Takdir ?!

Takdir ?!
Cinta Kami


__ADS_3

Author POV


Suatu sore dirumah Elli ada Bagas yang tengah duduk santai di teras rumah Elli.


"yaelah, giliran putus dari Astri kamu malah sering main kesini Gas, dulu saja kalau nggak jemput Astri dirumah ku, kamu nggak pernah datang" kata Elli.


"hehehe, gimana lagi dulu aku belum tahu kalau ternyata Astri itu begitu berharga untuk ku. Sekarang giliran dia jadi milik orang lain aku baru tahu kalau ternyata aku sangat mencintainya, maka dari itu cuma ini yang aku bisa lakukan untuknya menjaganya dari belakang" terang Bagas.


"itulah sifat dasar manusia, giliran masih miliknya di sia-siakan ehh giliran udah pergi baru di cariin" ucap Elli.


"hhmm" gumam Bagas sambil meminum segelas jus dingin yang disuguhkan oleh Elli.


"menurut kamu waktu itu mata Astri sembab kenapa y?" tanya Bagas.


"aku nggak tahu, setiap kutanya bahkan berulang kali jawaban Astri tetap sama" terang Elli.


"sama, aku juga gitu bahkan aku sampai kerumahnya untuk menanyakan tapi tetep saja dia kukuh dengan jawabannya bahwa dia kurang tidur" jelas Bagas.


Disisi lain Johan dipanggil oleh Dio untuk datang ke apartemen nya karena sudah 1 bulan Johan bekerja. Tanpa Johan tahu jika Hari telah menunggu Johan di sana untuk memeriksa laporan pengawalannya.


Ting tong


Suara Bel apartemen Dio berbunyi, Dio mengecek siapa yang datang dari cctv yang terpasang di depan pintu apartemen miliknya. Setelah dia yakin bahwa yang datang Johan maka Dio membuka pintu untuk menyuruh Johan masuk.


"sore Bos" sapa Johan.


"sore, masuklah" titah Dio.


"baik" jawab Johan.


Sesampainya didalam Dio memperkenalkan Johan kepada Hari dan menerangkan bahwa Hari adalah orang yang mempekerjakannya sebagai pengawal pribadi.


Dan menyuruh Johan untuk menjaga kerahasiaan ini serta tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa Hari yang mempekerjakannya bukan Dio.


"sore pak saya Johan" sapa Johan.


"sore, bisa aku lihat laporan harian kamu selama kamu mengawasi Astri?" titah Hari sambil mengangguk tanda menerima perkenalan dari Johan.


"baik pak" jawab Johan.


Johan menyerahkan laporan Hariannya kepada Hari.


Hari memeriksa setiap kata yang tertulis di buku laporan itu dengan teliti dan seksama.


Terkadang dia tersenyum, kadang dia mengernyitkan dahinya, kadang dia menggigit bibir bawahnya, terkadang dia mengepalkan tangannya dan terkadang dia mengumpat untuk meluapkan amarahnya.


"bagus laporan kamu terperinci dan jelas, apa kamu ingat setiap orang yang datang kerumah Astri dari ciri-ciri sampai namanya?" tanya Hari.


"saya ingat jelas pak" jawab Johan.


"kalau begitu, pastikan setiap Sherly datang kerumah Astri kamu segera memberitahu Dio!" titah Hari.


"baik pak, ma'af pak boleh saya bertanya?" pinta Johan.


"silahkan" jawab Hari.


"kenapa saya harus menghubungi bos Dio dan tidak langsung ke bapak?" tanya Johan.


"karena saya tidak tahu kapan saluran komunikasi saya akan disadap ataupun kapan saya juga akan diawasi seseorang sepertimu" terang Hari.


"baik pak, saya mengerti" jawab Johan.


"satu lagi, cari tahu apa alasan Bagas masih suka datang kerumah Sherly.


"baik pak" jawab Johan.


"kamu bisa pergi sekarang, dan pastikan tidak ada yang melihat kamu masuk atau keluar dari apartemen ini"


"siap laksanakan pak" jawab Johan dan kemudian dia mundur untuk pamit meninggalkan apartemen milik Dio.


Setelah Johan benar-benar telah pergi dari apartemen, Dio dan Hari mulai mengobrol santai sambil bermain video game.


"apa yang tertulis dibuku laporan itu sampai kamu mengeluarkan begitu banyak ekspresi" tanya Dio.


"semuanya" jawab Hari.


