
Justin merasakan tidurnya terganggu. Ia mendengarkan suara lirih isakan wanita di sebelahnya. Padahal, rasa kantuknya masih sangat besar. Ia merasa tidak kuat untuk bangun.
Perlahan ia mengerjapkan mata karena suara isakan itu semakin mengganggunya. Ditambah lagi dengan sinar matahari yang mengusik lewat celah-celah kamar. Ia menoleh ke arah samping.
"Astaga!" Justin kaget sampai terduduk melihat seorang wanita berada di sebelahnya.
Ellena menaikkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Dengan berderai air mata, ia menatap nanar ke arah Justin.
Sontak lelaki itu langsung mematung mengetahui wanita di sebelahnya adalah Ellena, mantan tunangannya. Akibat mabuk, ia tak bisa mengingat dengan jelas kejadian semalam.
Justin melihat dirinya sendiri. Tubuhnya polos tak mengenakan selembar pakaianpun. Ia menghela napas merasa sesuatu terjadi semalam.
"Ellena ...."
Ketika Justin berusaha mendekati, Ellena menggeser duduknya. Ia seakan takut kepada dirinya.
Justin memukuli kepalanya sendiri. Sekelebat ingatan semalam kembali terbayang dalam ingatannya.
Semalam ia bertengkar dengan Mark. Ia sampai menghajar pamannya karena kesal. Ellena datang menghampiri karena ingin membicarakan sesuatu dengannya.
Justin ingat telah merayu Ellena. Bahkan lebih gilanya lagi, Justin mengajak Ellena tidur dengannya. Semalam entah berapa lama ia melampiaskan hasratnya kepada Ellena sampai wanita itu kelelahan. Ia mengingat dirinya yang sangat brutal kepada Ellena. Wajar saja wanita itu merasa takut padanya.
"Ellena, dengarkan aku ...." Justin memulai bicara. "Semalam aku sepertinya sangat mabuk. Aku minta maaf kalau membuatmu takut."
Ellena menoleh ke arah Justin dengan tubuh yang masih tertutup rapat dengan selimut. Ia juga tak begitu mengingat yang telah terjadi semalam. Hanya saja, tubuhnya terasa sakit semua karena ulah Justin semalam.
Ellena menangis karena tidak bisa turun ke kamar mandi. Bagian bawahnya sangat sakit setiap ia berusaha bergerak.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Justin.
Ellena menunduk. Ia tak menjawab.
"Ellena ...." wanita yang sedikit bicara itu cukup membuat Justin tidak sabaran. Ia ingin tahu kondisinya.
Wanita itu masih tak menjawab. Justin berinisiatif menyibak selimut yang menutupi mereka berdua dengan kencang.
"Ah!" seru Ellena. Ia langsung menutupi tubuhnya dengan tangan.
Justin tercengang melihat noda-noda yang menempel di atas sprei hasil perbuatan mereka semalam. "Ellena ... Kamu ... Semalam yang pertama untukmu?" tanyanya dengan nada terbata-bata.
Ellena tidak menjawab. Ia justru semakin terisak mendengar pertanyaan Justin.
__ADS_1
Justin menjambak rambutnya sendiri. Gara-gara mabuk, ia telah membuat Ellena takut padanya.
"Matilah aku sekarang," gumamnya lirih.
Justin sudah bisa membayangkan perselisihan kedua keluarga yang sebelumnya sudah terjadi akan bertambah besar. Meluarga Russel akan menuntut dirinya yang telah berbuat tidak senonoh kepada putri kesayangan mereka. Ia tidak tahu lagi dengan nasibnya di keluarga Wilson ke depannya.
"Ellena, katakan padaku, apa kamu merasa kesakitan?" tanyanya dengan nada sepelan mungkin.
"Kemarikan selimutnya!" pinta Ellena yang malu tubuhnya tidak tertutupi apapun.
"Tidak usah, aku akan melihat kalau ada yang lecet. Aku akan mengobatinya."
"Jangan mendekat!" seru Ellena.
"Aduh, kamu tidak boleh keras kepala seperti ini. Semakin cepat tahu lukanya, semakin bagus karena bisa diobati," kata Justin.
"Aku tidak mau!"
"Aku tidak akan macam-macam. Janji! Semalam itu aku mabuk. Percayalah," Justin berusaha meyakinkan Ellena.
