
"Xavier, ini aku Angel. Bagaimana kabarmu?" isi pesan pertama yang dikirim Angel kepada Xavier setelah sekian lama tak menghubunginya.
***
Xavier yang sedang melamun di balkon apartemennya tersadar saat mendengar notifikasi ponselnya. Ia melirik sekilas ponsel yang terletak di meja tepat disebelah Xavier duduk.
"Nomor baru," gumam Xavier. Karena penasaran akhirnya Xavier meraih ponselnya lalu membuka isi pesan tersebut.
Mata Xavier terbelalak kaget membaca isi pesan tersebut.
Jantungnya berdegup kencang, dan nafasnya terasa sesak setelah mengetahui siapa yang telah mengirim pesan kepadanya.
"Angel," gumam Xavier. Antara percaya dan tidak percaya, Xavier memutuskan untuk menghubungi nomor tersebut dengan panggilan video.
Jantung Xavier berdegup semakin kencang saat menunggu panggilan itu di angkat oleh pemilik nomor baru tersebut.
Saat panggilan video itu terhubung, Seketika Xavier termenung melihat wajah Angel yang sudah beberapa bulan ini tidak ia lihat.
Angel begitu jauh berubah. Ia kini sudah tidak menjadi gadis culun lagi. Sekarang Angel lebih modis dan terlihat sangat cantik walaupun tidak menggunakan make up.
"Angel? Kamu benar-benar Angel?" tanya Vano gugup. Ia tak menyangka jika saat ini dirinya benar-benar sedang berbicara tatap muka dengan Angel.
"I..Iya.. Ini aku Angel. Kamu apa kabar?" tanya Angel yang juga tak kalah gugupnya dengan Xavier.
"A.. Aku baik. Angel bagaimana kabarmu? Dan bagaimana kandungan mu?" tanya Xavier yang sudah sangat penasaran dengan darah dagingnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah kabarku baik. Begitu juga dengan kandunganku," jawab Angel yang kini sudah mulai terbiasa berbicara dengan Xavier.
"Angel kapan kamu akan melahirkan?" Akhirnya pertanyaan yang satu ini keluar juga dari mulut Xavier.
"Tidak lama. Kurang lebih dua bulan lagi. Xavier apa aku boleh meminta sesuatu kepada mu?" tanya Angel serius.
"Boleh. Kamu boleh meminta apapun dariku. Jika nanti aku tidak sanggup memberikan apa yang kamu mau, aku akan terus berusaha agar mendapatkan apa yang kamu mau Angel. Aku menyesal. Aku menyesal karena telah menyia-nyiakan mu dan juga bayiku," ucap Xavier. Akhirnya kata maaf itu bisa di sampaikan Xavier langsung kepada orangnya. Sudah lama Xavier ingin meminta maaf kepada Angel, namun ia sama sekali tidak mendapatkan celah mengenai keberadaan Angel. Sekarang Angel sendiri yang menghubunginya. Maka dari itu Xavier tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi.
"Xavier, sudah cukup. Aku sudah memaafkan mu. Alu hanya mau bilang, kamu tidak bisa begini terus. Kamu harus jadi Xavier seperti yang dulu lagi. Aku mau kamu tidak lagi mabuk-mabukan dan juga kamu tidak boleh lagi merokok. Itu semua tidak baik buat tubuhmu," ucap Angel panjang lebar.
"Angel, aku seperti ini karena mu. Andai kamu memberi tau ku alamat tinggal mu yang baru, aku pasti tidak akan seperti ini ini. Angel aku mohon beri tau aku alamat tinggal mu yang di sana. Angel berapa bulan lagi kau akan melahirkan? Aku akan menemani mu nanti," ucap Xavier dengan suara yang bergetar. Ia benar-benar tidak mau lagi kehilangan Angel untuk yang kedua kalinya. Xavier begitu menyesal karena telah memaksa Angel untuk menggugurkan kandungannya waktu itu. Gara-gara kebodohannya, Angel jadi pergi jauh dari hidupnya.
Angel tampak termenung mendengar ucapan Xavier. Angel bingung, apakah Xavier benar-benar tulus atau dia sudah mempersiapkan rencana di balik semua ini.
"Xavier maaf. Aku tidak bisa memberi tahukan dimana aku tinggal saat ini. Kalau masalah persalinan, aku bisa sendiri. Aku sama sekali tidak butuh bantuan mu," tolak Angel karena ia takut jika Xavier mempunyai rencana lain.
