Tangan Nakal Daddy

Tangan Nakal Daddy
Bab 61: Cemburu


__ADS_3

Pagi ini Zylan bangun pagi dengan semangat. Ia menuruti kata-kata ibunya untuk segera menghabiskan sarapan. Penampilannya sudah sangat rapi dan siap diajak jalan-jalan.


"Selamat pagi ...." Nino melongok dari balik pintu.


Zylan tampak kegirangan melihat kehadirannya. Anak itu menghampiri Nino dan menyuruhnya masuk serta duduk di meja makan bersamanya.


"Oh, kamu sudah datang, Nino. Sekalian ikut sarapan kita, ya!" ucap Jessy yang baru saja menyelesaikan kegiatan memasak di dapur.


"Boleh deh sarapan di sini. Sudah lama tidak makan masakan Kak Jessy," ucap Nino.


Jessy membawakan dua piring nasi goreng buatannya. Salah satunya ia berikan kepada Nino.


"Kayaknya di depan ada mobil. Kamu yang bawa?" tanya Jessy.


"Iya, Kak. Aku pinjam dari teman."


"Aduh, sampai segitunya hanya untuk mengantar Zylan jalan-jalan. Aku jadi tidak enak sudah merepotkanmu," kata Jessy.


"Kak Jessy ini kenapa? Katanya sudah menganggap aku adik sendiri. Kenapa juga mesti sungkan? Gunanya keluarga kan memang untuk saling tolong menolong." Nino kurang suka dengan sikap Jessy padanya. "Lagi pula, aku menyanggupi untuk menemani Kakak dan Zylan juga memang karena aku bisa bukan karena terpaksa."


"Iya, iya ... Maafkan Kakak," kata Jessy.


"Mama jangan ajak Om Nino bertengkar terus, kasihan Om Nino," ujar Zylan.


"Kita tidak bertengkar, Zylan. Hanya ngobrol biasa," kilah Jessy.


"Zylan nanti mau pergi kemana?" tanya Nino.


"Zylan mau ke tempat dinosaurus, Om. Om Nino tau kan tempatnya?" tanya Zylan.


"Tau dong ... Om Nino kan sudah pernah ke sana."


"Nanti Zylan juga mau ke sana!" ucap Zylan semangat.


"Iya, iya, Zylan ... Sekarang habiskan makannya dulu."


Ketiganya kembali menikmati sarapan yang telah Jessy buat. Usai sarapan, barulah mereka berangkat menaiki mobil yang Nino bawa.


***


Mark baru saja sampai di area gang dekat alamat rumah Jessy. Ia sudah sangat tidak tahan hanya bisa bertemu dengan Jessy di kantor. Durasi pertemuan mereka sangat singkat karena Jessy beralasan tidak mau ada gosip yang beredar tentang mereka.


Orang seperti Mark memiliki rasa kesabaran yang tipis. Setelah malam panas itu, tentu saja dia menjadi lebih agresif dan ingin mengulangnya lagi. Sementara, Jessy menolak kontak fisik dengannya. Bahkan sekedar ciuman wanita itu tak mau memberikannya.

__ADS_1


Ponselnya berbunyi. Ada telepon masuk dari Todd.


"Ada apa, Todd?" Mark agak kesal masih diganggu asistennya saat akhir pekan.


"Anda sedang dimana?"


"Aku di luar, ada urusan," jawab Mark malas.


"Hari ini ada jadwal pertemuan dengan Tuan Ghani. Pertemuannya sekitar satu jam lagi. Saya harap Anda tidak lupa."


Mark menghela napas. "Sudah aku bilang padamu untuk menghapus age da rapst atau apa saja saat akhir pekan, Todd! Aku ingin bersantai akhir pekan!" gerutunya. Ia benar-benar ingin bertemu Jessy.


Rasa rindunya sudah tidak tertolong. Otaknya bahkan terasa seperti kosong karena hanya memikirkan tentang Jessy.


"Maaf, Pak. Kita datang ke sini bukan untuk bersantai atau liburan. Anda sendiri yang sudah menyepakati jadwam yang saya buat." Todd ngotot dengan pendapatnya.


Mark tidak bisa mengelak. "Baiklah, aku nanti akan datang ke sana sendiri. Sekarang, jangan ganggu aku dulu!" ia mematikan sambungan teleponnya.


Ketika sampai di depan rumah Jessy, ada sebuah mobil terparkir di sana. Ia mengurungkan niat turun dari mobilnya untuk mengamati situasi.


Tak berapa lama berselang, ia melihat Jessy keluar menggendong seorang anak kecil dan berdampingan dengan seorang lelaki. Firasatnya sudah tidak enak. Kebahagiaan yang sebelumnya ia rasakan seketika sirna melihat pemandangan keluarga kecil yang tampak bahagia.


