Takdir Hidup

Takdir Hidup
Sakit dan Sesak


__ADS_3

×TAKDIR HIDUP×


PART 4


CEKREKKK.....


Suara pintu membuyarkan lamunan Laksh. Masuklah sesosok pria yg amat di hormati dan di segani oleh Laksh. Laksh tersenyum kaku saat pria itu menepuknya.


"Laksh besok kau akan di pindah tugaskan di kantor cabang. Kau akan menjadi pimpinan disana, ayah percaya pada kemampuan mu Laksh" ucap nya dengan tegas.


"Tapi ayah, aku sudah terlanjur nyaman disini, mengapa ayah tak menyuruh kaka saja yg mengurus kantor cabang itu" elak Laksh.


"Tidak bisa Laksh, ayah sudah membuat keputusan dan kau tak bisa untuk menolaknya, kau harus menuruti perintah ayah" ucap Durga tegas, lalu pergi meninggalkan Laksh.


Adars, kakak Laksh yg sedari tapi 'menguping' pun masuk menghampiri Laksh.


Adars melihat wajah Laksh yg terlihat sangat kesal. Lalu menepuk bahu Laksh.


"Kau kenapa Laksh? Apa kau tak suka dengan keputusan ayah? Harusnya kau bahagia Laksh karena kau bisa mengurusi kantor cabang itu, kau tau Laksh berulang kali aku memohon kepada ayah untuk mengurus kantor cabang itu, tapi ayah tak mengijinkan nya. Kata ayah kau yg lebih pantas untuk berada disana" keluh Adars.


Laksh memicingkan matanya menatap tajam ke arah Adars


"Aku tau maksud mu ka, kau ingin pindah kesana karena disana lebih banyak karyawan wanita kan di bandingkan disini yg hanya berisikan wanita tua dan pria tua?" tebak Laksh terkekeh.


"Hei Laksh kau ini" Adars kesal.


"Kak, (menatap serius pada Adars) aku sudah menemukan 'gadis' yg waktu itu kak" ucap Laksh bergetar.


Adars langsung memasang tampang seriusnya. Ia mengerti kemana arah pembicaraan Laksh.


"Kapan? Dimana kau menemukannya?" tanya Adars penasaran.


"Di sekolah Sonna ka" jawab Laksh pelan.


"Hahahahha (Adars tertawa geli) kau ini Laksh jangan bercanda, apa yg gadis itu lakukan disana? Apa dia seorang guru yg mengajar disana? Atau jangan jangan dia malah menjadi orang tua murid? Berhenti bergurau Laksh, aku rasa kau sudah kehilangan akalmu" ucap Laksh dengan nada mengejek.


"Aku serius kam, aku sungguh melihatnya disana" jawab Laksh yakin.


"Lalu apa yg di lakukan dia disana Laksh?" tanya Adars heran.


"Dia mengantar anaknya ke sekolah kak" jawab Laksh singkat.


Adars berpikir sejenak mengerutkan dahinya. Menatap tajam ke arah Laksh.


"Jadi dia sudah memiliki anak? Dia mengantar anaknya ke sekolah dan usia anak itu berarti sama dengan Sonna? Sonna berusia 5 tahun dan 'gadis' itu berarti memiliki anak berusia 5 tahun juga bukan? Apakah mungkin dia anak mu Laksh? Atau mungkin dia sudah menikah dengan pria lain? Tapi mengapa usia anak itu sama dengan jangka waktu peristiwa itu terjadi?" Adars menganalisa.


"Entahlah kak, aku akan mencari tau kebenarannya" jawab Laksh dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Hmmm baiklah, jadi apa yg akan kau lalukan Laksh?" tanya Adars.


"Izinkan aku untuk selalu mengantar Sonna ka ke sekolah ka, jadi dengan begitu aku akan lebih mudah untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan ku ini" jawab Laksh yakin.


Adars menganggukkan kepalanya, ia menepuk bahu Laksh dan menyemangati adiknya itu.


***


"Ibu, aku tak mau pergi ke sekolah di antar paman" keluh Sonna kesal.


"Hei sayang memangnya mengapa jika pamanmu yg mengantarkanmu ke sekolah?" tanya Parineeta lembut.


"Paman itu menyebalkan ibu, aku tidak suka" jawab Sonna lembut.


Parineeta melirik ke arah Laksh. Laksh hanya menaikkan kedua bahunya.


"Hmmm sayang, kali ini saja izinkan paman yg mengantarkan mu ke sekolah yah" ucap Adars yg tiba tiba datang.


"Tidak mau ayah" Sonna merajuk.


"Anak ayah jangan bersikap seperti itu, lagi pula memangnya kau tidak menyayangi pamanmu, Nak?" tanya Adars membujuk Sonna.


"Tidak ayah, aku menyayangi paman. Yapi aku ingin jika ayah yg mengantarku, bukan paman. Sonna kan masih memiliki ayah" jelas Sonna.


Parineeta dan Adars pun tersenyum mendengar penjelasan anaknya.


Laksh menatap ke arah anak itu.


