
Xavier memang cemburu kepada Heru, tapi mau tidak mau ia harus menepis dulu rasa kecemburuannya itu.
***
Xavier memutar alih mobilnya kembali ke apartemennya. Ia akan menyusun sebuah rencana untuk menemui Angel dan juga anaknya.
"Kali ini aku gak akan melepaskan mu lagi Angel. Kamu dan anak kita akan hidup bahagia menjadi sebuah keluarga yang utuh," gumam Xavier sambil menyetir mobilnya.
Sesampainya di apartemennya, Xavier terus memikirkan cara bagaimana cara untuk mengatur pertemuannya dengan Angel. Pertemuan yang seolah-olah menjadi pertemuan tanpa di sengaja nya.
Sedangkan Angel yang baru saja sampai di apartemennya, sedang sibuk mengganti popok bayinya. Saat Angel sudah selesai mengganti dan menidurkan bayinya, ponsel Angel pun berdering. Di sana tertulis jika yang menghubunginya adalah Xavier.
"Halo," jawab Angel malas.
"Halo Angel. Kamu kemana aja? Aku sangat mencemaskan kamu. Bagaimana kabarmu? Apa bayi kita telah lahir?" tanya Xavier pura-pura cemas.
"Aku baik-baik saja. Dan aku baru saja pulang dari rumah sakit karena baru saja melahirkan," jawab Angel ketus.
"Kamu sudah melahirkan? Kenapa kamu tidak memberi tahukannya padaku? Lalu bagaimana dengan anak kita? Apa dia seorang laki-laki atau perempuan?" tanya Xavier antusias.
"Keadaannya baik. Dan jenis kelaminnya perempuan. Dia sangat mirip denganmu, tetapi tetap cantik," jawab Angel.
"Apa.. Apa aku boleh bertemu dengannya? Kamu di negara apa? Biarkan aku menyusul mu ke sana," tanya Xavier sangat berharap.
"Maaf Xavier, aku belum bisa. Memang kamu sekarang lagi dimana?" tanya Angel berpura-pura.
"Aku.. Aku di Amerika. Jika kamu tidak keberatan aku akan pergi menemui mu. Kamu tinggal katakan saja di negara mana kamu saat ini," ujar Xavier.
"Aku di Kanada. Kamu tak usah menemui ku. Nanti aku akan kirimkan foto bayi ini kepadamu," ucap Angel sambil mengelus kepala putrinya.
"Ya sudah. Aku akan menunggu sampai kamu mau menemui ku. Aku akan selalu berdoa jika tuhan kembali mempertemukan kita," ujar Xavier tersenyum lebar.
"Terserah kamu saja," balas Angel singkat.
"Oh ya Angel, kalau aku boleh tau, siapa yang menemanimu saat melahirkan waktu itu. Lalu siapa yang menjagamu saat ini?" tanya Xavier pura-pura tidak tahu.
"Tidak ada. Aku hanya sendiri. Aku bisa sendiri,* jawab Angel gugup.
"Benarkah?" tanya Xavier tidak percaya.
__ADS_1
"I.. Iya benar. Memang kenapa? Kamu tidak percaya?" Tanya Angel balik.
"Aku percaya," jawab Xavier berbohong.
"Ya udah aku tutup dulu ya," ujar Angel.
"Angel tunggu, bisakah kamu mengirimkan foto anak kita? Aku mohon," ucap Xavier saat panggilan telponnya hampir dimatikan Angel.
"Ya, baiklah," balas Angel setelah berpikir sejenak, lalu mematikan panggilannya.
Tak lama kemudian pesan yang berisi foto bayi mereka sampai ke ponsel pintar milik Xavier. Dengan cepat Xavier membuka pesan tersebut dan melihat foto bayi mungilnya.
"Cantik sekali. Mirip dengan mu Angel," gumam Xavier mengelus foto bayi mungil yang ada di ponselnya.
Tak terasa Xavier pun ketiduran saat ia tengah menatap foto bayi mungilnya itu.
Sedangkan Angel yang kini sudah menjadi ibu tengah sibuk dengan bayi mungilnya. Saat bayi mungil itu tidur, ponsel Angel berdering dan di sana tertulis nama Mama.
"Halo ma?" ucap Angel saat telpon itu di angkatnya.
"Njell, besok papa sama mama akan ke Amerika mengunjungi mu. Sudah lama sekali kami tidak memelukmu sayang," ucap mama Angel
"Memang kenapa sayang? Gak ada yang kamu sembunyikan dari mama sama papa?" tanya Mayang, mamanya Angel.
