
Author POV
Tidak terasa hari telah petang dan Elli pun pamit ke Astri untuk pulang. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Elli untuk segera sampai dirumahnya karena memang rumah Elli dan Astri berada di satu komplek perumahan yang sama.
Malam harinya Sherly datang kerumah Astri dan itu tidak luput dari pengamatan Johan yang senantiasa mengawasi Astri.
Tok tok tok
Astri yang memang sendiri karena ini belum jam pulang kerja ibunya bergegas untuk membuka pintu rumahnya. Dalam hati dia bergumam, kenapa mengetuk pintu bukan memencet bel yang ada di gerbang rumah.
Saat Astri membuka pintu betapa kagetnya dia kenapa Sherly berada dirumahnya sedangkan dia tidak pernah merasa memberitahu alamat rumahnya kepada Sherly.
"hai" sapa Sherly.
"hallo, Sherly?!" sapa Astri.
"boleh aku masuk" tanya Sherly.
"ohh boleh silahkan" jawab Astri.
"silahkan duduk, aku ambilkan minum sebentar" kata Astri.
"tidak perlu repot-repot, aku hanya sebentar" kata Sherly.
"hhmm baiklah" kata Astri yang kemudian ikut duduk dengan Sherly.
"tadi siang Hari menemui ku" kata Sherly.
"iya" jawab Astri.
"baguslah kalau kamu sudah tahu, aku cuma mau kasih tahu itu dan Dia menemui ku untuk membuat kesepakatan dengan aku" terang Sherly.
"kesepakatan?" heran Astri.
"iya, aku tidak tahu seberapa berharganya kamu bagi Hari sampai dia repot-repot membuat kesepakatan dengan ku. Tapi aku ingin kamu tahu kalau hubungan kamu dengan Hari itu tidak ada ujungnya karena seberapa keras pun usaha kalian untuk tetap bersama itu hanya bisa bertahan sampai kalian lulus SMA dan setelah itu Hari akan tetap menikah dengan ku. Jadi menurut kamu bagaimana?! mau melanjutkan atau berhenti sampai disini sebelum kamu jatuh terlalu dalam dan semakin dalam mengharapkan hal yang semu?!" jelas Sherly.
"aku mengerti" jawab Astri.
"baguslah kalau kamu mengerti" kata Sherly.
"baiklah aku permisi, senang bisa bicara dengan kamu, bye" ucap Sherly sambil berlalu meninggalkan rumah Astri.
Astri terduduk dilantai sambil memikirkan apa yang dikatakan oleh Sherly dan tanpa ia kehendaki air matanya turun deras seakan tidak mau dibendung olehnya.
Astri POV
Kenapa ini begitu rumit Tuhan.
Author POV
Pagi harinya Astri terbangun dengan mata sembab sisa semalam, untung ibunya sudah berangkat kerja jadi dia tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan kepada ibunya kenapa matanya sembab.
Astri sedang sibuk menutupi mata sembabnya dengan berbagai Cream make up agar tidak terlihat jelas, sedangkan Hari sudah standby menunggu Astri didepan rumah Astri.
Akhirnya Astri selesai dengan keribetan mata sembabnya dan bergegas keluar rumah untuk menemui Hari.
"pagi sayang" sapa Hari.
"pagi" jawab Astri sambil menunduk untuk menghindari tatapan mata Hari agar tidak terlihat mata sembabnya.
"lihat aku" titah Hari.
__ADS_1
"yuk berangkat nanti telat" jawab Astri mengalihkan pembicaraan.
"sayang" kata Hari.
"hhmm" jawab Astri.
"lihat aku" titah Hari.
"nggak mau" jawab Astri.
"baiklah kalau nggak mau maka kita akan tetap disini dan sepertinya kita akan bolos hari ini" terang Hari.
"jangan" rengek Astri.
"kalau gitu lihat aku sekarang sayang!" kata Hari.
Dengan takut-takut Astri menatap Hari seperti yang di katakan oleh Hari.
Dengan perlahan Hari menyapukan jari jempolnya di bagian mata Astri.
"kenapa?" tanya Hari.
"nggak kenapa-kenapa, aku hanya kurang tidur karena belajar semalaman" jawab Astri ragu-ragu.
"meskipun kamu tutupi mata sembab kamu itu aku bisa melihatnya sayang. Sekarang katakan sama aku yang sebenarnya atau kita dirumah kamu saja hari ini nggak usah berangkat sekolah sampai kamu mau mengatakan yang sejujurnya" ucap Hari.
"Aaaa jangan, kita berangkat saja yuk, nanti kita bahas pas pulang sekolah gimana?!" tawar Astri.
"nggak mau" jawab Hari.
