
Author POV
Setelah Hari mengantar Sherly pulang, dia mampir ke sebuah counter untuk membeli memory card baru. Selesai Hari membeli dia bergegas pulang kerumah.
Hari sudah tidak sabar untuk menyiapkan dan mensetting Hp baru yang akan dia berikan kepada Astri sebagai pengganti Hp lamanya yang rusak.
Sesampai Hari dirumah dia langsung membuka paketan pesanan iPhone 6 yang telah tiba dirumahnya tadi siang dan terima oleh asisten Rumah tangganya. Handphone itu sengaja ia beli untuk Astri.
Sebelum itu Hari terlebih dahulu membuka memory card lama milik Astri untuk mengecek isinya dan memindahkannya ke memory card yang baru dengan kapasitas yang lebih besar.
Hari sangat kesal saat ia membuka memory card tersebut, pasalnya isi memory itu banyak terdapat foto Bagas dengan Astri yang membuat Hari merasa cemburu.
Alhasil dia hanya memindahkan foto - foto Selfi Astri saja dan mendelete semua foto Bagas.
Saat Hari sedang asyik melihat - lihat foto Astri, dia menemukan sebuah foto Astri yang memegang kue ulang tahun dan bertuliskan 10 Mei 1995 happy birthday sayangku.
Hari bergegas melihat kalender untuk memastikan itu adalah lusa Dia benar bahwa lusa adalah hari ulang tahun Astri.
"kalau gitu aku kasih hp ini lusa saja jangan besok, hitung - hitung kado biar aku punya alasan yang kuat selain mengganti hpnya yang rusak kemarin, jadi Astri nggak bakal nolak hp ini" gumam Hari dalam hati.
Pagi pun datang dengan suara Kokok ayam yang menggelegar untuk membangunkan jiwa - jiwa yang masih terjebak dialam mimpi mereka.
Bagas sudah standby di depan gerbang rumah Astri, dia tidak mengabari Astri bahwa hari ini dia akan menjemputnya karena memang hp Astri belum kembali.
Ibu Ria ibunya Astri membuka gerbang untuk berangkat bekerja lebih dahulu sedangkan Astri masih bersiap - siap untuk sekolah.
Saat Ibu Ria membuka gerbang dia melihat Bagas yang sedang duduk santai di atas motornya dengan menyesap rokok rasa mentol kesukaannya.
Bagas kaget karena dia melihat Ibu Ria yang keluar, meskipun Bagas belum pernah ketemu dengannya tapi dia pernah melihat foto Astri dan Ibunya di handphone milik Astri, jadi Bagas bisa langsung mengenali Ibu Ria saat melihatnya.
Bagas langsung membuang rokoknya yang masih panjang dan menyapa ibu Ria.
"pagi Tante, Saya Bagas temen Astri" sapa Bagas dengan gugup hingga lidahnya kelu untuk bilang pacar .
"pagi nak Bagas, ada apa y?" tanya Ibu Ria.
"saya mau jemput Astri buat berangkat bareng ke sekolah Tante" jawab Bagas.
"ohh gitu, Astrinya lagi siap - siap, kamu tunggu sini saja y" terang Ibu Ria.
"baik Tante" kata Bagas.
"saya pergi dulu y nak Bagas saya hampir telat" kata Ibu Ria.
"iya Tante hati - hati" kata Bagas.
Beberapa menit setelah Ibu Ria pergi Astri keluar untuk berangkat sekolah.
Astri kaget karena melihat Bagas yang tiba - tiba ada didepan rumahnya.
"Bagas?! kok disini?" tanya Astri.
"pagi sayang, aku mau jemput kamu dong" jawab Bagas.
"hhmm makasih" kata Astri.
"ayook berangkat nanti telat lohh" terang Bagas.
Astri hanya mengangguk tanda setuju.
Sesampai mereka di sekolah, mereka berpapasan dengan Hari yang saat ini juga baru sampai diparkiran sekolah.
Bagas dengan bangganya menyapa Hari saat dia melihat Hari sedang memperhatikan mereka berdua.
"pagi Hari, kami ke kelas dulu y" sapa Bagas.
__ADS_1
Hari hanya mengangguk dengan kedua tangan mengepal disamping tubuhnya.
"ayok sayang aku antar kamu ke kelas" ajak Bagas kepada Astri.
"iya ayok" jawab Astri sambil melirik ke arah Hari.
Dari kejauhan ternyata ada Elli yang memperhatikan mereka bertiga. Setelah Bagas dan Astri berlalu menuju kelas Astri Elli menghampiri Hari.
"gimana? masih mau lanjut?" sarkah Elli.
"tentu" jawab Bagas.
"sakit emang y kamu, Astri itu sudah punya pacar masih mau diperjuangkan juga?" kata Elli.
"baru pacar bukan suami, so what" jawab Hari sambil pergi meninggalkan Elli.
Elli hanya bisa mendengus kesal mendengar jawaban dari Hari. Sebenarnya Elli bukan tidak suka pada hari hanya saja dia takut Astri hanya merasa suka sesaat dan dia lupa dengan dengan cintanya yaitu Bagas.
Walaupun Elli belum bisa memastikan isi hati Astri yang sebenarnya. Dia hanya ingin Astri bahagia.