Mark syok mengetahui Jessy telah memiliki suami dan seorang anak. Harapannya untuk bisa bersama Jessy sepertinya harus kembali kandas.


Jessy tampak turun di parkiran sebuah taman hiburan bertema dinosaurus. Ketiga orang itu saling bergandenga mesra dan semakin membuat Mark panas. Ia tak sanggup jika harus terus melihat keharmonisan keluarga mereka. Mark memutuskan berhenti membuntuti Jessy dan pulang ke apartemennya.


***


Zylan merasa sebagai anak yang paling bahagia. Keinginannya untuk melihat dinosaurus akhirnya terwujud bersama ibu dan pamannya.


"Mama ... Itu T-rex!" Zylan berteriak antusias ketika melihat replika dinosaurus kesukaannya.


Tempat yang mereka kunjungi benar-benar seperti surga bagi Zylan. Anak itu sejam tadi tidak bisa diam berlarian ke sana kemari menghampiri berbagai macam replika dinosaurus.


"Kelihatan banget kalau Zylan tidak pernah Kakak ajak jalan-jalan," sindir Nino.


"Mau bagaimana lagi? Aku sibuk bekerja. Untung juga ada kamu jadi akhir pekan ini kita bisa jalan-jalan," Jessy tersenyum lebar.


"Makanya menikah, Kak! Kalau punya suami setidaknya Kak Jessy tidak perlu susah payah bekerja sendiri," usul Nino.


"Siapa coba yang mau dengan Kakak?" Jessy selalu merasa dirinya tidak pantas dengan siapapun.


"Kakak itu cantik, pasti banyak yang suka dengan Kakak."

__ADS_1


"Itu mungkin saja. Lalu bagaimana dengan Zylan?"


Nino terdiam. Memang agak sulit bagi lelaki untuk menerima wanita yang telah memiliki anak apalagi anak itu lahir di luar pernikahan.


"Pasti ada yang bisa menerima Kakak dan Zylan. Cuma Kakak juga perlu membuka diri kepada orang lain. Jangan sampai terlalu nyaman sendiri. Kakak itu masih sangat muda, nikmati sedikit hidup Kakak."


"Entahlah! Aku rasanya belum mau memikirkannya. Masih nyaman seperti ini."


"Ya, kalau Kakak sulit percaya dengan lelaki yang mau menerima Zylan, kan masih ada aku!" Nino menunjuk dirinya sendiri.


Jessy menoyor kepala Nino. "Mana mungkin aku bisa menikahi orang yang sudah aku anggap adik sendiri!"


"Aku bercanda, Kak ...."


"Mama ... Aku mau ke sana!" seru Zylan.


Anak itu menuntun tangan Jessy dan Nino agar mengikutinya masuk ke dalam sebuah bangunan seperti bioskop. Setelah membayar tiket, mereka langsung masuk dan duduk di kursi yang telah disediakan.


Ruangan itu menjadi gelap saat film mulai diputar. Ada film tentang dinosaurus yang ditampilkan pada bioskop mini itu. Awalnya memang seperti film yang diputar di bioskop pada umumnya. Namun, setelah film habis, lampu kembali menyala. Layar film terbuka dan terpampang sebuah jalan menuju wisata dinosaurus.


"Mama ... Kursinya bisa jalan!" guman Zylan saat deretan kursi bioskop mulai bergerak.


"Ini sebenarnya kereta, Zylan," sahut Nino. "Nanti kereta kita akan masuk ke dalam sana."


"Apa di dalam masih banyak dinosaurus?" tanya Zylan antusias.


"Banyak ... Malah bisa gerak-gerak."


Beruntung mereka duduk di deretan bangku paling depan. Saat kereta berjalan, mereka seperti diajak masuk ke dalam film dan bergabung bersama para dinosaurus.


"Om, itu Brontosaurus, ya ... Wauw ... Besar banget!" Zylan menunjukkan kekagumannya pada sosok dinosaurus yang besar dan berleher panjang.


"Itu dia makannya rumput," kata Nino.


Usai berkeliling selama seharian penuh, sepertinya Zylan kelelahan. Anak itu tertidur di gendongan Nino. Tak terasa hari juga sudah malam. Mereka memutuskan untuk pulang.


"Terima kasih ya, untuk hari ini," ucap Jessy pada Nino yang tengah menyetir di sampingnya. Sementara Zylan tidur di bangku belakang.


"Sudah aku bilang kan, Kak. Tidak usah berterima kasih."


"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"


"Kabar baiknya aku sudah diangkat menjadi karyawan tetap." Nino mengembangkan senyum lebarnya.

__ADS_1


Jessy tersenyum. Ia ikut lega akhirnya Nino mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa mulai hidup mandiri.


__ADS_2