
Author POV
Drrtt drrtt drrt
"berjalan masuklah" titah Dio saat mengangkat panggilan masuk dari Robert.
Dengan panggilan tetap tersambung Robert berjalan memasuki sebuah gedung kosong yang sudah tua dan terbengkalai.
"bukalah semua pakaian mu" titah Dio.
"kurang ajar, apa maksudmu?" teriak Robert.
"tidak ada pengulangan atau..... a--yah hiksz hiksz tak__uutt" rengek salah satu anaknya Robert.
"jangan pernah sentuh anak ku atau kamu tahu akibatnya!!!" seru Robert.
"hahahaha sepertinya kamu lupa posisi kamu sekarang, jangan pernah mengancam ku, karena aku nggak sesabar yang kamu kira!" ucap Dio.
Dengan terpaksa Robert melucuti semua pakaiannya dan tersisalah pakaian dalam dan sepatu miliknya.
"semua" titah Dio.
"kurang ajar" gerutu Robert meski tetap menuruti perintah Dio.
Dan akhirnya Robert benar-benar telanjang bulat tanpa alas kaki sekalipun.
"pakailah kembali celana dalam mu" titah Dio.
Dengan jengkel Robert kembali menuruti perintah Dio.
"kamu lihat kotak di arah sisi kirimu?" tanya Dio.
"iya" jawab Robert singkat.
"bukalah" titah Dio.
Robert berjalan dengan hanya menggunakan pakaian dalam tanpa alas kaki menuju kotak yang dimaksud Dio dan kemudian dia membukanya.
"apa ini?!" teriak Robert.
"pakailah" titah Dio.
"kau mau main-main dengan ku hahh!!?" bentak Robert.
"a---kang hiksz hiksz hiksz" suara istri dari Robert yang menangis ketakutan.
Dengan pasrah Robert memborgol kedua tangannya sendiri dengan borgol yang ada didalam kotak tersebut.
"matikan ponsel mu dan taruh didalam kotak tersebut kemudian berjalanlah masuk kedalam melewati pintu warna hijau disisi kanan mu" titah Dio yang terus mengawasi Robert dari dalam gedung.
Robert berjalan memasuki gedung tua tersebut dengan tangan terborgol.
dalam hati Robert dia merutuki dirinya sendiri karena telah menerima job yang membahayakan keluarganya.
"sepertinya ini adalah akhir untukku, dari semua job yang aku laksanakan baru kali ini ada yang tahu tentang keluarga ku" gumam Robert dalam hati.
Robert masuk kedalam dan dengan otomatis pintu itu tertutup kembali. Robert tidak bisa melihat apapun karena memang keadaan ruangan tersebut sangat gelap.
Dan tiba-tiba lampu menyala dan hanya menyorot kearah Robert sehingga dia samar-samar melihat siluet orang yang berdiri dihadapannya.
"Dimana keluargaku?!" teriak Robert.
"siapa yang menyuruhmu?!" tanya Dio tanpa menjawab pertanyaan dari Robert.
"dimana dahulu keberadaan keluargaku?!" tanya Robert lagi.
"tidak ada tawar-menawar bung disini" jawab Dio.
Tanpa aba-aba Dio menembak salah satu kaki Robert dan membuat siempunya jatuh terduduk.
Tidak ada suara saat tembakan itu dilesatkan karena pistol yang Dio gunakan menggunakan peredam sehingga tidak menimbulkan suara tembakan.
Robert mengerang kesakitan, tapi itu tidak membuat Dio merasa kasihan sedikitpun.
"siapa yang menyuruhmu?!" tanya Dio lagi.
"dimana istri dan anak-anak ku?!" tanya Robert lagi.
Dio kembali menembak salah satu kaki dari Robert.
Arrggg
teriak Robert menahan sakit dikedua kakinya.
"ba--baiklah, aku a--akan mengatakannya. Yang me--menyuruhku adalah no--na Sherly" jawab Robert.
"apa buktinya" tanya Dio.
"ada rekaman percakapan didalam handphone milik ku saat nona Sherly datang dan memberikan perintah itu" jawab Robert.
"periksa" titah Dio kepada salah satu anak buahnya.
Setelah beberapa menit akhirnya percakapan itu ditemukan dan benar adanya.
"ada orang lain selain Sherly?" tanya Dio.
"ti--tidak" jawab Robert terbata karena menahan sakit.
"siapa orang kedua yang mengendarai kendaran untuk menabrak Astri saat yang pertama gagal?!" tanya Dio.
"dia Rico" jawab Robert.
"dimana dia sekarang?!" tanya Dio.
"a--ku tidak ta--hu" jawab Robert.
"katakan!!!" bentak Dio.
