Takdir ?!

Takdir ?!
awal sebuah kesepakatan


__ADS_3

Author POV


Pagi harinya sebelum Hari melakukan rutinitas seperti biasanya yaitu menjemput Astri untuk berangkat sekolah bersama, dia menelpon Dio terlebih dahulu.


"hallo, Dio? sapa Hari.


"hhmm" jawab Dio dari seberang telpon.


"pulang sekolah kamu yang antar Astri pulang y!" kata Hari.


"kenapa?" tanya Dio.


"aku ada urusan dengan Sherly, dan bisakah Johan mulai bekerja hari ini?!" terang Hari.


"baiklah" jawab Dio singkat.


Hari mematikan telponnya dan bergegas melajukan motornya untuk menuju rumah Astri.


Sesampainya di rumah Astri ternyata Astri telah standby didepan gerbang rumahnya karena memang Hari sedikit terlambat dari jam biasanya dia menjemput Astri.


"pagi sayang" sapa Hari.


"pagi, tumben telat?" tanya Astri.


"iya, tadi ada urusan dengan Dio sebentar jadi telat deh" terang Hari.


"hhmm gitu" kata Astri.


Setelah bercakap-cakap sebentar mereka berdua bergegas berangkat sekolah. Ditengah perjalanan Hari mengatakan kepada Astri bahwa nanti yang akan mengantar pulang Astri adalah Dio karena Hari akan menemui Sherly untuk membahas sesuatu hal.


"nanti, pulang sekolah sama Dio ya, aku ada urusan dengan Sherly" kata Hari sambil mengendarai sepeda motornya.


"hhmm aku pulang sendiri saja y, biar nggak ngerepotin Dio" kata Astri.


"nggak apa-apa, aku udah bilang Dio dan dia setuju" kata Hari.


"hhmm baiklah" jawab Astri pasrah.


Setelah mereka sampai di sekolah seperti biasa mereka berjalan bersama menuju kelas mereka. Sesampainya di kelas Hari pamit ke Astri untuk menemui Dio terlebih dahulu di kantin.


"sayang aku ke kantin dulu y, mau ketemu Dio" kata Hari.


Dan Astri mengangguk dengan seulas senyum untuk mengiyakan.


Hari bergegas mencari Dio di kantin karena ada hal penting yang harus dibicarakan. sesampai di kantin Hari memutar pandangannya untuk mencari keberadaan Dio , setelah matanya cukup lelah memutar mencari sosok Dio tapi tidak ketemu, tiba-tiba ada sesrorang yang berada di belakangnya kemudian berbisik ditelinga Hari.


"segitunya cari aku" goda Dio.


Bugh


Plakkk


"aduh sakit Hari" keluh Dio


Hari memukul Dio dengan ganas karena merasa jengkel bisa-bisanya anak itu bercanda disaat dia sedang serius.


"terus?!" kata Hari dingin.


"beliin obat" rengek Dio dengan muka yang dimelas-melasin.

__ADS_1


"ogah" tolak Hari.


"dasar emang" kesal Dio.


Mereka tertawa setelahnya karena merasa konyol akan kelakuan masing-masing.


"duduk yuk" ajak Dio.


Hari hanya mengikuti Dio tanpa menjawabnya. Mereka duduk disalah satu meja kantin yang masih kosong karena ini masih pagi dan jarang sekali ada siswa yang ke kantin pagi-pagi jika bukan karena mereka belum sarapan. Sebelum memulai obrolan mereka memesan es susu coklat terlebih dahulu.


"jadi ada apa?" tanya Dio.


"pastikan Johan tidak terlihat oleh Astri dan jangan sampai Astri mengetahui keberadaannya. Dia harus menulis dibuku catatannya setiap hari sebagai laporan atas pengawalannya terhadap Astri tanpa ada yang terlewat. Dan satu hal lagi laporan itu kamu yang terima dahulu baru kamu serahkan ke aku" terang Hari.


"ribet amat pak" tukas Dio.


"aku hanya berjaga-jaga jikalau ada yang melihat dan tidak menyukainya" kata Hari.


"baiklah aku mengerti" kata Dio.


Mereka kemudian meminum es susunya dengan santai sambil menunggu bel masuk sekolah.


"jadi apa yang akan kamu lakukan ke Sherly?" tanya Dio disela kegiatan minumnya.


"tidak ada, aku hanya akan membuat kesepakatan dengannya" tukas Hari.


"aku akan memberinya pelajaran jika dia mulai menyentuh Astri" gumam Hari.


"hhmm terserah kamu saja" jawab Dio.


Setelah beberapa menit akhirnya bel masuk kelas pun berbunyi.


Tettt tettt tettt


Setelah seharian berkutat dengan mata pelajaran di sekolah dan otak hampir semua siswa seakan mulai berasap bel pulang sekolahpun berdering nyaring seakan sebuah melodi yang indah dan ditunggu oleh semua siswa didalam sekolah itu.


