
Pov reagan
Tidak ku sangka reaksinya akan seperti ini jika aku berangkat, sebenarnya tidak sampai hati untuk meninggalkannya apalagi dalam kondisi mengandung anak ku, melihatnya menangis hatiku juga ikut menangis, tapi mengingat tugas negara tidak mungkin aku abaikan, ku usap kepalanya, ku usap air mata yang kian menggenang di pelopak matanya ingin sekali ku rangkul tubuh kecilnya namun aku takut tak sanggup untuk meninggalkannya, kurang lebih lima hari aku di sana tapi itu sangat menyakitkan bagiku.
Ku cium perut ratanya ada rasa ketenangan dalam jiwaku, ingin berlama, namun teman sudah menunggu, aku pamit dengan berat kaki ini untuk melangkah, tepat di persimpangan, ku lihat mobil mama dan papa, ku izin minta waktu sebentar untuk menemui kedua orang tua ku.
Ku lihat di wajah mama tampak tidak rela aku berangkat, tidak seperti biasanya ketika aku hendak bertugas " semoga tidak terjadi apa-apa, pulang selamat dan bisa berkumpul lagi dengan keluarga" batinku.
Mama memeluk ku begitu lama, serasa tidak ingin aku pergi, papa menepuk pundak ku seraya berkata
" Pulanglah dengan selamat, jagoan papa"
Aku pun mengiyakannya, "Itu pasti pa" ucapku
Kulambaikan tanganku, kami pun berangkat, hatiku mulai terasa tenang, setelah berjumpa dengan kedua orang tua ku, saat di pertengahan jalan menuju pangkalan udara TNI AD, aku mendapat pesan dari sang pujaan hati, aku pun tersenyum membacanya, sehingga tanpa sadar temanku menepuk bahuku.
" Sabar ya kapten, lima hari tidak lama" Ujarnya ke arah ku
Setelah ku balas pesannya, mobil yang kini kami tumpangi telah sampai di pangkalan udara TNI AD, aku beserta tim ku segera menaiki helikopter yang telah di persiapkan ada sekitar sepuluh orang kami berangkat menuju perbatasan.
__ADS_1
Sesampainya di sana, suasana terlihat begitu mencekam menurutku ku cari benda pipihku di dalam tas ku cari jaringan namun tak kunjung, ingin sekali aku mengabari istriku, " pasti ia mengkhawatirkanku " batinku
" agghhhh" jerit kesal ku sembari ku sepakkan batu di hadapanku
Aku langsung beristighfar, ku hampiri teman tim ku, di sini aku harus bisa bersikap profesional.
Pov end
****
Kini papa al dan ayah biru telah sampai di gudang sekitar satu jam yang lalu, terlihat fikry tengah memukuli habis- habisan dua orang yang masih tidak mau membuka mulutnya.
" Stop fik," Seru papa al
" Siapa yang menyuruhmu, katakan! " seru ayah biru dengan wajah geramnya
" Siapa !!!"
" Ampuni kami tuan, ampuni kami.... " ucap keduanya
__ADS_1
" Aku akan mengampuni mu, tapi katakan siapa yang menyuruhmu membakar pabrik ku"
" Kami akan memberitahunya, tapi tolong lepasin kami tuan"
" Katakan" Suara tegas keluar dari mulut papa al
" Tu tuan pradana yang telah menyuruh kami"
Deg
Setetes air jatuh ke pipi ayah biru, ia tidak menyangka ternyata ini ulah adik nya, ia merasakan dadanya nyeri, melihat itu papa al langsung membawa ayah biru keluar dari ruangan itu.
" Fikry, kamu panggilkan revan untuk mengobati mereka dan jangan lupa panggil polisi untuk membawa mereka" ucap papa al setelah itu ia membawa ayah biru pergi
Mendapat perintah dari sang ayah, ia pun segera menelepon dokter keluarganya yaitu revan, ada sekitar lima belas menit revan datang menemuinya.
" Siapa yang sakit fik? "
Namun yang di tanya malah diam, sambil berjalan menyusuri lorong demi lorong, revan sudah mengenal sifat tuan mudanya ia hanya bisa menghela nafas, karena pertanyaannya di abaikan begitu saja.
__ADS_1
"Aku kasih waktu dua puluh menit untuk mengobati dua manusia laknat itu, paham" serunya seenaknya
Deg