Tangan Nakal Daddy

Tangan Nakal Daddy
Bab 43: Terkuak


__ADS_3

"Justin, dengar dulu ... Aku sudah berhenti karena aku salah."


"Jadi kamu mengakuinya, kan?"


Jessy terdiam. Justin benar-benar tidak percaya kekasihnya seperti itu.


"Mark itu pamanku yang juga ayahku, Jess ... Dimana pikiranmu?"


"Aku tidak tahu kalau dia ayahmu."


Justin benar-benar mau gila rasanya. Tatapan matanya terhadap Jessy kini penuh dengan kebencian. "Sudah berapa lama kalian berhubungan?"


Jessy menunduk.


"Jawab, Jess!" seru Justin dengan suara meninggi. Bahkan ucapannya menarik perhatian orang-orang yang berada di sekitar mereka.


"Beberapa bulan ini. Sejak aku di Inggris."


"Hahaha ... Jadi liburanmu waktu itu untuk menemui pamanku?"


"Ceritanya tidak sesederhana itu, Justin!"


Justin memberi tanda kepada Jessy agar berhenti bicara. Ia tidak ingin mendengar apa-apa lagi. Mengetahui Jessy mengkhianatinya membuat ia begitu sakit. Ia benar-benar percaya kepada Jessy, namun kepercayaannya dibalas dengan pengkhianatan yang menyakitkan.


"Bawa mereka!"


Di tengah perdebatan yang terjadi antara Justin dan Jessy, sekelompok orang datang mengepung mereka. Tanpa perlawanan, baik Jessy maupun Justin sama-sama pasrah saat mereka dibawa untuk memasuki mobil. Sudah sangat jelas jika mereka merupakan orang-orang yang dikirimkan oleh kakek Justin.


***


Srak!


Magda melemparkan setumpuk foto ke arah Mark dengan penuh emosi. Ia sangat ingin mengamuk mengetahui suaminya punya hubungan dengan wanita yang jauh lebih muda darinya. Apalagi wanita itu merupakan mahasiswanya sendiri dan juga pacar Justin.


Sementara Mark hanya terdiam dengan kebencian yang keluarga Wilson perlihatkan padanya. Ia juga tidak menyangka ada orang yang mengambil foto-fotonya bersama Jessy sewaktu di London.

__ADS_1


"Wanita itu benar-benar wanita murahan! Bukan hanya menggoda Justin tapi juga Mark," ucap Nyonya Wilson.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Mark!" Tuan Wilson sampai tidak sanggup berkata-kata. Tidak bisa dipercaya Mark bisa berselingkuh di belakang putrinya.


"Kenapa diam saja? Jelaskan kepada kami tentang foto-foto ini!" bentak Magda. "Katakan kalau foto-foto ini tidak benar, Mark!" lanjutnya.


"Tidak ada yang perlu aku jelaskan."


Mark tetap bersikap santai. Responnya semakin membuat Magda murka.


"Jadi, kamu mengakui semuanya?" tanya Magda.


"Iya."


"Kamu sudah punya istri, Mark! Tega kamu melakukan hal seperti itu!" Magda tak bisa menahan untuk tidak berbicara dengan nada tinggi.


Mark menatap Magda tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Mau bagaimana lagi? Aku memang mencintainya."


Plak!


"Antonio, kamu bereskan semua rumor yang beredar. Jangan sampai ada media yang membesar-besarkan beritanya. Tutupi dengan isu apapun asalkan keluargaku tidak tersorot!" pinta Tuan Wilson pada orang kepercayaannya.


"Baik, Tuan."


"Kamu sama sekali tidak ada rasa terima kasihnya kepada keluarga ini. Apa kamu lupa siapa yang dulu membantu perusahaan keluargamu agar tidak mengalami kebangkrutan?" Tuan Wilson membuka kembali cerita masa lalu.


"Aku tetap berterima kasih kepada keluarga Anda," sahut Mark.


