Tangan Nakal Daddy

Tangan Nakal Daddy
Bab 40: Membalut Luka


__ADS_3

"Buka bajumu atau aku yang akan melepaskannya sendiri?" Sekali lagi Mark memberikan perintah. Melihat Jessy yang tetap terdiam di tempatnya, ia menjadi sangat tidak sabaran.


"Saya tidak mau!" Jessy menyilangkan kedua tangan di dada saat Mark berusaha mendekatinya.


Mark menyeringai. "Sepertinya kamu tidak sabar untuk aku ajak bercinta," selorohnya.


"Jangan, Pak! Saya tidak mau!" Jessy berusaha mengelak saat Mark memaksa untuk melepas pakaiannya.


Mark secara agresif melepas paksa pakaian yang Jessy kenakan. Ia tertegun melihat luka-luka lecet di punggung Jessy yang cukup parah. Jessy meringkuk menutupi bagian depan tubuhnya yang telah terbuka.


"Aku sudah sering melihat tubuhmu bahkan sudah hafal bentuknya. Untuk apa kamu menutupinya?" ledek Mark. Ia tertawa kecil melihat kelakuan Jessy.


"Saya sudah bilang, saya tidak mau lagi dengan Anda!" seru Jessy.


Mark mengambil kotak obat yang tersedia di lacinya. Ia menggunakan cairan antiseptik untuk membersihkan luka di punggung Jessy.


"Auw!" teriak Jessy saat lukanya dibersihkan oleh Mark.


"Aduh! Ah! Pelan-pelan! Sakit, Pak!" Jessy menggerutu. Mark tidak mendengarkan keluhannya. Lekaki itu terus menekan-nekan bagian tubuhnya yang sakit. Obat yang Mark gunakan menimpulkan sensasi perih di punggungnya.


Mark menyeringai. "Bukankah lebih enak kalau aku yang membuatmu menjerit?"


Mark mengatakannya tepat di telinga Jessy, membuat wajah wanita itu memerah karena malu. Ia mer emas sprei seraya mengatupkan mulut agar tidak bersuara saat Mark mengoleskan obat pada lukanya.


"Aku sudah mengingatkan kalau kalian masih terlalu muda untuk menentang orang yang punya kuasa. Kami pikir usahamu akan berhasil?" dengan perasaan kesal, Mark tetap mengobati luka Jessy sepenuh hati. Melihat wanitanya kesakitan seperti itu membuatnya tidak tega untuk tetap marah.


"Mereka tidak akan segan-segan untuk membunuhmu yang dianggap sebagai penghalang rencana. Apa kamu juga ingin mati konyol hanya karena cinta yang kekanak-kanakkan?"

__ADS_1


Jessy terdiam. Ia merasa seperti sedang dimarahi.


"Apa yang membuatmu sampai nekad melakukan ini?"


"Saya mencintai Justin," jawab Jessy.


Mark terkekeh. "Cinta? Hahaha ... Kalau kamu benar-benar mencintainya, kenapa saat itu kamu menawarkan tubuhmu padaku?"


Jessy merasa tersindir dengan perkataan Mark. "Itu kesalahan yang saya sesali," katanya.


Giliran Mark yang tidak menyukai jawaban Jessy. "Kesalahan yang kamu buat sudah membuatku jatuh cinta padamu, Jessy. Kamu harus bertanggung jawab!"


"Pak, kita tidak mungkin bersama!" Jessy tidak tahu lagi harus berkata apa agar Mark bisa mengerti. Mengetahui Mark merupakan suami Bu Magda saja sudah membuatnya sangat menyesal dengan perbuatannya.


"Memangnya kamu dan Justin juga bisa bersama?" Mark membalikkan pertanyaan Jessy. "Seberapa yakin kamu percaya bahwa Justin mau memperjuangkanmu?"


"Apa kamu pernah menceritakan hubungan kita padanya?"


Jessy tidak menjawab pertanyaan Mark.


"Duduklah! Aku akan membalut lukamu," pinta Justin.


Jessy menurut. Ia mendudukkan tubuhnya dengan tegak sembari tetap menutupi bagian dadanya dengan tangan.


Mark sampai harus menelan ludah melihat tubuh Jessy yang sangat indah. Terlihat ia berusaha mengatur napas agar tidak khilaf menerkam wanita di hadapannya.


Mark mengikat rambut panjang Jessy yang dianggap mengganggu. Bagian pundak polos Jessy kembali menggodanya. Ia berusaha tak terpengaruh saat mulai melilitkan perban menutupi luka itu.

__ADS_1


"Singkirkan tanganmu! Aku tidak bisa melilitkan perbannya!" perintah Mark.


Luka cambukan yang ada di punggung Jessy memanjang bertumpuk pada salah satu bahu. Mark perlu melingkarkan perban memutar tubuh Jessy agar lukanya tertutup.


"Ck!" Mark merasa kesal. Ia menyingkirkan paksa tangan Jessy dan memegang bagian dada yang sedari tadi Jessy tutupi.


"Ah! Pak!" teriak Jessy. Lelaki itu dengan nakalnya menyentuh bagian tubuhnya.


"Kamu mau aku membuatmu menjerit lagi atau biarkan aku membalut lukamu, Baby?" Mark menyeringai. Ia suka melihat wajah gugup Jessy saat ia menyentuhnya.


"Tolong, balut lukaku!" kata Jessy pasrah.


Mark akhirnya bisa membalutkan perban ke tubuh Jessy dengan leluasa. Menyentuh tubuh Jessy membuatnya harus sering-sering mengatur napas. Kemolekan tubuhnya benar-benar membuatnya gila.


"Sudah selesai kan, Pak? Saya mau pulang," kata Jessy.


Mark menahan tangan Jessy. Ia menidurkan Jessy di atas ranjang dan mengungkung tubuh Jessy di bawahnya. Sorot matanya memancarkan hasrat kepada Jessy.


"Pak, saya tidak mau melakukan seperti ini lagi," kata Jessy yang sepertinya sudah bisa menebak kemauan Mark.


"Apa yang kamu lakukan padaku sangat jahat, Jessy. Kamu sudah membuatku tergila-gila padamu dan sekarang kamu mau membuangku?" Rasa kecewa dan kesal tergambar jelas dari tatapan Mark terhadap Jessy.


"Saya minta maaf." Jessy tak bisa mencari alasan lain atas perbuatannya.


"Aku tidak butuh maaf, Jessy. Aku butuh tanggung jawabmu."


"Saya tidak bisa, Pak," tolak Jessy.

__ADS_1


Mark merasa frustasi dengan penolakan Jessy. Ia belum siap untuk kehilangan wanita itu.


__ADS_2