Takdir Hidup

Takdir Hidup
Semakin Kuat


__ADS_3

×TAKDIR HIDUP×


PART 12


"Ibuuuuu" teriak Meera saat melihat ibu nya mulai tersadar.


Meera berlari menghampiri Ragini memeluk tubuh Ragini, Ragini mengeratkan pelukannya itu.


"Apakah ibu sudah sembuh? Hmm ibu nakal sih, kemarin Meera lihat ibu belum makan, pokoqnya ibu jangan nakal lagi ntar kalau ibu sakit Meera kan jadi sedih" ucap Meera sedih.


Ragini hanya mengelus pipi Meera lembut.


"Ibu kemarin aku nelpon ayah, dia langsung datang dan membawa ibu kesini" lanjut Meera.


Ragini hanya tersenyum dan menatap anaknya.


"Sekarang dimana ayah mu sayang?" tanya Ragini.


"Ayah sedang ke kantor ibu, katanya ada meeting yg sangat penting, tak bisa di tunda dan di wakilkan" jelas Meera.


Ragini hanya tersenyum dan memeluk erat Meera.


***


"Baiklah meeting sudah selesai, terimakasih atas kerjasama kalian semua" ucap Laksh.


Perlahan mereka pun bubar meninggalkan Laksh yg masih terdiam di ruangan meeting itu. Dia merebahkan tubuhnya yg sakit karena semalaman dia tertidur dengan posisi terduduk di samping Ragini.


RAGINI! Tiba-tiba Laksh teringat dengan Ragini, dia lalu mengambil ponsel nya dan menghubungi Ragini.


DDDRRRRTTT, DDRRTTTT...


Ponsel Ragini berdering, dia yg sedang sibuk membereskan pakaiannya, langsung mengambil ponsel itu dan mengangkatnya.


"Ya Laksh, ada apa?" ucap Ragini.


"Ragini, kau sudah sadar? Bagaimana kondisi mu? Apakah kau sudah merasa baikkan?" tanya Laksh khawatir.


"Aku sudah mendingan Laksh, sekarang aku sedang mengemasi barang-barang ku, aku sangat tidak suka berada disini hehehe" ucap Ragini.


"Hei Ragini apa kau sudah benar-benar pulih? Apakah dokter sudah mengijinkan kau untuk pulang?" tanya Laksh khawatir.


"Aku sudah tak betah disini Laksh, aku ingin pulang ke rumah" lirih Ragini.


"Baiklah, kau tunggu disana, aku akan mengantarmu pulang ya" ucap Laksh.


Laksh memutuskan panggilannya. Dia langsung bergegas pergi mengambil kunci motornya dan berlari ke arah parkiran. Sebelumnya ia menemui sekertaris nya untuk meng handle semua perkerjaanya. Laksh melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit.


***


"Ayaahhhh" teriak Meera langsung menghampiri Laksh, Laksh berjongkok dan menggendong Meera. Dia lalu menghampiri Ragini. Laksh memegang dahi Ragini mengecek suhu badan Ragini. Ragini hanya tersenyum simpul.


"Aku sudah mengurus administrasi mu, ayo kita pulang" ajak Laksh.


Ragini pun tersenyum dan keluar dari rumah sakit bersama Laksh.


"Apa kau baik baik saja? Kau benar sudah merasa baikkan? Apa kepala mu sudah tak pusing lagi? Apa yg kau rasakan?" Laksh mencecar Ragini dengan banyak pertanyaan.


Ragini hanya menggeleng dan tersenyum.


"Nampaknya kau amat mengkhawatirkan ku, kau bertanya banyak sekali, aku sampai bingung untuk menjawab pertanyaan mu yg mana dulu hahaha" jawab Ragini sambil tertawa.

__ADS_1


Laksh menatap Ragini yg tertawa, ia merasakan hatinya berdebar kencang saat mendengar tawa Ragini. Hatinya terasa damai dan tentram. Laksh terus memperhatikan Ragini dan sesekali tersenyum. Mata Laksh tertuju kepada wajah Ragini, benar benar sangat cantik. Dulu bahkan Laksh sangat mengagumi wajah yg sudah memberikannya 'kenikmatan' untuk nya malam itu, sekarang dia melihat kembali wajah yg sama kini di sampingnya. Laksh menikmati setiap debaran yg ada di hatinya kini. Dia senyum senyum sendiri saat melihat tingkah Ragini. Gaya bicaranya, cara dia tersenyum, suara tawa nya, benar benar membuat Laksh semakin tergila-gila pada Ragini.


***


"Kau ingin minum apa Laksh?" tanya Ragini saat Laksh kini sudah duduk santai di sofa tamu Ragini.


"Kau tak usah repot repot kau kan baru sembuh dari sakit mu, kau belum benar-benar pulih Ragini" ucap Laksh dengan nasa khawatir.


"Aku sudah baik baik saja Laksh" jawab Ragini singkat.


"Ragini, aku ingin membicarakan hal yg sangat penting kepada mu" ucap Lalsh gemetar.


Dia meyakinkan hatinya untuk berkata jujur kepada Ragini. Mengatur nafasnya dan menatap tajam ke arah Ragini. Laksh sudah memikirkan konsekuensi yg akan dia terima ketika Ragini mengetahui tentang siapa Laksh sebenarnya.


"Ragini sebenarnya aku........." ucapan Laksh terpotong saat Meera berteriak.


"Ibuuuuuuu" isak Meera.


Ragini dan Laksh langsung berlari saat mendengar suara tangisan Meera. Meera memegangi lututnya yg berdarah dan terluka. Meera meringis kesakitan.


