
Flash back
5 tahun yang lalu
"Bagaimana ini, Pak? Tuan Wilson meminta Anda turun dari jabatan presdir?" tanya Todd.
Mark masih fokus memandangi gelas anggur yang ada di tangannya. Riuhnya klab malam itu sama sekali tidak membuatnya tertarik untuk menikmati alunan musik.
Masalah besar benar-benar terjadi setelah pengakuan yang dilakukannya tentang Jessy. Berita tidak sampai tersebar meluas karena kompetensi anak buah Tuan Wilson yang sigap menghentikan rumor. Koneksi mereka sangat kuat dan ada di mana-mana. Ia bahkan terusir dari perusahaan kerjasama milik kakaknya.
"Berikan saja apa yang mereka inginkan. Sejak awal aku memang tidak memiliki apa-apa di sini," kata Mark pasrah. Diteguknya wine dalam gelas hingga tak bersisa. Ia mengisi kembali gelasnya dengan wine yang tersisa dalam botol.
"Apa kita akan kembali ke Inggris?" tanya Todd.
Mark merasa berat untuk menjawabnya. Sebenarnya ia ingin tetap berada di sini dengan alasan Jessy. Namun, wanita itu memilih pergi demi keponakannya.
"Berkas perceraian sudah selesai diurus oleh keluarga Wilson. Nyonya Magda ingin mengakhiri hubungan pernikahan dengan Anda. Tinggal Anda perlu menandatangani untuk menolak atau menyetujuinya."
Mark tersenyum. Ia meneguk kembali anggur digelasnya dalan sekali tegukan.
Perceraian memang hal yang dia inginkan sejak dulu. Namun, menghadapi perceraiannya dengan Magda ternyata tidak mudah. Ibunya sampai jatuh sakit karena perusahaan keluarga mendapat guncangan yang hebat. Keluarga Wilson memprofokasi rekan bisnis ibunya untuk mengakhiri kerjasama.
Satu minggu setelah kejadian itu benar-benar memberikan pukulan berat dalam kehidupannya. Sang ibu berharap ia tidak bercerai dengan Magda. Bagaimanapun caranya, sekalipun harus berlutut, Mark diminta merayu Magda agar mencabut gugatan perceraian.
Mark sama sekali tidak ada keinginan untuk mempertahankan pernikahannya. Ia tidak mencintai Magda. Sekalipun ia harus menikah, ia hanya menginginkan Jessy. Sayangnya, Jessy lebih memilih sepupunya.
"Persiapkan keberangkatan kita ke London dalam minggu ini, Todd. Aku juga akan menyelesaikan masalah perceraian itu secepatnya," kata Mark. Ia merasa keputusannya kali ini adalah yang terbaik.
"Apa Anda yakin?" tanya Todd memastikan.
Mark mengangguk. "Kita urusi kembali pekerjaan yang terbengkalai di sana. Aku membutuhkan bantuanmu."
"Saya akan terus berada di sisi Anda, Pak."
Mark melanjutkan minumnya. Sedikit mabuk ia rasa baik untuk melupakan masalah berat yang dihadapinya. Todd hanya mendampingi atasannya tanpa ikut minum karena setelah ini harus mengemudikan mobil untuk Mark yang ingin mabuk.
"Pak, saya pergi ke toilet sebentar," izin Todd.
"Ya, pergilah!" Mark memberi kode dengan gerakan tangannya.
"Anda jangan kemana-mana, saya hanya akan pergi sebentar."
__ADS_1
"Hahaha ... Kamu seperti seorang pacar yang takut aku tinggalkan. Pergilah!" perintah Mark.
Todd bergegas pergi ke toilet sementara Mark masih melanjutkan minumnya.
Suasana tempat hiburan malam itu semakin lama semakin banyak pengunjung. Para wanita mengenakan pakaian-pakaian se ksi dan terbuka untuk merayu lelaki. Namun, tidak ada satupun yang menarik perhatiannya.
Sampai ketika sudut matanya menangkap sosok orang yang dikenal di sana. Ia sampai memicingkan mata untuk memastikan hal yang dilihatnya benar.
"Justin?" gumamnya.
Rasanya tidak mungkin Justin ada di sana. Anak itu sudah tidak pernah pulang ke rumah. Mark yakin Justin pergi menyusul Jessy ke suatu tempat yang telah mereka sepakati.
Justin tampak datang bersama kedua temannya. Mereka tertawa-tawa bahagia layaknya anak muda pada umumnya. Mark semakin penasaran dan ingin menghampirinya.
"Justin?"
Saat mendengar suara yang ia kenal, raut bahagia Justin langsung berubah murah. Ia sama sekali tidak menyukai kehadiran pamannya di sana.
"Selamat malam, Om," sapa Dion dan Benny melihat kehadiran Mark di sana. Mereka tampak canggung menyapa ayah Mark yang masih kelihatan muda.