Laksh beruntung jika Adars mau membantunya untuk mencari kebenaran mengenai 'gadis' itu.


"Ayo Sonna, Laksh, Adars duduklah! Kalian sarapan dulu ya" ajak Parineeta.


"Laksh, kau kan harus ke kantor cabang hari ini? Kau akan terlambat jika kau mengantar Sonna dulu ke sekolah" ucap Durga dengan nada tegasnya.


"Tidak ayah, akan ku usahakan aku tak akan terlambat" ucap Laksh yakin.


"Ayah, kapan kau akan memindahkan diriku juga ke kantor cabang?" tanya Adars seketika.


Semua yg ada di meja makan pun menatap Adars tajam. Lalu Adars melihat Parineeta yg sedang berdiri menatapnya lekat. Tatapannya sangat mematikan. Ngeri sekali. Adars memilih untuk melanjutkan sarapannya.


"Kak Pari, Kak Adars sangat ingin pindah ke kantor cabang, karena katanya disana banyak karyawan wanita cantik" ucap Laksh menggoda.


Parineeta langsung melotot ke arah Adars. Adars hanya menunduk melihat istrinya melihatnya seolah ingin menelannya hidup hidup.


***


"Sonna kau kenal gadis kecil yg bernama Meera?" tanya Laksh di dalam mobilnya.

__ADS_1


Kini Laksh dan Sonna sedang menuju ke tempat sekolah Sonna. Laksh ingin mengetahui mengenai 'gadis' itu dan juga anaknya. 'Gadis' yg selama 5 tahun tidak pernah ia lupakan. Sonna berpikir dengan apa yg di tanyakan Laksh.


"Aku kenal paman, tapi dia berbeda kelas dengan ku" jawab Sonna.


"Ohh, kau tak berteman dengannya?" tanya Laksh lagi.


Sonna menggelengkan kepalanya "Tidak paman. Meera tidak memiliki teman, jika istirahat dia selalu memakan bekalnya sendiri di taman. Teman sekelasnya tak ada yg menemaninya" jelas Sonna.


Entah mengapa hati Laksh merasa sesak saat mendengarkan itu.


"Memangnya kenapa?" tanya Laksh lagi.


"Yg Sonna denger sih Meera ga punya ayah, paman. Ibunya yg selama ini mengantar Meera. Meera seringkali di ledek oleh teman-temannya. Mereka bilang Meera itu 'anak haram'. Memangnya apa yg di maksud dengan 'anak haram' paman?" tanya Sonna polos.


Hati Laksh benar-benar sesak, untuk menulan ludahnya sendiri pun dia tak bisa.


Entah mengapa rasanya sangat sakit mendengar cerita keponakannya itu.


"Sonna sayang kau mau kan berteman dengan Meera?" tanya Laksh.


Sonna hanya menatap Laksh heran. Sonna menganggukan kepalanya.


"Tapi Sona dan Meera kan berbeda kelas paman" jawab Sonna polos.


"Memangnya jika berbeda kelas Sonna tak bisa berteman dengan Meera? Bisa kan? Kalian bisa berteman saat kalian istirahat. Mulai sekarang Sonna temani Meera istirahat yah, memakan bekal kalian bersama" pinta Laksh lembut kepada Sonna. Sonna pun menurut dan menganggukkan kepalanya.


Kini mobil Laksh sudah terparkir di depan gerbang sekolah Sonna. Sonna pun sudah berpamitan dengannya. Saat Laksh akan melajukan mobilnya, ia tak sengaja melihat Meera turun dari mobil dan memeluk ibunya.


Laksh sangat bahagia melihat itu. Laksh memperhatikan Meera dengan seksama dan memperhatikan 'gadis kecil' itu.


Senyum Laksh merekah saat ia menyamakan wajahnya dengan wajah Meera. Meera memang memiliki bibir yg mungil seperti ibunya. Namun mata dan raut wajahnya mewarisi dari Laksh.


Laksh dapat merasakan saat Meera tersenyum, senyum itu sama seperti milik Laksh. Laksh menjadi sangat yakin kalau Meera memang anaknya, anak yg tidak sengaja lahir dari kebodohan masa lalu Laksh.


Lalu bagaimana ia bisa menjelaskannya kepada 'gadis' itu?


Laksh yakin jika gadis itu sama sekali tak ingat siapa yg 'merenggut' kesuciannya. Karena gadis itu sangat mabuk, ia bahkan tak tersadar sama sekali saat Laksh sedang 'menggagahinya'.


Mungkin photo yg di miliki Laksh akan menjadi bukti atas peristiwa pilu yg terjadi di masa silam. Laksh pun melajukan kembali mobilnya. Menjauh dari sekolah itu dan pergi menuju kantor cabang ayahnya.


"Kakak siapkan pesta di rumah, akan ada perayaan yg besar di rumah kita" ucap Laksh sambil menelpon seseorang.


"........."


"Sudah jangan banyak bicara, siapkan saja semuanya" lanjut Laksh.


Laksh pun tersenyum bahagia sambil terus mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komen yah.. 😘


__ADS_2