
"Aku membawakan laporan perusahaan," kata Mark. Matanya terus tertuju pada Jessy yang masih berlutut di depan Tuan Wilson.
"Letakkan di meja dan pergilah! Aku ingin menyelesaikan urusanku dengan anak ini. Kita akan bicara besok," jawab Tuan wilson.
Mark mengangguk dan segera berbalik badan mengikuti perintah tuan Wilson.
Ctak!
"Ah!"
Ctak! Ctak! Ctak!
Setiap langkah yang Mark lakukan terasa berat mendengarkan suara cambukan dan teriakan yang keluar dari mulut Jessy. Ingin ia mengabaikannya karena marah dengan apa yang Jessy lakukan padanya. Menurutnya, Jessy pantas mendapatkan hukuman itu sebagai akibat telah meninggalkannya.
"Bagaimana sekarang? Kamu masih keras kepala tidak mau meninggalkan Justin?" tanya Tuan Wilson.
Jessy tak kuasa menjawab. Ia hanya bisa menangis dan menahan kesakitan di punggungnya.
"Aku tidak akan segan mencambukmu sampai mati!"
Saat Tuan Wilson hendak mengayunkan kembali cambuknya, Mark berhasil menahan cambuk itu sehingga tidak mengenai tubuh Jessy.
"Kenapa kamu masih ada di sini?" Tuan Wilson marah melihat Mark ikut campur dalam urusannya.
__ADS_1
"Tolong hentikan perbuatan Anda!" pinta Mark.
Tuan Wilson menepis tangan Mark dengan kasar. "Berani-beraninya kamu mengaturku! Aku sudah menyuruhmu pergi dari sini, Mark!"
"Jessy, berdiri!" perintah Mark.
Tuan Wilson membelalakkan mata terkejut melihat kelakuan Mark. Sementara, Jessy beringsut bangkit dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Tangisannya semakin kencang terdengar. Ia memegang tangan Mark, mencari perlindungan di sana.
"It's okay," ucap Mark seraya memeluk Jessy.
"Apa-apaan kamu?" tanya Tuan Wilson geram.
"Mark!" seru Nyonya Wilson.
"Jangan sakiti wanita ini lagi. Aku akan membawanya pergi!" tegas Mark.
"Hahaha ... Kamu sudah gila, Mark!" Tuan Wilson benar-benar tidak menyangka dengan perbuatan Mark.
Tuan Wilson memberi kode pada seluruh pengawalnya untuk membuat barikade. "Silakan keluar dari rumah ini, tapi tinggalkan wanita itu! Urusanku dengannya belum selesai."
Mark menyeringai. Bukannya menuruti kemauan Tuan Wilson, ia justru mengeluarkan sepucuk pistol dari dalam saku jasnya.
"Apakah Anda ingin membuat rumah ini sedikit ramai malam ini?" tanyanya.
__ADS_1
Tuan Wilson semakin terkejut dengan kenekadan Mark. Apalagi Todd dan dua pengawal Mark lainnya juga melakukan hal yang sama. Mereka mengeluarkan senjata api.
Mark tidak menyangka akan mengeluarkan senjatanya. Memang, negaranya berbeda dengan London. Ia terbawa kebiasaan membawa senjata untuk melindungi diri sendiri. Kali ini ia terpaksa mengeluarkannya untuk melindungi Jessy.
"Apa hubunganmu dengan wanita itu, Mark? Bisa-bisanya kamu berbuat sejauh ini?" tanya Tuan Wilson yang masih tidak percaya.
"Hubungan kami sangat dekat. Tapi itu bukan urusan Anda," jawab Mark yang masih menodongkan senjata ke arah Tuan Wilson.
"Kamu punya masalah besar berurusan dengan keluarga Wilson," ancam Tuan Wilson.
"Aku sudah mempersiapkan segalanya untuk berurusan dengan keluarga kalian. Sekarang, biarkan kami pergi dan kita selesaikan sisanya nanti," ucap Mark dengan begitu berani.
Setelah mengatakan hal itu, Mark membawa Jessy pergi bersamanya. Tak ada perlawanan dari para penjaga karena anak buah Mark mengacungkan senjata ke arah mereka.
Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan di antara mereka. Jessy tahu Mark pasti sangat marah kepadanya. Ia dibawa kembali ke apartemen milik Mark.
"Ah!"
Mark mendorong kasar Jessy hingga jatuh ke ranjang. Kesabaran lelaki itu benar-benar habis karena tingkah Jessy.
"Buka bajumu!" perintah Mark kasar.
Jessy tertunduk. Ia tidak mau melakukan apa yang Mark perintahkan.
__ADS_1