Takdir ?!

Takdir ?!
Pertemuan


__ADS_3

Author POV


Drrt Drrt Drrt


Sebuah pesan masuk ke handphone milik Dio yang tengah bersantai di apartemen miliknya.


"bos, orang tua tuan besar dan non Sherly bertemu non Astri di cafe depan toko buku"


Johan


"Sial" umpat Dio tanpa membalas pesan Johan


Dio menelpon Hari berulang kali tapi tidak ada jawaban apapun dan itu membuat Dio sangat frustasi. Dio bergegas menuju mobilnya yang terparkir di basemen apartemen untuk segera menuju ke lokasi Astri berada.


Dio menghubungi Johan untuk segala kemungkinan yang akan terjadi.


Drrt Drrt Drrt


"bersiaplah jika sesuatu yang buruk terjadi" titah Dio dan langsung menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Johan.


Ditempat lain Hari sedang bersama mamanya Sherly. Entah kenapa Hari merasa mamanya Sherly sedang Menahannya agar tidak pergi dari rumah keluarga Sherly.


Dan dengan berbagai alasan membuat Hari tidak bisa memeriksa handphone miliknya yang dari tadi terasa getarannya.


Di sebuah cafe duduklah Astri bersama kedua orang tua Hari dan Sherly.


beberapa jam sebelum itu.


Entah kenapa petang ini Astri ingin pergi ke toko buku, dan karena tidak ingin merepotkan Hari jadi Astri memutuskan untuk ke toko buku sendiri tanpa mengabari Hari.


Saat Astri sedang asyik memilih dan melihat-lihat novel-novel yang berjajar rapi di raknya, seseorang memanggil dari arah belakang.


"Astri" sapa Sherly.


"iya" jawab Astri.


"bisa kita bicara sebentar?" pinta Sherly.


"boleh" jawab Astri.


Kemudian mereka berdua berjalan ke cafe diseberang toko buku langganan Astri.


Disaat mereka sampai di pelataran cafe Astri merasa bingung karena suasana cafe yang tidak seperti biasanya.


Ada banyak orang-orang yang seakan berjaga disekitar cafe yang terlihat seperti bodyguard dengan pakaian yang senada, cafe buka tapi tertulis tutup. Seakan cafe ini telah disewa sepenuhnya.


Astri tetap berjalan dibelakang Sherly untuk mengikutinya masuk kedalam cafe.


Sherly mempersilahkan Astri untuk duduk. Saat Astri baru duduk terhitung tiga detik datanglah dua orang yang terlihat berkharisma, berwibawa, tegas dan seperti tidak bersahabat dengan Astri.


Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan pakaian yang sangat anggun dan mahal jelas terlihat dan seorang laki-laki paruh baya yang terlihat gagah diusianya yang terbilang sudah matang, rambut yang rapi dan mata yang sangat mirip dengan milik Hari.


Entah kenapa perasaannya mengatakan akan ada hal yang tidak baik akan terjadi.


dalam hatinya berkata "apakah ini orang tua Hari mata itu milik hari, bentuk wajah itu juga milik Hari" .


Astri bangkit dari duduknya dan berdiri untuk menyapa kedua orang tua yang berdiri dihadapannya.


Astri menundukkan kepalanya untuk memberi hormat serta menyapa mereka.


"duduk" titah Papi Hari.


Tanpa menjawab Astri langsung duduk karena rasa tegangnya yang menguasai tubuhnya.


Tanpa Astri ketahui Johan terus mengawasinya dari tempat yang tidak ada satupun yang tahu bahwa dia adalah pengawal Astri.


Dio melajukan mobilnya dengan sangat kencang dan tidak butuh waktu lama untuk dia sampai di parkiran cafe tersebut.


Dio mengedarkan pandangannya untuk melihat situasi dan kondisi di sana. Dio berusaha masuk ke cafe tersebut tapi tidak bisa karena pengawalan yang cukup ketat.


Dio berteriak frustasi karena Hari masih saja sulit dihubungi, tetapi detik kemudian Dio bernafas lega karena melihat Johan yang menyamar jadi pelayan di sana dan itu membuat posisinya dekat dengan Astri yang artinya dia bisa melindungi Astri kapan saja.


Didalam Cafe Astri merasa keringat dingin dan sesak nafas dengan suasana yang sangat tidak nyaman menurutnya.


"kamu Astri?" tanya Papi Hari


"iya tuan" jawab Astri


"perkenalkan saya Dermawan Papinya Hari dan ini Istri saya Lucy maminya Hari" terang Papi Hari.


"iya tuan" jawab Astri.


"saya langsung saja ke topik utamanya, tinggalkan Hari" kata Papi Hari.