"Ah..? Sembunyikan? Gak kok ma. Angel cuma kaget aja ma, kok dadakan gitu lo," jawab Angel gugup.
"Kebetulan papa akan meninjau langsung perusahaannya yang ada disitu sayang. Jadi sekalian aja mama sama papa kunjungi kamu sayang," jelas Mayang.
"Ya udah deh ma. Nanti kalau mama udah nyampe bandara kabari Angel ya. Nanti takutnya Angel gak ada di apartemen gitu," balas Angel.
Ya sudah, kalau gitu mama tutup dulu ya sayang," pamit Mayang lalu mematikan ponselnya.
"Aduh. Gimana ini? Apa sudah waktunya memberitahukan semuanya kepada mama dan juga papa," gumam Angel bingung.
"Angel, kamu kenapa?" tanya Heru yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam apartemen Angel. Mendengar suara Heru, Angel seketika tersadar dari lamunannya.
"Kak Heru? Kapan datang?" tanya Angel kaget.
"Baru saja. Kamu mikirin apa?" tanya Heru penasaran.
__ADS_1
"Besok kedua orang tuaku akan berangkat kesini kak. Aku berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan kepada mereka. Aku tau mereka pasti kecewa. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa kak," jelas Angel.
"Kamu tenang. Aku yakin setelah melihat putri kecilmu, pasti mereka tak akan marah. Dan misalkan kalau kamu keberatan memberi tahukan siapa ayah kandungnya, aku siap mengakui jika bayi cantik ini darah daging ku," ucap Heru menatap bayi cantik itu.
"Makasih kak. Tapi aku gak bisa korbankan kakak. Besok setelah mereka sampai, aku akan bilang jika ini adalah darah daging Xavier," jelas Angel membuat Heru sedikit kecewa.
Ia takut jika kedua orang tua Angel akan meminta pertanggung jawaban kepada Xavier. Heru takut jika mereka akan dinikahkan nantinya.
"Kamu yakin Njell? Bagaimana jika kamu dan Xavier dinikahkan nantinya?" tanya Heru penasaran dengan jawaban Angel.
"Aku belum kepikiran sampai kesitu kak. Yang jelas nanti aku akan bilang sama kedua orang tuaku jika ini adalah darah daging Xavier," ucap Angel mengulangi kata-katanya.
Nampak sekali raut kekecewaan di wajah Heru. Ia hanya bisa tersenyum kecut saat mendengar penjelasan dari Angel.
"Oh ya Njell, rencana kamu kasih nama siapa bayi ini?" tanya Heru mencairkan rasa kecewa di hatinya.
"Aku akan memberinya nama Bulan. Dia akan menjadi bulan yang selalu menerangi malam ku dan juga hari-hariku yang gelap ini," jawab Angel menatap putrinya yang sedang tertidur nyenyak.
"Bulan? Nama yang indah. Seindah wajahnya," ujar Heru menatap bayi mungil yang telah diberi nama Bulan.
"Makasih kak. Oh ya kakak udah makan?" tanya Angel kepikiran.
"Belum. Kamu sendiri?" Heru balik bertanya.
"Belum juga kak. Kita makan bareng yuk. Tapi makanannya kita pesan online aja, soalnya aku kan belum masak kak,* ucap Angel tersenyum,"
"Ya sudah. Kita akan memesan makanan online saja," balas Heru mengeluarkan ponselnya dan memesan beberapa makanan dan juga minuman untuk mereka berdua.
.
.
Saat ini Xavier sudah bangun dan kini ia telah berada di lobi apartemen tempat Angel tinggal. Niatnya sudah bulat untuk menemui Angel di unit apartemennya, meskipun ada sedikit rasa takut, tapi Xavier tetap yakin dengan keputusannya.
Saat Xavier menanyakan unit apartemen milik Angel, ada seorang kurir makanan yang lebih dahulu bertanya kepada resepsionis tersebut.
Saat Resepsionis itu menyebutkan nama Angel, ia jadi yakin jika yang memesan makanan tersebut adalah Angel. Ibu dari anaknya.
Setelah kurir tersebut mendapatkan informasi yang dicarinya, Xavier mengajak kurir tersebut untuk bicara dan memberikan beberapa uang kepadanya.
__ADS_1
Dan kurir itu memberikan makanan dan juga minuman yang ia bawa tadi.