
×TAKDIR HIDUP×
PART 21
"Meera sayang ayo kita berangkat ke sekolah" teriak Ragini.
Meera masih terduduk di kasurnya, memeluk lututnya, wajahnya muram tak bersemangat.
Ragini yg tak mendengar tanda-tanda Meera akan turun lalu menghampiri Meera di kamarnya. Ragini melihat anaknya sedang murung langsung mendekatinya.
"Kenapa sayang? Hmmm apa yg kau pikirkan?" tanya Ragini sambil mengangkat dagu Meera.
Meera menatap sedih ke Ragini, Meera lalu memeluk Ragini.
"Ibu, apa benar ayah sudah tak sayang dan tak peduli lagi padaku?" tanya Meera terisak.
Ragini mengepalkan tangannya, menahan sesak di dada yg dia rasakan. Dia mengatur nafasnya demi menahan emosi agar dia tak membentak Meera lagi.
"Sayang, kau jangan pikirkan orang yg sama sekali ga pernah memikirkan kita yah, Meera kan selama ini tinggal berdua ma ibu, apa Meera ga nyaman tinggal berdua ma ibu? Jadi Meera selama ini ga sayang ma ibu?" tanya Ragini lembut.
Meera memeluk Ragini erat.
"Tidak ibu, Meera sayang sekali dengan ibu, ibu sangat berarti untuk Meera, ibu bahkan bisa mengganti ayah selama ayah tidak ada" ucap Meera bersedih.
Hati Ragini tersentuh mendengar ucapan anaknya.
"Sudah sayang bersedihnya, ayo kita berangkat ke sekolah, ibu tidak mau kau jadi anak yg pemalas" ucap Ragini.
Meera pun menganggukkan kepala. Ragini dan Meera pun pergi ke sekolah.
****
Laksh hanya menatap kosong ke layar laptop nya, dia terus memikirkan Ragini dan Meera. Hati nya sangat sakit jika mengingat apa yg telah terjadi kepadanya. Dia ingin bersama dengan Meera dan Ragini. Namun jika dia egois dan mementingkan dirinya, akan berakibat fatal bagi Ragini dan Meera, untuk saat ini menjauh akan terasa lebih aman.
'Aku harap suatu saat kau mengerti Ragini, maaf jika aku belum bisa menebus dosaku, sekarang bahkan aku malah menambahkan goresan luka di hati mu lagi' gumam Laksh.
****
"Ragini" panggil Zein.
Ragini langsung menoleh.
"Aku ingin bertanya serius kepadamu" lanjut Zein.
"Katakan Zein, ada apa?" tanya Ragini.
"Hmmmm kau dan Laksh memiliki hubungan?" tanya Zein tiba-tiba.
Ragini hanya mengerutkan dahinya. Menatap tajam ke arah Zein.
"Tidak ada!" ucap Ragini kesal.
"Hei Ragini, tunggu jangan marah" teriak Zein.
Zein menggelengkan kepalanya.
****
"Ku mohon, kembali lah bekerja di perusahaan kami, kau akan membutuhkan banyak uang, jika kau hanya bekerja disini, itu hanya cukup untuk kebutuhan mu sehari-hari" pinta Anna.
__ADS_1
Ragini menggeleng.
"Maaf bibi, aku tidak akan pernah kembali ke perusahaan itu" tolak Ragini.
Ragini ingin pergi tapi tangan Anna menahannya.
"Anak ku Laksh, dia tidak amnesia" ucap Anna.
Mata Ragini langsung membulat saat mendengarkan ucapan Anna. Ragini lalu duduk kembali di kursinya.
"Apa maksud bibi?" tanya Ragini bingung.
"Iyah, aku yakin Laksh dia tidak amnesia, dokter yg memeriksa nya pun mengatakan hal seperti itu" jelas Anna.
"Lalu mengapa dia bersikap kasar kepada Meera? Meera itu kan anaknya" kesal Ragini.
"Ibu yakin ada sesuatu yg Laksh sembunyikan, mungkin itu menyangkut keselamatan kalian berdua" ucap Anna meyakinkan.
Ragini langsung merenung memikirkan perkataan Anna.
"Kembalilah di perusahaan itu, aku dan dirimu akan mengungkapkan kebenaran nya, aku berharap Laksh akan jujur nantinya" ucap Anna gemetar.
"Hmmm baiklah" ucap Ragini.
Anna tersenyum bahagia saat Ragini menyetujui usulannya.
****
"Laksh tidak amnesia? Jadi untuk apa dia berpura-pura amnesia?" gumam Ragini, dia berpikir berjalan ke kanan dan ke kiri.
