
"Xavier," ujar Angel malu dan pipinya merona merah. Sebagai wanita biasa, meskipun ia masih belum sepenuhnya menerima Xavier, tetapi jika diperlakukan seperti itu, ia juga merasa malu dan bahagia.
***
"Kenapa?" tanya Xavier tersenyum.
"Gak kenapa-napa. Oh ya, apa kamu sudah bicara dengan kedua orang tuamu?" tanya Angel penasaran.
"Sudah," jawab Xavier singkat dan santai.
"Lalu?" tanya Angel penasaran.
"Mereka ingin bertemu denganmu dan juga anak kita," jawab Xavier melihat ke arah Bulan yang sedang tertidur nyenyak.
"Kamu serius? Bagaimana jika nanti mereka memarahiku dan mengambil Bulan dariku?" tanya Angel takut.
"Aku tak akan biarkan itu terjadi sayang," jawab Xavier manis.
"Xavier, aku harap kamu gak akan mengecewakanku lagi," lirih Angel namun masih bisa didengar oleh Xavier.
Mendengar ucapan Angel, Xavier kemudian menatapnya lama. Kedua tangan Xavier kini telah berada dikedua pipi Angel. Ia menatap Angel dengan penuh arti.
"Angel, percayalah kepadaku. Dulu aku mungkin memang jahat padamu. Dulu aku mungkin tak punya hati. Tapi sekarang aku sudah berubah. Tak ada lagi Xavier yang dulu. Kamu telah berhasil mengubah alur hidupku. Aku janji akan menjadikanmu ratu dalam hidupku," ucap Xavier mengungkapkan isi hatinya.
Angel begitu terharu mendengar ucapan Xavier. Ia tak menyangka jika seorang Xavier yang dulu sering membully dan menjahilinya kini memberikan cinta dan sayangnya.
Tak ada sedikitpun terlintas dibenak Angel menghabiskan sisa hidupnya dengan seorang Xavier yang dulu sangat membencinya.
"Xavier aku mau bertanya sesuatu padamu, dan aku harap kamu menjawab semuanya dengan jujur? Bisa?" ucap Angel sedikit membuat Xavier tegang.
__ADS_1
"Bi.. Bisa, kamu mau tanya apa, aku pasti akan menjawabnya dengan jujur," jawab Xavier. Dalam hatinya ada sedikit rasa takut jika Angel menanyakan sesuatu yang bisa membuat Angel meragukan kesungguhan cintanya.
"Apa kamu mau menikahi ku karena kehadiran Bulan?" tanya Angel menatap dalam Xavier.
Mendengar pertanyaan Angel, Xavier tersenyum lega.
"Aku menikahi mu bukan karena Bulan Angel. Ada atau nggak nya Bulan dalam hidup ku, aku akan tetap menikahi mu. Aku sudah termakan ucapan ku sendiri. Dulu aku pernah bilang jika aku tak akan mungkin jatuh cinta pada gadis culun sepertimu, tapi sejak Ana menyuruhku untuk membawamu mencarikan pakaian untuk ke acara ulang tahunnya, disitu aku mulai jatuh cinta kepadamu," jawab Xavier jujur sambil memegang tangan Angel.
"Kamu serius?" tanya Angel meyakinkan pendengarannya.
"Ya, aku yakin. Tak akan kubiarkan kamu jatuh ke tangan laki-laki lain selain aku, termasuk sahabatku Heru sahabatku sendiri," balas Xavier tersenyum manis.
"Lalu bagaimana denganmu Angel? Apa kamu mau menerimaku karena Bulan?" Xavier balik bertanya.
Angel tampak terdiam dan tertunduk.
"Angel? Apakah tak ada tempat walaupun sedikit untukku di hatimu?" tambah Xavier mencoba mencari jawaban dari Angel.