Hari pun mengajak Astri ke parkiran bersama Dio dan Elli hanya mengekor dibelakang mereka.


"aku pulang dengan Elli saja y?" pinta Astri.


"nggak sayang, kalian sama-sama perempuan aku khawatir jika kalian pulang bersama" terang Hari.


Astri belum sempat menjawab tapi Elli telah menginterupsi terlebih dahulu.


"apaan sih Har, orang dulu Astri saja sering pulang sendiri kenapa sekarang dibikin ribet" kata Elli.


"karena... akh sudahlah susah ngomong sama kamu" kata Hari penuh kekesalan terhadap Elli.


"yaudah Astri pulang sama aku saja lagian kita searah dan rumah kita satu komplek hanya beda blok saja" terang Elli.


Dio memegang pundak Hari dan memberi isyarat untuk menyetujui kata Elli sebelum Hari semakin bertambah kesal dan akan keceplosan.


Akhirnya Hari mengalah dan dengan berat hati mengijinkan Astri untuk pulang dengan Elli.


Setelah Astri dan Elli pergi menuju rumah mereka, Hari mempertanyakan kesetujuannya dengan Astri dan Elli.


"kenapa kamu setuju dengan mereka?!" kata Hari marah.


"agar kita bisa lihat sebatas apa kemampuan Johan untuk menjadi bodyguardnya Astri tanpa terlihat" terang Dio.

__ADS_1


"hhmm baiklah aku mengerti" kata Hari setuju.


"kamu tenanglah aku akan tetap mengikuti mereka berdua sampai rumah Astri. Jadi kamu bisa tenang menemui Sherly" kata Dio.


"makasih y kamu yang terbaik" ucap Hari tulus sambil menepuk pundak Dio.


Dio pun bergegas untuk mengikuti Astri dan Elli dan memastikan mereka aman sampai ke rumah.


Sedangkan Hari melajukan motornya untuk ke sekolah Sherly seperti rencananya.


Tidak butuh waktu lama untuk Hari sampai di sekolah Sherly karena memang bisa dibilang sekolah mereka bertetangga.


Sherly sangat senang melihat kedatangan Hari. Bahkan dia sampai lupa kalau dia sedang bersama Rendy untuk pulang bersama.


"Hay sayang" teriak Sherly melihat kedatangan Hari dan membuat Rendy merah padam seketika.


"hhmm" kata Hari yang hanya bergumam sebagai balasan.


"heyy kamu apa-apa Sherly manggil nih cowok sayang didepan aku!" kata Rendy marah.


"kenalin dia tunangan aku" terang Sherly.


"kamu selingkuh dari aku?! dasar murahan. Kita putus" teriak Rendy.


"heyy jaga tuh mulut, kamu yang jadi selingkuhan aku kalau kamu pengen tahu" teriak Sherly tidak mau kalah.


Rendy hanya berlalu meninggalkan Sherly didepan gerbang sekolah mereka sambil mengacungkan jari tengahnya kearah Sherly.


"udah drama nya?" kata Hari.


"kamu tumben banget jemput aku sayang? sejak kamu punya mainan baru kamu lupa buat antar jemput aku" kata Sherly.


"aku ada urusan sama kamu dan Astri bukan mainan aku tapi dia adalah kekasihku" geram Hari.


"hahahaha lucu sekali, kamu bilang dia kekasihmu dihadapan tunangan kamu?!" kata Sherly.


"sepertinya yang menganggap kita adalah sepasang kekasih yang bertunangan hanya kamu saja y?!" kata Hari dengan kata mengejek.


"apa maksudmu?" tanya Sherly.


"apa kamu lupa kalau kita hanya merger dan akuisisi?!" terang Hari.


Sherly tidak mampu menjawab dan dia hanya diam sambil mengepalkan kedua tangannya karena merasa marah.


"naik" titah Hari.


Tanpa bantahan Sherly membonceng Hari. Sherly hanya Diam tanpa kata selama perjalanan yang entah kemana Sherly tidak tahu.


Setelah beberapa menit mereka berdua sampai di sebuah cafe. Hari melangkah maju memasuki cafe tersebut dengan Sherly yang senantiasa mengekornya.


Mereka duduk disebuah meja dekat jendela dengan dua gelas es kopi yang mereka pesan.


"apa yang kamu lakukan?" tanya Hari sambil menahan emosinya.


"lakukan apa?" tanya balik Sherly.


"jangan berlagak bodoh, kamu yang membuat tanggal pernikahan maju bukan?!" kata Hari.


"ohh itu, aku tidak dengan jelas memintanya hanya aku sedikit memberi informasi kepada mereka tentang kemungkinan pembelotan saja. Tidak ku sangka respon mereka sangat cepat" terang Sherly.

__ADS_1


Hari menggigit lidahnya kuat-kuat agar dia tidak berteriak kepada Sherly di cafe itu dan agar tetap terlihat tenang didepan Sherly.


"baiklah, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" tawar Hari.


__ADS_2