
"Sudah satu bulan lebih Angel tidak menghubungiku. Apa dia baik-baik saja. Atau jangan-jangan Angel sudah melahirkan dan terlalu sibuk mengurus bayi yang baru lahir itu. Angel di sana kan sendirian," Xavier mencoba menebak berbagai kemungkinan yang bisa terjadi kepada Angel.
"Aaarrrggghhhhhh," teriak Xavier frustasi.
***
Setelah merasa jiwanya tenang, Xavier kembali menghubungi Angel. Ia masih berharap Angel akan mengangkat panggilannya, walau pun hanya sebentar saja.
Benar saja, setelah beberapa kali berjuang, Angel akhirnya menjawab panggilan telpon dari Xavier.
Angel yang tengah belanja itu sangat risih karena dari tadi Xavier selalu menghubunginya. Heru yang dari tadi menemani Angel menyarankan agar Angel mengangkat panggilannya.
"Halo," jawab Angel singkat.
"Halo Angel. Kamu kemana saja. Sudah sebulan lebih aku tidak mendengar kabarmu dan juga kabar anak kita. Angel bagaimana keadaanmu? Bagaimana keadaan anak kita? Apa kalian baik-baik saja?" tanya Xavier dengan banyak pertanyaan.
"Xavier aku baik. Kandunganku juga baik. Xavier aku minta maaf, aku harap kamu tidak menghubungiku lagi. Aku ingin fokus dengan kehamilan dan persalinan ku," ucap Angel berterus terang.
"Angel kamu bicara apa? Bagaimana aku bisa berhenti menghubungimu, sedangkan kamu tengah mengandung anakku, ujar Xavier yang saat ini sedang lembur dikantornya. (Kalau di Amerika masih siang ya reader. Sedangkan Xavier menghubungi Angel pada saat jam lemburnya, yaitu pada malam hari)
"Xavier aku tau ini darah daging mu. Aku pasti akan mempertemukan mu dengannya suatu saat nanti. Tapi kali ini saja aku mohon, stop hubungi aku dulu. Aku janji, jika anak ini telah lahir, aku akan memberi tahukan kepada mu," ucap Angel memohon.
"Angel, kenapa kamu sebegitu inginnya aku tidak menghubungi mu?" tanya Xavier penasaran.
"Aku gak tau. Pokok nya aku gak ingin kamu menghubungiku dulu. Anggap aja ini permintaan dari calon anakmu," jawab Angel kesal.
Entah mengapa , semenjak Xavier kembali datang kedalam kehidupan Angel, ia merasa muak mendengar suara Xavier dan berharap Xavier tidak lagi menelpon atau mengiriminya pesan.
Entah karena bawaan bayinya atau memang Angel nya saja yang masih sakit hati kepada Xavier.
Setiap mereka melakukan panggilan telpon, ataupun panggilan suara, Angel begitu sangat terpaksa untuk mengangkat panggilannya. Hanya saja Angel teringat saat pertama kali Xavier menghubunginya. Waktu itu Xavier meminta agar ia bisa berbicara dengan bayi yabg ada di kandungan Angel meskipun hanya lewat panggilan vidio.
__ADS_1
"Apa ini benar kemauan anak kita?" tanya Xavier penasaran
"Aku gak tau. Intinya, aku gak mau mendengar suara kamu. Aku mohon Xavier, stop hubungi aku," ucap Angel kemudian mematikan panggilan telponnya.
"Sudah?" tanya Heru yang sedari tadi sibuk memilih pakaian bayi.
"Iya. Sudah," jawab Angel. Ia kemudian memasukkan ponselnya kembali kedalam tas yang dibawa nya.
"Ya sudah, ayo kita pilih-pilih lagi," ajak Heru untuk memilih pakaian bayi buat Angel.
.
.
Xavier merasa lega karena telah mengetahui kabar Angel dan juga kandungannya.
Xavier kembali mengambil mengambil ponsel yang ada di meja kerjanya, lalu mengirimkan pesan singkat kepada Angel.
Xavier kemudian memilih untuk menyudahi seluruh aktivitasnya hari itu.
.
.
Berbeda dengan Angel dan juga Heru, mereka kini tengah makan di sebuah cafe tepi jalan yang ada di pusat kota tersebut.
Angel mengambil ponsel di tasnya dan membuka pesan dari Xavier. Saat membaca pesan dari Xavier, Angel menjadi termenung dan menarik perhatian Heru.
"Siapa Njell? Kok muka nya di tekuk begitu?" tanya Heru penasaran.
"Gak papa kok kak, Aku baik-baik saja," jawab Angel singkat. Ia menyimpan kembali ponselnya dan melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Njell, kalau kamu ada masalah, jangan sungkan untuk menceritakannya kepadaku. Aku akan selalu ada untuk mu. Apa pun keadaannya," ucap Heru memegang tangan Angel.
"Makasih kak. Aku bersyukur karena kakak selalu ada untukku. Aku gak tau bagaimana nasibku jika kakak tidak ada untukku," balas Angel berterima kasih.
Sejak Angel memutuskan untuk pindah ke Amerika, Heru lah orang yang selalu rajin mengunjunginya satu kali dalam sebulan meskipun Heru sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Maka dari itu Angel tidak mengizinkan Xavier untuk menemaninya saat bersalin nanti, karena Heru pasti akan kecewa dengan keputusannya.
Saat sedang makan, tiba-tiba perut Angel sakit dan ketubannya tiba-tiba saja pecah.
"Angel kamu akan melahirkan, Ayo kita segera ke rumah sakit," ucap Heru segera memapah Angel menuju mobilnya. Beberapa pengunjung cafe tersebut pun membantu Heru memapah Angel menuju mobilnya.
"Auuu kak sakit," lirih Angel menahan sakit. Keringat dan air matanya bercampur aduk menjadi satu.
"Tahan ya Njell, sebentar lagi kita sampai kok," jawab Heru yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sementara Xavier yang saat ini tengah beristirahat tiba-tiba merasakan kram yang teramat sangat sakit di bagian perutnya.
"Awww, kenapa perutku tiba-tiba sakit seperti ini?" tanya Xavier pada dirinya sendiri sambil memegangi perutnya yang sangat sakit.
"Angel? Kenapa aku tiba-tiba terpikirkan Angel? Apa dia baik-baik saja?" gumam Xavier di tengah rasa sakitnya.
"Awwwww sakit," teriak Xavier yang merasakan perutnya semakin sakit. Saat ini keringatnya sudah keluar membasahi. Dinginnya AC kamar, tidak mampu menahan keringat yang hampir membasahi bajunya tersebut.
Tiga puluh menit lebih Xavier merasakan sakit di bagian perutnya, tiba-tiba saja sakit itu hilang secara mendadak.
"Aneh, kenapa sakitnya tiba-tiba hilang ya?" gumam Xavier yang tak lagi kesakitan.
Disaat sakit perut Xavier telah hilang, disaat itu jugalah buah hati nya telah lahir ke dunia dengan selamat. Sosok bayi mungil yang sangat cantik seperti Ibunya Angel. Bisa jadi sakit perut Xavier menjadi bukti kalau kuatnya ikatan batin antara ayah dan anak yang baru saja lahir tersebut.
Heru yang merasa lega saat mendengar tangisan bayi dari dalam ruang bersalin rumah sakit tersebut. Ia turut bahagia, karena Heru mengikuti tumbuh kembang bayi tersebut dari awal Angel hamil sampai saat ini.
__ADS_1
Saat Angel dan bayinya sudah dibersihkan, dokter pun mengizinkan Heru untuk masuk kedalam ruangan bersalin tersebut.