Takdir ?!

Takdir ?!
Keputusan


__ADS_3

Author POV


Setelah motor Hari melaju meninggalkan kediaman Astri, entah kenapa seakan nyawa Astri kembali lagi dan dia mengingat kembali kecupan dari Hari barusan.


Astri POV


Blushing...


Ya Tuhan Ya Tuhan Ohh Ya Ampun.


Tolong selamatkan jantung ku.


Jantungku seakan ingin lompat dari dalam dada ku.


Aku bisa mati mendadak kalau dia terus seperti itu.


Ohh tidak tidak, ini salah kenapa aku jadi begitu murahan dihadapan Hari, kenapa aku mau di peluk bahkan dicium oleh Hari yang notabennya hanya teman saja meskipun hanya di keningku saja. Aku jahat namanya jika seperti ini terus.


Apa yang harus aku lakukan, aku nggak boleh menggantung keduanya dan aku nggak boleh suka sama keduanya.


Bagaimana ini?!.


Author POV


Didalam kamarnya Astri terus merapalkan bagaimana keputusan yang akan dia ambil, bagaimana sebenarnya isi hatinya dan bagaimana cara mengakhiri salah satunya jikalau salah satunya saja belum dimulai.


Malam Harinya Astri memutuskan untuk menghubungi Bagas dan mengajaknya bertemu.


*Bisakah kita bertemu, ada sesuatu yang ingin aku katakan.


Astri


Boleh, nanti aku jemput


Bagas


Nggak usah, kita bertemu saja ditaman kota


Astri


hhmm baiklah sayang


Bagas*


Bagas POV


*Aku tahu sayang, hanya saja aku pura - pura tidak tahu. Karena aku tidak ingin mengetahui hal yang tidak ingin ku ketahui.


Aku hanya pura - pura tidak tahu agar aku masih bisa tetap disisimu


Aku hanya pura - pura tidak tahu hanya agar kamu masih tetap menjadi milik ku*


Author POV


Astri menunggu Bagas di taman kota dengan sebuah ice cokelat ditangannya.


"hai sayang, udah lama nunggu?" sapa Bagas.


"belum kok, aku juga baru sampai" jawab Astri.


"sepi juga y disini" kata Bagas.


"iyalah ini kan bukan malam minggu" kata Astri.


Bagas hanya tertawa sambil mengelus pipi Astri.


Untuk beberapa saat mereka saling diam tidak ada obrolan sama sekali karena mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"ada apa hmm?" tanya bagas yang akhirnya memberanikan diri untuk memulai obrolan.

__ADS_1


"aku tidak tahu harus mulai dari mana, kamu adalah pacar pertama ku yang aku mulai dengan kebahagiaan, kamu juga orang pertama yang masuk ke hati ku. Aku sangat bahagia saat-saat dimana kita lalui hari bersama dan saling berbagi rasa. Tapi semakin hari perasaan ini tumbuh bukan untuk kekasih melainkan untuk seorang kakak yang selalu ada untuk adiknya, untuk seorang ayah yang selalu ada untuk anaknya dan untuk seorang sahabat yang senantiasa menemaninya. Ma'afkan aku, aku tahu aku jahat, aku tahu aku salah. Tetapi bolehkah aku memperjuangkan orang lain meskipun aku tahu itu salah, bolehkah aku memperjuangkan orang lain meskipun aku tahu itu sementara, bolehkah aku memperjuangkan orang lain yang kini mencoba masuk kedalam hati ku, bolehkah aku memilihnya meskipun dia bukan pilihan. Ma'afin aku yang telah melukai mu, ma'afin ak..." Ungkap Astri.


Belum selesai Astri mengatakannya Bagas telah memeluknya erat.


"Jangan meminta maaf, kamu tidak salah. Tidak ada orang di dunia ini yang akan tahu dimana dia akan melabuhkan rasanya. Tidak ada yang tahu apakah orang itu yang pertama atau yang terakhir atau bahkan hanya numpang lewat saja. Tidak ada orang yang bisa memaksakan rasanya untuk siapa karena rasa itu muncul dengan sendirinya seiring waktu yang berjalan dan seiring takdir yang berkehendak" ucap Bagas sambil tersedu dengan memeluk Astri.


Setelah beberapa menit mereka saling memeluk dan mengungkapkan isi hati mereka. Akhirnya mereka duduk di bangku taman dengan sisa-sisa sesenggukan yang masih terdengar.


"jadi kita putus y" kata Bagas.


"iya" jawab Astri dengan air mata yang enggan berhenti keluar dari sudut matanya.


"jangan menangis, meskipun kita putus sebagai sepasang kekasih kita tidak akan putus sebagai kakak beradik atau bahkan jika kamu membutuhkan sosok ayah sekalipun datanglah padaku, karena aku akan tetap ada untukmu" terang Bagas.


"terimakasih, terimakasih telah mau mengerti" kata Astri.


"Jika Hari menyakitimu bilang padaku, aku akan menghajarnya sampai dia meminta maaf padamu" kata Bagas sambil mengelus pipi Astri.


