
******
Terlihat wajah lelaki yang tidak muda lagi dengan raut wajah sangar, dan dimukanya terdapat banyak bekas pukulan sehingga terlihat begitu banyak memar-memar, baik di sudut bibirnya.
" Apa yang membuat mas ke mari?" ujar pradana sinis
" Kenapa kamu melakukan ini kepada mas dana?"geram ayah biru.
Dua hari yang lalu, ayah biru menjebloskan adiknya ke penjara, karena kasus kebakaran pabrik, yang di dalangi oleh adiknya sendiri, ia tidak tahu apa maksudnya, begitu banyak muncul pertanyaan di kepala ayah biru. Membuat kepalanya terasa sakit.
" Aku, tidak suka mas" ucapnya sadis
deg
" Apa maksudmu, aku mas mu dana"
" Iya, kau mas ku tapi bukan sedarah" sesak itulah yang di rasakan ayah biru
" Ayah dan bunda begitu menyayangimu di bandingkan aku, aku benci kamu, aku benci" teriaknya
Ntah siapa yang meracuni pikirannya sehingga ia membenci kakaknya sendiri. Mendengar jawaban sang adik membuat kesehatan ayah biru menurun, ia sedari tadi memegang dadanya yang begitu sakit, melihat ayah biru kesakitan, papa al berniat membawakan ayah biru ke rumah sakit namun ayah biru menolaknya, ia masih bisa mengontrol sakit yang ada di dadanya, saat ini yang ia butuhkan obatnya, setelah meminum obat sakit yang di dadanya pun berangsur kurang.
Terdengar bunyi suara benda pipih milik papa al, di rogohnya saku celananya dan terihat fikry calling
__ADS_1
" Papa di mana, mama pingsan" ucap fikry
"Papa sudah di jalan, papa pulang,tolong jaga mama untuk papa" ucap papa al tanpa mengucap salam ia matikan secara sepihak
" Siapa besan? kenapa bu virni?
" fikry pak, istriku pingsan, kita harus segera pulang"
" baiklah"
Papa al lansung menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi, saat ini yang ada di fikirannya adalah istrinya, alasannya kenapa istrinya pingsan itu belakangan, saat ini yang ia inginkan di samping sang istri.
Berbeda dengan ayah biru, pikirannya kini ke sang adik ia masih teringat ucapan pedas adiknya, terasa sesak, dan mencubit hatinya.
*****
Terlihat syazani menghapus air matanya, ia semenjak hamil ini pembawaannya cengeng, dan ingin selalu bersama sang suami, namun karena sang suami bertugas di luar daerah membuatnya tak dapat membendung rasa sedihnya. di tambah sikap khawatirannya terhadap sang suami, membuat ia menjadi murung. Mirna adalah pegawainya yang setia mulai dari titik terendah hingga sampai sekarang, suka duka bosnya ia tahu.
" Mbak, are you oky?
"Yes, i'am oky, ada apa mir? tanya syazani
"Aku dapat telepon dari bu lisa Mbak, Mbak di suruh pulang ke rumah utama"
__ADS_1
" Bunda? kok tidak menghubungi ku langsung mir?
Terlihat Mirna mengaruk garuk kepalanya yang tidak gatal
"Aku juga tidak tahu mbak"
" Mbak titip butik ya mir, terima kasih ya" ucap syazani beranjak dari bangkunya dan berjalan ke ruangannya untuk mengambil tas yang ada di meja kerjanya. Mirna hanya bisa menatap belakang punggung bosnya dengan perasaan sedih.
Di dalam mobil, syazani mencoba menghubungi bunda lisa, ia teringat kata Mirna kalau bunda lisa menyuruhnya ke rumah utama, ada apa?
sambungan masuk
" Assalamualaikum sya"ucap bunda lisa dari sebrang dengan suara serak seperti habis menangis
" Wa'alaikumussalam bun, kata mirna bunda menyuruh sya pulang ke rumah utama, ada apa dengan mama virni bun? " tanya sya heran
" Mama mertuamu pingsan sya, makanya bunda ke mari, kamu segera ke sini ya nak, hati-hati di jalan" ucap bunda lisa tidak ingin anaknya tahu dulu.
" Bun, tunggu... suara bunda kenapa seperti habis menangis? tanya syazani curiga
" Bunda flu sya, cepat pulang ya, Assalamualaikum "
"Wa'alaikumussalam "
__ADS_1
"Sejak kapan bunda flu? perasaan pagi tadi fine-fine aja" batin syazani
Ia pun menginjak pedal gas, dan melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah utama.