus terus bawa pulang.


Setelah mereka selesai makan, mereka segera keparkiran motor untuk pulang kerumah Astri. Tetapi sebelum itu Hari memakaikan jaket miliknya ditubuh Astri.


"biar nggak kedinginan ini sudah malam" terang Hari sambil memakaikan jaketnya ke tubuh Astri.


Astri hanya mengangguk sebagai jawaban.


Hari melajukan motor sportnya menuju rumah Astri.


Sesampainya didepan rumah Astri, Hari berpamitan ke Astri untuk segera pulang karena sudah malam.


Tapi sebelum Hari pamit tiba - tiba ada seorang wanita paruh baya yang menyapa mereka berdua.


"ekhemm, dari mana kalian?" tanya ibu Ria dia ibunya Astri.


"ibu" kata Astri.


"ibu sudah pulang?" tanya Astri.


"iya ibu sudah pulang karena ini sudah jam 23.00 kan sayang?" jawab Ria.


"malam Tante Saya Hari calon pacar Astri" kata Hari memperkenalkan diri.


Astri hanya bisa melotot karena kaget dengan ucapan Hari barusan.


"kami habis makan malam Tante" jawab Hari sambil salim dan mencium tangan ibu Ria.


"ohhh saya Ria ibunya Astri, dan makan malam sampai jam 23.00?" tanya ibu Ria sambil menerima uluran tangan Hari.


"ma'af Tante tadi sedikit muter - muter dulu di alun - alun kota jadi pulangnya agak telat" jawab Hari.


Astri hanya mengangguk mengiyakan semua pernyataan dari Hari.


"ohh gitu, yaudah terimakasih tapi Tante rasa kamu harus segera pulang karena ini sudah malam dan kalian juga besok sekolah kan?!" kata Ibu Ria.


"ohh iya Tante, terimakasih saya permisi pulang dulu, malam Tante" pamit Hari sambil cium tangan ke Ibu Ria.


"aku pulang dulu y, terimakasih untuk malam ini, sampai ketemu disekolah baby". Hari mengelus pucuk kepala Astri sayang.


Siempunya yang dielus melotot karena Hari memanggilnya "baby" dan mengusak kepalanya didepan ibunya.


"ibu suka dia" kata Ria sambil berjalan masuk kerumah mereka.


Astri hanya bengong karena masih kaget dengan ucapan ibunya barusan. Dalam hati dia merasa senang mendengar penyataan ibunya dan untuk sesaat dia lupa bahwa dia masih milik Bagas.

__ADS_1


"Astri masuk besok sekolah, jangan bengong saja gitu didepan rumah" teriak Ria.


"iya Bu" jawab Astri yang kaget dari lamunannya dan dia bergegas untuk masuk rumah dengan jaket Hari yang masih setia dia kenakan.


__ADS_2