"su--ngguh, aku ti--dak tahu, yang aku ta--hu dia ting---gal disalah sa--tu kontra--kan di Jakar--ta Sel--selatan.
Tanpa babibu Dio melesatkan tembakan dikepala Robert tanpa ampun. Dan karena tembakan itu Robert terkulai dilantai meregang nyawa.
Dio berjalan mendekati mayat Robert untuk memastikan bahwa Robert sudah tiada.
"bodoh, kamu kira keluarga mu masih hidup saat kedok mu terbongkar?. mereka sudah tiada sebelum kamu sampai disini" ucap Dio kearah mayat Robert.
"bereskan mayatnya dengan bersih tanpa meninggalkan jejak!" perintah Dio kepada anak buahnya.
Dio bergegas menuju alamat yang diberikan oleh Robert dan memerintahkan anak buahnya untuk mengeceknya terlebih dahulu.
__ADS_1
Tanpa Dio sadari jam telah menunjukkan pukul 04.00 WIB. saat salah satu anak buahnya berhasil menangkap Rico meski dengan susah payah karena harus kejar-kejaran saat Rico mencoba melarikan diri dengan menyeberang pulau.
Dio semakin dalam menginjak pedal gas mobilnya agar cepat sampai ditujuan dan tidak lupa dibelakang mobil Dio ada dua mobil lagi yang berisi anak buah Dio yang ikut melesat mengikuti kecepatan mobil Dio.
Butuh waktu lama untuk Dio mencapai lokasi tersebut karena memang gedung tua yang dipakai Dio untuk menghabisi Robert sangat jauh dan terpencil dari tempat penduduk berada.
Akhirnya setelah 5 jam perjalanan Dio sampai disalah satu gedung tua lagi ditempat berbeda dengan Rico yang sudah terikat dan terborgol disalah satu kursi yang ada disana.
Dio berjalan menghampiri Rico yang ditutup matanya dan mulai menginterogasinya.
"langsung saja, siapa yang nyuruh mu?!" tanya Dio.
"hahahaha, berani berapa bos?!" jawab Rico.
Tanpa babibu Dio menembak paha Rico dari dekat dan pasti itu lebih menyakitkan dari milik Robert yang dari jarak jauh.
Arrgggg Arrggg
Teriak Rico tanpa bisa melihat luka tembaknya ataupun menyentuhnya.
"siapa!!!?" tanya Dio.
"kurang ajar, ******* kalau berani tunjukkan wajahmu" teriak Rico tidak karuan.
Dengan sigap Dio menembak lagi kaki Rico yang satunya tepat dipahanya.
"mau lagi huh?!, cepat katakan?!!!" ucap Dio
"amm---punn bos, ba--baiklah a--akan a--ku ka-takan. yang me--menyuruhku ada--lah no--na Sherly. Se--bagai o---rang kedua sa--at orang per--tama gagal" terang Rico.
"ada orang lain lagi salain kamu?!!" tanya Dio yang semakin kesal karena Rico bertele-tele.
"a--da bos, di--dia Wawan" jawab Rico.
"dimana dia?!!" tanya Dio.
"Dia u--dah ka--bur ke Ba--li Bos" jawab Rico sambil terus meringis kesakitan.
"ada foto atau apapun yang menunjukkan itu adalah Wawan?!!" tanya Dio.
"a--da foto a--ku dengan Wawan di hp ku bos" jawab Rico.
Dio menyuruh anak buahnya untuk mengambil Hp Rico yang sudah disita oleh anak buah Dio.
Dio terus memeriksa galeri hp Rico dan menemukan satu foto yang berisi dua orang laki-laki.
"apa warna baju Wawan saat kamu foto dengannya?!!" tanya Dio.
"orange bos" jawab Rico
Dio memberi kode kepada anak buahnya untuk mencari keberadaan Wawan di Bali dengan berbekal foto tersebut. karena bagi Dio itu tidak sulit karena jaringan koneksinya yang sangat luas.
Sama seperti Robert nasib Rico tidak jauh berbeda yaitu ditembak mati oleh Dio.
"bereskan Dia tanpa jejak!!" titah Dio kepada anak buahnya kembali.
Dio kembali mengendarai mobilnya untuk menuju apartemen miliknya untuk membersihkan tubuhnya dan beristirahat sambil menunggu kabar dari anak buahnya yang sedang memburu Wawan.
Sesaat Dio sampai di dalam apartemen handphone miliknya langsung bergetar.
Drrt Drrt Drrt
"gimana?" tanya Hari.
"tunggulah sebentar lagi" jawab Dio.
"dimana kamu sekarang" tanya Hari.
"di apartemen, aku ingin mandi untuk membersihkan bau para ******** itu" jawab Dio.
