
Mark bersama Todd baru saja menyelesaikan rapat dengan salah seorang klien di hotel. Mark berencana mampir sebentar ke apartemen untuk mengambil sesuatu ditemani oleh Todd.
"Besok kita harus mengecek proyek di kota X. Saya sudah memesankan tiket untuk keberangkatan malam ini," kata Todd.
"Bisakah ditunda? Sepertinya aku tidak bisa kalau malam ini," ujar Mark.
Ia berencana memberi hukuman pada Jessy yang sudah berani melanggar perintahnya. Ia tidak suka Jessy disentuh lelaki selain dirinya. Namun, melihat siang itu Jessy berpelukan bahkan berciuman dengan Justin membuat dadanya mendidih.
"Maaf, Pak. Tiket sudah terlanjur dipesan dan tidak bisa dibatalkan. Ada banyak orang penting yang besok akan hadir."
"Kalau begitu, mundurkan jadwalnya. Bisa besok pagi asalkan jangan malam ini!" pinta Mark.
Todd menggaruk kepalanya. Permintaan atasannya sungguh membuatnya pusing dan ia tetap harus mengusahakannya.
Klek!
Mark membuka pintu apartemennya. Suasana di dalam sana tampak rapi dan hening. Ia menjadi sedikit curiga.
"Jessy? Jessy ...."
Mark mulai memanggil-manggil wanitanya. Sama sekali tidak ada sahutan. Ia semakin curiga.
Mark mengecek ke dalam kamar yang biasa ditempati oleh Jessy. Kosong. Tidak ada seorangpun di sana. Di kamar mandi juga tidak ada siapa-siapa.
Mark membuka lemari pakaian. Seperti dugaannya, barang-barang milik Jessy sudah ada. Rasanya ia menjadi gila menyadari wanitanya telah pergi meninggalkannya.
Sorot matanya tertuju pada secarik kertas yang ada di atas nakas. Ia mengambil dan membacanya.
'Pak Mark, maafkan saya. Saya tidak bisa lagi meneruskan hubungan ini.'
Hanya pesan singkat yang Jessy tulis untuk Mark. Di bawah kertas itu terdapat selembar cek senilai 100 juta, nominal hadiah yang Jessy peroleh dari lomba.
"Hahaha ... Apa kamu pikir bisa lepas dariku hanya dengan 100 juta?" Mark terkekeh melihat apa yang Jessy tinggalkan untuknya.
"Jessy ...."
Teriakan Mark membuat Todd yang tadinya tengah duduk santai di ruang tamu langsung menghampiri Mark. "Ada apa, Pak?" tanyanya panik.
__ADS_1
Mark menoleh ke arahnya dengan sorot mata penuh kemarahan. "Todd, cari keberadaan Jessy sekarang juga!" perintahnya.
"Baik, Pak." Todd masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Cepat cari sekarang!" bentak Mark.
Todd segera berlari pergi. Ketika Mark menginginkan sesuatu, siapapun harus bergegas mendapatkannya.
Mark duduk di tepi ranjangnya. Ia mengusap kasar wajah seraya berusaha mengatur napas. Jessy benar-benar telah membuat kesabarannya habis.
***
Plak! Plak! Plak!
Tuan Wilson berkali-kali memberi tamparan kepada Justin. Ia sangat murka mendengar cerita cucu kesayangannya membawa wanita lain ke hadapan keluarga Russel.
"Dasar cucu tidak tahu sopan santun! Berani-beraninya kamu mempermalukan keluarga!" Tuan Wilson terus melampiaskan amarahnya dengan memukuli cucunya.
"Ayah, tolong hentikan! Kasihan Justin," pinta Magda. Bagaimanapun juga, ia tidak tega melihat Justin dipukuli apalagi oleh kakeknya sendiri.
