Tangan Nakal Daddy

Tangan Nakal Daddy
Bab 64: Pernikahan


__ADS_3

"Jadi bagaimana? Kapan kamu siap aku nikahi?" tanya Mark.


Jessy memainkan sedotannya. Sesekali ia menghisap jus alpukat yang ada di dalam gelas itu. Ia masih menimbang-nimbang akan menerima lamaran Mark atau tidak.


"Jess ...," tegur Mark. Ia sangat tidak sabaran dengan keputusan yang Jessy ambil.


"Bagaimana kalau ada yang menggunjing pernikahan kita? Semua orang tahu kalau saya masih single dan belum memiliki anak," kata Jessy.


"Jadi mau sampai kapan kamu menutupi keberadaan Zylan?" Mark membalikkan pertanyaan untuk Jessy.


Wanita itu terdiam. Ia merasa serba salah dalam mengambil keputusan.


"Kamu percaya saja, aku tidak akan membuat hidupmu menderita. Kamu dan Zylan akan bahagia bersamaku, aku janji." Mark kembali meyakinkan Jessy.


"Bagaimana kalau kita menikah secara administrasi saja?" celetuk Jessy.


Mark mengerutkan dahi. "Mana bisa seperti itu? Kamu harus menikah dengan gaun yang cantik dan di tempat yang indah."


"Saya rasa itu berlebihan. Saya akan malu karena menikah setelah memiliki anak," kata Jessy dengan raut sendunya.


Mark mengusap lembut pipi Jessy. "Tidak ada yang bisa memperbaiki masa lalu, Jessy. Tapi, kamu masih berhak bahagia di masa sekarang dan masa selanjutnya. Jangan menganggap dirimu tidak layak mendapatkan sesuatu yang besar. Aku bahkan berterima kasih kepadamu karena telah mengambil keputusan untuk membiarkan Zylan terlahir ke dunia ini."


Kata-kata Mark sedikit memberikan Jessy semangat. Sebelumnya ia sangat terbebani memikirkan olok-olokan jika ia menikahi Mark. Sudah pasti orang akan menuduhnya sebagai pelakor atau wanita murahan. Pandangan orang lain tidak seharusnya mengganggu kehidupannya. Dia berhak memiliki kebahagiaannya sendiri.


"Saya mau menikah dengan Anda, Pak," jawab Jessy dengan mantap.


Jawaban Jessy membuat perasaan Mark lega. Ia bangkit dari tempat duduknya dan langsung memeluk Jessy. "Terima kasih sudah menerimaku, Sayang," ucapnya.


Mark memagut bibir Jessy dengan lembut. Ia ingin mengekspresikan perasaannya dengan sesuatu yang mesra. Setelah lima tahun tanpa kejelasan, akhirnya ia bisa menemukan cinta sejatinya.


"Mama ... Papa ...."


Suara Zylan menghentikan aktivitas mereka. Anak itu tengah berada di depan pintu kamar melihat ke arah mereka. Reflek keduanya saling menjauh. Mereka salah tingkah karena telah dipergoki anak mereka sendiri.


"Aku tidak bisa tidur," kata Zylan.

__ADS_1


Jessy sampai lupa kalau mereka tengah menginap di apartemen milik Mark. Putranya pasti belum terbiasa untuk tidur di kamar yang baru.


"Sayang, kamu mau ditemani tidur?" tanya Jessy seraya menghampiri putranya.


Zylan mengangguk. "Mau tidur bareng Mama dan Papa," ucapnya.


Mark kegirangan namanya ikut disebut. Tanpa diberi komando, ia ikut- ikutan membuntuti Jessy dan Zylan masuk ke dalam kamar.


Zylan berbaring di bagian tengah. Ia menoleh ke kanan dan kiri, ada ayah dan ibu yang menemani. Sebagai anak yang sudah lama tidak memiliki sosok ayah, ia merasa sangat bahagia memiliki keluarga yang utuh.


"Selamat malam, Mama ... Selamat malam, Papa," ucap Zylan.


"Selamat malam, Sayang," jawab Mark dan Jessy kompak.


