
"Aku minta maaf atas semua kesalahanku dulu Angel. Aku harap kamu mau menerima kehadiranku kembali. Meskipun aku tau Heru sangat mencintaimu, tapi aku akan bersaing secara sehat dan aku yakin pasti akan mendapatkan hatimu seutuhnya," gumam Xavier optimis. Ia yakin sekali jika Angel mau menerimanya lantaran telah ada buah cinta di antara mereka berdua.
***
Xavier kemudian beranjak dari balkon kamarnya menuju ranjangnya dan segera tidur.
Satu bulan kemudian, tibalah hari yang di tunggu-tjnggu oleh Angel. Bulan ini adalah bulan di mana ia akan menyandang status baru yaitu sebagai seorang Ibu.
Angel masih kuat berjalan meskipun perutnya itu sudah membesar. Hari ini ia akan siap-siap untuk ke bandara menjemput Heru yang akan menemaninya saat persalinan nanti. Sementara, sejak satu bulan yang lalu Angel sengaja memutuskan koneksi dengan Xavier. Karena ia tidak mu terganggu dengan kata-kata Xavier nantinya.
Angel yang sudah sampai di bandara itu tampak sedang duduk di kursi yang telah di sediakan di sana sambil melihat-lihat ke dalam bandara tersebut.
Saat itu juga Heru menampakkan batang hidungnya kepada Angel.
"Kak Heru," teriak Angel melambai-lambaikan tangannya.
Heru segera menoleh ke asal suara yang memanggilnya.
Dengan tersenyum manis, Heru segera mempercepat langkahnya ke arah Angel.
"Angel, kamu makin cantik sekarang," kata-kata pertama yang di ucapkan Heru kepadanya.
"Kakak bisa saja. Aku tambah gemuk kak," ucap Angel. Angel sekarang bukanlah gadis culun lagi. Ia lebih cantik dan lebih modis.
"Aku serius Angel. Kamu terlihat sangat cantik," ujar Heru yang tak henti-hentinya melihat Angel.
Mereka pun berjalan menaiki mobil yang biasa Angel gunakan untuk keperluan sehari-harinya.
Awalnya Heru sempat curiga kepada Angel. Yang Heru tau adalah Angel hanya seorang gadis yang di besarkan di keluarga yang sederhana. Tapi ketika pertama kali Heru mengunjungi Angel ke Amerika, ia sangat terkejut melihat tempat tinggal Angel yang sangat mewah dan beraada di pusat kota New York. Awalnya Heru ingin bertanya, namun ia masih sungkan saat itu.
"Angel aku boleh tanya sesuatu gak?" tanya Heru saat mereka sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Boleh, mau tanya apa kak," jawab Angel santai.
"Tapi kamu jangan marah ya Njell. Setau aku kamu di besarkan oleh keluarga sederhana, tapi kenapa kamu memilih tinggal di apartemen mewah di pusat kota. Bukankah harga sewanya sangat mahal Njell," tanya Heru hati-hati. Ia takut jika Angel akan tersinggung.
Angel pun menarik nafasnya kasar sebelum menjelaskan tentang jati dirinya kepada Heru. Angel sebenarnya malas untuk membuka jati dirinya kepada siapapun, namun kali ini mau tidak mau, Angel harus mengungkapkannya.
"Apartemen itu bukan di sewa kak. Itu apartemen milik orang tua aku," jawab Angel berat.
"Apa? Milik orang tua mu?" ucap Heru kaget.
"Iya kak. Sebenarnya aku malas buat membuka jati diriku kepada siapapun, tapi karena selama ini kakak baik sama aku, jadi aku akan memberi tahukannya.
"Aku adalah Angel Alexandria Mahendra,anak bungsu dari Mayang Alexandria dan Dery Mahendra CEO MD GROUP," jelas Angel membuat Heru betul-betul terkejut.
Siapa yang tidak kenal dengan perusahaan raksasa itu. Perusahaan yang sudah beranak-anak sampai ke luar negri. CEO MD GROUP, Dery Mahendra adalah orang nomor satu paling kaya di negaranya, dan juga nomor tiga di dunia. Harta kekayaan MD group tidak akan habis tujuh turunan lebih.