"Hai sayang kau kenapa?" tanya Ragini khawatir.


"Meera ingin mengambil itu ibu (menujuk ke atas lemari)"


Ragini menghela nafas saat Meera menunjuk ke arah kotak musiknya yg sudah rusak. Ragini sengaja menaruhnya di situ Meera tak menemukan nya namun Meera memang anak yg pintar dia tau semuanya.


"Sayang itu kan sudah rusak, ga usah di ambil yah nanti ibu akan membelikan yg baru untuk mu sayang" bujuk Ragini.


Meera hanya menggelengkan kepalanya.


Laksh menghampiri Meera dan menggendongnya.


"Jadi anak ayah ingin kotak musik?" tanya Laksh.


"Baiklah kita akan membeli nya, ayooo" ajak Laksh.


Laksh melirik ke arah Ragini, tersenyum ke arahnya seolah meminta ijin kepada nya, Ragini pun menganggukan kepalanya. Laksh dan Meera pun pamit keluar rumah.


"Dasar keras kepala" gumam Ragini.


Dia lalu merapihkan barang-barang yg terjatuh karena Meera.


***


"Ayah Meera mau yg ini" ucap Meera.


Meera membawa kotak musik klasik.


Laksh pun hanya menganggukkan kepalanya. Laksh lalu membayar kotak musik yg di pilih Meera dan menggendong Meera. Meera sedari tadi tersenyum karena Laksh memanjakannya.


"Sayang, memangnya kotak musik Meera kenapa bisa rusak?" tanya Laksh.


Meera menggeleng.


"Itu bukan kotak musik milik Meera ayah, itu kotak musik milik ibu, kata ibu itu benda yg amat sangat berharga" jawab Meera.


"Apakah itu dari paman Rohit?" tanya Laksh penasaran.


Dia hanya menebak jika kotak itu milik Rohit, mantan kekasih Ragini yg sudah tiada.


"Bukan ayah, itu dari kakek, ayahnya ibu" jawab Meera.

__ADS_1


Laksh langsung bernafas lega, setidaknya bukan Rohit ataupun pria lain yg memberikannya.


"Ibu bilang itu hadiah paling istimewa bagi ibu, karena ibu suka sekali suara musik ayah, Meera juga sama suka sekali dengan musik" jelas Meera.


Laksh hanya tersenyum mendengar ocehan anaknya itu.


"Meera berarti akan sayang dengan kotak musik pemberian ayah ini?" tanya Laksh.


Meera hanya tersenyum dan mengangguk.


"Meera bakalan sayang dan menjaga kotak musik ini, karena Meera sayang ayah"


Meera memeluk ayahnya dan mencium pipi ayahnya. Laksh senang jika Meera bersikap manja hanya kepada diri nya.


***


Mata Laksh menatap heran saat melihat ada mobil yg terparkir di halaman rumah Ragini. Entah mengapa membuat hatinya menjadi gelisah tak karuan. Dia memasuki rumah masih dengan posisi Meera yg terlelap di bahunya.


Mata Laksh membulat saat melihat Ragini sedang bersama pria lain. Entah mengapa hati Laksh panas dan terasa terbakar api cemburu.


Laksh memalingkan wajahnya, dia langsung menuju ke arah kamar Meera dan menidurkannya. Ragini yg melihat nya langsung menghampiri Laksh.


"Meera sudah tidur Laksh?" tanya Ragini.


"Seperti yg kau lihat" jawab Laksh singkat.


"Kau tenanglah, dia tak akan menggangu mu berpacaran dengan pria itu, kau tak perlu khawatir, aku akan tetap disini menemaninya" ucap Laksh dengan nada kesal.


Ragini hanya menatap bingung ke arah Laksh. Dia merasa keanehan ada di raut wajah Laksh.


'Apakah dia cemburu kepada ku?' batin Ragini.


Ragini pun tak menghiraukannya, dia langsung pergi meninggalkan Laksh.


"Entah mengapa ada perasaan tidak suka saat dirimu dekat dengan pria lain" gumam Laksh.


***


"Ragini aku pulang dulu ya" pamit Zain.


"Iyah Zain hati hati yah" ucap Ragini lembut.


Zain berdiri dan ingin pergi, Ragini mengantar Zain ke depan halaman rumahnya.


Laksh memperhatikan Ragini dan Zain dari atas balkon. Dia terus mengawasi Ragini. Dia tak rela jika Ragini dekar dengan wanita lain.


***


"Ragini aku pamit pulang dulu yah" ucap Laksh pelan.


"Terimakasih Laksh" jawab Ragini datar.


Laksh lalu berlalu menuju keluar rumah Ragini, namun langkahnya terhenti. Dia lalu membalikkan tubuhnya dan menghampiri Ragini. Memeluk Ragini erat, Ragini bingung dengan sikap Laksh yg tiba-tiba seperti ini. Laksh semakin mengeratkan pelukannya. Dia tak dapat membendung emosinya.


"Aku benar benar minta maaf Ragini, atas apa yg telah aku lakukan terhadap mu" ucap Laksh lirih.


Ragini hanya kebingungan dengan sikap Laksh yg kini memeluknya erat. Entah mengapa Ragini tak ingin melepaskan pelukannya. Dia merasa sangat nyaman di peluk oleh Laksh seperti ini.


'Andai waktu bisa di hentikan, hentikan pada saat seperti ini, Dewa' batin Ragini.


'Aku sangat nyaman berada di pelukannya Laksh, perasaan apa ini?' gumam Ragini.

__ADS_1


jangan lupa like dan komen..


__ADS_2