
Setelah kurir tersebut mendapatkan informasi yang dicarinya, Xavier mengajak kurir tersebut untuk bicara dan memberikan beberapa uang kepadanya.
Dan kurir itu memberikan makanan dan juga minuman yang ia bawa tadi.
***
Xavier berjalan menuju lift dan menekan angka dua belas, dimana unit apartemen milik Angel berada dilantai tersebut.
Selanjutnya Xavier mencari nomor kamar yang disebutkan kurir tadi. Saat Xavier telah menemukannya, Xavier yang datang menggunakan masker dan juga topi itu menekan tombol bel beberapa kali sampai akhirnya pintu apartemen tersebut dibukakan oleh seorang laki-laki yang sangat ia kenal.
Xavier sedikit terkejut melihat jika Heru yang membukakan pintu apartemen milik Angel. Ia tak menyangka, di saat dirinya hampir gila mencari keberadaan Angel, ternyata sahabatnya itu mengetahui dimana Angel berada.
Xavier menatap Heru lama. Nafas nya sesak melihat pengkhianatan sahabatnya itu. Sekuat tenaga Xavier mencoba meredam emosinya, namun kali ini sepertinya Xavier sudah tidak kuat lagi. Laki-laki tampan itu kemudian mendorong Heru masuk kembali kedalam apartemen milik Angel dan langsung memberinya pukulan demi pukulan.
Angel yang sedang berada dikamar sehabis menidurkan putri cantiknya seketika menjadi kaget saat mendengar suara ribut-ribut dari ruang tamu apartemennya. Ia segera berlari keluar dan melihat Heru dipukuli oleh laki-laki tak dikenal.
Dengan cepat Angel melerai mereka berdua, yang dimana Xavier lebih unggul daripada Heru.
"Bajingan lo. Penghianat," teriak Xavier terus memukul Heru yang sudah babak belur.
"Sudah stop. Kamu siapa? Bayi saya lagi tidur, jangan bikin ribut disini," teriak Angel yang kini telah berada ditengah-tengah mereka.
Mendengar bayi Angel yang lagi tidur, Xavier segera menghentikan pukulannya. Sedangkan Heru mencoba bangkit kembali dan duduk di sofa dengan bantuan Angel.
"Lo siapa ha?" ucap Heru dengan nafas tersengal-sengal. Sedangkan Angel melihat tajam laki-laki bertopi dan bermasker tersebut.
Xavier pun melepas topi dan juga maskernya. Seketika Heru dan Angel terkejut bukan main melihat keberadaan Xavier di apartemennya.
"Masih mau nanya lo gue siapa? Lo kaget kan kenapa gue ada disini," jawab Xavier tersenyum smirk.
__ADS_1
"Xa.. Xavier?" ucap Heru dan Angel bersamaan. Mereka takenyangka jika Xavier mengetahui apartemennya.
"Iya ini gue. Kenapa? Gak suka lo penghianat," teriak Xavier dengan mata yang memerah dan nafas yang sesak.
"Xavier kamu ngapain disini?" ucap Angel pelan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Aku? Ngapain? Aku sengaja datang kesini untuk menemui mu dan juga anak kita. Aku sudah curiga dengan Heru yang setiap sebulan sekali pergi ke Amerika. Aku juga melacak nomormu dan juga nomor Heru. Ternyata lokasi kalian berdekatan. Ternyata ini alasanmu untuk melarang ku menemui dan menemani mu saat akan melahirkan Angel?" teriak Xavier dengan matanya yang sudah memerah.
"Xavier lo tenang. Gue bisa jelasin semuanya," sela Heru membuat Xavier mengepalkan tangannya.
"Jelasin apa ha.. Jelasin kalo lo mau ngerebut Angel dari gue. Lo mau jelasin kalo lo mencintai Angel dan lo lebih pantas daripada gue.. Iya.. Sahabat macam apa lo? Lo liat tiap hari gue seperti orang gila mikirin Angel dan juga kandungannya. Gue akui, dulu memang gue gak menginginkan anak itu. Tapi semenjak Angel kirim pesan untuk yang terakhir kalinya sama gue, sejak itu juga penyesalan datang pada diri gue. Sejak itu gue selalu mencari Angel dan lo tau itu," teriak Xavier dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Bukan gitu maksud gue Vier. Gue..," ucap Heru terputus.