"baiklah dan cepat selesaikan tugas mu" kata Hari.
"iya" jawab Dio.
"dan..... Bagas sudah meninggal tadi subuh" ucap Hari.
"Innalilahi" ucap Dio.
"cepat selesaikan dan aku tunggu hasilnya" ucap Hari.
"oke, aku mengerti" jawab Dio dan kemudian mematikan panggilan dari Hari.
Saat Dio selesai mandi dan mengecek handphone miliknya, ternyata ada tiga panggilan tak terjawab dari anak buahnya yang ditugaskan untuk menangkap Wawan.
Dengan sigap Dio langsung menelpon kembali nomer tersebut.
"ketemu?" tanya Dio tanpa menunggu jawaban dari anak buahnya.
"ketemu bos dan kami ada di salah satu rumah tua di Bali serta ma'af bos kami terpaksa membiusnya dan mengikatkan tergantung karena dia sangat licin dan lihai saat mencoba kabur dari kami" terang salah satu anak buah Dio.
"terserah yang penting dia tertangkap. Aku segera kesana" ucap Dio dan kemudian mematikan panggilan tersebut.
Dio menggunakan pesawat pribadinya hanya untuk bisa cepat sampai Bali tanpa terganggu.
Dengan cepat Dio menuju lokasi yang di infokan menggunakan mobil anak buahnya yang berada di Bali.
sesampainya Dio di lokasi dia segera menyiapkan pistolnya dan menutupi wajahnya menggunakan topeng.
Krriieettt
suara pintu tua dari rumah itu yang dibuka oleh anak buah Dio untuknya.
tanpa suara anak buah Dio menunjuk seorang laki-laki yang tergantung diatas dengan kedua tangan di ikat masing-masing ke kanan dan kekiri dan begitu pula dengan kakinya serta dia hanya menggunakan pakaian dalam saja sama seperti Robert dan mata tertutup seperti Rico.
Saat Dio sampai Wawan telah sadar dan berteriak meminta untuk dilepaskan.
Dio berjalan mendekat kearah Wawan dan mulai bertanya padanya.
"Diamlah jangan berteriak, kamu sangat berisik tahu" ucap Dio.
"siapa kamu?, kalau berani tunjukkan wajahmu. Jangan beraninya menutup mataku seperti ini!!!!" teriak Wawan.
"siapa yang menyuruhmu?" tanya Dio
"hahahaha kau tidak akan pernah tahu meski aku mati sekalipun" jawab Wawan
"kalau begitu aku tidak akan membuat mu mati tapi aku juga tidak akan membiarkan mu tetap hidup" ucap Dio.
"kuliti Dia" titah Dio kepada anak buahnya.
__ADS_1
Sepanjang anak buah mengukiti Wawan dia terus berteriak kesakitan bahkan sampai suaranya habis karena lelah berteriak.
Saat kedua kaki Wawan yang baru dikuliti sampai paha akhirnya Wawan menyerah dan mengucapkan nama orang yang menyuruh menusuk Astri.
"ampun, lebih baik kamu membunuhku langsung, tolong jangan dikuliti ini sangat menyakitkan" rintih Wawan.
Dio memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk berhenti menguliti Wawan.
"katakan!!" titah Dio.
"dia adalah tuan Dermawan" jawab Wawan.
"bohong!!" bentak Dio.
"sungguh aku tidak bohong, aku bahkan merekam video percakapan kami" rintih Wawan.
"dimana rekamannya?" tanya Dio.
"di handphone milik ku" jawab Wawan.
"apa ada salinan dari video itu?" tanya Dio.
"tidak ada, karena aku takut ketahuan oleh tuan jika aku menggandakannya" jawab Wawan.
"bagus" ucap Dio
Sama seperti Robert dan Rico nasib Wawan pun tidak jauh berbeda.
"bersihkan dia tanpa ada jejak sedikitpun" titah Dio.
Dio langsung menuju Jakarta untuk menemui Hari dan memberitahu informasi yang dia dapat meskipun ini sangat mengejutkan.
Tidak butuh waktu lama bagi Dio untuk sampai rumah sakit dimana Astri di rawat.
Dengan Sagala kemampuan yang dimiliki Dio dia berhasil masuk ke lantai dimana Astri dirawat meski jam besuk sudah habis, karena memang sekarang sudah pukul 22.00 WIB.
Saat Dio berjalan dilorong menuju kamar Astri Dio melihat ada Johan dengan berpakaian pasien berjalan santai didepan kamar Astri.
Dio agak bingung karena sepengetahuannya ruang rawat Johan beda lantai dengan Astri. Tapi demi keamanan Dio tetap berjalan lurus tanpa menyapa Johan dan begitupun Johan berpura-pura tidak mengenal Dio.