Zylan mulai memejamkan matanya. Jessy memberi tepukan ringan pada paha putranya seperti yang biasa ia lakukan. Zylan akan cepat tertidur jika ia melakukannya.


Mark memandangi keduanya. Ada rasa bahagia bahwa sebentar lagi keduanya akan menjadi keluarga yang utuh.


***


Banyak rekan kerja yang tidak menyangka jika Jessy ternyata telah memiliki anak dengan Mark. Masa lalu Jessy sempat mencuat, namun tak separah yang Jessy bayangkan. Tidak ada yang berani menghina atau mem-bully-nya secara langsung. Mungkin ada kaitannya dengan posisi Mark yang tinggi.


"Jessy, selamat, ya ...."


Seorang wanita paruh baya datang menghampiri Jessy di ruang make up. Wanita itu tampak membawa buket bunga dan tersenyum ke arah Jessy.


"Dokter Ita!" seru Jessy.


Ia sampai bangkit dari duduknya menyambut kehadiran wanita itu. Dengan hangat Jessy memeluknya. Tanpa bisa ditahan, air mata Jessy sampai menetes saking terharunya bisa bertemu kembali dengan orang yang menurutnya ikut berjasa dalam hidupnya.


"Jangan menangis begini, kamu kan mau menikah." Dokter Ita mengambil selembar tisu dan mengelap air mata yang menetes di pipi Jessy.


"Dokter, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini," kata Jessy.


Sejak ia keluar dari perusahaan lama, mereka tidak pernah bertemu meskipun tinggal dalam satu kota. Jessy memang bertemad suatu saat akan menemui Dokter Ita lagi untuk mengucapkan terima kasih. Kalau bukan karena Dokter Ita, mungkin Zylan tak akan ada di dunia ini.

__ADS_1


"Aku selalu bertanya-tanya bagaimana kehidupanmu selama ini. Mendengar kabar bahagia darimu, tahu bahwa kamu baik-baik saja, aku merasa ikut bahagia," kata Dokter Ita.


Jessy bukan wanita pertama yang Dokter Ita ketahui hamil di luar nikah. Ada banyak kasus kehamilan tidak diinginkan yang berakhir digugurkan. Ia tidak ingin seorang wanita yang telah melakukan kesalahan lantas melakukan kesalahan yang lebih besar, yaitu pembunuhan. Ia lega mengetahui Jessy bisa melanjutkan hidupnya dengan baik. Apalagi Jessy akhirnya bertemu kembali dengan lelaki yang merupakan anak kandung putranya.


"Apa Dokter Ita sudah bertemu dengan putra saya?" tanya Jessy.


"Zylan, kan?"


Jessy mengangguk.


"Aku sudah bertemu dengannya di depan. Dia anak yang manis."


"Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih untuk segalanya," kata Jessy.


Dokter Ita memeluk Jessy. Ia mengusap punggung Jessy sebagai dukungan terhadap wanita itu.


"Sayang, apa kamu sudah siap?" Mark datang menjemput Jessy. Dengan pakaian dan jas bernuansa putih, Mark tampak gagah di hari pernikahannya.


"Dokter, saya keluar dulu," pamit Jessy.


Dokter Ita mengangguk dan tersenyum.


Jessy meraih uluran tangan Mark. Keduanya berjalan beriringan menuju ke tempat acara dilaksanakan.


Mark menyewa hall di sebuah hotel mewah untuk menggelar pernikahan mereka. Nuansa putih menghiasi ruangan. Tamu undangan yang hadir rata-rata rekan bisnis Mark dan karyawan perusahaan yang merupakan teman kerja Jessy.


Keduanya tampak serasi bagaikan raja dan ratu. Mereka mengucapkan janji suci bahwa akan setia dan saling menemani sampai mati. Ciuman menjadi bukti adanya ikatan cinta di antara mereka. Hari ini keduanya resmi menjadi pasangan suami istri.


--- The End ---


Note:


Terima kasih sudah mengikuti cerita author sampai di sini mengawal kebahagiaan Mark dan Jessy. Jangan lupa mampir di karya-karya author lainnya.


I love you 😘

__ADS_1


__ADS_2