Takdir Yang Merubah Si Gadis Culun

Takdir Yang Merubah Si Gadis Culun
Episode 25


__ADS_3

"Angel. Tunggu aku. Aku pasti akan menemukanmu," gumam Xavier sembari be berkaca di toilet bandara.


***


Setelah menempuh perjalanan hampir satu hari, akhirnya Xavier sampai di negeri Paman Sam tersebut.


Ia melangkahkan kaki nya mantap berjalan keluar dari bandara. Sesampainya di mobil, Xavier mengaktifkan ponselnya dan menghubungi sahabatnya Heru. Tak lupa ia mengecek lokasi terakhir dimana ponsel yang digunakan oleh Angel.


"Masih di negara yang sama," gumam Xavier tersenyum.


Lalu ia menelpon Heru dan tak lama panggilan itu akhirnya dijawab.


"Ha.. Halo Xavier?" sapa Heru gugup.


"Halo. Lo dimana? Ini gue udah nyampe. Baru aja keluar dari bandara,"


"Lo.. Lo udah nyampe?" tanya Heru kaget.


"Iya gue udah nyampe. Rencananya gue mau ke apartemen dulu buat naro koper gue. Lo kirim lokasi ya, biar gue samperin habis ini," ucap Xavier.


"Eh.. Gak usah. Biar gue aja yang nyamperin lo. Ke apartemen lo yang biasa kan?" tanya Heru. Ia mencoba mencegah Xavier agar tidak menyusulnya, karena saat ini Heru tinggal di apartemennya Angel.


"Iya yang biasa. Lo memang pengertian. Ya udah nanti gue hubungi lo lagi," balas Xavier kemudian mematikan panggilannya.


"Gue yakin lo tau keberadaan Angel Heru," gumam Xavier mengepalkan tangannya.


Tak lama kemudian, mobil yang di tumpangi Xavier sampai disebuah apartemen yang terletak di pusat kota New York tersebut.


Ia kemudian turun dan berjalan menuju unitnya menaiki lift dan memencet tombol dua puluh satu.


Sesampainya di unit milik Xavier, laki-laki tampan itu langsung menaruh seluruh barang bawaannya kemudian langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan menyegarkan badannya.


Saat Xavier tengah duduk di balkon apartemennya sambil melihat pemandangan kota New York, tiba-tiba bel apartemennya pun berbunyi.


Xavier segera berdiri untuk membukakan pintu, karena ia tau yang datang pastilah Heru.

__ADS_1


"Hai bro. Gimana penerbangan lo," ucap Heru yang langsung nyelonong masuk kedalam.


"Wih, main masuk aja lo," balas Xavier yang mengikuti Heru dari belakang.


"Udah, gak usah banyak gaya lo. O ya, lo kesini bener mau liburan doang?" tanya Heru penasaran.


"Cih, ya gak lah bro. Gue mau temui nyokap sama bokap gue. Mereka sekarang kan udah pindah ke Amerika," jelas Xavier kepada Heru. Kedua sahabat itu tengah duduk di balkon apartemen tersebut.


"Oh ya. Bakal lama dong lo disini?" tanya Heru sedikit risih.


"Ya gitulah," jawab Xavier singkat.


"Ngomong-ngomong lo tinggal dimana Ru?" tanya Xavier tiba-tiba.


"Ah, itu, gue tinggal di hotel. Ya gue tinggal di hotel," jawab Heru gugup karena kaget.


"Oh ya. Kenapa lo gak bilang sama gue. Kan lo bisa tinggal di apartemen gue ini," balas Xavier menatap sahabatnya itu.


"Gak usah. gue gak mau repotin lo. Oh ya, kabar orang tua lo gimana? Lo belom nemuin dia kan?" tanya Heru mengalihkan pembicaraan mereka.


"Belom nih. kenapa emang?" Tanya Xavier lalu meminum minumannya.


"Ok. Nanti malam kita ke sana," balas Xavier.


.


.


.


Sedangkan Angel yang masih dirawat di rumah sakit baru mendapat izin dari dokter untuk keluar dari rumah sakit tempat ia melahirkan.