Ragini melirik ke arah Meera yg telah tertidur pulas, dia menatap lekat wajah anaknya yg mirip sekali dengan Laksh.
Ragini tersenyum.
****
"RAGINIIIIIII" teriak Muktha.
Ragini lalu menghampiri Muktha.
"Benarkah ini dirimu? Hmm aku sangat merindukanmu" ucap Muktha sambil memeluk erat sahabatnya itu.
"Kau kembali bekerja lagi disini?" tanya Muktha.
Ragini menganggukan kepalanya.
"Hmmm akhirnya Dewa mengabulkan permohonan ku" ucap Muktha senang.
****
"Masuklah" ucap Ragini saat memasuki ruangan Laksh.
"Duduk" perintah Laksh.
Laksh masih sibuk memperhatikan laptopnya.
"Nona Ragini tolong kau buatkan aku laporan bulanan seperti ini" ucap Laksh sambil menyodorkan dokumen.
Ragini pun tersenyum dan mengambil dokumen itu.
__ADS_1
"Baiklah Tuan, saya permisi dulu" pamit Ragini.
"Ragini tunggu" ucap Laksh.
Dia langsung menghampiri Ragini dan mengulurkan tangannya. Ragini hanya menatap bingung ke arah Laksh.
"Aku meminta maaf atas sikap ku seminggu yg lalu di rumah sakit, maafkan aku telah mendorong anakmu" jelas Laksh.
Ragini hanya tersenyum dan membalas uluran tangan Laksh.
"Sudahlah, lupakan Tuan" ucap Ragini singkat.
"Anak mu sangat lucu, lain kali apa boleh aku mengajaknya pergi?" tanya Laksh tiba-tiba.
Ragini berpikir, benar kata Anna jika Laksh hanya berpura-pura.
Ragini lalu menganggukkam kepalanya.
"Dengan senang hati Tuan" jawab Ragini singkat.
Laksh mengembangkan senyuman di bibirnya.
"Terimakasih Ragini" ucap Laksh senang.
****
"Ayah, Meera kangen banget ma ayah, akhirnya Meera bisa ketemu dengan ayah lagi, Meera pikir kita tak akan bertemu lagi" ucap Meera senang dan masih memeluk Laksh.
Laksh semakin mengeratkan pelukannya, dia sangat rindu dengan gadis kecilnya ini.
"Ayah juga kangen banget ma Meera" ucap Laksh keceplosan.
Ragini yg sedari tadi membuntuti nya pun mendengar saat Laksh mengangguk dirinya dengan sebutan ayah kepada Meera.
'Ternyata benar kata bibi Anna, jika Laksh memang tak kehilangan ingatannya, mengapa dia melakukan semua ini?' batin Ragini.
Ragini terus memperhatikan Laksh dan Meera.
****
"Dia sudah terluka parah boss, kau lihat rencana kita berhasil" ucap seorang pria kekar kepada bos nya.
"Kerja bagus, aku sangat menyukainya, aku sangat tak suka melihat Laksh bahagia, dia harus menderita, berani sekali dia mencoba untuk mengambil Ragini ku, Ragini sekarang menjadi sangat cantik dan aku menjadi tergoda saat melihatnya" ucap pria itu.
Laksh mendengar semua yg di bicarakan pria dan bos nya itu.
Laksh membuka perlahan matanya. Dia terkejut saat melihat Priyank sedang tertawa.
'Dasar bajingan kau Priyank' lirih Laksh dalam hati.
"Laksh, Laksh, Laksh, jika dirimu terus mendekati Ragini, aku tak akan segan-segan untuk membunuh Meera. Aku tak membutuhkan gadis kecil itu, dia hanya akan menjadi penghalang di hubungan ku dengan Ragini" bisik Priyank di telinga Laksh.
Dia menghampiri Laksh yg dia pikir sudah pingsan.
"Ragini sangat menggoda dan menggiurkan Laksh, jadi wajar jika saat itu kau tak bisa menahan hasrat mu untuk memilikinya" ucap Priyank terkekeh.
Laksh mengepalkan tanganya. Ingin rasanya dia menghajar pria di hadapannya. Tapi dia merasakan seluruh tubuhnya sangat sakit.
Laksh mengingat kejadia itu. Dia merenung dan menatap Meera dan Ragini.
__ADS_1
'Bagaimana aku bisa memilih diantara kalian, maka dari itu, akan lebih baik jika aku menjauh, suatu saat nanti aku yakin jika Dewa akan mempersatukan kita kembali, maafkan aku Ragini' lirih Laksh.
jangan lupa like dan komen..