
Setengah jam kemudian, Angel akhirnya keluar dari kamar. Ia kemudian menyuruh Xavier yang sedang bermain game di ponselnya untuk mandi.
"Xavier, kamu mandilah. Aku akan menyiapkan makanan untuk kita," ucap Angel sembari berlalu ke ruangan ganti baju.
.
.
Saat keluarga kecil itu sedang makan, tiba-tiba saja pintu apartemennya di gedor-gedor dengan sangat kuat. Dan ada suara wanita memanggil-manggil nama Angel berkali-kali.
"Angel.. Angel keluar kamu Angel," ucap suara itu dengan keras.
"Siapa itu?" tanya Angel menghentikan makannya.
"Biar aku saja yang membukanya. Kamu lanjut makan saja," perintah Xavier sembari berdiri dari tempat duduknya.
"Mana Angel. Saya mau ketemu dengan Angel," ucap wanita tersebut yang ternyata adalah mamanya Heru.
"Angel lagi makan. Jika kedatangan Tante kesini hanya untuk mengganggu istri saya, silahkan pergi sebelum saya benar-benar marah," jawab Xavier dingin.
"Xavier kenapa kamu seperti ini ha? Kamu itu harusnya marah karena istri murahan mu itu, sahabat kamu meninggal dunia," ucap mamanya Heru menghasut Xavier.
"Tante, lebih baik Tante pulang. Jangan ganggu istri saya dan rumah tangga kami," usir Xavier terus terang.
"Kamu berani mengusir Tante demi wanita murahan itu Xavier?" ucap mamanya Heru dengan mata berapi-api.
"Tante saya sudah katakan, dia istri saya dan dia bukan wanita murahan. Jika Tante selalu saja mengatakan Angel wanita murahan, saya tidak segan-segan akan melaporkan Tante ke polisi," ancam Gara dengan tatapan mematikannya.
"Silahkan lapor saja. Yang penting saat ini Tante mau membawa darah daging Heru pergi jauh dari wanita itu. Bayi itu darah daging Heru, dan wanita itu tidak pantas untuk membesarkan anaknya Heru," ucap mama Heru membuat Gara terkejut.
"Apa? Tante mau membawa Bulan pergi? Apa hak Tante. Bulan itu anak saya. Darah daging saya. Tante jangan gila," ujar Xavier yang kini emosinya mulai terpancing.
"Kamu jangan membohongi Tante ya Xavier. Jelas-jelas sebelum kematiannya Heru memberikan surat ini kepada Tante. Dia mengatakan jika Bulan adalah anaknya. Darah dagingnya," ucap mama Heru memberikan sebuah kertas kepada Xavier.
__ADS_1
Dengan cepat Xavier mengambil dan membuka kertas tersebut. Ia sangat marah membaca isi surat tersebut. Namun saat di perhatikan lagi oleh Xavier, itu bukan tulisan tangan Heru. Melainkan tulisan tangan Ana mantan kekasih Xavier. Xavier sangat mengenal tulisan Ana, maka dari itu ia bisa langsung menebak jika bukan Heru yang menulis surat ini.
"Tante, ini bukan tulisan tangan Heru," ucap Xavier membuat mama Heru mengerutkan keningnya.
"Maksud kamu?" tanya mama Heru menatap Xavier.
"Tante jujur. Ana kan yang memberikan surat ini kepada Tante?" tanya Xavier membuat mama Heru terkejut.
"Ba.. Bagaimana kamu mengetahuinya?" tanya mama Heru penasaran.
"Tante, Ana itu mantan pacar saya. Dia bekerja sama dengan Heru untuk menghancurkan hubungan saya dengan istri saya Angel. Jadi saya minta Tante jangan percaya dengan Ana. Apapun yang ia katakan," jelas Heru membuat mama Heru sedikit kaget.
"Saya tidak peduli. Kamu pikir Tante percaya dengan kata-katamu?" jawab mama Heru dengan tatapan tajamnya.
"Terserah kalau Tante tidak percaya. Yang jelas, Tante tidak bisa membawa Bulan karena Bulan adalah darah daging saya. Bukan Heru!" ucap Xavier tegas lalu menutup pintu apartemennya dengan cepat.
"Xavier buka. Kamu jangan kurang ngajar ya sama saya. Saya bersumpah akan mengurus hak asuh Bulan. Jangan main-main kamu sama saya," teriak mama Heru dari balik pintu sembari menggedor-gedor pintu apartemen Angel.
