
"Justin," sapa Ellena.
Justin menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia terkejut sekaligus malu mengetahui keberadaan Ellena di sana.
Emosinya terhadap sang paman belum sepenuhnya reda. Kehadiran Ellena di sana sungguh membuatnya canggung.
"Kamu Ellena, ya?" sapa Dion. Ia terpesona dengan kecantikan wanita itu.
Ellena tersenyum dan mengangguk.
"Ada perlu apa dengan Justin? Sepertinya dia butuh menenangkan diri setelah kesurupan," seloroh Dion. Ia memang tipe lelaki yang tidak bisa diam jika melihat wanita cantik. Kalau bisa berusaha agar wanita itu tertarik padanya. Apalagi perjodohan antara Justin dan Ellena sudah batal.
Ellena menoleh ke arah Justin. Lelaki itu hanya meneguk minuman tanpa mau melihat ke arahnya. "Justin, aku ingin bicara denganmu," katanya.
Ia sedikit takut untuk mendekati Justin, namun rasa kepedulian di dalam hatinya tidak bisa mengabaikan keberadaan sang cinta pertama.
"Katakan saja apa yang perlu kamu katakan di sini," kata Justin cuek.
"Aku butuh tempat privat untuk berbicara denganmu."
"Pakai saja ruangan yang sudah aku sewa di lantai atas," sahut Benny.
Dion memberikan lirikan tajam pada Benny. Ia tidak suka rencananya mendekati Ellena terganggu. Ia lebih suka Ellena tidak jadi dengan Justin.
Justin bangkit dari duduknya. "Aku ke atas dulu," katanya.
Ellena mengikutinya di belakang. Meskipun tidak mengigakan ajakannya, Justin sepertinya mau berbicara dengannya berdua.
Klek!
Justin menutup pintu kamar yang baru mereka masuki. Di dalam sana terdapat sofa panjang dan meja yang dipenuhi makanan dan minuman beralkohol.
"Minum!" Justin menawarkan segelas minuman kepada Ellena.
Dengan ragu Ellena menerima gelas itu. Aroma yang keluar dari minuman itu sangat menyengat dan mengganggu penciumannya. Justin mengajaknya minum bersama.
Ellena memberanikan diri meneguk minuman yang meninggalkan sensasi rasa pahit di lidahnya. Ia tidak menyukai minuman itu.
Justin tertawa melihat ekspresi wajah Ellena. "Sepertinya kamu tidak pernah minum," katanya.
Sungguh mengherankan wanita seperti Ellena tidak pernah minum. Ia kira wanita yang berkuliah di luar negeri pasti sudah hafal dengan kegiatan minum-minum.
"Jadi, apa yang mau kamu sampaikan padaku? Kamu ingin meledekku?" Justin kembali meneguk minumannya. Entah sudah berapa gelas minuman yang ia habiskan malam ini.
"Bukan itu yang mau aku katakan," ucap Ellena.
__ADS_1
"Semua orang menertawakan kebodohanku karena lebih memilih wanita itu dari pada melanjutkan perjodohan denganmu." Justin terkekeh menertawakan dirinya sendiri.
"Menurutku tidak ada orang yang bodoh. Semua orang pasti akan melakukan apa yang menurut mereka benar," kilah Ellena.
Justin kembali tertawa. "Ini sangat lucu. Aku merasa sedang dihibur oleh mantan tunangan yang sudah aku campakan. Hahaha ...."
Ellena terdiam. Menurutnya, apa yang ia lakukan sekarang juga tak jauh berbeda dengan Justin. Ia tetap peduli pada lelaki yang sudah menyakitinya.
"Terkadang kita bertemu dengan orang yang tidak tepat sebelum menemukan orang yang tepat. Tidak perlu menyesal dengan apa yang sudah terlanjur terjadi."
Justin kembali meneguk minumannya. "Apa yang kamu rasakan saat aku membatalkan perjodohan kita? Apa kamu merasa sedih?"
"Tentu. Aku sangat sedih," kata Ellena. "Aku bahkan mengurung diri selama tiga hari di kamar dan hanya makan sedikit. Berat badanku sampai turun 3 kilo dalam waktu seminggu.
Justin senyum-senyum. Kewarasannya semakin berkurang akibat banyaknya minuman yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Seharusnya kamu membalas dendam padaku. Apa yang sudah aku lakukan memang sangat jahat. Aku pantas dihukum dengan sesuatu yang sangat menyakitkan." ucapan Justin juga terdengar semakin ngelantur.
"Aku tidak bisa. Melihatmu seperti ini juga ikut membuatku sedih." Ellena terlihat tulus mengungkapkan kepeduliannya pada Justin.
Justin menarik punggung Ellena agar wanita itu ikut meletakkan kepalanya di atas meja seperti yang dia lakukan. Keduanya saling bertukar tatapan. Kepedulian Ellena semakin membuat Justin merasa bersalah kepada wanita itu. Bagaimanapun juga, perjodohan dilakukan oleh kedua orang tua, bukan salah Ellena.
"Keluargaku bahkan menganggapku sampah. Kenapa kamu begitu peduli padaku?" tanya Justin serius.
"Aku menyukaimu." Ellena menjawabnya dengan singkat.
"Iya!" jawab Ellena.
Justin membandingkan dirinya dengan Ellena. Ia sendiri tidak bisa memaafkan perbuatan yang sudah Jessy lakukan padanya. Sementara, ada seorang wanita yang sudah ia kecewakan namun tetap memiliki perasaan yang sama dengannya.