Plakk


"aduh sakit Dio" keluh Hari yang kena pukul kepalanya.


"lagian kamu ditanya bener-bener malah jawabnya asal gitu" kesal Dio.


"lhahh emang bener kalau isinya semuanya kok" jawab Hari.


"y tahu Parjo, cuma maksud ku rincian dari laporan itu Parjo yang ganteng" geram Dio.


"kepo" jawab Hari.


"ya iyalah siapa yang nggak kepo coba, kalau kamu nempatin orang 24 jam tanpa jeda hanya untuk mengawasi dan melindungi seorang gadis" terang Dio.

__ADS_1


"hhmm" gumam Hari.


"jadi" kata Dio


"dia nulis dari baju apa yang Astri pakai saat beli bakso, Astri yang ngupil sambil nyiram tanaman bahkan sampai saat Astri kejedot pintu rumah gara-gara ibunya tiba-tiba buka pintu dari luar pas Astri mau buka pintu dari dalam" terang Hari.


"ohh itu pasti pas ekspresi kamu senyum-senyum sendiri" kata Dio.


"hhmm, terus sampai apa saja yang dikatakan oleh Sherly ke Astri dan bagaimana tanggapan Astri saat Sherly menekannya. aku nggak tahu teknologi dan trik apa yang Johan pakai tetapi yang jelas aku sangat menyukai hasil kerjanya" terang Hari


"benarkah, nggak sia-sia dong kamu bayar mahal Dia" terang Dio.


"pasti" jawab Hari.


"bahkan sampai berapa kali Bagas mengunjungi Astri dalam seminggu hanya untuk memberinya makan malam" kata Hari.


"hahahaha pasti itu tadi ekspresi kamu yang ngumpat-ngumpat y" goda Dio.


"rahasia" jawab Hari.


Setelah dirasa lelah bermain game Hari pamit pulang kepada Dio.


"pulang dulu ya" kata Hari.


"nggak makan malam sini sekalian?" tawar Dio.


"nggak" jawab Hari singkat.


"hahahahaha, pasti mau ngajak Astri makan malam biar nggak keduluan Bagas" goda Dio.


Bugh


Hari melempar bantal sofa yang ada didekatnya ke muka Dio.


"hahahaha, cemburu pak" goda Dio.


Bugh


Bugh.


Hari melempar sepatu milik Dio yang berada didepannya kearah siempunya.


Aaww


"sakit Parjo" keluh Dio.


Sesampainya di parkiran Hari melajukan mobilnya untuk menuju ke rumah Astri.


Tidak lupa Hari menelpon Astri untuk bersiap-siap karena dia akan segera menjemput Astri.


Drrt Drrt Drrt


Handphone Astri bergetar.


Astri tersenyum bahagia ketika nama yang terpampang adalah "my future" dia bergegas untuk mengangkat panggilan itu.


"hallo" jawab Astri.


"malam sayang, siap-siap y, kita akan makan malam bersama" kata Hari.


"iya" jawab Astri dengan malu-malu.


"15 menit lagi aku sampai rumah kamu, aku matikan dulu telponnya y sayang, bye" ucap Hari.


"i--iya" jawab Astri.


Setelah sambungan telepon itu berakhir Astri bergegas memilih baju dan merias wajahnya dengan riasan natural tapi masih terlihat manis untuknya.


Lima belas menit kemudian Hari telah sampai didepan Rumah Astri. Hari segera menelpon Astri untuk memberi tahu bahwa dia berada didepan rumah.


Drrt Drrt Drrt


"hallo" jawab Astri.


"aku didepan y sayang" kata Hari.


"iya, aku keluar sekarang" jawab Astri sambil mematikan sambungan telepon nya.


Astri sedikit berlari untuk menemui Hari karena dia grogi dan deg-degan. Kemudian Astri segera membuka pintu gerbang rumahnya tanpa Astri perkirakan dia mendapat pelukan dari Hari sebagai sambutannya.


"kangen banget sama kamu" ucap Hari sambil memeluk Astri erat.


"apaan sih, orang baru tadi siang ketemu di sekolah juga" jawab Astri yang masih anteng dipelukan Hari.


"Ekhem" sapa Ibu Ria yang kebetulan pulang lebih awal hari ini karena tidak ada lemburan.


Hari dan Astri terkaget dan langsung melepaskan pelukan mereka.


"ma--malam Tante" sapa Hari malu-malu karena kepergok berpelukan didepan rumah.

