
"Gak usah tapi-tapian. Aku sudah bilang, kamu gak boleh makan makanan yamg dipesan oleh Heru tadi," sela Xavier memotong ucapan Angel.
"Kamu egois," lirih Angel pelan namun masih bisa didengar oleh Xavier.
"Aku egois? Ck.. Aku memang egois Angel. Dan kali ini aku harus egois demi cintaku dan darah daging ku. Aku gak akan membiarkan siapapun menggantikan posisi aku di hatimu," jawab Xavier menatap tajam Angel.
"Kamu di hatiku? Kamu gak pernah ada di hatiku Xavier. Aku gak pernah mencintai kamu," skak Angel membuat Xavier tersenyum miring.
Mendengar ucapan Angel, Xavier berjalan dan melangkah ke arah Angel. Semakin lama semakin dekat, sehingga berhasil membuat Angel cemas ketakutan. Berkali-kali di tegur Angel, Xavier sama sekali tidak berhenti mendekatkan wajahnya ke hadapan Angel.
"Xavier jangan macam-macam ya kamu. Jangan kurang ajar," ucap Angel gugup. Jantungnya berdetak sekian kali lebih cepat saat ini.
"Angel, mulai detik ini, kamu harus menyimpan namaku di hatimu. Kamu harus ukir dengan indah. Suka atau tidak. Cinta atau tidak. Aku gak mau tau. Yang jelas namaku harus ada di hatimu. Simpan di tempat terindah yang kamu miliki di sana. Kamu ngerti?" ucap Xavier mengintimidasi dengan tatapan dinginnya kemudian mengecup bibir manis yang Angel sekilas sebelum ia kembali berdiri dan meninggalkan Angel yang masih shock dengan kelakuan Xavier barusan.
"Huh..Huh..Huh.. Kenapa ini. Kenapa aku gak bisa melawan saat dia menatapku seperti itu. Dan apa? Kenapa dia memaksa aku untuk mengukir namanya di hatiku? Memang dia siapa?" Tanya Angel pada dirinya sendiri.
"Aku ini calon suami mu," sela Xavier yang tiba-tiba saja kembali ke dalam ruangan tersebut.
DEG
Angel kaget mendengar suara Xavier yang datang secara tiba-tiba.
Angel menatap Xavier yang sibuk memindahkan makanan yang sudah ia masak ke dalam tempatnya.
Tercium aroma yang begitu wangi dan menggugah selera.
"Xavier," panggil Angel tiba-tiba.
"Ya, kenapa?" jawab Xavier yang masih sibuk dengan aktifitasnya.
__ADS_1
"Kamu serius mau bertanggung jawab dengan anak kita?" tanya Angel tiba-tiba membuat Xavier menghentikan pekerjaannya dan beralih menatap Angel.
"Kalau aku gak serius. Aku gak akan berada disini untukmu dan juga Bulan," jawab Xavier menatap Angel.
"Tapi bagaimana jika kedua orang tuamu tak menyukaiku dan juga Bulan? Aku ini hanyalah wanita dari kelas bawah yang tak sebanding dengan kamu," tanya Angel yang masih menyembunyikan identitasnya.
"Kamu jangan bicara seperti itu. Aku akan perjuangkan kamu sekuat tenagaku. Dan aku yakin kedua orang tuaku pasti mau menerimamu dan juga Bulan. Nanti sore aku akan menemui kedua orang tuaku yang baru pindah ke Amerika juga. Aku akan menceritakan semuanya kepada mereka. Aku yakin mereka pasti akan mau menerimamu dan juga Bulan," ucap Xavier meyakinkan Angel.
"Xavier, sepertinya aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Tapi ingat, hanya satu kesempatan. Itu semua aku lakukan demi Bulan anak kita. Aku harap kamu gak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku gak akan segan untuk pergi jauh jika kamu berani menyakitiku dan Bulan lagi," ucap Angel membuat Xavier senang bukan kepalang.
"Ka.. Kamu serius Angel?" Tanya Xavier yang kini memegang kedua tangan Angel.
