
"Xavier berdirilah. Saya sebagai orang tua Angel sangat shock dan kaget. Saya juga kecewa atas ini semua. Karena kamu tadi mengatakan jika kamu di jebak, maka saya akan mencoba memaafkan mu, tapi apapun yang terjadi kamu harus bertanggung jawab kepada anak dan cucu saya," ucap Derry dingin.
***
Xavier pun berdiri. Dalam hati ia sangat bahagia sekali karena mendapat restu dari orang tua Angel meskipun dengan cara berbohong seperti ini. Andaikan Xavier jujur apa adanya, ia yakin pasti kedua orang tua Angel tidak akan membiarkan anak perempuan satu-satunya menghabiskan hidup dengan Xavier.
"Om serius?" tanya Xavier dengan wajah sumringah. Xavier tampak menitikkan air matanya karena bahagia dan juga haru.
"Iya, tapi dengan satu syarat. Kamu harus menjaga Angel dan juga menyayanginya dengan tulus. Saya tidak akan tinggal diam jika kamu berani menyakiti putri saya," ucap Derry memberi syarat.
Sebenarnya kedua orang tua itu sangat marah dan juga kecewa. Tapi mereka berfikir jika semuanya telah terjadi. Dan Angel sekarang juga sudah melahirkan dan anak yang dilahirkan Angel itu bagaimana pun juga adalah cucu mereka sendiri.
"Pa, mama mau menemui Angel pokoknya. Pasti waktu hamil dulu Angel sangat kesusahan," ucap Mayang dengan air mata.
"Iya ma iya. Besok kita akan ke Amerika menemui Angel. Apapun alasan anak itu, pokoknya kita akan menyusulnya. Papa juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucu papa," tambah Derry tak kalah antusiasnya.
Perasaan Derry dan juga Mayang saat ini bercampur aduk. Antara senang, sedih, dan juga kecewa.
"Hmmmm. Om, Tante, kalau gitu saya permisi dulu. Soalnya sore ini saya ada penerbangan ke Amerika. Saya juga sudah tidak sabar bertemu dengan darah daging saya dan juga Angel. Sekali lagi saya mohon maaf jika kelakuan saya ini membuat Om dan Tante kecewa. Tapi percayalah, saya sungguh tidak ada maksud untuk menodai Angel sebelum waktunya," jelas Xavier sebelum pamit meninggalkan Derry dan juga Mayang.
"Baik, hati-hati dijalan ya nak. Nanti kalo sudah sampai kabari kami," ucap Derry kepada Xavier.
Itulah alasan utama kedua orang tua itu terbang ke Amerika secara mendadak.
Mayang menarik nafas dalam saat akan menekan tombol bell yang ada di dekat pintu unit apartemen tempat Angel.
__ADS_1
"Ma.. Mama? Papa? Ucap Angel kaget. Ia tak menyangka jika kedua orang tuanya benar-benar akan menemuinya ke Amerika.
Mayang langsung memeluk putrinya. Ia sangat merindukan Angel.
"Ayo kita masuk dulu. Nanti pelukannya dilanjutkan saja didalam," ucap Derry yang sudah tidak sabar melihat cucu pertamanya.
"Oh iya maaf pa, ma. Ayo masuk dulu pa, ma. Papa sama mama pasti lelah kan. Mau Angel buatkan minum apa" tanya Angel sambil mempersilahkan kedua orang tuanya masuk.
"Makasih sayang. Apa aja. Gak usah repot-repot," jawab Mayang yang juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucunya.
Sesampainya didalam, Angel mempersilahkan kedua orang tuanya untuk duduk di sofa yang ada diruang tamu.
Saat Angel akan pergi ke dapur untuk mengambil minum, tiba-tiba Derry menyuruh putrinya itu untuk duduk kembali. Ia menatap Angel dengan tatapan yang tajam dan dingin. Angel yang sudah menebak apa yang akan dikatakan orang tuanya, langsung terdiam duduk dan menunduk.
"Angel, papa mau tanya sama kamu. Apa benar selama ini kamu telah memilih anak?" tanya Derry mengintimidasi.
"Angel? Apa kamu bisa jelaskan sama mama dan papamu sayang?" tambah Mayang sambil mengelus punggung putrinya.
"Ma.. Maafkan Angel ma, pa. Angel salah. Angel gak bisa jaga kepercayaan papa sama mama," ucap Angel dengan suara yang sudah serak dan gemetar.
Angel benar-benar takut saat ini. Ia takut jika kedua orang tuanya akan menyayangi nya dan juga bayinya.
"Angel, sebenarnya papa dan juga mama sangat kecewa sekali. Tapi papa sama mama berpikir mungkin ini adalah takdirmu. Selain itu, Xavier sudah menceritakan semuanya. Ini bukan salah kamu dam juga Xavier. Siapa tau aja ada seseorang yang sakit hati sama kamu atau sama Xavier, jadi mereka memasukkan sesuatu kedalam minuman yang Xavier minum itu," jelas Derry pada anaknya.
Mendengar ucapan dari papanya, Angel sangat kaget. Bisa-bisanya Xavier membohongi kedua orang tuanya.
__ADS_1
Angel ingin sekali menceritakan yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya, tapi ia merasa malu. Akhirnya Angel meutuskan untuk menyimpan kebohongan Xavier.
"Iya sayang. Disini kita sebagai orang tua tidak bisa menyalahkan kamu dan juga Xavier," tambah Mayang menatap dalam putrinya itu.
"Oh ya, mana cucu kami? Apa papa sama mamamu ini boleh menemuinya?" tanya Derry menatap Angel demgam senyuman bersahaja.
"Iya sayang. Mana anak kamu. Cucu mama sama papa?" tanya Mayang celingak-celinguk mencari keberadaan cucunnya.
"Ada kok pa, ma lagi dikamar. Bentar ya Angel bawa dulu dia kesini," jawab Angel lalu berdiri meninggalkan kedua orang tuanya itu.
'Maafkan Angel pa, ma,' batin Angel lalu menggendong putrinya untuk diperlihatkan kepada kedua orang tuanya.
"Pa, ma. Ini anak Angel," ucap Angel yang sudah berada di belakang kedua orang tuanya.
Kedua orang tua itu langsug melihat kemana arah suara tersebut. Saat melihat Angel menggendong seorang bayi, kedua orang tua yang kini telah menjadi kakek dan nenek itu langsung berdiri untuk melihat langsung cucu pertamanya itu.
"Hai sayang. Kenalkan ini oma. Namamu siapa sayang?" ucap Mayang dengan air mata harunya. Wanita paruh baya itu langsung mengambil alih bayi yang ada di tangan sang anak.
"Hati-hati ma, nanti cucu kita jatuh. Mama kan udah lama udah gak menggendong bayi," ucap Derry posesif.
"Iya-iya. Papa tenang aja," jawab Mayang tanpa menoleh ke arah suaminya.
Derry hanya bisa geleng-geleng melihat sikap antusias istrinya itu.
"Angel, anakmu ini laki-laki atau perempuan?" tanya Derry kepada Angel.
__ADS_1
"Perempuan pa. Kenalkan namanya Bulan," jawab Angel.
"Hai sayang. Kenalkan ini opa mu. Kamu cantik sekali, mirip sekali dengan mamamu sayang," ucao Adrian menatap cucunya yang berada di tangan Mayang.