
Seperti ada yang memanggil namaku, ku buka mataku perlahan, ku lirik samping kanan, ku lihat ada bunda ku juga nana di sebelah kiri ku.
" Sya.... " sapa nana sembari menggenggam tanganku
" Na, mas Reagan na" ia pun kembali menangis
Seketika ia langsung terdiam, seperti menyadari sesuatu
" Bun mas Reagan di mana? tanya nya menghiba
" Reagan sejam yang lalu sudah di bawa ke tpu nak" jawab bunda lisa pelan
Pemakaman jenazah Reagan, kedua orang tuanya meminta agar anaknya di makam kan di pemakaman umum tempat keluarga aldamsyah agar lebih mudah untuk mereka menziarahinya.
Syazani tidak peduli dengan kondisinya, dengan perlahan ia menurunkan kakinya dari atas ranjang nya, dan berlari menuju tempat pemakaman Reagan, jarak antara rumah keluarga aldamsyah dan pemakaman tidak terlalu jauh, sehingga tanpa menggunakan kendaraan juga bisa.
Melihat anaknya berlari menuju tempat pemakaman, bunda lisa berniat mengejarnya namun di halangi oleh nana.
__ADS_1
" Tan, biar nana saja yang mengejarnya" ujar nana
Nana cepat menghampiri syazani, tidak ingin terjadi yang lebih fatal terhadap kondisi syazani dan kandungannya, ia pun mengajak syazani untuk naik di atas roda dua yang nina kendarai.
Sesampai di tempat pemakaman terlihat orang-orang yang ikut menguburkan jenazah Reagan hendak pulang, namun melihat kehadiran syazani yang akan menghampiri tempat istirahat terakhir Reagan, sebagian dari mereka ada yang pulang ada pula yang masih menetap di sana.
Mama virni, papa al, ayah biru, dan fikry yang melihat syazani berlari-lari menghampiri pemakaman Reagan terkejut, dan saling berpandangan.
Dari kejauhan syazani memanggil nama suaminya dengan deraian air mata yang tiada henti-hentinya mengalir, ia pun terjatuh di pemakaman sang suami, ia semakin histeris karena tidak bisa melihat sang suami untuk yang terakhir kalinya.
" Ma.... keluarin mas Reagan ma, mas Reagan pasti tidak bisa bernafas di bawah sana, Pa... panggilkan tukang cangkulnya kasihan mas Reagan Pa, ayah... " tangisnya semakin meledak, sangat sulit baginya untuk mengikhlasin kepergian sang suami.
Mama virni yang menyaksikan keadaan menantunya hatinya terasa berdenyut nyeri, begitu juga papa al dan ayah biru.
Satu persatu pelayat di sana mulai berpulangan tinggal lah beberapa tentara yang masih ada di sana, sesar agus ia ikut prihatin yang menimpa kepada keluarga almarhum kaptennya, ia datang mendekat menghampiri keluarga almarhum Reagan seraya mengucap belasungkawa berlalu mengarah fiikry dan syazani.
" Permisi pak" sapanya
__ADS_1
" Iya" jawab fikry sembari menghapus air mata yang menetes di pipinya.
" Saya turut berduka cita ya pak, buk atas kepergian kapten Reagan, dia adalah sosok lelaki yang baik, dan teladan untuk kami, kami juga merasa kehilangan beliau, sebelum ia meninggal ia ada memberikan ini untuk bapak dan ibu, sebelumnya mohon maaf,bapak yang bernama fikry bukan?
" Iya benar, saya fikry abang almarhum" ucap fikry
" Baiklah, ini amanah dari beliau pak, saya sampaikan" ucapnya sembari menyerahkan dua amplop satu untuk fikry dan satu lagi untuk syazani.
" Kalau begitu kami pamit ya pak bu" ucapnya sopan
Di lihatnya sersan agus dan dua orang temannya sudah mulai menjauh, syazani melihat amplop yang ada di tangannya penasaran dengan isinya.
" Jangan di buka di sini, kita buka di rumah saja, kita pulang ya sya! " ajak fikry
Syazani masih enggan untuk pulang, kedua orang tua mereka juga sudah pulang tinggallah mereka berdua di tempat pemakaman.
" Kalau aku pulang mas Reagan bagaimana kak? dia pasti tidak ada yang menemaninya? ucapnya lirih
__ADS_1
" Sya, dengarin aku, Reagan sudah tenang di sana, jika kamu seperti ini, dia juga semakin sedih apalagi melihatmu begini, kamu jangan egois sya, ada makhluk yang hidup di rahim mu" ucap fikry untuk menyadari syazani.