Takdir Yang Merubah Si Gadis Culun

Takdir Yang Merubah Si Gadis Culun
Episode 21


__ADS_3

Heru kaget mendengar pertanyaan Xavier. Tapi ia tidak bisa memberi tau kalau Angel mengetahui keadaan Xavier dari dirinya. Bisa-bisa Xavier memaksa untuk mendapatkan alamat Angel sekarang.


***


"Ya kali aja dari temen atau kenalan Angel yang lo gak tau Vier," jawab Heru santai.


"Iya juga sih. Udahlah gak penting. Yang terpenting saat ini gue udah tau bagaimana keadaan Angel dan juga calon anak gue," ujar Xavier bahagia.


"Terus langkah lo selanjutnya apa Vier?" tanya Heru penasaran.


"Gue bakal jadi Xavier yang lebih baik lagi Ru. Gue bakal nunjukin sama Angel kalau gue itu pantas buat dia dan juga anak yang ada di kandungannya," jawab Xavier sumringah.


Heru khawatir jika suatu hari nanti Angel bakal berbaikan kembali dengan Xavier. Ia takut jika dirinya tidak punya kesempatan untuk memiliki Angel. Padahal ia yang selalu ada buat Angel selama ini.


"Bagus. Gue harap lo konsisten sama perubahan lo Vier," jawab Heru lemas.


"Iya. Makasih ya bro. Lo memang sahabat terbaik gue," balas Xavier memeluk Heru.


Sedangkan di belahan dunia lainnya, Angel tengah sibuk mempersiapkan berkas cuti kuliahnya karena sebentar lagi dirinya akan segera melahirkan.


Hari demi hari telah ia jalani. Menjalani kehamilan tanpa seorang suami sangatlah tidak mudah bagi wanita manapun. Terlebih saat ini Angel jauh dari negara dan keluarganya, ditambah juga ini adalah pengalaman pertama bagi Angel.


Berkali-kali kedua orang tua Angel ingin mengunjungi putri kesayangannya itu ke Amerika, namun Angel selalu memberikan alasan jika ia ingin lebih mandiri dan fokus dengan kuliahnya. Ia tidak mau jika kehamilannya saat ini diketahui oleh kedua orang tuanya.


.


.


Sejak Angel memutuskan untuk kembali menghubungi Xavier waktu itu, hampir setiap hari Xavier selalu melakukan panggilan video dengan dirinya.


Begitu juga saat sedang makan malam, ponsel Angel berdering pertanda panggilan masuk dari seseorang.


Angel melihat ponselnya, dan ternyata itu adalah panggilan dari Xavier. Tak butuh waktu lama, Angel mengangkat panggilan tersebut, dan melihatkan wajahnya yang semakin lama semakin cantik kepada Xavier.


"Angel, kamu apa kabar hari ini?" tanya Xavier dengan tersenyum manis.


"Ini aku lagi makan malam," jawab Angel singkat.

__ADS_1


"Angel, bagaimana dengan keadaan anak kita? Apa kamu sudah memberinya susu hari ini?" tanya Xavier yang setiap hari selalu menanyakan hal yang sama.


"Xavier, setiap hari kamu selalu menanyakan hal yang sama. Apa kamu tidak bosan?" Angel kembali bertanya.


"Angel, aku tidak akan pernah bosan untuk selalu mengingatkan kamu untuk memberi anakku susu," jawab Xavier yang selalu menganggap anak nya itu sudah lahir.


"Iya baiklah. Aku tidak akan lupa untuk memberikan susu pada anakmu,* balas Angel mengalah.


"Angel, kapan kamu akan melahirkan?" tanya Xavier tiba-tiba bertanya kepada Angel.


"Hmm.. Kurang lebih satu bulan lagi," jawab Angel singkat.


"Angel apakah kedua orang tuamu tau jika kamu saat ini tengah hamil?" tanya Xavier yang sudah sangat penasaran dari dulu.


"Belum Xavier. Aku belum siap memberi tau kedua orang tua ku. Biarlah aku melahirkan dulu anak ini, baru nanti saat aku kembali pulang, aku akan memberi tau kepada mereka," jawab Angel sedih karena sudah lama tidak bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Ya sudah. Nanti jika kamu pulang aku akan ikut denganmu untuk mengakui kesalahanku. Oh ya Njell, bisakah aku menemanimu saat melahirkan nanti?" tanya Xavier seolah berharap banyak dari Angel.