"Selamat malam, kalian pasti teman-teman Justin, ya?" tanya Mark.
"Iya, Om, benar. Kami teman Justin," jawab Dion.
"Ah, tentu saja. Silakan, Om," jawab Dion lagi.
"Kalau begitu, kita mau joget dulu di tempat DJ. Ayo, Dion!" Benny buru-buru menarik tangan Dion agar pergi dengannya. Mereka tidak ingin terlibat dalam permasalahan keluarga Justin.
"Itu beneran ayah Justin, ya? Gila, masih muda banget," guman Dion dengan suara lirih namun masih bisa terdengar oleh telinga Mark.
"Hust! Jangan bicara seperti itu!"
"Kasihan Justin, dia pasti sangat depresi pacarnya ditiduri ayahnya sendiri."
"Sudah aku bilang jangan bicara!" Benny menyeret Dion agar mempercepat langkah menjauh dari sana.
Justin hanya terdiam dengan raut wajah muram sembari memutar-mutar gelasnya.
"Justin ...," panggil Mark. Ia menarik aatu kursi dan duduk di samping keponakannya.
"Apa lagi yang Uncle inginkan dariku?" Justin berbicara dengan nada dingin.
__ADS_1
"Kamu ... Tidak menyusul Jessy?" tanya Mark.
"Cih! Menyusul Jessy?" Justin terkekeh. Mendengar kembali nama Jessy disebut membuatnya merasa sakit hati.
"Bukankah kalian sudah sepakat akan pergi bersama? Jessy telah berangkat duluan untuk menunggumu di sana. Dia pasti masih mengharapkan kehadiranmu."
Justin langsung menoleh ke arah Mark dengan tatapan tajamnya. "Apa Uncle sedang meledekku? Haruskah aku menyusul wanita yang sudah kamu tiduri?"
Mark kaget dengan respon Justin. "Aku kira kamu juga mencintai Justin sebesar dia mencintaimu. Ternyata kamu tidak benar-benar mencintainya."
"Aku sangat mencintainya!" teriak Justin dengan penuh emosi. "Aku sangat mencintainya sebelum Uncle menghancurkan semuanya. Aku sangat mencintainya sebelum aku tahu hubungan yang menjijikan di antara kalian." mata Justin berkaca-kaca. Rasa terkhianati masih begitu menyiksa dirinya.
"Justin, maafkan Uncle. Aku tidak bermaksud ...."
Mark mencoba merangkul pundak Justin, namun tangannya ditepis keras.
"Baiklah, kamu memang orang yang keras kepala dan tidak mau mendengar penjelasan orang lain." Mark terlihat pasrah untuk memperbaiki hubungan dengan Justin.
"Kamu kira kesalahan hanya ada pada Uncle dan Jessy? Kamu sebagai pacarnya ada dimana sampai Jessy mau menyerahkan tubuhnya pada Uncle?" sindir Mark.
Justin mengeratkan genggaman tangannya pada gelas. Ia meneguk kasar minuman di dalam gelasnya.
"Wajar Jessy berusaha mendapatkan uang sendiri. Dia memiliki pacar yang pemikirannya masih kekanak-kanakkan dan hanya mengandalkan kemayaan orang tua."
"Bang sat!" Kesabaran Mark habis. Ia melayangkan sebuah tinju kepada pamannya sendiri.
Mark menyeringai. "Hanya sebatas ini usahamu untuk melampiaskan kemarahan? Kamu hanya ingin marah untuk menutupi ketidakberdayaanmu sendiri."
"Tutup mulutmu!"
Justin kembali menghajar Mark secara bertubi-tubi. Ucapan Mark sangat memprovokasi hingga kesabarannya hilang.
Teman-teman Justin berlarian mendekat dan menahan agar Justin berhenti memukuli pamannya sendiri. Sementara, Todd yang baru keluar dari toilet sangat terkejut dengan kondisi atasannya. Ia membantu Mark berdiri.
"Anda baik-baik saja?" tanya Todd khawatir.
"Aku baik-baik saja," jawab Mark agar Todd tidak mencemaskannya. Ia memang sengaja diam agar Justin puas melampiaskan kekesalannya.
"Enyah kamu dari sini!" bentak Justin.
"Jangan menyesal dengan keputusanmu, Justin. Aku anggap kamu sudah menyerah pada Jessy," kata Mark.
__ADS_1
"Ambil saja wanita murahan itu! Aku sudah tidak peduli lagi padanya!" ucap Justin. Ia kembali berusaha menghajar Mark, namun dicegah oleh Dion dan Benny.
Todd segera membawa Mark pergi dari sana. Suasana sudah sangat tidak kondusif dan banyak orang yang berkerumun. Ia khawatir akan menimbulkan rumor baru yang tidak baik.