"Lebih baik kamu pergi! Tinggalkan aku sendiri!" Ellena sama sekali tidak mau didekati.
"Kamu perlu membersihkan diri. Aku hanya membantumu. Pasti kamu tidak bisa berjalan sendiri, kan?" kata Justin.
"Bohong! Milikmu juga seperti itu semalam, kamu pasti mau memaksaku lagi." Ellena semakin berusaha menutupi tubuhnya.
Justin melihat bagian bawahnya. Sialnya memang adiknya ikut terbangun bersama dirinya. Selain karena sudah menjadi kebiasaan saat bangun tidur, sentuhan antara kulitnya dengan kulit wanita yang lembut itu tentu saja membangunkan kembali hasratnya.
Secara perlahan Justin memasukkan tubuh Ellena ke dalam bathtube dan ia nyalakan kran air hangat untuk memenuhi bak tersebut.
Ellena masih menyilangkan kedua tangan di dadanya agar menghalangi pandangan Justin terhadap tubuhnya. Ia sangat malu berendam berdua tanpa mengenakan apapun.
"Sudahlah, tidak perlu malu-malu. Toh semalam kita juga lebih vul gar dari pada sekarang. Aku tidak akan menyerangmu seperti semalam," kata Justin.
Ia menyandarkan diri dengan santai di tepian bak sembari menunggu air terisi penuh. Aliran air hangat yang menyapu tubuh cukup mampu meredakan rasa pegal di tubuhnya.
"Kita sudah terlanjur melakukannya semalam, kalau kamu minta aku mengembalikan kepera wananmu lagi, aku tidak bisa melakukannya. Toh semalam juga yang pertama untukku. Jadi, impas, kan?" Justin berusaha berbicara dengan santai.
Entah mengapa Ellena tersipu malu mendengar pengakuan Justin yang baru pertama kali melakukan dengannya. Ia kira Justin sudah berpengalaman dengan pacar sebelumnya.
"Bagaimana? Apa kondisimu sudah lebih baik?" tanya Justin setelah beberapa menit mereka berendam.
__ADS_1
Ellena mengangguk. Badannya sudah jauh lebih baik jika dibandingkan saat bangun tidur.
"Mungkin kedengarannya aku sedang mengancammu. Tapi, bisakah kamu merahasiakan ini dari orang tuamu?" tanya Justin.
Ellena tidak bisa menjawab.
"Bukan berarti aku mau lari dari tanggung jawab. Aku tetap akan menikahimu," kata Justin.
Ellena melebarkan matanya seakan tidak percaya mendengar Justin mengatakan ingin menikahinya.
"Kalau mereka tahu, mungkin hubungan kita akan lebih rumit dan kondisi perusahaan juga akan terkena imbasnya. Jadi, aku harap kamu tidak menceritakan kejadian hari ini."
"Tapi, perjodohan kita sudah dibatalkan. Proyek kerjasama yang dilakukan juga sudah dihentikan."
"Aku tahu. Biar nanti aku yang mencari cara agar orang tua kita mau meneruskan kembali perjodohan kita. Kamu mau, kan?" tanya Justin.
Ellena mengangguk. Ia sepakat dengan ide Justin.
Justin menarik tangan Ellena. Ia mengajak wanita itu berpelukan.
"Ah!" teriak Ellena kaget.
"Kenapa?" tanya Justin.
"Milikmu ... Menyentuhku," kata Ellena malu-malu.
"Ah, aku tidak bisa mengaturnya. Mungkin dia mau masuk lagi," goda Justin.
"Aku tidak mau!" Ellena menolak tanpa berpikir. Ia masih kesakitan karena semalam dan kapok untuk mengulangnya.
"Aku hanya bercanda. Dia memang sudah biasa seperti itu. Selama aku tidak mabuk, aku tidak akan mengikuti kemauannya."
Justin kembali memeluk Ellena. Ia merasa sudah gila jantungnya berdebar-debar saat berdekatan dengan wanita yang pernah ditolaknya. Bahkan, ia merasa penasaran dengan aktivitas merema semalam.
"Sabar, Justin. Kamu bisa digantung Tuan Russel," lirih Justin.
"Kamu bilang apa?" tanya Ellena.
"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa," kilah Justin.
Ia menatap wanita di hadapannya dengan seksama. Ellena terlihat sangat cantik. Mungkin matanya telah dibutakan kejadian semalam.
__ADS_1