"Kalau benar kamu menganggap ini anakmu, kenapa kau dulu bersikeras untuk menggugurkannya? Gara-gara ulah mu yang tidak bertanggung jawab itu, aku harus jauh dari kedua orang tua ku," ucap Nadine kesal. Air mata nya kini kembali tumpah saat mengingat kejadian sebelum ia berangkat keluar negeri.
"Angel aku menyesalinya. Aku mohon maafkan aku kali ini saja," ucap Xavier memohon.
"Aku sudah maafin kamu sedari dulu Xavier. Maka dari itu aku minta sama kamu tolong hentikan kebiasaan buruk mu itu. Berhenti minum-minuman keras itu, dan stop, jangan merokok lagi," ucap Nadine sekali lagi.
Xavier tampak diam sejenak mendengar ucapan Angel. Ia mencoba mencerna semua apa yang dikatakan oleh Angel.
"Angel dari mana kamu mengetahui kalau aku sering menghabiskan waktuku untuk minum dan juga merokok? Dan darimana kamu mendapatkan nomor ponselku yang baru ini?" tanya Xavier penasaran.
__ADS_1
"Itu semua tidak penting. Kalau kamu memang telah berubah, buktikan kata-katamu. Aku tau semua apa saja yang kamu lakukan di sana. Jika kamu tidak merubah kebiasaan buruk mu, jangan salahkan aku disaat aku pulang nanti, aku gak akan pernah mempertemukan kamu dengan anak ini," jawab Angel mengancam.
"Baiklah. Aku akan mendengarkan ucapan mu Angel. Aku akan kembali menjadi Xavier yang lebih baik lagi. Xavier yang layak menjadi ayah dari anak kita," jawab Xavier mengalah. Bagi Xavier berhenti minum dan merokok itu tidaklah sulit. Yang terpenting saat ini ia sudah bisa berhubungan lagi dengan Angel meskipun dia tidak tau dimana keberadaan Angel saat ini.
"Baguslah. Kalau begitu aku matiin lagi ya panggilannya, soalnya aku harus kuliah," ujar Angel hendak pamit kepada Xavier.
"Angel sebentar, boleh gak aku liat perutmu yang mulai membesar itu. Hmm. Maksudku cuma dari luar saja. Aku ingin melihat perutmu membuncit karena bayiku. Please," ucap Xavier setengah memohon.
"Baiklah," jawab Angel singkat menuruti permintaan Xavier.
Angel kemudian mengarahkan ponsel pintarnya ke arah perutnya. Xavier sangat terharu, sedih, namun juga bahagia melihat perut Angel yang didalamnya terdapat darah dagingnya.
"Hy baby.. Kenalin ini papa mu yang paling ganteng. Kamu apa kabar nak? Maafin papa ya sayang, papa gak bisa temani kamu sama mamamu di sana. Kamu sehat-sehat ya nak. Jangan merepotkan mamamu. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu dan kembali berkumpul sayang," ucap Xavier dengan suara gemetar dan air mata mulai berjatuhan di pipinya saat mengajak anak yang ada diperut Angel bicara. Meskipun hanya lewat sambungan video call, tapi Xavier sangat senang dapat bicara dengan calon anaknya. Xavier mengusap layar ponselnya seolah-olah dirinya sedang mengusap perut Angel yang membuncit itu.
Angel sendiri tak kuasa menahan tangisnya saat melihat Xavier seolah-olah berbicara dengan calon buah hatinya. Tapi Angel tidak boleh melihatkan kepada Xavier jika ia tengah menangis melihat perlakuan Xavier saat ini.
Ia harus jadi Angel yang tegas dan kuat demi harga diri dan juga anak yang ingin Xavier gugurkan waktu itu.
"Xavier sudah ya. Aku mau kuliah dulu," ucap Angel kembali mengalihkan ponsel tersebut ke wajah cantiknya.
"Angel, bisakah aku menemanimu saat bersalin nanti? Aku mohon," mohon Xavier dengan mata memerah karena habis menangis.
"Maaf Xavier tidak bisa. Bukankah kamu dulu tidak menginginkan anak ini?" tanya Angel kembali mengingatkan.
"Tapi sekarang aku menginginkannya," jawab Xavier.
__ADS_1
"Berubah lah. Ada waktunya nanti kamu akan bertemu dengan anak ini. Sekarang gak usah dibahas lagi. Lebih baik kamu fokus untuk merubah hidupmu. Buktikan kalau kamu layak untuk menjadi papa dari anak ini. Aku mau pamit kuliah dulu," jawab Angel kemudian memutuskan panggilan vidio nya.