Mendengar pengakuan Angel, ada sedikit gurat kekecewaan di wajah tampan Xavier. Tapi bagaimana pun juga, ia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Sudah diterima Angel saja sudah sebuah keberuntungan untuk Xavier.
"Makasih Angel, kamu sudah jujur kepadaku. Meskipun ada sedikit rasa kecewa, karena kamu sama sekali belum ada rasa sama aku," ucap Xavier tersenyum kecut.
"Iya sama-sama. Ya udah kalau gitu aku mau istirahat dulu," balas Angel lalu masuk kekamarnya.
"O ya udah, sekalian aku pamit pulang lagi, kebetulan aku ada pekerjaan sedikit," balas Xavier yang sudah berdiri.
"Ok, hati-hati dijalan," pesan Angel.
"Nanti malam jangan lupa hubungi Ana ya Angel, ingat, kamu harus bisa pura-pura sebaik mungkin agar Ana tidak mencurigaimu," balas Xavier lalu pergi meninggalkan unit apartemen itu.
__ADS_1
Saat Xavier akan melajukan mobilnya, Ia tidak sengaja melihat seseorang yang mirip sekali dengan Heru.
"Loh, bukannya itu Heru, tapi Bukannya dia sudah pulang ke Indonesia? Dan itu? Itu Ana ! Ngapaain dia bisa sama Heru? Apa jangan-jangan??" ucap Xavier pada dirinya sendiri.
Melihat kehadiran Ana dan juga Heru, ingin rasanya Xavier turun dan langsung menanyai keberadaan mereka disini.
Tapi demi pembuktian kepada Angel, mau tak mau Xavier harus lebih bersabar dan lebih tenang.
"Gue yakin kalian berdua bersekongkol untuk memisahkan gue sama Angel. Tapi tenang, itu semua tak akan pernah terjadi," gumam Xavier sembari terus menatap Heru dan Ana yang juga pergi meninggalkan parkiran apartemen tesebut.
Tak lama setelah itu, Xavier juga pergi melajukan mobilnya ke rumah kedua orang tuanya.
Tiga puluh menit kemudian, Xavier akhirnya sampai ke rumah yang baru di beli oleh kedua orang tuanya itu.
Saat ia hendak memasuki rumah, Xavier tak sengaja mendengar obrolan papa dan mamanya mengenai dirinya.
"Pa, setelah apa yang diucapkan Heru tadi, apa papa yakin jika anak tersebut adalah darah daging Xavier?" tanya Selena kepada suaminya Raharja.
"Papa yakin ma, entah kenapa saat Xavier mengatakan jika ia sudah punya seorang putri, hati papa rasanya bahagia dan damai," jawab Raharja kepada Selena.
"Tapi pa, Heru itu sahabat Xavier dari kecil dulu, gak mungkin dia membohongi kita, dan lagian apa untungnya jika Heru membohongi kita semua pa?" lanjut Selena bertanya.
"Selena, kita tidak usah memikirkan itu dulu, lebih baik kita tunggu kabar dari Xavier, kapan dia akan membawa kita untuk bertemu dengan anaknya, dan pada saat itu, kita akan meminta Angel untuk melakukan tes DNA," jelas Raharja memegang bahu istrinya.
"Oh ya pa, papa yakin foto wanita yang diperlihatkan Xavier itu adalah foto Angel anak dari CEO MD Group?" tanya Selena masih tak percaya.
"Iya ma, papa yakin sekali jika wanita itu adalah Angel anak dari CEO MD Group," ucap Raharja membenarkan.
"Berarti sebentar lagi kita akan besanan dengan Bapak Derry dan Ibu Mayang dong pa," tanya Selena dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
"Iya, sebentar lagi kita akan besanan dengan keluarga terkaya itu. Papa gak nyangka jika Xavier bisa mendapatkan hati putri semata wayang itu," ucap Raharja tersenyum lalu meminum minumannya.
"Ia pa, mama juga gak nyangka," balas Selena tersenyum bahagia