Astri hanya diam membisu dan menundukkan kepalanya. seakan tidak ada kata yang bisa ia keluarkan.


"sampai kapanpun kamu tidak akan pantas menjadi pasangan anak saya, derajat sosial kita sangat berbeda ibarat kamu bumi dan Hari adalah langitnya. Saya sudah memilihkan calon istri untuk Hari yang sesuai dengan kriteria keluarga Dermawan yaitu Sherly gadis cantik nan anggun di sebelah kamu. Saya harap kamu mengerti jadi saya tidak perlu menggunakan cara kasar untuk membuat kalian berpisah. dan kamu pasti ingin melihat ibu kamu tetap sehat dan bahagia kan nak Astri?!" kata Papi Hari penuh penekanan.


Astri tetap menunduk tanpa bisa berkata-kata.


Dia menggigit lidahnya kuat-kuat agar air matanya tidak keluar.


Astri sangat paham dengan ancaman yang berupa kata-kata manis itu, apalagi saat ibunya disebut itu membuat alarm dalam otaknya bekerja.


Johan terus mendengarkan dengan seksama sambil membersihkan meja yang sebenarnya sudah sangat bersih.

__ADS_1


Dio terus mondar-mandir didepan mobilnya yang terparkir didepan cafe tersebut.


Didalam Cafe Sherly tersenyum penuh kemenangan karena orang tua Hari ada di pihaknya.


"baiklah itu saja nak Astri, saya yakin kamu gadis yang cerdas" kata Papi Hari


Maminya Hari hanya Diam tanpa ingin masuk kedalam pembicaraan, dia terus menatap Astri tajam dan seakan sedang menghina Astri dengan tatapannya.


"kami pergi dulu" kata Papi Hari sambil berdiri dan diikuti maminya Hari serta Sherly.


Astri ikut berdiri dan mengangguk paham akan titah orang tua Hari barusan.


Tuan dan Nyonya Dermawan pergi meninggalkan cafe bersama Sherly.


Astri duduk ditempatnya semula dengan tetap menahan tangisnya agar tidak keluar, dia memikirkan kembali setiap kata yang diucapkan oleh papinya Hari tadi.


Dari luar Dio bergegas masuk untuk memeriksa keadaan Astri.


"kamu nggak apa-apa?" tanya Dio.


Astri mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang berbicara padanya.


"aku baik-baik saja" jawab Astri sambil tersenyum.


Dio ikut duduk di depan Sherly dan mengambil nafas lega yang sedari tadi terasa sangat sesak.


Saat Dio menengok lagi kearah tadi dimana dia lihat Johan berada saat akan masuk kedalam cafe tapi ternyata Johan sudah tidak ada ditempatnya.


Di sisi lain akhirnya Hari bisa keluar dari rumah Sherly setelah hampir dua jam Hari ditahan di sana dengan berbagai alasannya.


Hari segera mengecek handphone miliknya yang sejak satu jam tadi tidak berhenti bergetar.


Betapa kagetnya saat Hari melihat 125 panggilan tak terjawab dan 274 pesan masuk yang semua itu berasal dari Dio.


Hari langsung membuka pesan itu yang isinya "orang tua kamu bersama Astri".


Hari langsung menelpon Dio, untuk menanyakan dimana keberadaan Astri sekarang.


Drrt Drrt Drrt


"dimana?" tanya Hari.


"cafe depan toko buku langganan Astri" jawab Dio.


Tanpa pikir panjang Hari langsung mengegas motornya menuju cafe yang disebutkan Dio tadi.


Tidak butuh waktu lama Hari telah sampai di cafe dan dia langsung berlari menghampiri Astri yang tengah duduk bersama Dio dalam diam.


"sayang" panggil Hari dengan susah payah melembutkan suaranya.


iya, sudah 6 bulan mereka pacaran dan itu sudah bisa membuat Astri paham betul isi kepala dan hati kekasihnya itu.


Astri tersenyum ke arah Hari dan membalas sapaan Hari.


"iya" kata Astri.


"kamu nggak apa-apa?" tanya Hari.


"seperti yang kamu lihat" jawab Astri.


Hari langsung memeluk Astri erat tanpa melihat Dio yang masih duduk manis di sana melihat adegan mereka.


"ekhem, sorry ni y pak ganggu. saya cuma mau ijin pamit saja pak" goda Dio.


Hari memukul kepala Dio dengan tangan kosongnya.


Plakk


Plakkk


"sakit Har" terang Dio.


"hahahaha, makasih y" ucap Hari.


"sama-sama" ucap Dio.


"aku balik dulu y, kalau ada apa-apa telepon saja" kata Dio.


"iya, sekali lagi makasih y" kata Hari.


Astri hanya mengangguk dan melempar senyum kearah Dio.