Hari yang paginya sudah disuguhi pemandangan Astri bersama Bagas membuat moodnya buruk sehingga dia yang biasanya ramah pada setiap orang yang menyapanya pagi ini dia bahkan tidak menggubris setiap orang yang memanggilnya, dia hanya berjalan lurus menuju kelasnya.
Saat jam pelajaran Hari sama sekali tidak bisa konsentrasi karena moodnya sedang buruk, dia memilih ijin untuk ke UKS dengan alasan tidak enak badan.
"mau aku temani?" tawar Dio.
"tidak usah, makasih" kata Hari.
Entah keberuntungan atau memang takdir, Hari ini adalah jadwal piket Astri untuk bertugas di UKS sebagai anggota PMR.
Hari berjalan ke UKS dengan lemas, saat dia sampai didepan pintu UKS debaran itu muncul yang membuatnya menyemogakan yang dia harapkan.
Hari POV
Semoga saja benar.
Semoga saja aku tidak salah.
Author POV
Didalam UKS Astri yang merasakan hal yang sama melihat kearah pintu dan berharap jika itu juga benar.
Astri POV
Benarkah ini
apa ini hanya perasaan ku saja tapi jika ini benar...
Author POV
Ceklek
Suara pintu terbuka, dengan pelan Hari membuka pintu itu dia sangat deg - degan saat membukanya.
Ketika pintu itu terbuka sepenuhnya mata Hari langsung bertemu mata Astri yang duduk dimeja petugas PMR yang langsung menghadap ke pintu.
Untuk beberapa saat jantung mereka berdua seakan berhenti berdetak tapi senyum penuh arti mengembang diantara mereka berdua.
Setelah sepersekian detik Hari sadar dan menyapa Astri tidak lupa dia mengucapkan syukur dalam hati karena perasaan dia benar.
"hai" ucap Hari.
"hello, kamu sakit?" kata Astri.
"tidak tahu, aku hanya merasa tidak enak saja" jawab Hari sedangkan dalam hati dia sambil bergumam nggak enak hati aku baby lihat kamu jalan bareng Bagas.
__ADS_1
"masuk dan berbaringlah di tempat tidur, aku akan memeriksa kamu" titah Astri.
Hari mengangguk dan berbaring ditempat tidur. Astri mendekat dan memulai memeriksa Hari, meskipun jantungnya berdebar seakan jantungnya akan lepas dari tempatnya.
"kamu nggak apa - apa kok, suhu badan kamu juga normal" terang Astri.
"hhmm aku sudah merasa sehat karena aku sudah ketemu obatnya" jawab Hari.
"benarkah?" tanya Astri.
"iya, dengan melihat kamu senyum saja sudah membuat aku baik - baik saja" ujar Hari.
"gombal pak?!, pagi - pagi itu minum obat dulu biar nggak ngaco ngomongnya" kata Astri.
"serius tahu, mana ada aku gombalin kamu" kata Hari sambil meraih tangan Astri.
Astri yang di genggam tangannya oleh Hari hanya diam terpaku, dia tidak menolak ataupun mengiyakan karena jujur saja Astri masih bingung dengan hatinya sekarang.
"kamu kok di UKS?" tanya Hari masih setia dengan genggamannya.
"iya, hari ini aku jaga piket" terang Astri.
'hhmm, duduk sini kaki kamu pegal nanti lama - lama berdiri" kata Hari sambil menepuk sisi disebelahnya. ingat dia masih tetap menggenggam tangan Astri yang enggan dilepasnya.
Astri menurut dan dia duduk disebelah Hari. Untung saat ini UKS sepi jadi tidak ada yang melihat dua insan yang sedang bergandengan.
Untuk beberapa saat mereka saling diam dengan tetap menggenggam tangan satu sama lain dan terkadang saling melempar senyum.
Entah Tuhan yang berkehendak atau mereka yang menyemogakan hal yang sama sehingga ini bisa terjadi.
"kamu sudah berapa lama pacaran sama Bagas" tanya Hari.
"Baru satu tahunan" jawab Astri.
"hhmm gitu" kata Hari.
"hp aku sudah selesai belum? lama - lama gatel juga tangan ku nggak pegang hp" kata Astri.
"sudah besok aku antar ke kelas kamu" jawab Hari.
"beneran?" tanya Astri.
"iya my baby girl " kata Hari sambil mengelus kepala Astri.
"terimakasih, aku tunggu y" jawab Astri.
"ngomong - ngomong sampai kapan kamu mau genggam tangan aku?" tanya Astri.
"sampai akhir nafasku" jawab hari
Bugh
Aaww
"sakit baby" kata Hari.
"kamunya ada - ada saja jawabannya" kata Astri sambil melepas genggaman Hari.
Saat Astri mau melepaskan genggaman tangannya, Hari malah makin kuat menggenggam tangan Astri dan kemudian Hari menarik Astri kedalam pelukannya.
"sebentar sebentar saja seperti ini" kata Hari sambil memeluk Astri erat.
Astri tidak menolak dan malah menikmati debaran jantung mereka yang seakan saling bersautan dan hembusan nafas Hari yang terasa hangat di tengkuknya.
Seakan Dunia ini milik mereka berdua dan seakan waktu berhenti saat itu.
__ADS_1