"Ka.. Kamu anak dari Mayang dan juga Dery? Orang nomor satu paling kaya di negara kita, dan nomor tiga di dunia? Kamu serius Angel? Apa aku salah dengar?" ucap Heru tak percaya.
"Itu benar kak, kakak gak salah dengar kok," balas Angel.
"Itu karena orang tua ku mau aku menjadi anak yang lebih baik lagi kak. Orang tua ku gak mau aku menjadi sesat gara-gara kekayaan yang dimilikinya. Aku sendiri saja baru tau kalau aku ini anak dari orang nomor satu paling kaya.
Heru masih shock mendengar pengakuan Angel. Selain itu ia juga salut dengan Angel dan kedua orang tuanya.
"Ok baiklah. Aku sungguh terkejut," jawab Haru tersenyum.
"Kak, aku akan pergi membeli perlengkapan bayi, apa kakak mau ikut?" tawar Angel kepada Heru.
"Ikut dong Njel, kamu tau, itu adalah moment-moment yang sudah lama aku nanti selama ini," jawab Heru sumringah.
"Benarkah?," tanya Angel memastikan.
__ADS_1
"Ya, benar sekali. Makanya aku datang lebih awal," ujar Heru menatap Angel.
"Oh ya kak, apa Xavier tau jika kakak pergi kesini?" tanya Angel penasaran.
"Tau, Xavier tau aku pergi ke Amerika, tadinya ia sempat mau ikut denganku, tapi aku segera mencari alasan agar dia tidak ikut denganku. Apa dia tau jika kamu akan melahirkan?" tanya Heru penasaran.
"Gak kak. Aku sudah satu bulan ini tidak memberinya kabar. Meskipun ia setiap hari selalu menelfon dan mengirimi ku pesan, tapi aku tidak pernah mengangkat dan membalasnya," jelas Angel.
"Kenapa?" tanya Heru tambah penasaran.
"Aku gak mau dia menjadi beban pikiranku kak. Ia selalu mengatakan dan memohon untuk memberi tau dimana posisi ku saat ini. Sedangkan aku belum siap jika harus bertemu dengannya," jawab Angel menarik nafas dalam.
"Ya sudah. Kamu gak usah memikirkannya. Lebih baik kamu fokus sama kehamilan kamu yang sebentar lagi akan berakhir," ucap Heru memberi semangat.
"Ia kak. Aku maunya juga begitu. Makanya aku memutuskan komunikasi lagi dengan Xavier," ujar Angel.
.
.
.
"Angel, ini adalah bulan dimana kamu akan melahirkan, tapi kenapa di saat yang teramat penting ini kamu justru sengaja menjauh dariku kembali. Aku juga punya hak atas anak itu Njel," gumam Xavier di ruangannya.
Semenjak memutuskan untuk berubah demi Angel, Xavier mulai mengambil alih perusahaan orang tuanya yang ada di Jakarta.
Ia bekerja dari pagi sampai sore, sedangkan malam harinya Xavier memilih untuk melanjutkan kuliahnya. Ia sengaja menyibukkan diri agar tidak terus memikirkan Angel dan juga calon anaknya. Tapi pagi ini, saat Xavier melihat tanggal di ponsel nya menunjukkan awal bulan, yang berarti sudah memasuki bulan persalinan Angel.
Xavier membuka kunci layar ponselnya dan mencoba menghubungi Angel, berharap gadis culun itu mengangkat panggilannya.
Beberapa kali tak di angkat, Xavier tidak menyerah. Ia terus berusaha untuk menghubungi Angel.
__ADS_1
"Sudah satu bulan lebih Angel tidak menghubungiku. Apa dia baik-baik saja. Atau jangan-jangan Angel sudah melahirkan dan terlalu sibuk mengurus bayi yang baru lahir itu. Angel di sana kan sendirian," Xavier mencoba menebak berbagai kemungkinan yang bisa terjadi kepada Angel.
"Aaarrrggghhhhhh," teriak Xavier frustasi.