"Hah! Kamu memang tipe anak yang sombong! Aku ingin melihat perjalananmu nanti tanpa dukungan keluargaku. Apa kamu masih bisa berbicara dengan penuh percaya diri seperti ini?" tantang Tuan Wilson.


"Sejak kapan keluarga Wilson peduli pada urusan pribadi? Bukankah kalian hanya memerlukan status pernikahanku untuk menjaga kestabilan bisnis? Apa salahnya kalau aku menyukai wanita lain? Sejak awal aku memang tidak menyetujui pernikahan itu." Mark menjawab perkataan Tuan Wilson dengan berani.


"Tutup mulutmu!" bentak Tuan Wilson. "Apa kamu tidak pernah kasihan pada Justin, anak kakakmu sendiri?"


"Kalau aku tidak peduli padanya, sudah lama aku tinggalkan pernikahan palsu ini."

__ADS_1


"Kami sudah menemukan mereka, Tuan."


Orang-orang suruhan Tuan Wilson datang membawa Justin dan Jessy ke sana.


Suasana semakin memanas. Jessy tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Mark di sana. Ia melihat mata-mata penuh kemarahan yang ditujukan padanya, terutama Ibu Magda yang tak mau memandang ke arahnya.


"Sepertinya cambukanku kemarin tidak membuat pikiranmu terbuka, Nona Jessy," ucap Tuan Wilson.


Jessy merinding. Ingatan rasa sakit yang dirasakan kemarin masih terasa sampai hari ini.


"Maksudmu apa menggoda dua lelaki dari keluarga kami? Sungguh sangat serakah ...." Tuan Wilson geleng-geleng kepala.


"Justin, apa kamu tahu bagaimana kelakuan wanita yang kamu bela sampai rela pergi dari rumah? Dia sudah tidur dengan ayahmu!" sindir Nyonya Wilson. "Kamu batalkan perjodohan dengan Ellena demi wanita seperti ini? Apa kamu sudah gila?"


"Masih mau kamu kabur dengannya, Justin!" bentak Tuan Wilson.


Justin hanya terdiam. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi akibat kekecewaan yang dirasakannya. Segala usaha yang selama ini ia lakukan terasa sia-sia.


"Justin, kalau kamu ingin pergi, pergilah! Aku akan menjamin tidak ada yang bisa menghalangimu untuk pergi," kata Mark.


Justin terkekeh. "Apa Uncle sedang melawak? Setelah mengencani pacarku bisa-bisanya berkata sesantai itu padaku."


"Dulu memang seperti itu. Tapi dia memilih pergi meninggalkanku karena mencintaimu dan ingin bersama denganmu." Mark berusaha membela Jessy. Ia tahu saat ini wanita itu sangat tertekan dengan kondisi yang tidak diinginkan.


"Penjelasan Uncle sama sekali tidak mengubah kenyataan kalau kalian pernah memiliki hubungan dan itu sangat menjijikan!" umpat Justin.


"Opa, aku muak berada di sini. Aku mau pergi!" Justin pergi begitu saja meninggalkan kediaman kakeknya. Ia sudah tidak mau melihat Mark ataupun Jessy.


"Ambilkan cambukku!" perintah Tuan Wilson.


Jessy gemetar takut terkena cambukan lagi. Tanpa diduga, Mark berdiri melindunginya.


"Kamu masih mau membelanya, Mark? Kamu tahu konsekuensinya?" tanya Tuan Wilson.


"Lakukan apa yang Anda mau, tapi jangan sakiti Jessy. Semua ini aku yang mau dan aku yang bersalah. Dia hanya tergoda rayuanku dan uangku."

__ADS_1


Jessy terkejut mendengar ucapan Mark. Lelaki itu mengatakan hal yang bertentangan dengan kenyataan seolah ingin melindunginya. Sejak awal dia memang yang telah bersalah karena telah menggoda Mark.


__ADS_2