
"Mama ... Katanya kita mau jalan-jalan kalau akhir pekan," protes Zylan.
Anak itu memandangi ibunya yang tengah merapikan diri untuk pergi ke kantor. Sore ini katanya sang ibu harus kembali ke kantor karena ada acara.
"Sayang, minggu depan Mama janji akan mengajakmu jalan-jalan. Ada Om Nino juga yang bakalan menemani kita," kata Jessy berusaha membujuk anaknya.
"Mama sibuk terus!" Zylan mencebikkan bibir.
Jessy merasa bersalah kurang memberikan perhatian kepada putranya. Seandainya tidak ada kepentingan kantor, ia juga pasti akan mengajak anaknya jalan-jalan.
"Maafkan Mama ya, Sayang. Mama juga sedang berusaha agar bisa punya banyak waktu denganmu," kata Jessy sembari mengusap kepala putranya.
"Janji minggu depan jalan-jalan ya, Ma!"
"Iya, Sayang."
Jessy membawa Zylan ke rumah sebelah. Ibu Lian dan Pak Hardi terlihat senang dengan kedatangan Zylan.
"Pak, Bu, maaf, saya merepotkan lagi. Sore ini saya ada acara di kantor dan sepertinya akan sampai larut malam. Tolong titip Zylan untuk malam ini," kata Jessy.
"Tidak apa-apa, Jessy. Kamu seperti dengan siapa. Jangan khawatir dengan Zylan, kamu fokus saja pada pekerjaan," ucap Ibu Lian.
"Kalau acaranya sampai larut malam, mending menginap di tempat teman atau pulang naik taksi. Soalnya rawan kalau malam takut terjadi apa-apa," kata Pak Hardi.
"Iya, Pak. Mudah-mudahan tidak sampai larut acaranya sudah selesai. Saya pamit dulu," ucap Jessy.
Jessy menaiki taksi yang telah dipesannya. Tampak Zylan melambaikan tangan melepas kepergiannya.
"Ke perusahaan XXX ya, Pak!"
"Baik, Bu."
Taksi membawa Jessy ke perusahaan.
Setelah kegiatan supervisi dan monitoring, perusahaan mengadakan acara keakraban bersama karyawan dan jajaran pimpinan perusahaan. Pak Wandi sangat mengharapkan kehadiran Jessy di sana sebagai bentuk penghormatan karena Jessy yang telah sukses membuat desain kemasan produk baru yang kini tengah laris manis di pasaran.
Sesampainya di sana, sudah banyak orang yang bergabung dalam acara yang digelar di lapangan tengah milik perusahaan.
"Jessy, kamu cantik sekali," puji Ratu yang terkejut dengan penampilan tidak biasa Jessy. Malam ini wanita itu tampak memakai riasan yang lebih menonjol dari pada biasanya.
__ADS_1
"Kamu juga cantik." Jessy memuji balik.
"Wah, aku sampai pangling. Aku kira siapa, ternyata Jessy," gumam Intan yang juga terkejut dengan penampilan Jessy malam ini.
"Benar kan, kataku ... Malam ini Jessy memang beda dan cantik," imbuh Ratu.
"Kenapa kalau ke kantor setiap hari tidak dandan seperti ini, Jess? Pasti kamu bakalan mrngalahkan pesona Galita di kantor," ucap Intan.
"Kalau aku berpenampilan seperti ini setiap hari kayaknya aku akan dipecat. Soalnya setiap hari bakalan telat."
Kedua teman Jessy tertawa mendengar lelucon yang Jessy keluarkan. Memang, berdandan full make up pasti memerlukan persiapan yang lama.
"Hai, Jess," sapa Rendi.
"Hai," Jessy membalas sapaan itu dengan senyuman.
Rendi terpaku menatap Jessy. Wanita itu terlihat lebih cantik dari biasanya. Ia seakan terhipnotis dengan kecantikan Jessy.
"Jangan lupa kedip, Ren! Matanya nanti kering loh," ledek Intan.
Rendi langsung tertawa diingatkan Intan.
Acara berlangsung dengan meriah. Ada banyak makanan yang bisa mengenyangkan perut seluruh orang. Musik yang didendangkan menambah kemeriahan suasana apalagi seluruh divisi bergabung menjadi satu tanpa membedakan jabatan. Ibaratnya malam ini kedudukan mereka semua sama.
Senyuman dan tawa yang sejak tadi menghiasi wajah Jessy dalam sekejap sirna. Mark dan anggota tim supervisi ternyata juga ikut datang di sana. Apalagi mata mereka sudah bertemu, Jessy rasa kali ini tak akan bisa kabur lagi.
