Takdir Yang Merubah Si Gadis Culun

Takdir Yang Merubah Si Gadis Culun
Episode 47


__ADS_3

"Kau? Darimana kau mengetahuinya? Semua itu hanya fitnah Xavier. Itu tidaklah benar," ucap Ana berbohong.


"Fitnah atau tidaknya, aku sama sekali tidak peduli," jawab Xavier kemudian meninggalkan Ana yang masih terjerembab di lantai teras rumahnya.


***


"Xavier jangan pergi," teriak Ana dengan kesal.


Meski Ana berkali-kali memanggilnya, tapi Xavier sama sekali tidak memperdulikannya.


"Aaaaa sial. Kurang ngajar kau Angel. Lihat saja, aku pasti akan membalas semua perlakuan mu pada ku," gumam Ana lalu berdiri dan pergi dengan membawa kopernya yang baru saja di taruh Xavier di depan pintu rumah mewah itu.


Ana pin akhirnya bangkit dan pergi meninggalkan kediaman Xavier dam juga Ana dengan kesal. Mantan kekasih Xavier itu benar-benar bingung harus pergi kemana saat ini.


"Apa aku ke rumah orang tua Heru saja ya," gumam Ana yang berniat memberhentikan sebuah taksi.


Satu jam kemudian, Ana akhirnya tiba di rumah keluarga Heru. Ia kemudian membunyikan bel, dan beberapa saat kemudian pintu pun di buka kan oleh mama nya Heru.


"Ana?" ucap Mama Heru yang kaget akan kedatangan Ana.


"Tante," jawab Ana bingung harus berkata apa.


"Ada apa?" tanya Mama Heru heran.


"Saya.. Saya..," ucap Ana kemudian berpura-pura pingsan agar bisa masuk dan istirahat di rumah mewah itu.


Panik karena tiba-tiba Ana pingsan, Mama Heru langsung memerintahkan satpam untuk mengangkat Ana dan membawanya ke kamar tamu rumah itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Ana pun sadarkan diri. Saat Ana telah sadar, asisten rumah tangga yang di tugaskan untuk menjaga Ana pun langsung memanggil Mamanya Heru.


"Ana kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Mamanya Heru menatap Ana.


"Ti.. Tidak Tante. Aku hanya kelelahan dan juga lapar. Aku baru saja pulang dari Amerika. Tapi setibanya disini, Xavier menyuruh pihak apartemen untuk mengusirku karena memang apartemen yang aku tinggalin itu miliknya. Kemungkinan Xavier di hasut oleh Angel istrinya Tante. Aku benar-benar bingung dan tidak tau harus pergi kemana lagi," jawab Ana mengeluarkan air mata buayanya dan memfitnah Angel.


"Memang kurang ajar wanita pembawa sial itu," ucap Leni mamanya Heru.


"Iya Tante. Bahkan tadi Angel mengusirku dari rumahnya dengan cara mendorongku. Padahal aku hanya ingin bertemu dengan Xavier untuk mengucapkan terima kasih karena dia telah meminjamkan apartemennya kepadaku selama ini. Tapi bukannya bertemu dengan Xavier, Angel malah menghina dan mengusirku dari rumahnya," bohong Ana dengan pura-pura menangis.


"Ya sudah. Kamu jangan menangis lagi. Kamu gak usah memikirkan tempat tinggal lagi. Mulai sekarang kamu tinggal di rumah ini saja. Anggap saja saya ini orang tua kandung kamu dan ini rumah kamu sendiri. Jika kamu mau bekerja, saya akan memasukkan kamu di kantor suami saya," ucap Leni yang termakan ucapan bohong Ana.


"Benar Tante aku boleh tinggal disini?" tanya Ana masih tak percaya.


"Iya. Dan mulai sekarang jangan panggil saya ini Tante. Kamu panggil saya Mama. Mulai hari ini kamu akan saya angkat menjadi anak saya. Hitung-hitung untuk menghilangkan rasa sepi saya karena kehilangan Heru, anak tunggal saya," jawab Leni kembali mengingat putra kesayangannya.


"Makasih Tante, eh Ma. Ana senang sekali," ucap Ana mempererat pelukannya.