"aku tidak bilang orang itu Hari, kenapa kamu berpikir itu dia" kata Astri sambil gelagapan.


"mulutmu tidak perlu mengatakannya karena semua tertulis jelas Dimata kamu, bahkan anak TK pun pasti tahu" goda Bagas.


Plakk


"aduhh sakit tahu" kata Bagas yang terkena pukulan Astri.


"kamu nggak perlu sefulgar itu mengatakannya" kata Astri.


"tapi aku benarkan" goda Bagas.


"tahu akhh nyebelin" kata Astri.


Kemudian mereka tertawa bersama karena sudah lega telah mengungkapkan isi hati mereka.


Bagas pun Mengantar pulang Astri kerumah karena malam telah larut.


Sesampai di rumah, Astri turun dari motor Bagas.


"iya, sama-sama. Hhmm bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir?" ucap Bagas.


"Tentu" jawab Astri.


Setelah Bagas memeluk Astri, akhirnya dia pamit untuk pulang.


Bagas POV


Terkadang kita harus merasakan kehilangan agar kita tahu betapa berharganya milik kita.


Terkadang kita harus melepaskan agar kita tahu betapa sulitnya mempertahankan.


Terkadang kita harus mengikhlaskan agar kita tahu memperjuangkan itu butuh pengorbanan.


Selamat malam mantan terindahku.


Author POV


Astri berada di kamarnya sekarang dengan perasaan lega karena telah jujur kepada Bagas, meskipun dia tahu jalan seperti apa yang akan dia lalui untuk bisa mencintai Hari.


Laki-laki yang beberapa hari ini memenuhi harinya bahkan pikirannya.


Setelah beberapa hari Bagas dan Astri putus, akhirnya ulangan kenaikan kelas pun diselenggarakan. Semua siswa menjalankannya dengan serius begitupun Astri bahkan dia sampai lupa tidak memberitahu Elli perihal putusnya dia dengan Bagas.


Akhirnya mereka tiba di hari akhir ulangan kenaikan kelas.


"liburan kenaikan kelas mau kemana?" tanya Elli.


"belum tahu, kenapa?" jawab Astri.


"aku mau ke Bali sama bunda dan ayah, kamu mau ikut?" kata Elli.

__ADS_1


"hhmm nggak dehh lagian kan itu liburan keluarga ngapain aku nyempil disitu" terang Astri yang sedang sibuk baca buku untuk ulangan mapel terakhir.


"kan kamu bisa ngajak Bagas buat nemenin kalau ibu kamu nggak bisa" kata Elli.


"nggak bisa, lagian aku udah putus sama Bagas" jawab Astri.


Bugh


Bugh


Bugh


Tiga kali Elli memukul lengan Astri dengan brutal.


"aduhh sakit Elli, bisa-bisa memar semua badan aku" kata Astri.


"bodo, biarin masuk rumah sakit sekalian kalau perlu" kesal Elli.


"ihhh jahat mah Elli sama sahabat sendiri gitu" terang Astri.


"jahat?!, kamu yang jahat gimana bisa kamu putus sama Bagas nggak cerita sama aku, kamu anggap apa aku?!" kata Elli dengan mimik muka yang dimelas-melasin.


"ups, hehehe ma'af, habis kita lagi ulangan kenaikan kelas sihh jadi aku lupa buat cerita" terang Astri.


"nggak mau tahu pokoknya aku marah" kata Elli.


"isshh ma'afin lah, nanti kalau kamu nggak ma'afin aku, siapa dong yang jadi sahabat aku?" kata Astri dengan mata yang memelas.


"bodo" jawab Elli.


"ma'afin ya ya sayangku, aku traktir bakso dehh" kata Astri.


"sama ice Cream sekalian" jawab Elli.


"siap 86" kata Astri.


Dan akhirnya mereka tertawa bersama saling memaafkan.


"jadi, kapan kamu putus?" tanya Elli setelah mereka menyelesaikan ulangan terakhir mereka.


Mereka sekarang sedang berada di warung bakso depan sekolah mereka, karena memang jam sekolah telah usai.


"tepat dimalam ulang tahun aku" jawab Astri.


"kok bisa?" tanya Elli.


"y bisa, buktinya bisa putus" jawab Astri.


Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba Hari datang dan menyapa mereka.


"hai, kalian disini" sapa Hari.


"iya" jawab Astri dan Elli bersamaan.


"kebetulan banget bisa ketemu disini, boleh gabung" kata Hari.


"kebetulan apa emang nyari Astri dimana?" Sindir Elii.


Sedangkan Astri hanya mengangguk sebagai tanda mengiyakan permintaan Hari.


"kalau emang sengaja nyari gimana dong" jawab Hari.


"y nggak gimana-gimana juga sihh" kata Elli.


Astri hanya tersenyum melihat keduanya beradu argumen.


Akhirnya mereka bertiga duduk bersama sambil makan bakso di siang hari itu.


Astri POV

__ADS_1


Tidak ada yang tahu kapan kita akan jatuh cinta, yang harus kita tahu adalah kapan kita akan memulai memperjuangkannya.


__ADS_2