"Maaf Xavier, aku belum bisa untuk bertemu denganmu dalam waktu dekat ini. Kalau masalah melahirkan nanti, kamu gak usah khawatir, aku di sini tidak sendirian. Begitu banyak teman-teman yang sangat menyayangiku di tempat ini," jawab Angel menolak permintaan Xavier.


"Aku tau ini memang darah daging mu. Tapi kamu ingat, dulu kamu sempat ingin menggugurkan anak ini," jawab Angel kembali mengingatkan untuk yang ke sekian kalinya.


"Iya aku tau. Tapi aku...," ucapan Xavier terputus.


"Sudahlah Xavier. Aku tidak mau berdebat lagi. Aku mau istirahat," sela Angel kemudian langsung mematikan penggilan telponnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" lirih Angel.


Saat Xavier tengah melamun, ponselnya kembali berdering. Dengan malas Angel melirik ponselnya dan ternyata panggilan dari Heru.


"Halo kak," jawab Angel mengangkat panggilan Heru.


"Halo Njell. Bagaimana kabarmu?" tanya Heru sembari beristirahat.


"Alhamdulillah baik kak. Kakak apa kabar?" tanya Angel.


"Baik. Oh ya Njell, kapan kamu akan melahirkan?" tanya Heru lembut.

__ADS_1


"Kurang lebih satu bulan lagi kak. Kakak jadi kesini?" tanya Angel memastikan.


"Jadi Njell, aku baru saja mengajukan cuti. Rencana nya aku akan berangkat Minggu depan. Apa kamu mau menitip sesuatu?" tanya Heru kepada pujaan hatinya itu.


"Oh tidak kak. Aku sama sekali tidak ingin apa-apa kok kak," jawab Nadine yang kini masih berada di ruang makan apartemennya.


"Baiklah kalau begitu. Apa kandungan mu sehat?" tanya Heru tulus.


"Sehat kak. Oh ya kak, tadi Xavier menelpon ku. Dia memohon agar saat persalinan nanti aku mengizinkannya untuk menemaniku dan menyambut kehadiran anaknya," ujar Angel bercerita kepada Heru.


"Lalu apa tanggapan mu Angel. Apa kamu akan memberinya izin?" tanya Heru penasaran. Apapun keputusan Angel, Heru harus menerimanya lapang dada.


"Maaf kak, aku gak bisa mengizinkannya. Aku terlanjur kecewa padanya. Kakak gak marah kan?" ucap Angel takut jika Heru akan marah dan kecewa padanya.


"Tidak Njell. Aku tidak akan marah. Aku hargai perasaanmu," jawab Heru tersenyum bahagia.


'Aku gak akan marah Njell. Bahkan aku sangat senang," batin Heru bahagia karena Angel tidak mengizinkan Xavier untuk menemaninya saat bersalin nanti.


"Ya sudah, kalau gitu aku istirahat dulu ya kak," ucap Angel pamit kepada Heru.


"Iya. Kamu jaga kesehatan nya Njell. Ingat jangan sampai telat meminum vitaminnya," balas Heru menutup panggilan telepon nya.


.


.


.


Saat ini Xavier tengah duduk di balkon kamarnya sembari merokok santai.


Laki-laki itu larut dalam pikirannya yaitu memikirkan Angel dan juga calon anaknya. Karena sibuk melamun ia tidak sadar jika telah menghabiskan separuh dari rokok yang ia selipkan diantara jari-jarinya.


"Astaga, aku sudah berjanji kepada Angel dan juga calon anakku untuk tidak merokok lagi," ucap Xavier yang tersadar dari lamunannya. Ia dengan cepat mematikan sisa rokoknya lalu membuangnya ke dalam asbak yang ada di atas meja tersebut.


"Angel aku tak menyangka, gadis culun sepertimu mampu mengendalikan ku meskipun kau jauh di belahan dunia sana," gumam Xavier yang tersenyum-senyum sendiri saat membayangkan wajah Angel yang masih culun dulu. Xavier kembali mengingat bagaimana perlakuan buruknya kepada Angel waktu di kampus dulu. Dia dan teman-temannya sering kali menindas dan membully Angel waktu itu.


"Aku minta maaf atas semua kesalahanku dulu Angel. Aku harap kamu mau menerima kehadiranku kembali. Meskipun aku tau Heru sangat mencintaimu, tapi aku akan bersaing secara sehat dan aku yakin pasti akan mendapatkan hatimu seutuhnya," gumam Xavier optimis. Ia yakin sekali jika Angel mau menerimanya lantaran telah ada buah cinta di antara mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2