Akhirnya Ana pun tinggal di rumah keluarga Heru. Tak hanya itu, Ana juga bekerja di perusahaan farmasi milik keluarga mendiang Heru.


Hari demi hari berlalu. Tepatnya hari ini adalah hari sidang pertama bagi Angel dan juga Leni, mamanya Heru. Wanita itu tetap bersikeras mengklaim jika Bulan adalah darah daging Heru.


Hasil keputusan sidang mengatakan jika Bulan harus di tes DNA, dan masing-masing keluarga pun menyetujuinya.


"Aku takut sekali Xavier," ucap Angel saat berada di mobil menuju rumahmya.


"Kami tenang saja ya sayang. Bulan itu anak kita, darah dagingku. Aku janji akan mengawal kasus ini sampai selesai," jawab Xavier menenagkan istrinya.

__ADS_1


Berbeda dengan Angel dan juga Xavier. Setibanya di rumah, Lena mendapatkan panggilan telepon dari kakaknya yang berada di luar kota jika sang ibu atau nenek dari Heru kbali masuk rumah sakit. Mau tidak mau, Leni harus pergi ke luar kota meninggalkan Ana dan juga suaminya Derry.


Saat Derry baru saja pulang dari kantornya, ia yang sudah mengetahui jika sang istri telah berangkat dari siang itu sengaja membeli makanan di luar dan membawanya pulang ke rumah.


Saat Derry telah tiba di rumah, laki-laki paruh baya itu berniat untuk menyantapnya selagi masih hangat.


"Pa, Papa sudah pulang?" sapa Ana yang kebetulan sedang membuat mie goreng untuk mengisi perutnya.


"Sudah. Kamu masak apa Ana?" tanya Derry sambil mengambil minuman yang ada di dalam kulkas.


"Ini.. Ana lagi masak mie buat makan. Di luar hujan deras, jadi Ana males untuk keluar," jawab Ana yang menggunakan tank top hitam dan hot pant sangat pendek. Pakaian yang Ana gunakan sangat ketat, sehingga setiap lekukan tubuhnya yang seksi tercetak jelas di balik tank top hitam tersebut. Tak hanya itu, celana pendek yang ia gunakan juga terlalu pendek, sehingga kaki jenjang dan paha mulusnya terpampang begitu saja. Ditambah lagi dengan rambut yang di ikat gulung menambah keseksian Ana dengan leher jenjang yang putih mulus.


Melihat pemandangan indah di depan mata, sontak hasrat laki-laki paruh baya itu menjadi tergoda dan bangkit bergairah.


Derry kemudian menghampiri Ana dan membuka percakapan yang lebih panjang agar dirinya dan anak angkatnya itu bisa lebih dekat.


Saat Ana mengaduk mie goreng buatannya, Derry sengaja menumpahkan minuman yang ia pegang tepat di dada montok milik Ana. Sontak Ana kaget dan terpekik karena merasakan air itu masuk ke dalam gunung kembarnya dan memberikan sensasi dingin.


"Ma.. Maaf Ana. Papa tidak sengaja," ucap Derry yang juga pura-pura kaget sambil mengibas-ngibaskan tangannya guna membersihkan sisa air yang sengaja ia tumpahkan itu.


Beberapa saat kemudian, Derry berpura-pura sadar akan kelakuannya yang sudah lancang menyentuh aset berharga milik Ana tersebut.


"Ma.. Maaf Ana. Papa gak sengaja. Papa reflek dan juga kaget. Papa benar-benar tidak punya maksud apa-apa. Sekali lagi maaf Ana.. Maaf," ucap Derry berpura-pura.


"Sudah.. Sudah.. Gak papa kok pa.. Papa gak usah sungkan seperti itu," jawab Ana yang tidak marah sama sekali.


"Jangan marah ya Ana.. Papa benar-benar minta maaf. Papa mohon jangan beri tahukan mamamu ya," ucap Derry masih berpura-pura merasa bersalah.

__ADS_1


"Udah pa.. Udah.. Ana gak bakal ngaduin sama mama kok.. Papa tenang ya.. Ana sama sekali gak marah kok," jawab Ana yang mempunyai rencana licik.


"Makasih Ana.. Tapi kamu benar-benar tidak marah kan?" tanya Derry sekali lagi.


__ADS_2