"Ya. Aku serius. Tapi untuk saat ini aku belum mencintaimu. Apa kamu masih mau hidup denganku?" tanya Angel tak membuat ekspresi Xavier berubah.
"Gak masalah. Aku tau bagaimana aku sebelumnya. Aku yakin, cepat atau lambat kamu pasti akan mencintaiku," jawab Xavier kemudian memeluk Angel.
Sedangkan saat ini Heru berada di apartemennya. Ia tengah sibuk mengobati lukanya sendiri.
Heru sangat tidak rela jika Xavier kembali dekat dengan Angel. Bagi Heru semua ini tidaklah adil. Selama ini Xavier selalu memberi luka dan air mata untuk Angel. Hanya dirinyalah yang selama ini memberi support dan selalu berlaku baik kepada Angel.
Heru mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang untuk bertemu dengannya saat ia pulang ke tanah air nanti. Ia akan membuat rencana agar Xavier dan juga Angel tidak bisa bersama kembali.
.
.
.
Saat ini kedua orang tua Angel telah sampai di Amerika. Mereka baru saja menginjakkan kakinya di depan pintu apartemen miliknya yang dihuni oleh putrinya.
__ADS_1
Waktu di tanah air, sore itu mereka sedang bersantai menikmati kopi dan teh dengan goreng singkong buatan mama Mayang di teras rumahnya.
Tiba-tiba pasangan suami istri itu kedatangan tamu yang tak lain adalah Xavier. Xavier pun turun dari mobilnya dan menyalami kedua orang tua Angel.
"Maaf Om, Tante, saya mengganggu waktu santai Om, sama Tante. Tapi maksud kedatangan saya kesini mau membicarakan sesuatu tentang Angel Om, Tante,"
"Tentang Angel?" tanya Mayang penasaran.
"Iya Tante," jawab Xavier menunduk.
"Ya sudah, mari kita bicara didalam. Mama tolong buatkan nak Xavier teh atau kopi ya," pesan Derry lalu mereka masuk kedalam rumah dan duduk diruang tamu rumah sederhana itu.
Tak berapa lama kemudian, Mayang datang dengan membawakan teh untuk Xavier.
"Minum dulu nak," ucap Derry kepada Xavier.
"Makasih Om, Tante," ucap Xavier sungkan.
"Ya sudah, nak Xavier mau bicara apa?" tanya Mayang lembut.
"Begini Tante, Om. Sebelumnya saya minta maaf sebelumnya. Saya mau bilang kalau saat ini Angel sudah memiliki anak dan anak Angel itu adalah darah daging saya sendiri. Saya tau Om dan Tante pasti marah dan kecewa, tapi ini semua bukan salah Angel Tante. Ini murni kesalahan saya. Waktu itu saya dan Angel makan di cafe, namun entah mengapa setelah makan dan minum di cafe tersebut, tiba-tiba badan saya panas dan terjadilah hal yang tidak diinginkan itu. Tapi Om dan Tante tidak usah khawatir, disini saya mau bertanggung jawab atas kelakuan saya ini," jelas Xavier berbohong.
Awalnya ia ingin bicara sejujur-jujurnya. Namun entah kenapa setelah melihat mimik wajah dingin Derry tiba-tiba nyalinya tiba-tiba menjadi ciut.
"A.. Apa? Angel sudah memiliki anak? Tidak. Tidak mungkin," ucap Mayang kaget.
"Kamu jangan bercanda nak. Ini sama sekali tidak lucu," ujar Derry tak kalah kagetnya.
"Maaf Om, Tante. Saya tidak bercanda. Ini memang benar adanya. Angel memang sudah memiliki anak. Saya mohon Om, sama Tante jangan menyalahkan Angel. Jika Om sama Tante marah, maka pukul saja saya. Jangan Angel," mohon Xavier yang kini sudah bersujud di kaki Derry.
__ADS_1
"Xavier berdirilah. Saya sebagai orang tua Angel sangat shock dan kaget. Saya juga kecewa atas ini semua. Karena kamu tadi mengatakan jika kamu di jebak, maka saya akan mencoba memaafkan mu, tapi apapun yang terjadi kamu harus bertanggung jawab kepada anak dan cucu saya," ucap Derry dingin.