Takdir Hidup

Takdir Hidup
Memang Pantas


__ADS_3

×TAKDIR HIDUP×


PART 14


"Ini (menyodorkan kotak P3K, bersihkan dulu luka mu, aku tak ahli melakukannya hehehe" Parth sedikit tertawa.


Laksh menepis kotak P3K yg di berikan Parth.


"Hei apa kau ingin infeksi karena luka mu itu hah?" kesal Parth.


Dia lalu langsung duduk di samping Laksh, Parth lalu mencoba untuk mengobati luka Laksh di wajahnya. Tadi nya Parth enggan melakukannya karena akan sangat canggung baginya, tapi melihat kondisi sahabatnya saat ini Parth menjadi tak tega. Sementara Parth mengobati luka Laksh, Laksh terus mengingat kejadian yg terjadi hari ini, bahkan tamparan di pipi Laksh serasa tak cukup untuk mengobati luka Ragini selama ini. Laksh sudah benar-benar melakukan kesalahan besar di hidup Ragini, dia menghancurkan hidupnya. Jadi akan terasa wajar jika Ragini akan bersikap seperti itu, Laksh akan menahannya.


Tapi jika Ragini memisahkan nya dengan Meera, entah kenapa luka di hati Laksh terasa sangat perih. Dia tak pernah membayangkan untuk menjauh dari Meera. Mereka baru saja bertemu, saling menyayangi. Dan sekarang Laksh harus menjauhi putri kecil nya itu. Laksh memejamkan mata nya, tak terasa airmata nya jatuh membasahi pipinya. Hatinya terasa sakit membayangkan jika dia dan Meera harus saling menjaga jarak.


Parth melihat Laksh heran, dia berpikir apakah luka nya sangat sakit sampai dia menangis seperti itu.


"Hei Laksh apakah aku terlalu kuat menahan luka mu? Apakah luka nya sangat sakit? Ayo kita ke rumah sakit saja, biar dokter yg mengobati luka mu itu" ucap Parth khawatir.


Laksh hanya menggelengkan kepalanya. Parth bingung melihat sikap sahabatnya itu. Dia merasakan ada yg tidak beres Laksh. Parth masih menatap bingung ke arah Laskh.


"Parth, aku sangat lelah mengurus anak mu ini, dia sangat nakal, selalu merengek meminta mainan" teriak seorang wanita dan Parth membalikkan badannya.


Parth menghampiri istrinya itu dan memeluknya. Istri nya Parth bertanya dengan kehadiran Laksh. Parth menjelaskannya, istri nya lalu langsung menghampiri Laksh.


"Jadi kau sahabat dari suami ku, kenalkan aku Tapasya, istri Parth" ucap Tapasya ramah.


Laksh memutar bola matanya dan melihat sejenak ke arah Ragini dan tersenyum simpul.


"Aku Laksh" jawab nya singkat.


Laksh lalu memalingkan lagi wajahnya. Tapasya merasa bingung dengan sikap Laksh tapi Parth mencoba menjelaskan semuanya kepada Tapasya.


"Sayang, hari ini Laksh akan menginap satu hari saja, kau tak keberatan kan?" tanya Parth kepada Tapasya.


Tapasya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Teman mu, teman ku juga kan? Baiklah aku akan ke atas mempersiapkan kamar untuk nya" ucap Tapasya dan pergi.


Parth masih menatap cemas ke arah Laksh.


'Sebenarnya apa yg terjadi pada dirinya?' batin Laksh dengan menatap tajam ke arah Laksh.


****


"Ibuuuu, ibuuuuu, ibuuuuu" teriak Meera.


Meera menangis setelah pulang sekolah, dia mencari keberadaan ibunya.


"Hei sayang kau kenapa?" tanya Ragini cemas.


"Ibu, apa ibu melihat kotak musik ku? Aku sudah berjanji pada ayah untuk menjaga kotak musik itu bu" ucap Meera dengan terisak.


Ragini pun kesal saat Meera menayakan hal yg berhubungan dengan Laksh. Ragini menarik nafas dalam lalu menatap lekat ke arah Meera.


"Meera, dengarkan ibu, pria itu bukan ayahmu, berhenti untuk memanggilnya ayah yah sayang, dan mengenai kotak musik itu, ibu tak melihatnya" ucap Ragini berbohong.


Meera malah mengencangkan tangisannya. Ragini pun jengkel di buatnya.


