
Jessy berkeliling di mall mencari barang belanjaan yang diinginkannya. Ia membeli beberapa produk perawatan wajah yang ia perlukan sebelum beralih ke toko mainan.
Terkadang ia ingin mengajak anaknya jalan-jalan dengan leluasa, namun ia masih memikirkan tempat yang sekiranya tidak perlu bertemu dengan orang yang ia kenal. Mungkin terdengar jahat, namun ia tidak ingin orang tahu ia sudah memiliki seorang anak.
Jaman sekarang sangat sulit mendapatkan pekerjaan jika wanita sudah berstatus menikah dan punya anak. Dia memang belum menikah, namun sudah punya anak. Hal itu akan lebih berat baginya dalam mencari pekerjaan. Sementara, ia masih membutuhkan uang untuk bertahan hidup.
Setibanya di toko mainan, ia kebingungan sendiri memilihkan mainan yang sekiranya akan Zylan sukai. Dari sekian banyak mainan, ia memilih permainan lego yang belum ada di rumah. ia juga membelikan action figure tokoh kartun kesukaan Zylan, Iron Man.
"Huhuhu ... Mommy ... Mommy ... Hiks hiks ...."
Saat keluar dari toko mainan, samar-samar Jessy seperti mendengar suara tangisan anak kecil. Ia menoleh ke segala arah mencari asal sumber suara itu.
Seorang anak kecil tengah duduk meringkuk di dekat tempat sampah sembari menangis. Perlahan Jessy mendekati anak itu.
"Halo anak manis, kamu kenapa?" tanya Jessy.
Anak perempuan itu mulai mengangkat kepalanya dan menatap Jessy. Raut wajahnya masih menunjukkan kesedihan dan air matanya terus mengalir.
"Oh, kasihan sekali anak cantik kok menangis di sini. Ikut tante sebentar, yuk!" ajak Jessy.
Anak itu menggeleng.
"Kenapa, Sayang? Tante tidak jahat, kok. Di sini kan bau, masa anak cantik mau menangis di sini?" bujuk Jessy lagi.
Akhirnya, anak tersebut mau ikut dengan Jessy.
Jessy mengajak sang anak duduk di bangku yang tersedia di sebuah sudut mall. Ia mengelus puncak kepala anak itu dan berusaha membuatnya nyaman.
"Anak manis, kamu lapar nggak? Kamu mau makan?" tanya Jessy.
Ia memang tidak terlalu berpengalaman dengan anak-anak. Namun, ketika Zylan menangis, dia sering menawarkan makanan dan Zylan akan berhenti menangis. Mungkin saja anak menangis karena lapar. Apalagi anak perempuan itu sepertinya seumuran dengan Zylan.
Anak itu mengangguk.
Seperti yang Jessy perkirakan, mungkin saja anak itu memang sedang lapar dan terpisah dengan orang tuanya.
"Kalau begitu, kita makan dulu, yuk! Kamu mau makan apa?" tanya Jessy.
"Shabu-shabu," jawab anak perempuan itu dengan menggemaskan.
__ADS_1
Jessy agak terkejut mendengar jawaban anak itu. Makanan yang diminta sepertinya menggambarkan jika anak itu sudah terbiasa memakan makanan di mall.
"Baiklah, ayo kita makan shabu-shabu dulu," ajak Jessy.
Ia mengajak anak itu ke area food court yang menjual aneka makanan Jepang. Ia pesankan satu set menu shabu-shabu untuk mereka berdua.
Menikmati makan bersama anak kecil itu membuat Jessy membayangkan tengah makan bersama Zylan. Mungkin lain waktu ia akan mrngajak putranya makan di sana.
Anak itu benar-benar menyukai shabu-shabu. Bahkan anak itu menikmati makanannya dengan riang dan tidak menangis lagi.
"Jadi, kenapa kamu tadi menangis?" tanya Jessy setelah ia rasa anak itu sudah tenang perasaannya.
"Tadi aku belanja dengan Mommy dan Daddy, tapi mereka hilang," jawab sang anak.
Jessy kembali tersenyum. Memang sepertinya anak itu yang menghilang, bukan kedua orang tuannya. Mereka pasti sedang sangat kebingungan mencari anak manis itu.
"Nama kamu siapa, Sayang?" tanya Jessy.
"Namaku Shanon. Kalau nama Tante siapa?" anak perempuan itu ternyata bisa bertanya balik. Anak itu tidak pemalu.