Hari kembali menatap kekasihnya dalam-dalam.


"ma'af aku terlambat datangnya" ucap Hari.


"emang kita janjian mau ketemu?" tanya Astri polos.


Hari mengusak rambut Astri gemas.


"nggak, ayok kita pulang bersama" pinta Hari.


"iya" jawab Astri.


Hari memakaikan Helm ke Astri, dan menyuruhnya naik ke atas motornya.

__ADS_1


Hari melajukan motor kearah rumah Astri dengan santai seakan mereka sedang menikmati semilir angin di sore hari.


Setelah 30 menit mereka akhir sampai dirumah Astri. Hari memarkirkan motornya dihalaman rumah Astri karena dia memang berniat untuk mampir.


"masuk yuk" ajak Astri.


"iya" kata Hari.


"duduk dulu aku buatin minum" kata Astri.


Hari mengangguk dan segera duduk di sofa ruang tamu Astri.


Setelah selesai Astri membuat minum untuk Hari kemudian dia memberikannya untuk Hari.


"ini diminum dulu" kata Astri.


"iya, kamu duduk disini sebelah aku" pinta Hari.


Astri duduk disebelah Hari dengan deg-degan, meskipun mereka sudah pacaran lama tapi Astri masih tetap deg-degan saat didekat Hari meskipun itu jarak 10 langkah darinya.


"tadi kamu ketemu siapa di cafe" tanya Hari lembut.


"a--ku ke--ketemu o--rang tua kamu" jawab Astri tergagap.


"jangan takut atau gugup sayang aku hanya ingin tahu saja" kata Hari pelan.


Astri mengangguk dan tetap menundukkan kepalanya.


"lihat mata aku sayang" kata Hari.


"nggak mau" jawab Astri.


"kenapa hhm?" tanya Hari.


"aku takut air mata yang aku tahan sejak tadi keluar" kata Astri jujur.


Hari menarik tangan Astri untuk lebih dekat dengannya dan kemudian mendekap Astri dalam pelukannya.


"menangislah sayang, tidak apa-apa" kata Hari lembut.


tanpa menunggu komando yang kedua Astri sudah menangis sejadi-jadinya.


Hari yang melihat Astri menangis dalam pelukannya tak kuat menahan air matanya yang ikut luluh membasahi pipinya.


Hari POV


Ma'afkan aku sayang, telah membuat kamu dalam keadaan yang sulit.


Aku sangat mencintai kamu dan akan tetap mencintai kamu.


Author POV


Hampir berjam-jam Astri menangis dalam pelukan Hari tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di cafe tadi.


Setelah Astri kelelahan menangis dia tertidur didalam pelukan Hari. Kemudian Hari mengangkat tubuh Astri dan membawanya ke kamar Astri, dia membaringkan Astri perlahan agar Astri tidak kaget dan terbangun.


Hari mengecup kening Astri penuh sayang dan membisikan Kata cinta ditelinga Astri.


"selamat malam sayang, i love you more" Ucap Hari


Hari keluar kamar Astri dan menutup rapat pintu kamarnya Astri. Kemudian dia menelepon Elli.


Drrt Drrt Drrt


"hallo" jawab Elli.


"ini Hari, bisa kah kamu menemani Astri malam ini sampai ibunya pulang?" kata Hari.


"oke, aku kesana sekarang" jawab Elli.


Hanya lima menit Elli sudah sampai dirumah Astri.


"bisa kamu jelaskan apa yang terjadi?" tanya Elli sesampainya di dirumah Astri dan disambut oleh Hari.


"tanyalah pada Astri sendiri" jawab Hari.


"dasar emang y kamu" kesal Elli.


"aku nitip Astri dan aku pergi dulu" kata Hari.


"hhmmm" jawab Elli yang berlalu masuk kedalam rumah Astri.


Sebelum Hari pergi meninggalkan rumah Astri dia menghubungi Dio untuk menyuruh Johan ke apartemen milik Dio.


Sekarang didalam apartemen milik Dio ada tiga orang laki-laki yang sedang saling berhadapan dengan posisi yang berbeda-beda.


Hari duduk dan membaca laporan Johan dengan seksama sampai dia harus mengulang beberapa kali di bagian apa yang terjadi di cafe dan apa yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya terhadap kekasih nya.


"Sial" teriak Hari sambil membalikan meja yang ada dihadapannya.


"kurang ajar, Sherly telah berani membuat kedua orang tua ku datang ke Indonesia" bentak Hari.


"tenang Har" ucap Dio.


"aku tidak akan melepaskannya dengan mudah kali ini" ucap Hari.

__ADS_1


Dio memberi isyarat kepada Johan untuk pergi dan diangguki oleh Johan.


__ADS_2