"Apa acara ini juga harus disupervisi?" tanya Jessy.
"Hah, apa? Yang benar saja?" Ratu keheranan dengan pertanyaan Jessy.
"Kalau tidak, kenapa ada tim supervisi di sini?" tanya Jessy.
Setelah menoleh ke belakang, mereka juga baru tahu kalau tim supervisi ikut dalam acara gathering yang dilakukan perusahaan.
"Sepertinya pihak perusahaan sendiri yang mengundang. Kalaupun tidak diundang, mereka juga berhak datang. Karena mereka juga bagian dari perusahaan," kata Ratu menjelaskan.
"Oh, iya. Mereka kan tim dari perusahaan induk," sambung Intan.
"Aku dengar perusahaan induk sekarang dipimpin oleh lelaki yang paling tinggi dan tampan itu, namanya Pak Mark," kata Ratu.
__ADS_1
"Aku dengar juga begitu. Baru tahu juga kalau induk perusahaan ini ada di luar negeri. Kalau tidak salah di Inggris," ucap Intan.
Jessy meneguk habis minuman di gelasnya. Ia sangat gugup mendengarkan perbincangan kedua temannya yang sejak tadi membahas tentang Mark. Hal itu mengingatkannya pada kejadian lima tahun lalu di Inggris yang tidak akan pernah ia lupakan.
"Ratu, Intan, Jessy, dipanggil Pak Wandi!" seru Bayu.
Ketiganya disuruh untuk bergabung dengan staf dari divisi mereka yang lain.
"Ratu, ayo minum! Kamu sudah bekerja keras mengatur anggotamu dengan baik."
Pak Wandi menawarkan satu sloki minuman kepada Ratu. Mau tidak mau Ratu harus menerimanya karena minum-minum memang sudah menjadi tradisi perusahaan setiap ada acara.
"Terima kasih, Pak!" ucap Ratu seraya meneguk minuman yang diterimanya.
"Jessy, ini untukmu. Kamu juga sudah bekerja keras membuat desain kemasan produk baru tepat waktu. Kamu juga berhak mendapatkan bonus nanti!"
Pak Wandi juga memberikan satu sloki minuman untuk Jessy. Dengan ragu Jessy menerimanya.
"Terima kasih," ucap Jessy. Ia berusaha meminum sedikit semi sedikit air yang terasa pahit itu. Ia heran kenapa banyak orang menyukai minuman yang rasanya sama sekali tidak enak.
"Ayo, kalian juga harus minum. Tunjukkan kekompakkan divisi kita dalam bekerja!" Pak Wandi terlihat bersemangat mengajak anak buahnya bersulang.
Mereka duduk bersama dalam satu meja panjang dengan banyak makanan yang terhidang. Sajian utama dan menjadi favorit adalah iga bakar dan daging fillet tipis yang di-grill. Sembari menikmati makanan, candaan di antara mereka tak berhenti membuat tawa.
Tak terasa malam semakin larut. Beberapa sudah memilih pulang. Sisanya masih bertahan di sana melanjutkan obrolan. Ada juga yang telah tertidur di tempat karena mabuk.
Jessy sendiri sudah merasa lelah dan mengantuk. Bahkan untuk memencet ponsel dan memesan kendaraan online ia tidak mampu. Ratu dan Intan sudah terlihat tertidur di tempat. Ia bingung harus meminta tolong kepada siapa.
"Jess, kamu sudah mau pulang atau belum?" tanya Rendi yang datang menghampiri Jessy.
Beberapa kali Jessy mengucek matanya berharap pandangannya kembari normal. Saat ini pandangannya sedikit kabur dan badannya terasa lemas tak bertenaga.
"Iya, aku mau pulang," jawab Jessy.
"Kalau begitu, aku antar, ya!" Rendi menawarkan bantuan.
"Ah, aku tidak mau merepotkanmu. Antar saja aku ke luar. Siapa tahu kondisiku lebih baik," katanya. Ia ingin menetralkan pengaruh alkohol yang sempat ia minum. Walaupun hanya sedikit, tapi cukup membuatnya lemas.
"Baiklah, biar aku bantu memapahmu," kata Rendi.
__ADS_1
Rendi membimbing tangan Jessy agar melingkar ke lehernya. Secara pelan-pelan, ia mengarahka. Jessy menuju area taman depan karena Jessy meminta ingin menghirup udara segar. Jessy didudukkan di bangku taman. Rendi turut menemani di samping wanita itu.