Justin memberikan ciuman mendadak kepada Ellena. Wanita itu sampai membulatkan mata saking terkejutnya.
"Bibirmu lembut," goda Justin yang sepertinya sudah mulai mabuk.
Wajah Ellena memerah mendapat ciuman yang begitu mengejutkan baginya.
"Apa kamu mau tidur denganku?" tanya Justin.
Ellena reflek mengangkat kepalanya. Ia tidak menyangka akan mendengarkan ajakan yang tidak senonoh dari Justin.
"Kenapa? Kamu takut?" Justin tersenyum melihat respon Ellena. Akibat mabuk, ia jadi gila dan berani mengucapkan kata-kata seperti itu.
"Sepertinya kamu sangat mabuk," kata Ellena.
"Iya. Aku memang mabuk. Makanya bisa mengatakan semauku tanpa rasa malu. Apa kami juga ingin mabuk sepertiku? Kita bisa melakukan banyak hal yang memalukan berdua tanpa malu-malu," kata Justin. Ia mengangkat segelas minuman dan ditawarkan pada Ellena. "Minumlah!" pintanya.
__ADS_1
Ellena menerima gelas itu dan meneguknya. Justin senang Ellena mau menuruti kemauannya.
"Kamu harus minum lebih banyak supaya punya keberanian yang besar. Kita hanya berdua di sini dan kamu tak perlu malu-malu."
Justin meneguk minuman langsung dari botolnya. Ia menarik Ellena mendekat kepadanya. Ia kembali memberikan ciuman pada Ellena sembari meminumkan minuman yang ada di mulutnya.
"Uhuk! Uhuk!"
Ellena sampai terbatuk karena ulah Justin. Namun, bagi Justin sepertinya kegiatan itu justru menyenangkan baginya.
"Aku sedang butuh dihibur, Ellena. Bukan hanya sekedar bicara berdua, tapi aku ingin bercinta. Apa kamu mau melakukannya denganku?" rayu Justin. Ia menyibakkan helaian rambut yang tak beraturan menutupi wajah Ellena.
"Tapi, kita belum menikah," kata Ellena polos.
"Siapa bilang harus menikah untuk melakukan hal ini? Bahkan tanpa cinta orang juga bisa melakukannya." Justin teringat kembali tentang Jessy. "Tapi, kalau kamu memang tidak menginginkannya, pergilah! Rasanya aku tidak bisa menahan diri ingin menggigitmu,"
Sentuhan tangan lembut Justin membuat Ellena lupa diri. Ia seakan merasa mendapatkan perhatian dari Justin, padahal lelaki itu tengah mabuk.
Melihat wanita itu tak beranjak dari tempatnya, Justin menganggap sebagai persetujuan. Ia menarik tengkuk leher Ellena dan mencium bibirnya dalam-dalam. Kehangatan bibir saat bersentuhan membuat keduanya semakin terlena apalagi ditambah dengan pengaruh alkohol yang mereka minum.
Tanpa sungkan, Justin menggerayangi tubuh wanita di hadapannya. Bahkan hal yang belum pernah ia lakukan kali ini telah ia lampaui.
Tangan nakalnya melepaskan satu per satu pakaian yang Ellena kenakan. Ini pertama kalinya ia melihat keindahan tubuh wanita secara langsung. Apalagi wajah Ellena yang memerah dan tampak malu-malu semakin membuatnya berhasrat.
Tubuh indah itu sangat sensitif. Setiap kali jemarinya menyentuh permukaan kulit yang lembut, wanita itu akan mengeluarkan suara menggoda yang mengaktifkan semangat dalam dirinya.
Insting menuntunnya menjadi seorang lelaki agresif. Setiap jengkal tubuh Ellena ia telusuri.
Justin memindahkan tubuh Ellena yang sudah tidak berdaya ke atas ranjang. Ia kembali memperhatikan dengan seksama tubuh indah itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Ellena terlihat sangat se ksi.
Justin melepaskan pakaian yang masih tersisa di tubuh. Miliknya telah sangat siap mereguk puncak kenikmatan yang diharapkan.
Tubuh Ellena terasa lemas untuk digerakkan. Ia hanya bisa memandangi Justin yang kembali mendekatinya tanpa sehelai benangpun. Rasanya ia ingin lari ketika melihat milik lelaki yang baru pertama kali dilihatnya. Terlihat menakutkan namun membuatnya penasaran.
Saat Justin mulai melebarkan kakinya, Ellena semakin resah. Milik Justin akan segera masuk ke dalam tubuhnya.
"Apa kamu takut?" goda Justin.
Ellena tak bisa berkata apa-apa. Ia pasrah dengan apa yang akan Justin lakukan padanya.
Justin kembali mencium bibirnya sembari memberi pelukan. Milik Justin di bawah sana terasa ditempelkan pada miliknya. Ellena bisa memperkirakan seberapa ukurannya.
"Mari kita menikmati malam yang indah ini berdua, Ellena," ucap Justin. Lelaki itu benar-benar telah diliputi gairah membara.
Perlahan ia mendorong miliknya masuk. Ellena tampak gelisah. Ia berikan wanita itu ciuman untuk mengurangi rasa cemas. Tangannya juga menelusuri bagian tubuh yang lain agar wanita itu mudah dimasuki.
__ADS_1
Namun, tetap saja Justin merasa kesusahan ia hanya bisa mendorongnya perlahan. Terlihat air mata mengalir di sudut mata Ellena. Ia heran kenapa wanita itu harus menangis padahal dirinya merasakan kenikmatan yang luar biasa malam ini.