Zein yg baru datang bingung apa yg terjadi, dia melihat Meera nangis namun Ragini tak mencoba untuk menenangkan nya. Zein lalu menghampiri Meera dan menggendongnya.


"Ssstttt keponakan paman tidak boleh menangis yah" bujuk Zein.


Meera masih menangis.

__ADS_1


"Kotak musik yg di berikan ayah hilang paman, ayah pasti akan sedih karena Meera tak menjaga hadiah pemberian ayah" lirih Meera.


Ragini pun geram, lalu menghampiri Meera.


"Meera, bukankah sudah ibu bilang, berhenti untuk memanggil nya ayah, dia buka ayah mu!" bentak Ragini.


Lalu Ragini pergi meninggalkan Meera. Zein hanya menatap kepergian Ragini bingung. Dia tak mengerti apa yg telah terjadi kepada Ragini mengapa dia tega membentak Meera.


Meera terus menangis karena di bentak oleh Ragini. Meera tak terima jika dia tak boleh memanggil Laksh dengan sebutan ayah, namun dia tak mau membuat ibunya bersedih.


Zein yg sedari tadi melihat Meera bersedih lalu memutuskan untuk membawa Meera jalan jalan.


"Ragini, aku akan membawa Meera jalan jalan yah sebentar" teriak Zein.


Tidak ada jawaban yg di terima Zein. Lalu Zein langsung pergi keluar rumah dan membawa Meera pergi.


Sementara Ragini masih menangis di dapur, dia memegang dadanya yg sesak. Dia tak tega untuk membentak Meera seperti itu. Tapi dia tak mau jika Meera terlalu dekat ma pria yg telah menghancurkan hidupnya itu.


'Maafkan ibu Nak, maaf' ucap Ragini lirih.


****


"Sayang kau mau gulali?" tanya Zein.


Meera menggelengkan kepalanya.


"Lollypop?"


Meera masih menggelengkan kepalanya.


"Es krim?"


Meera masih menggelengkan kepalanya, dia mengayunkan kakinya di kursi taman.


Zein menatap lekat ke arah Meera. Dia sangat bingung bagaimana caranya membujuk gadis kecil itu.


Meera langsung menatap ke arah Zein.


"Ayahh" jawab Meera singkat.


Zein bingung dengan perkataan Meera, dia mengerutkan dahi nya dan berpikir. Bagaimana Meera bisa bertemu dan mengetahui tentang ayahnya?


"Ayah? Memangnya Meera sudah bertemu dengan ayah?" tanya Zein bingung.


Meera hanya menatap Zein dan menganggukkan kepalanya.


"Apa ibu tak marah kepada ayah?" tanya Zein lagi, dia benar benar-benar bingung.


Meera menggelengkap kepalanya.


"Meera kangen dengan ayah, Meera mau ketemu ayah" ucap Meera lirih.


Zein melihat keponakan nya seperti itu, dia langsung memeluk erat tubuh Meera dan menenangkannya.


****


"Laksh makanlah!" ajak Parth.


Laksh tak bergeming dia hanya menatap kosong. Pikirannya terus melayang ke peristiwa yg terjadi tadi siang. Hati Laksh benar-benar hancur. Dia menyesali dirinya sendiri yg terlalu takut untuk mengatakan yg sebenarnya kepada Ragini. Sekarang Ragini mengetahui kebenarannya dari Priyank, musuh bebuyutan Laksh. Laksh yakin jika Priyank menambahkan cerita di penjelasannya terhadap Ragini. Namun apa yg dapat di lakukan oleh Laksh? Dia tak dapat melakukan pembelaan apapun kan? Ragini mana mungkin percaya kepadanya. Mau bagaimana pun juga dia yg salah. Dan dengan Laksh selama ini menyembunyikan nya membuat dirinya amat sangat bersalah. Jadi wajar jika Ragini bersikap seperti itu.


Parth dan Tapasya saling lirik melihat sikap Laksh.


"Ibu, kapan kita akan bertemu Meera? Wisnu sudah tak sabar untuk bermain dengan Meera ibu" rengek Wisnu.

__ADS_1


Laksh langsung memutar bola matanya saat dia mendengar kata Meera. Entah mengapa dia senang jika mendengar nama Meera. Parth dan Tapasya pun saling lirik dan mengedikkan bahu nya.


"Sayang, kau habiskan dulu sarapan mu, nanti siang kita akan mengunjungi Meera yah" ucap Tapasya lembut.