"Aku juga melakukan ini karena kasihan pada masa depannya! Wanita seperti apa yang berani dia bawa tadi? Bisa-bisanya kamu membawa wanita pengemis kepada keluarga kita!" makian Tuan Wilson masih belum berhenti.
Plak!
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Justin.
"Jangan berani-beraninya kamu memuji wanita tidak layak itu di hadapanku!" bentak Tuan Wilson.
"Opa ... Biarkan aku menentukan jalan hidupku sendiri! Aku tidak mau dijodohkan!" Justin menegaskan keinginannya di hadapan sang kakek.
"Itu bisa terjadi kalau kamu bukan cucuku. Selama kamu menjadi cucuku, maka kamu harus mematuhi aturan dalam keluarga Wilson!" ucap Tuan Wilson.
"Justin, dengarkan kata-kata Opa. Semua kami lakukan untuk kebaikanmu sendiri," kata Magda.
"Bagaimana cara kita untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga Russel? Mereka pasti sangat kecewa kedangan kelakuan Justin." Nyonya Wilson terlihat muram memikirkan kelangsungan hubungan antara dua keluarga.
"Apapun yang terjadi, pernikahan itu tetap akan dilaksanakan. Suka atau tidak suka, Justin harus menikah dengan Ellena!"
__ADS_1
"Opa!"
Justin membantah perintah diktator kakeknya. Ia merasa tidak berkewajiban untuk menuruti kemauan keluarga yang bertentangan dengan hatinya.
"Kenapa, Justin? Kamu ingin membantah? Kalau begitu, keluarlah dari keluarga ini!" ancam sang kakek.
Justin mengepalkan tangannya. Ia belum yakin bisa bertahan hidup tanpa sokongan dari keluarganya.
***
"Bagaimana? Kita sudah sama-sama melawan mereka. Kita mau apa seterusnya? Apakah kita harus berhenti kuliah dan pergi jauh dari tempat ini?" tanya Jessy. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Justin.
Malam ini begitu sunyi. Justin dan Jessy duduk berdua di tengah semak-semak pinggiran kota sembari memandangi cahaya dari lampu-lampu gedung pusat kota.
"Aku mencemaskanmu, Justin," kata Jessy.
"Memangnya aku kenapa?" tanya Justin heran.
"Aku sudah biasa bekerja keras untuk bertahan hidup. Tapi kamu ... Jika kamu benar-benar keluar dari keluargamu, apa kamu akan sanggup bertahan? Berjuang sendirian itu sangat berat, Justin," kata Jessy.
Justin menggenggam tangan Jessy. Ia merasa sudah mantap untuk meninggalkan keluarganya. "Siapa bilang aku sendirian? Ada kamu kan yang akan berdiri di sampingku," katanya.
Jessy tersenyum. Jawaban Justin membuatnya lega. Ini adalah keputusan yang paling besar yang pernah ia ambil. Jessy telah keluar dari apartemen Mark dan bersiap memulai kehidupan barunya.
"Aku punya seorang teman di Kota J. Dia sama sekali tidak terhubung dengan keluargaku. Kita bisa tinggal di tempatnya sementara sampai kita bisa mendapatkan tempat tinggal sendiri," kata Justin.
"Kapan kita pergi ke sana?"
"Dua hari lagi kita akan pergi. Aku sudah memesankan tiket."
"Keluargamu benar-benar rela melepasmu kan, Justin?" tanya Jessy memastikan.
"Iya. Kakekku bilang tidak apa-apa asal aku tidak menjadi cucunya lagi," kata Justin.
Jessy memandang wajah Justin dengan tatapan sendu. Ia merasa bersalah telah menjauhkan seorang anak dari keluarganya.
"Justin ...."
__ADS_1
"Jangan membuatku goyah lagi, Jess. Aku sudah memutuskan untuk keluar dari rumah. Aku lebih memilih hidup dengan wanita yang aku cintai apapun resikonya." Justin berkata dengan nada sungguh-sungguh.