
Pada akhirnya Jessy mengalah dan mau menikmati sarapan yang hampir terlewat bersama Mark. Ia ingin segera menyelesaikan makannya dan kemudian pergi dari sana. Zylan pasti sudah menantikan kepulangannya di rumah.
"Kenapa kamu terus berusaha menghindariku, Jessy?"
"Saya tidak punya alasan untuk menyapa Anda. Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa." Jessy berusaha mengabaikan perhatian yang Mark berikan padanya. Ia hanya fokus untuk menghabiskan makanannya.
Mark kehabisan kata-kata menghadapi Jessy. Padahal, ia ingin memperlakukan wanita itu dengan lebih baik dibandingkan dulu. "Apa yang semalam itu memang pacarmu?" tanyanya.
"Bukan!"
"Kamu pasti dalam masalah kalau yang semalam itu adalah pacarmu. Soalnya kamu menghabiskan malam dengan lelaki lain," ledek Mark.
Jessy memberikan lirikan tajam pada Mark. "Saya justru akan mendapat masalah dari keluarga Anda. Sama seperti dulu. Jadi, tolong berhenti ikut campur dalam kehidupan saya."
"Keluarga yang mana maksudmu?" Mark pura-pura tidak tahu.
Jessy gregetan dengan lelaki itu. "Siapa lagi kalau bukan keluarga Wilson!" kesalnya.
Mark terkekeh. "Sepertinya selama ini kamu tidak mencari tahu tentangku. Rasanya aku jadi sedikit kecewa. Padahal aku berharap kamu akan penasaran dengan kehidupanku selama ini," katanya.
"Ck! Untuk apa penasaran dengan kehidupan orang lain?" Menurut Jessy itu tak masuk akal.
"Kamu benar," gumam Mark. "Tapi, aku menyesal tidak melakukannya. Seharusnya aku lebih cepat datang dan menemukanmu."
"Aku kira Justin akan menyusulmu. Ternyata anak itu malah ...." Mark tidak melanjutkan kata-katanya. Ia kecewa dengan sikap Justin meskipun juga tidak bisa menyalahkan keponakannya itu. Kalau tahu Justin akhirnya mau menerima perjodohan, Mark pasti akan membawa Jessy bersamanya.
"Selama lima tahun aku hanya bisa merindukanmu dari jauh. Berusaha menemukan keberadaanmu sampai membuatku putus asa. Kamu seperti sengaja bersembunyi dariku. Kamu benar-benar menyiksaku, Jessy."
"Hidup saya sudah tenang. Tolong, jangan membuatnya rumit."
Mark menghela napas. "Kamu jahat, Jessy ... Sangat jahat."
"Anda yang jahat kepada saya. Memaksakan hubungan di antara kita itu sangat jahat. Anda membuat saya seakan-akan menjadi orang paling jahat yang tega menjadi simpanan suami orang. Tolong jangan lakukan itu lagi." Jessy sangat trauma dengan apa yang terjadi dulu.
"Aku tidak akan melakukannya lagi!" tegas Mark. "Aku tidak akan melakukannya. Jadi, apa kamu mau bersamaku?" tanyanya serius.
"Sepertinya aku sudah kenyang. Terima kasih untuk sarapannya!"
Jessy hendak pergi dari sana. Ia sudah muak mendengarkan bualan Mark. Namun, Mark menahan tangannya.
"Kamu pasti belum tahu kalau aku sudah bercerai," kata Mark.
Jessy tertegun mendengar penjelasan Mark.
"Sejak hubungan kita diketahui, mereka memutuskan untuk membuangku dari keluarga. Apa itu sudah membuatmu lega?" tanya Mark.
__ADS_1
"Aku sudah mengatakan padamu tidak akan menempatkanmu dalam posisi yang sulit lagi. Kamu tidak berdosa jika ingin mencintaiku," lanjutnya.
Jessy semakin bimbang mendengarkan ucapan Mark. Ia masih kaget san sebenarnya ada kelegaan di hatinya. Ia jadi terpikir untuk mengenalkan Zylan kepada lelaki itu. Namun, ia belum terlalu yakin jika Mark bisa menerima keberadaan putranya. Ia juga merasa kehidupannya sudah cukup bahagia hidup berdua dengan Zylan.
"Jadi bagaimana, apa kamu mau bersamaku lagi?" tanya Mark.
"Maaf, saya harus pulang sekarang!" Jessy menolak memberi jawaban. Ia melangkah pergi meninggalkan Mark.
"Jessy ... Jessy ...."
Panggilan Mark diabaikan oleh Jessy. Ia merasa kesal ditinggalkan begitu saja oleh wanita itu.
***
"Mama ...."
Zylan berlari menyongsong ibunya. Sejak semalam ia menantikan kepulangannya, namun baru menjelang siang sang ibu baru datang. Jessy memberikan beberapa oleh-oleh yang ia beli sebelum pulang kepada Ibu Lian.