Tapasya yg kini tengah hamil besar hanya mengelus perut nya dan menatap ke arah Wisnu.


Laksh ingin bertanya kepada Tapasya, namun dia mengurungkannya. Nama Meera tidak cuma satu kan? Pasti banyak. Tapi pikirannya benar benar kacau. Dia lalu menatap ke arah Tapasya.


"Meera? Siapa dia?" tanya Laksh, Tapasya yg di tanya seperti itu pun bingung karena Laksh tiba-tiba menanyakan tentang Meera.


"Dia sahabat ku paman" jawab Wisnu senang.


"Apakah Meera yg kalian masuk anak dari Ragini?" tanya Laksh kembali dengan nada yg bergetar.


Tapasya dan Parth pun saling lirik. Tapasya pun tersenyum ke arah Laksh.


"Iyah, Meera adalah anak dari Ragini, dia keponakanku" jawab Tapasya singkat.


"Jadi Ragini adik mu?" tanya Laksh tak percaya.


Tapasya hanya mengangguk. Parth bingung melihat sikap Laksh.


Laksh menghela nafas, *** rambutnya.


"Kau kenapa Laksh? Apa kau mengenal Ragini?" tanya Parth.


"Ada yg ingin aku bicarakan dengan kalian, ini sangat serius" jawab Laksh dia menatap ke arah Wisnu.


Parth pun mengerti, dia lalu menyuruh Wisnu untuk ke kamar. Wisnu pun menuruti perintah ayahnya itu.


Tapasya dan Parth saling lirik, mereka sangat bingung.


"Ada apa Laksh? Apa hal penting yg ingin kau bicarakan?" tanya Parth penasaran.


"Meera, sebenarnya dia adalah anak kandungku" jawab Laksh gemetar.


Tapasya dan Parth pun kaget mendengar pengakuan Laksh barusan. Tapasya langsung menarik lengan Laksh dan menampar pipi Laksh kencang.


PLAAAKKK.......


"Jadi kau pria brengsek yg sudah 'merenggut kesucian' adik ku hah?" ucap Tapasya dengan penuh emosi.


Laksh hanya menundukkan kepalanya. Parth berusaha untuk menenangkan Tapasya. Parth sudah mengetahui segala hal tentang Tapasya dan keluarganya.


"Dasar pria brengsek, bajingan! Apa kau tau hidup adik ku sangat menderita karena ulah mu, ayah mengusirnya dari rumah, aku dan ibu di larang untuk membantu, kau tau bagaimana perasaan adik ku? Kau tau berapa banyak penderitaan yg di alami nya hah? Dasar pria bajingan!" teriak Tapasya.


Parth pun menghampiri Laksh dan memukul pipi Laksh. Laksh hanya terdiam menerima pukulan Parth. Dia memejamkan matanya.


"Aku tak menyangka kau se brengsek itu Laksh, aku benar benar tak menyangka" ucap Parth marah.


Laksh hanya menundukkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya.


"Pergi ku dari sini! Aku tak sudi melihat pria brengsek yg sudah menghancurkan hidup adik ku tinggal disini" usir Tapasya.


Parth pun menarik lengan Laksh dan membawa Laksh untuk keluar dari rumahnya. Parth benar-benar tak menyangka jika sahabatnya sebejat itu. Laksh hanya diam saat Parth menariknya keluar. Parth lalu langsung menghempaskan tubuh Laksh hingga tersungkur ke bawah. Parth menghampiri nya dan terus memukulnya.


"Bajingan kau Laksh, kau benar benar-benar bajingan, aku akan membunuhmu" ucap Parth marah dan terus memukul Laksh.


Laksh hanya pasrah dan tak melawan. Tapasya tak tega melihatnya, lalu menarik lengan Parth untuk menghentikannya.


"Pergi ku dari sini! Aku tak mau melihat wajah mu, kau dengar Laksh, aku dan dirimu sudah tak berteman lagi mulai saat ini" teriak Parth.


Laksh berusaha bangun, dia menatap lirih ke arah Parth, lalu Laksh memutar tubuhnya dan berjalan dengan tertatih. Parth memalingkan wajahnya. Ada rasa tak tega di hatinya. Tapi Laksh pantas mendapatkannya.

__ADS_1


Laksh perlahan menjauh dari pandangan Parth dan Tapasya. Tapasya memeluk erat tubuh Parth, Parth berusaha untuk menenangkan nya.


jangan lupa like dan komen..


__ADS_2