Sedetik kemudian Hari mengeluarkan Hpnya dan mengirim pesan kepada Dio.
Hari
wait
Dio
Selang satu menit Hari mendapat balasan dari Dio.
Elli dan seorang gadis blesteran yang seumuran dengan Astri, berambut ikal, mata biru dandanannya stylish dengan tinggi selisih 10 cm dari Astri yaitu 170 cm. dari ciri-ciri yang sebutkan Johan itu adalah Sherly.
Dio
thanks
Hari
"ayok berangkat, nanti telat" rengek Astri.
Hari mengelus Surai Astri dengan sayang dan kemudian mengangguk
Hari POV
dalam hati Hari
Ma'af sayang aku menempatkan kamu di situasi yang rumit.
Author POV
Mereka berangkat ke sekolah dengan agak tergesa karena mereka hampir telat setelah sedikit ada drama didepan rumah Astri tadi.
__ADS_1
Beruntung Saat mereka sampai disekolah tidak banyak yang menyadari kalau mata Astri sembab jadi dua tidak perlu repot-repot menundukkan kepala karena tatapan para penghuni sekolah.
Hanya saja ternyata Elli dan Bagas yang dilintasi Astri dan hari menyadari semurat sembab yang ada Dimata Astri. Mereka menghentikan langkah Astri dan bertanya tentang apa yang sudah terjadi.
"mata kamu kenapa?" tanya Bagas.
"nggak apa-apa, hanya kurang tidur" jawab Astri.
"benarkah?! bukan habis menangis semalaman?" tenya Elli.
"bukan kok" jawab Astri sambil menggandeng tangan Elli untuk masuk ke kelas mereka.
Bagas menghentikan langkah Hari dan bertanya tentang apa yang terjadi.
"dia kenapa?" tanya Bagas.
"begadang karena belajar semalaman" jawab Hari singkat.
"sungguh?!, awas saja jika kamu menyakitinya" ancam Bagas
"tidak akan" jawab Hari tegas dan kemudian berlenggang meninggalkan Bagas yang diam didepan kelas Hari.
Sekolah berjalan seperti biasanya dengan tekun mereka belajar sampai jam sekolah berakhir di sore hari.
Hari mengajak Astri pulang tapi bukan ke rumah Astri melainkan kerumah Hari.
"kok kerumah kamu? kan aku belum ganti baju" tanya Astri.
"aku udah minta tolong ke ART buat beliin kamu baju tadi, jadi kamu bisa ganti dirumah aku" terang Hari.
Astri hanya bergumam mengiyakan pernyataan dari Hari.
Sesampainya di rumah Hari mereka langsung menuju kamar Hari seperti biasa. Astri mengganti seragamnya duluan dikamar mandi dan setelah Astri selesai dia keluar kamar mandi untuk bergantian dengan Hari tapi ternyata Hari telah selesai mengganti bajunya didalam kamar.
"kamu udah ganti baju?" tanya Astri.
"hhmm" jawab Hari.
Hari berjalan kearah Astri yang sedang membereskan seragam sekolahnya kedalam tasnya dan kemudian Hari memeluk Astri dari belakang.
"sayang, aku pernah bilang ke kamu kan, kalau ada apa-apa kamu harus cerita sama aku, kamu nggak boleh memendam semuanya sendiri. Bagaimana aku bisa berjuang untuk kamu jika kamu nggak ikut berjuang dengan aku?!" kata Hari sambil tetap memeluk Astri dari belakang.
Astri hanya mengangguk karena entah kenapa lidahnya kelu hanya sekedar untuk bilang iya.
Hari membalik tubuh Astri untuk menghadapnya dan kemudian dia menangkup kedua pipi Astri dan mencium kening Astri lembut untuk menyalurkan segala rasa yang ada di dadanya.
Astri tidak bisa menahan air matanya lagi dan menghambur kepelukan Hari untuk meluapkan segala rasa yang ada didadanya.
"menangislah jika itu bisa membuat hati kamu lega" ucap Hari sambil mengusap punggung Astri.
"ma'afkan aku" ucap Astri.
"sssttt, jangan pernah meminta ma'af kepada ku sayang, kamu nggak salah hanya saja situasi yang membuat kita seperti ini" ucap Hari menenangkan Astri.
"terimakasih" kata Astri.
Cup
Astri mengecup pipi Hari sekilas dan kembali memeluk Hari yang entah kenapa pelukan Hari yang hangat dan menenangkan serta terasa nyaman itu sudah menjadi candu untuk Astri.
Hari tersenyum bahagia karena kekasihnya itu sudah mulai merasa nyaman kepadanya sehingga dia mulai berani mencium pipinya.
__ADS_1