Tok tok tok
Dio mengetuk pintu kamar rawat inap Astri sebelum masuk. Hari bangun dari duduknya saat mendengar ketukan pintu kamar dan bergegas berdiri untuk memastikan siapa yang berkunjung semalam ini.
Hari segera membuka pintu saat menyadari Diolah yang datang.
"kenapa malam-malam kesini?" tanya Hari berbisik agar Astri tidak bangun dari tidurnya.
"aku sudah menemukan siapa orang dibalik semua ini" jawab Dio juga berbisik.
Untung saat ini ibunya Astri sedang mengambil baju ganti Astri dirumah dan belum kembali ke rumah sakit,
"siapa?" tanya Hari sambil berjalan ke sofa yang ada di ruangan tersebut dan menyuruh Dio untuk duduk.
Dio mengikuti instruksi dari Hari dan duduk di depan Hari.
"dimana sekarang para penjahat itu?" tanya Hari.
"hhmm mereka semua mungkin sekarang sudah di neraka" jawab Dio malu-malu.
"kamu menghabisi mereka semua?" tanya Hari.
"iya, habis tangan ku gatal sudah lama nggak pegang pistol" jawab Dio santai.
"kamu ini, dasar terlihat ramah dan lemah lembut diluar tapi garang dan sangat kejam didalam" ucap Hari.
"gimana lagi, darah mafia mengalir ditubuhku" jawab Dio santai.
"dasar, untung kamu sahabatku. tapi ingat jangan sampai Astri tahu atau dia akan Syok mendengarnya" ucap Hari.
"siap" jawab Dio.
"tapi bersihkan tanpa jejak?" tanya Hari.
"aman" jawab Dio.
"jadi siapa?" tanya Hari.
"seperti yang kita duga sebelumnya, pelakunya adalah Sherly. tapi ada orang lain lagi selain Sherly" ucap Dio.
"kurang ajar, Sherly berani berbuat sejauh ini. Akan ku pastikan kalau dia akan mendapatkan balasan yang lebih atas semua ini karena berani menyentuh kekasihku" geram Hari.
"tenang, satu lagi orang dibalik ini yang akan membuatmu terkena serangan jantung seperti aku" ucap Dio.
"apa?" tanya Hari.
"Papi kamu, juga menyuruh orang untuk menghabisi Astri saat Sherly gagal dengan usahanya. Dan ternyata benar dua orang yang Sherly sewa gagal untuk menabrak Astri karena ada Bagas dan Johan yang berhasil melindungi Astri, sehingga orang ketiga menusuk Astri untuk membuatnya terluka" terang Dio.
"bohong, pasti penjahat itu berbohong kan?" ucap Hari Syok.
"lihat ini" ucap Dio sambil menyerahkan rekaman Video yang didapat dari Wawan.
Hari terdiam tanpa suara saat melihat video tersebut, dia tidak tahu harus berkata apa.
Tanpa mereka sadari Astri mendengar semua percakapan mereka saat Dio mengucapkan Sherly dalang dibalik ini semua.
Hanya saja Astri pura-pura tetap tertidur agar Dio dan Hari melanjutkan percakapan mereka.
"dan kenapa Johan ada didepan?" tanya Dio.
"dia ku perintahkan untuk mengawasi Astri, jadi ruang rawat inap ya aku pindah persis didepan kamar Astri agar memudahkannya mengawasi Astri dan tamu siapa saja yang menjenguk Astri disini" terang Hari sambil tetap Syok karena mengetahui Papinya imut terlibat dalam hal ini.
"ohh" Dio hanya ber oh ria sebagai jawabannya.
Dalam hati Hari dia bergumam bagaimana caranya untuk menekan Papi agar tidak menggangu Astri?
Dio sebagai sahabatnya paham betul isi pikiran Hari hanya dengan melihat raut wajah Hari.
"pikirkan saja baik-baik solusi terbaiknya dan jangan gegabah" ucap Dio.
"hhmm" ucap Hari.
"makan dong, laper nih dari kemarin nggak sempet makan" ucap Dio untuk mencairkan mood Hari yang sangat tertekan.
"iya, aku Carikan" jawab Hari sambil menoel dagu Dio karena gemas.
"ihh apaan sih, emang aku Astri kamu toel-toel gitu" protes Dio.
"hahahaha, kalau kamu Astri sudah aku cium bukan aku toel kali" jawab Hari sambil melenggang pergi mencari makanan untuk Dio.
__ADS_1
"semoga kamu bisa tetap bahagia dan aku bisa tetap melihat senyum bahagia kamu ya Hari" gumam Dio dalam Hari saat melihat punggung Hari menghilang dibalik pintu.