"Udah. Gue gak mau denger penjelasan lo lagi. Gue gak sudi punya sahabat kayak lo. Penghianat," sarkas Xavier membuat Heru langsung terdiam.
Akhirnya dengan berat hati Angel mengizinkan Xavier bertemu dengan putrinya. Ia begitu terharu dan juga bahagia melihat wajah putrinya yang tertidur lelap itu.
Sedangkan Heru pamit pergi untuk mengobati lukanya dan meninggalkan Xavier dan juga Angel.
"Kamu cantik sekali nak. Maafin papa ya sayang. Papa janji akan memperjuangkan mama kamu dan kita akan menjadi keluarga yang utuh sayang," ucap Xavier menatap wajah mungil putrinya.
"Angel, apa kamu sudah memberinya nama?" tanya Xavier penasaran.
"Namanya Bulan. Tapi aku belum memberikan nama panjangnya," jawab Angel apa adanya.
"Baik. Karena dia darah daging ku, aku yang akan memberikan nama panjang untuknya," ujar Xavier mencium putrinya.
"Memang mau kamu kasih nama apa?" tanya Angel yang menjadi penasaran dengan nama yang akan diberikan Xavier.
__ADS_1
"Aku akan memberinya nama Bulan Alexandria Raharja. Bulan nama pemberianmu, Alexandria nama tengah mu dan Raharja nama besar keluargaku. Nanti aku akan memberi tahukan kepada kedua orang tuaku jika mereka telah mempunyai cucu yang sangat cantik dan juga manis. Dan aku akan memperkenalkan kamu sebagai istriku," ucap Xavier dengan senyum manisnya.
"Jangan mimpi kamu," ucap Angel ketus.
"Aku gak mimpi Angel. Ini serius. Karena anak ini darah daging ku. Mau gak mau kamu harus mau menjadi istriku. Jika tidak untukku, setidaknya untuk anak kita," ujar Xavier ada benarnya juga.
Setelah ia memeluk dan menciumi anaknya, Tak lupa Xavier mengambil foto dirinya dan juga foto anaknya bersamaan. Tak lupa Xavier menjadikan foto itu sebagai foto wallpaper hp nya.
"Xavier lebih baik kamu pulang. Aku mau istirahat," ucap Angel yang mulai lelah.
"Ya sudah. Istirahatlah. Biar aku yang menggantikan kamu menjaga Bulan," jawab Xavier tanpa melihat ke arah Angel.
"Tapiii..," ucap Angel terputus.
"Gak usah tapi-tapian. Istirahatlah. Nanti setelah kamu bangun, aku akan pergi," lanjut Xavier.
Angel akhirnya mengalah dan ia pergi menuju sofa uang ada di sana lalu merebahkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama, Angel pun sudah terlelap di atas sofa tersebut.
Karena sibuk bermain dengan anaknya, Xavier tak sengaja melihat Angel yang tertidur dengan nyamannya.
"Kamu begitu cantik dan juga hebat Angel. Bodohnya aku dulu udah sia-siain kamu. Aku janji mulai detik ini, Aku akan selalu membuat kamu dan anak kita bahagia. Tak akan aku biarkan siapapun termasuk Heru mengambil kamu dariku lagi. Love you Angel," gumam Xavier yang ternyata didengar oleh Angel yang pura-pura tertidur.
Dari tadi ternyata Angel tidak pernah tidur. Ia sengaja melakukan ini agar bisa melihat perubahan yang telah Xavier katakan selama ini.
Xavier mengambil selimut kecil dan menyelimuti tubuh Angel hampir sebagian. Lalu ia kembali ketempat dimana putrinya tengah tidur dengan nyenyak.
"Bulan sayang, anak papa yang paling cantik. Kamu cepat besar ya sayang. Papa mau minta tolong sama kamu, selama papa gak ada di samping mama, kamu tolong jagain mama ya nak. Papa janji akan berusaha sekuat tenaga papa agar mama mau memaafkan papa kembali. Jangan jadi anak yang nakal ya sayang," ucap Xavier mengelus pipi anaknya itu.
Sementara dari tadi Angel sibuk memperhatikan gerak-gerik Xavier.
__ADS_1