"Maaf ya, Bu. Acaranya sampai larut malam jadi saya menginap di rumah teman. Pagi tadi juga ada kegiatan makanya saya baru pulang," ucap Jessy.
"Tidak apa-apa. Ibu hanya khawatir terjadi apa-apa denganmu soalnya nomormu tidak bisa dihubungi sejak pagi," kata Ibu Lian.
"Saya lupa mengisi daya ponsel. Dari semalam sudah mati," jawab Jessy.
"Ya sudah, sepertinya Zylan sudah mengntuk. Tadi juga sudah makan siang."
"Jangan seperti itu, anggap saja Ibu keluargamu. Tidak perlu sungkan."
"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Jessy.
Jessy membawa Zylan pulang ke rumahnya sendiri. Ia merebahkan Zylan di atas ranjang dan ia turut merebahkan diri di samping Zylan.
"Mama, memangnya kalau Mama ada urusan kantor tidak boleh ajak Zylan, ya? Zylan kan mau ikut," kata Zylan dengan polosnya.
"Iya, Sayang. Anak kecil dilarang ikut ke acaranya orang dewasa," jawab Jessy.
"Kenapa?" tanya Zylan lagi.
"Em ... Karena tidak ada mainan di sana. Jadi, anak kecil tidak boleh ikut." Jessy berusaha memberi jawaban yang bisa dipahami putranya.
"Zylan bosan kalau tidak sama Mama. Zykan kan cuma punya Mama. Kalau tidak ada Mama, Zylan tidak punya siapa-siapa," keluh Zylan sembari memanyunkan bibirnya.
Jessy sampai tidak bisa berkata-kata. Ingin rasanya ia memperkenalkan Mark kepada Zylan, agar putranya tahu bahwa Mark adalah ayah Zylan.
"Iya, Sayang. Maafkan Mama yang selalu sibuk terus. Kamu tidak usah sedih, akhir pekan depan kita akan jalan-jalan lihat dinosaurus."
__ADS_1
"Benar ya, Ma?"
"Iya, Sayang. Sekarang Zylan tidur dulu."
Zylan langsung berdoa kemudian memejamkan matanya. Jessy memberi tepukan-tepukan lembut agar putranya bisa tertidur dengan lelap.
Drrtt ... Drrtt ...
Baru saja Jessy ingin istirahat dan tidur bersama Zylan, ia sudah diusik oleh getaran ponselnya. Sebuah nomor tak dikenal terpampang pada layar.
"Halo?" sapanya.
"Apa kamu sudah sampai rumah?"
Jessy menghela napas. Ternyata orang yang meneleponnya adalah Mark. Lelaki itu pasti telah mencari data-datanya sampai bisa mengetahui nomor ponselnya.
"Iya, saya sudah sampai di rumah," jawab Jessy.
"Syukurlah. Aku takut kamu tidak sampai rumah. Seharusnya aku tadi mengantarmu."
"Anda tidak perlu repot-repot. Saya sudah biasa kemana-mana sendiri." Jessy menolak perhatian yang Mark ingin berikan.
"Aku juga takut kalau kamu menghilang lagi. Kamu tidak akan kabur, kan?"
"Itu tergantung. Kalau Anda sangat mengganggu, mungkin saya akan pergi lagi!" ancam Jessy.
"Hmm ... Baru sebentar kita berpisah, aku sudah sangat merindukanmu. Bolehkah aku datang ke rumahmu? Atau kita bertemu di tempat lain?"
Jessy melebarkan mata. "Pak, saya juga punya banyak urusan. Saya bukan pengangguran yang kapan saja bisa Anda ajak ketemuan. Bahkan saat ini Anda sudah mengganggu waktu tidur siang saya!" kesalnya.
"Oh, apa kamu masih kelelahan?"
"Menurut Anda bagaimana?" Jessy sangat ingin memukuli Mark. Bisa-bisanya menganggap percintaan brutal yang ia lakukan hanya hal biasa. Ia bahkan merasa tidak punya tenaga padahal tidak melakukan apa-apa selain mengikuti kemauan Mark.
"Entahlah ... Saat ini saja aku ingin tidur sembari memelukmu. Sudah lama aku tidak merasakan tidur senyenyak bersamamu." Mark mulai mengeluarkan gombalannya.
"Sepertinya perbincangan kita hanya perbincangan tidak bermanfaat. Saya akan mematikan sambungan telepon ini."
"Tunggu sebentar!" cegah Mark. "Bagaimana kalau aku ingin bertemu denganmu? Apa aku langsung saja datang ke rumahmu?"
"Jangan pernah berani melakukan itu! Saya benar-benar akan kabur!" ancam Jessy lagi.
"Lalu bagaimana?"
"Temui saya di kantor saja!"
__ADS_1
"Hm, baiklah ... Aku akan melakukannya."
Jessy langsung menonaktifkan ponselnya. Ia kembali naik ke atas ranjang berbaring di samping Zylan. Senyuman terkembang di bibirnya. Ada kebahagiaan ketika mengingat tentang Mark.