
×TAKDIR CINTA×
PART 16
"AYYYAAAHHHHH" teriak Meera dan terbangun dari tidur nya.
Ragini yg tertidur di samping Meera pun langsung terkejut dan terbangun dari tidur nya.
"Kenapa sayang? Apa Meera mimpi buruk?" tanya Ragini dengan mengusap pipi Meera.
Meera memeluk erat tubuh Ragini dan menangis di pelukan ibu nya itu.
"Meera kangen ayah ibu, Meera ingin bertemu dengan ayah" isak Meera.
Ragini pun mengeratkan pelukannya. Menepuk pelan punggung Meera berusaha untuk menenangkan putri kecil nya itu.
"Ssstt sudah sudahh yahh, Meera tidak boleh menangis lagi" ucap Ragini pelan.
"Ibu Meera ingin bertemu dengan ayah, di mimpi Meera tadi ayah pergi jauh dari Meera ibu, ibu Meera ingin bertemu dengan ayah" ucap Meera masih terisak.
Ragini hanya memejamkan matanya.
'Apakah ikatan batin yg di miliki Meera dan Laksh sangat kuat? Padahal mereka berdua baru bertemu dan baru dekat sekarang ini' batin Ragini.
Perlahan Meera pun berhenti menangis dan tertidur di pelukan Ragini.
****
"Kondisinya masih sangat kritis, dia mengalami pendarahan yg parah di kepalanya. Transfusi darah sudah di berikan kepadanya, tetapi kondisi nya masih sangat kritis, kita hanya bisa berharap keajaiban kepada Dewa" ucap dokter yg sedari menanangi Laksh.
Anna menangis histeris dan memeluk Durga.
"Selamatkan putra ku dokter, berikan yg terbaik untuknya, masalah biaya tak perlu kau khawatirkan" ucap Durga.
Dokter pun mengangguk "kami akan berusaha semaksimal mungkin memberikan yg terbaik untuk pasien"
"Dokter... Dokter... Dokter kondisi pasien memburuk dokter, denyut nadi nya semakin melemah" ucap seorang suster.
Dokter itu pun langsung berlari ke ruangan IGD.
"Ya Dewa ku mohon selamatkan putra ku, aku mohon kepada mu Dewa, jangan ambil Laksh dari ku" ucap Anna menangis histeris dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
Durga hanya menangis melihat istrinya seperti itu. Sementara Parineeta dia terisak, Adars memukulkan tangannya ke dinding, dan tubuhnya bersandar di dinding rumah sakit.
"Laksh, ibu mohon bertahanlah Laksh, jangan tinggalkan ibu seperti ini Laksh" teriak Anna.
Tiba-tiba pintu pun terbuka, Dokter keluar dengan wajah sedih.
"Kami sudah berusah semaksimal mungkin, semampu kami, tapi takdir berkata lain, Tuan Laksh kini mengalami koma" ucap dokter itu lalu pergi meninggalkan mereka.
Anna langsung berlari menghampiri Laksh. Airmata Anna terus mengalir melihat kondisi Laksh. Ibu mana yg tega melihat anaknya terluka amat parah. Tangan Laksh memar biru, pipi Laksh bengkak dan membiru, hampir seluruh wajah Laksh bonyok karena pukulan yg di layangkan Priyank dan Parth. Sementara kepala Laksh terbalut dengan perban. Hati Anna terasa sangat perih saat memandang kondisi putra nya itu. Anna langsung menghampiri Laksh dan memeluknya.
"Apa yg sebenernya terjadi pada dirimu Laksh, katakan pada ibu siapa yg telah memukul mu seperti ini, ibu yakin kau pasti di pukul sebelum kau mengalami kecelakaan" lirih Anna.
Durga, Adars dan Pari pun tak tega melihat kondisi Laksh. Mereka terus menangis.
Lalu suster pun memindahkan Laksh ke ruang rawat, setelah Laksh di nyatakan koma.
****
Sebenarnya Ragini sangat malas untuk bekerja pagi ini, apalagi dia tau jika Laksh pria yg sudah 'menodai' nya itu adalah boss nya. Ragini ingin sekali mengundurkan diri dari perusahaan itu, tapi jika dia tak bekerja bagaimana dengan Meera. Meera masih membutuhkan banyak biaya, cukup Ragini saja yg merasakan kelam nya kehidupan. Jangan mengulang nya dengan Meera. Jangan pernah!