Angel bermaksud hendak menghubungi Heru, tapi ia teringat jika saat ini Heru pasti sedang bersama Xavier. Maka dari itu Angel akhirnya hanya mengirimkan pesan singkat kepada Heru.


"Kak, hari ini aku sudah dibolehkan pulang oleh dokter. Kira-kira kakak akan kesini gak. Kalau iya, aku akan tunggu kakak, tapi kalau kakak gak kesini aku pulang sama supir saja," isi pesan Angel kepada Heru.

__ADS_1


Heru yang saat itu sedang duduk bersama Xavier merogoh sakunya dan mengambil ponsel yang berbunyi tadi.


"Vier gue cabut dulu ya. Ada urusan mendadak nih," pamit Heru lalu berdiri dan melangkah menuju pintu.


"Eh lo kemana? Baru aja nyampe," teriak Xavier melihat kelakuan aneh Heru.


"Udah, ntar aja," balas Heru singkat lalu meninggalkan unit apartemen milik Xavier.


'Aneh sekali. Gue harus mengikutinya,' batin Xavier kemudian bergegas membuntuti Heru tanpa sepengetahuannya.


Xavier terus mengikuti mobil yang di kendarai oleh Heru. Dengan jarak yang tidak terlalu dekat, Xavier begitu mudah mengikuti kemana Heru hendak pergi tanpa sepengetahuan Heru.


"Dia kemana ya? Apa ada operasi mendadak. Eh tapi ini kan bukan di tanah air. Gak mungkin juga kan dokter disini minta bantuan sama Heru," gumam Xavier bertanya pada dirinya sendiri.


Gak lama mobil yang di kendarai oleh Heru berhenti disebuah rumah sakit ibu dan anak. Dengan setengah berlari, Heru dengan cepat bergegas masuk ke dalam rumah sakit tersebut.


"Ngapain Heru di rumah sakit ibu dan anak ini? Apa gue nyusul aja ya? Tapi gimana kalau gue ketahuan. Ya udah deh, gue tunggu di sini saja dulu. Siapa tau sebentar lagi Heru keluar," gumam Xavier. Ia sama sekali tidak mencurigai Angel berada di rumah sakit ini. Andaikan Xavier tau Angel berada di rumah sakit ini, pasti ia juga akan bergegas seperti Heru.


Setelah menunggu setengah jam lebih, Xavier melihat Heru keluar dengan seorang wanita dan juga dengan seorang bayi yang di gendong oleh wanita yang duduk di kursi roda.


Sedangkan Heru tengah sibuk membawa barang berupa tas.


'Angel?' batin Xavier. Ia tak percaya bahwa wanita yang sedang bersama Heru itu adalah Angel. Meskipun saat ini Angel tidaklah lagi gadis culun seperti terakhir kali ia lihat, tapi Xavier sangat yakin jika itu adalah Angel.


"Dan bayi itu? bayi itu pasti anak gue," gumam Xavier. Saat ini Xavier tak dapat lagi menahan air matanya. Dadanya sesak saat melihat wanita yang selama ini ia cari ternyata bersama sahabatnya.


"Lo hutang penjelasan sama gue Heru," gumam Xavier mengepalkan tangannya.


Xavier memilih untuk tidak turun dahulu. Dengan susah payah ia mencoba menahan dirinya agar tidak menemui Heru dan Angel di pelataran rumah sakit itu. Saat ini Xavier masih berpikir positif, ia yakin sahabatnya itu pasti akan memberi tahukan kepadanya nanti.


Saat mobil milik Heru berjalan, Xavier mengikutinya dari belakang seperti tadi. Ia sangat penasaran kemana mobil itu membawa Angel dan juga anaknya.


Tak lama kemudian mobil tersebut berhenti di sebuah gedung apartemen yang tak jauh dari apartemen miliknya. Tapi apartemen yang ini lebih elite dan juga mewah.


"Apartemen siapa ini? apakah Heru menyewanya untuk Angel?" gumam Xavier penasaran.

__ADS_1


Terlihat Angel turun di bantu oleh Heru. Mereka begitu dekat sekali, seolah mereka sudah kenal lama.


Xavier memang cemburu kepada Heru, tapi mau tidak mau ia harus menepis dulu rasa kecemburuannya itu.


__ADS_2