"Angel kamu tenang ya. Jangan di pikirkan. Malah akan lebih bagus buat kita jika mama Heru membawa kasus ini ke meja hijau. Itu artinya dia akan mempermalukan dirinya sendiri," ucap Xavier menenangkan istrinya itu.
"Tapi bagaimana jika dia menggunakan cara licik? Kamu kan tau jika keluarga kak Heru itu kalangannya para tenaga medis. Aku takut jika mereka bersekongkol untuk menghancurkan keluarga kita," ucap Angel memeluk suaminya.
"Sudah, jangan takut. Jika suatu hari nanti mereka akan melakukan tes DNA dengan Bulan, aku sendiri yang akan mengawal pemeriksaannya dua puluh empat jam. Kamu tenang ya. Gak akan ada yang bisa merebut Bulan dari kita," jelas Xavier menguatkan Angel.
"Makasih," jawab Angel menenggelamkan kepalanya di dada bidang Xavier.
Dua hari kemudian, Xavier dan Angel memutuskan untuk kembali pulang ke tanah air. Mereka sepakat akan melanjutkan kehidupannya di tanah air tercinta. Tak lupa, Xavier dan juga Angel memboyong putri semata wayangnya Bulan.
Satu Minggu berada di tanah air, pada pagi yang cerah Angel mendapatkan surat dari pihak Heru mengenai hak asuh Bulan yang akan dibawa ke meja hijau.
Angel yang menerima surat itu sangat kaget dan shock. Bagaimana tidak, ibu satu anak itu takut jika dirinya akan kehilangan Bulan, darah dagingnya dengan Xavier Raharja.
Angel membawa surat itu masuk dan memperlihatkannya kepada Xavier yang saat itu kebetulan tidak masuk kantor.
__ADS_1
Hal yang sama juga terjadi pada Xavier. Hot daddy itu sangat kaget dan juga marah sekali karena keluarga Heru masih saja mengusik keluarga kecilnya yang bahagia.
"Apa yang harus kita lakukan? Aku takut," ucap Angel menangis sesegukan.
"Sssstttt.. Sudah-sudah. Kamu jangan takut. Ada aku disini. Kamu ingat, tak ada yang bisa merebut Bulan dari kita. Dia itu anakku. Darah daging ku. Bagaimana bisa keluarga Heru akan memenangkan kasus ini?" tanya Xavier pada istri tercintanya.
"Bagaimana jika mereka menggunakan cara licik. Aku gak mau kehilangan Bulan. Aku gak mau," lirih Angel menatap putri semata wayangnya.
"Angel hey. Kamu tenang ya. Aku sendiri yang akan mengawal kasus ini dua puluh empat jam. Aku tak akan memberi mereka celah sedikitpun untuk memenangkan kasus ini," ucap Xavier yakin.
"Kamu janji?" tanya Angel menatap dalam suaminya itu.
"Ya aku janji. Sekarang kamu tenang ya. Gak usah di pikirkan," jawab Heru kemudian memeluk istrinya.
"Angel..," panggil Xavier saat Angel masih berada di dalam pelukannya.
"Ya," jawab Angel lembut.
"Kita sudah satu Minggu loh disini. Dan sudah hampir tiga Minggu kita menikah," ucap Xavier mengelus belakang kepala Angel.
"Lalu?" tanya Angel singkat.
"Kita belum pernah melakukan itu sejak kita resmi menikah. Kapan kau akan memberikannya kepadaku?" tanya Xavier sedikit gugup.
"Memberikan apa? Kalau bicara itu yang jelas biar aku mengerti dengan ucapan mu," tanya Angel pura-pura tidak tau dengan pipi yang kini merah merona.
"Masa kamu tidak tau sih sayang?" tanya Xavier gemas.
"Hehe.. Ya sudah, nanti malam ya," jawab Angel menatap Xavier kemudian mencium pipinya sekilas lalu pergi ke dapur untuk memasak makan siang.
Baru pertama kali mendapatkan ciuman dari Angel, Xavier di buat melayang jauh ke awan.
"Rasanya berbeda sekali dengan ciuman-ciuman yang di berikan Ana untukku," gumam Xavier mengelus pipinya yang di cium Angel tadi.
__ADS_1