Ragini yg melihat Meera sedari tadi menekuk wajahnya dia pun menghampiri anaknya, berjongkok dan memegang dagu Meera.
"Kau kenapa sayang? Apa kau tak ingin pergi ke sekolah? Apa kau sedang tak enak badan?" tanya Ragini.
Meera hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Hmmm ibu janji deh akan memberikan apapun yg Meera inginkan, asal Meera tidak bersedih seperti ini" ucap Ragini bersemangat.
Meera langsung mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Ragini.
"Ibu janji akan memberikan apa pun yg Meera minta?" tanya Meera penuh harap.
Ragini menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Meera ingin bertemu ayah, ibu" ucap Meera dengan mata berkaca-kaca.
Ragini hanya terdiam dan bingung untuk menjawab Meera.
"Ibu (menggoyangkan tangan Ragini) Meera ingin bertemu dengan ayah, Meera mohon ibu, Meera berjanji akan menuruti semua keinginan ibu, asalkan ibu mau membawa Meera bertemu dengan ayah, sekali saja ibu, Meera mohon" ucap Meera sambil terisak.
Ragini tak tega melihat putri kecilnya itu menangis. Ragini menatap dalam Meera, lalu menghela nafas panjang. Mengatur emosinya. Dan tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
Meera langsung melompat dan menghapus airmatanya, Meera langsung memeluk erat Ragini.
"Terimakasih ibu, Meera sayang sekali dengan ibu. Ayo ibu sekarang kita bertemu dengan ayah" ajak Meera bersemangat.
"Hei, Meera pergi sekolah dulu yah, lalu setelah pulang sekolah ibu janji akan membawa Meera untuk bertemu dengan ayah" ucap Ragini lembut.
Meera pun langsung tersenyum senang.
****
"Hmmm Muktha, apakah aku terlambat?" tanya Ragini sambil mengatur nafasnya, dia terlihat sangat ngos-ngosan.
Muktha menatap bingung ke arah Ragini, melirik jam tangannya.
"Belum masih 5 menit lagi" ucap Muktha santai.
"Hmmm syukurlah.. Muktha apakah Laksh sudah datang?" bisik Ragini.
Muktha hanya menatap tajam ke arah Ragini.
"Nampaknya kau sangat menyukainya yah" goda Muktha.
"Nona, jika ada suatu hal yg penting mengenai Tuan Laksh kau handle yah, dan untuk proses approval tolong kau buat atas nama mu, karena Tuan Laksh kini terbaring koma, dan seluruh keluarga nya menunggu nya di rumah sakit" ucap orang kepercayaan Durga kepada sekretaris Laksh.
Muktha dan Ragini saling lirik karena mendengar apa yg ucapkan pria tadi. Entah mengapa Ragini merasakan hatinya gelisah saat mendengar kabar jika Laksh koma.
MEERA!
Tiba-tiba pikiran Ragini mengingat tentang janjinya kepada Meera. Apakah dia harus membawa Meera ke rumah sakit dan menemui Laksh. Hati Ragini benar benar sangat gelisah.
****
"Ibu sudah pulang?" sambut Meera.
Ragini memandang aneh ke arah Meera, pakaian Meera rapi seolah ia sudah bersiap ingin pergi.
"Ibu mandilah dan bersiap, Meera sudah siap untuk bertemu dengan ayah" ucap Meera polos.
Ragini hanya terdiam mematung, dia bisa merasakan jika Meera sangat bersemangat untuk menemui Laksh, tapi bagaimana Meera pasti akan sedih saat dia mengetahui jika Laksh koma.
Ragini hanya tersenyum menatap lirih anak nya itu.
"Ibu ayoooo" ucap Meera.
Ragini pun berlalu menuju kamarnya.
Meera menunggu Ragini di sofa tamu. Tiba tiba bel berbunyi Meera langsung membukakan pintu nya. Seorang pria memeluk Meera dengan erat dan menangis.
"Sayang, apa kau mau bertemu dengan ayah mu?" tanya Adars.
Meera pun hanya mengangguk.