__ADS_1


"malam nak Hari" jawab Tante Ria sambil senyum menyelidik.


"ibu kok udah pulang?" tanya Astri yang salah tingkah dilihatin oleh ibunya.


"iya ibu pulang lebih awal karena nggak ada lemburan, kalian mau kemana udah dandan ganteng dan cantik gini?" goda Tante Ria.


"ma'af Tante, Hari ijin ngajak Astri buat makan malam diluar boleh?" tanya Hari.


"hhmm boleh tapi jangan malam-malam y pulangnya dan jangan peluk-pelukan dipinggir jalan" Jawab Tante Ria.


"i--iya Tante" kata Hari malu-malu.


"ibuuuu" rengek Astri.


Tante Ria hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.


Hari dan Astri pun segera menaiki mobil untuk pergi makan malam.


Setelah beberapa menit perjalanan mereka sampai di restoran yang mewah untuk makan malam.


"kamu yakin mau makan disini?" tanya Astri.


"yakin" jawab Hari sambil menggandeng tangan Astri.


"apa nggak kemahalan?" tanya Astri.


"nggak sayang, ayok masuk" ajak Hari.


"nggak cari tempat lain saja?" tanya Astri lagi.


Hari tersenyum dan mengelus pipi Astri lembut.


"nggak sayang ayok" kata Hari.


Astri akhirnya menurut dan masuk kedalam restoran tersebut.


Mereka duduk dimeja yang telah dipesan oleh Hari sebelumnya.


Mereka makan dengan tenang tanpa obrolan yang berarti dan sesekali diselingi suapan oleh Hari untuk Astri. Dan perlakuan Hari itu membuat Astri tersipu malu dibuatnya.


Setelah selesai makan Hari mengajak Astri kesuatu perbukitan yang lapang dan diterangi hamparan bintang yang indah sebagai penerang saat malam.


Mereka berdiri untuk melihat pemandangan cahaya lampu ibu kota dibagian bawah dan kerlipan bintang diatasnya.


"wahh cantik banget pemandangannya" seru Astri


"lebih cantik kamu sayang" kata Hari sambil tiba-tiba memeluk Astri dari belakang.


"ihh jangan peluk-peluk nanti ada yang lihat lagi lho" kata Astri.


"kan tadi ibu kamu pesannya jangan pelukan di pinggir jalan dan sekarang ini bukan di pinggir jalan sayang jadi boleh dong" kilah Hari.


"dasar, ngeles saja" seru Astri.


"hhmm" gumam Hari yang malah mengeratkan pelukannya.


Hampir 10 menit mereka bertahan di posisi itu.


"terimakasih kasih sayang" bisik Hari ditelinga Astri.


"untuk apa?" tanya Astri sedikit gugup karena sensasi geli saat Hari berbisik ditelinganya.


"terimakasih tetap bertahan meski Sherly menekan kamu, terimakasih tetap bertahan meskipun sangat sulit, terimakasih tetap bertahan meskipun kamu tahu ujungnya seperti apa dan terimakasih tetap bertahan bersama aku" terang Hari.


"hhmm iya, aku mencintai kamu sekarang ataupun nanti, aku mencintai kamu saat kita bersama ataupun saat kita berpisah nanti, aku mencintai kamu tanpa alasan dan aku mencintai kamu karena itu kamu" terang Astri.


Hari membalik tubuh Astri untuk menghadapnya kemudian Hari mengecup lembut dan penuh sayang kening Astri untuk menyalurkan segala rasa di dadanya.


Hari POV


Dalam Hati Hari.


Terimakasih Astri Sayang, aku berjanji akan tetap mencintai kamu di kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya dan aku akan selalu memohon kepada Tuhan agar kita dipersatukan suatu hari nanti.


Astri POV


Dalam Hari Astri.


Ma'afkan aku telah dengan egois mencintai kamu yang sudah jelas milik orang lain.


Ma'afkan aku yang tetap egois mempertahankan kamu meskipun kamu milik orang lain.


Ma'afkan aku yang masih egois karena tidak bisa melepaskan kamu untuk orang lain.


Aku nggak bisa menyalahkan Rasa ini karena Rasa ini nggak bisa memilih untuk siapa ia tumbuh dan berkembang.


Author POV


Malam itu mereka Habiskan dengan saling berpelukan dan menikmati pemandangan indah didepan mereka.

__ADS_1


__ADS_2