"Panggil saja Tante Jessy."
"Rumahmu dimana? Biar nanti Tante Jessy antar kamu pulang."
Shanon terlihat mengarahkan matanya memandang ke atas sembari terdiam. "Em, aku tidak tahu, Tante. Rumahku jauh," katanya.
Jessy menelan ludah. Sepertinya ia akan kesusahan untuk mencari keberadaan orang tua Shanon. Ia membiarkan anak itu menikmati terlebih dahulu makanannya sampai habis agar tidak rewel lagi.
Selesai makan, Jessy membawa Shanon ke tempat pusat informasi. Rasanya di mall sebesar itu ia tidak akan bisa musah menemukan orang tua Shanon.
"Mohon perhatiannya sejenak bagi para pengunjung Mall XXX yang merasa kehilangan anak bisa datang ke pusat informasi di lantai satu. Ada anak kecil sekitar usia 4-5 tahun yang berambut lurus sebahu memakai bando tanduk rusa berpakaian kaos warna pink dan celana jeans pendek. Namanya Shanon. Sekali lagi, bagi yang merasa kehilangan anak harap segera datang ke pusat informasi di lantai satu menghubungi petugas. Terima kasih."
Jessy mengajak Shanon duduk sembari menunggu orang yang akan menjemput anak itu datang. Ia sedikit lega mendaparkan bantuan dari petugas mall mengurusi anak hilang.
"Tante, tapi Shanon kan tidak hilang. Mommy dan Daddy Shanon yang hilang," protes anak itu.
Jessy menahan tawanya. Anak itu sangat lucu menganggap dirinya tidak hilang, tetapi justru yang hilang orang tuanya.
"Iya, Shanon. Nanti petugas akan membantu juga mencari ke atas untuk menemukan orang tuamu," jawab Jessy.
__ADS_1
"Tante, kotak itu mainan, ya?" tanya Shanon yang penasaran dengan barang yang Jessy bawa.
"Iya, Shanon. Tante membeli mainan untuk anak Tante di rumah," jawab Jessy.
"Itu mainan cowok!" celetuk Shanon.
Jessy tersenyum. "Anak Tante memang cowok."
"Shanon! Shanon!"
Terdengar suara histeris memanggil-manggil nama anak itu.
"Mommy ...." Shanon langsung berlari ke arah suara yang dikenalnya dan langsung memeluk ibunya dengan bahagia.
Jessy mematung di tempat mengetahui siapa wanita yang datang menjemput Shanon. Ternyata dia adalah Ellena, wanita yang pernah dikecewakan Justin karena dirinya. Ia tidak menyangka bahwa Shanon adalah anak Ellen yang juga merupakan anak Justin.
"Siapa Tante baik yang menolongmu?" tanya Ellena.
"Ayo, Shanon kenalkan!"
Shanon menggandeng tangan ibunya menemui Jessy. Bukan hanya Jessy yang terkejut, Ellena juga merasakan hal yang sama. Ellena menggenggam erat-erat tangan Shanon seolah tidak rela bahwa anak itu akan dibawa pergi oleh Jessy.
"Tante Jessy, ini Mommy Shanon," kata Shanon dengan nada imut.
Jessy mengembangkan senyumannya. Ia mengulurkan tangan yang juga dibalas oleh Ellena.
"Terima kasih sudah membantu menemukan Shanon. Kami hampir putus asa mencarinya," kata Ellena.
"Itu bukan hal besar. Aku kebetulan saja bertemu dengan Shanon."
"Dia pasti sangat merepotkanmu," kata Ellena.
"Tidak. Shanon anak yang baik dan menyenangkan. Aku merasa beruntung bisa bertemu dengan anak manis ini." Jessy mencubit kecil pipi Shanon karena gemas.
"Mommy, tadi Tante Jessy ajak aku makan shabu-shabu. Enak sekali rasanya." Shanon menceritakan apa yang dilakukannya.
"Aduh, kenapa kamu malah merepotkan orang lain, Sayang? Seharunya tadi kamu jangan lari-larian, Mommy sampai bingung mencarimu."
"Shanon juga bingung mencari Mommy dan Daddy. Kalian hilang kemana?" Shanon masih tidak mengakui kalau dia yang hilang. Jessy kembali ingin tertawa namun menahannya.
__ADS_1