__ADS_1
"Aku memang ingin menemui ayah, paman siapa?" tanya Meera bingung.
"Paman adalah kakak dari ayah mu, ayo kita bertemu dengan ayah" ajak Adars.
Meera menatap bingung ke arah Adars. Adars menggendong Meera. Lalu membawa Meera pergi.
Ragini pun bingung saat melihat pintu yg sudah terbuka, dia melihat seseorang telah membawa Meera. Ragini lalu berlari mengejarnya.
"Heii hentikan, kembalikan Meera padaku" teriak Ragini.
Ragini hanya menatap Meera yg sudah di bawa pergi dia mencari ponselnya lalu menghubungi Zein.
****
"Ayah, bangun ayah, ayah kenapa ayah tidur terus, ayah bangun Meera mau main dengan ayah" ucap Meera sambil menangis kencang.
Meera terus menggoyangkan tubuh Laksh. Namun mata Laksh masih tak jua membuka matanya.
"Ayah, Meera benar-benar minta maaf, ayah pasti marah dan pura-pura tidur karena Meera menghilangkan kotak musik pemberian ayah kan? Ayah bangun, maafkan Meera ayaaahhhhhhh" teriak Meera sambil menangis.
Anna menatap lirih ke arah Meera dan Laksh. Adars pun tak bisa menyembunyikan tangisnya.
"Ayaaaahhhh bangunnnnnn" teriak Meera lalu bersandar di perut Laksh.
Airmata Laksh jatuh. Setidaknya dia memberikan reaksi.
Anna melihat Laksh yg menangis lalu memanggil dokter. Dokter memeriksa Laksh dan hasilnya tetap sama. Laksh masih belum tersadar dari koma nya.
"Siapa disini yg bernama Tuan Adars Maheswari?" suara lantang inspektur tiba-tiba menggema di ruang rawat Laksh.
Adars yg merasa namanya di panggil langsung menghampiri inspektur itu. Seluruh keluarga menatap bingung dengan muncul nya segerombolan inspektur.
"Kami mendapatkan laporan bahwa Tuan Adars Maheswari telah menculik Meera anak dari Nyonya Ragini, ini surat perintah penangkapannya" ucap inspektur itu lantang.
Perlahan Ragini mendekat.
"Meeraaaaaa" teriak Ragini memeluk Meera.
Dia sangat khawatir saat Adars membawa Meera pergi.
"Aku tak menculiknya, aku hanya ingin mempertemukan Meera dengan ayah nya saja" jawab Adars singkat.
Dia menatap ke arah Ragini geram.
"Jika kau ingin membawa Meera sebaiknya ijin dahulu kepada ku, jangan membawa nya seperti ini, itu sama saja dengan kau ingin menculiknya Tuan" ucap Ragini.
"Aku tak bisa menunggu, kau lihat (menujuk Laksh) adik ku tak bisa menunggu untuk bertemu dengan putri nya" jelas Adars.
Ragini pun memberikan kode kepada Zein untuk menjelaskan kepada inspektur.
"Ragini, biarkan Meera disini menemani Laksh, ku mohon" pinta Adars.
Ragini hanya menundukkan kepalanya. Dia sama sekali tak tega menatap tubuh Laksh yg terbaring di sampingnya.
"Ibu, aku mohon, aku ingin menemani ayah disini" pinta Meera lirih.
Ragini menatap ke Anna, dia tersenyum memohon dan terus menangis. Ragini mengehela nafas, lalu melepaskan gendongan Meera. Dan memegang pipi Meera.
"Ibu mengijinkan mu untuk sekali ini saja, besok kau tak boleh kesini lagi yah" ucap Ragini lembut.
Meera menganggukan kepalanya. Ragini berjalan melewati keluarga Maheswari pandangannya lurus ke depan tanpa memperhatikan wajah mereka. Tapi langkahnya terhenti saat dia merasakan ada tangan yg menahannya.
"Maafkan anak ku untuk kesalahan di masa lalu nya. Ku mohon" ucap Anna lirih.
Ragini hanya menunduk dan melepaskan tangan Anna, dia lalu berjalan meninggalkan ruangan Laksh.
'Ku mohon selamatkan Laksh, Dewa. Setidaknya itu demi kebahagiaan Meera' batin Ragini.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen..